Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Bertemu Sam (Bagian 2)


__ADS_3

Pagi harinya, mungkin hari ini adalah hari yang akan membosankan untuk Riyu. Bagaimana tidak, ia harus menjenguk Noval dan menungguinya di rumah sakit. Mau bagaimanapun juga, dia di hukum seperti ini gara-gara kesalahan Riyu. Anggap saja kebaikannya hari ini, sebagai tanda permintaan maaf Riyu pada Noval bukan? Semoga saja dia tidak jadi besar kepala nanti.


"May, ayolah temenin aku" ucap Riyu dengan nada sedikit merengek, sambil memegangi lengan Maya.


"Gak ah. Bisa-bisa nanti aku jadi obat nyamuk di sana!" protes Maya.


"Jadi beneran kamu ga ikut nih?" melirik kesal.


Sebenarnya ingin, aku juga pengen melihat keadaan Noval.


"May, kok malah bengong sih."


"Iya deh, aku ikut"


"Nah gitu dong" senyum lebar langsung terlihat di wajah Riyu.


Sebelum berangkat, Maya kembali ke kamarnya sebentar untuk mengambil tasnya. Riyu berjalan duluan menuju mobilnya, ia akan menunggu Maya di sana. Saat Maya hendak menuruni tangga, ia melihat kepala pelayan yang baru keluar dari ruangan Darma.


Maya kembali naik, menghampiri kepala pelayan yang kebetulan berjalan menuju arahnya. "Pak Amir, apa yang kau lakukan di ruangan kakek?" Maya merenyitkan alisnya curiga.


"Ehm, Nona. Saya hanya memeriksa ruangan Tuan, memastikan AC di ruangan sudah di matikan atau belum. Permisi Nona." Amir membungkukkan badannya lalu bergegas pergi.


Maya masih terpaku di tempatnya berdiri mengamati punggung pria berusia 60 tahun itu, ia rasa, gelagat pak Amir memang berbeda akhir-akhir ini.


"Maya kenapa lama sekali" terdengar Riyu berteriak dari bawah. Maya tergelak, lalu bergegas turun ke bawah.


"Aku datang" ucapnya sambil berlari kecil.


*****


Mobil telah memasuki pusat kota, melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit pusat.


"Riyu, kamu tau kan kepala pelayan di rumah kakek?" tanya Maya yang masih penasaran.


"Pak Amir maksudmu? Ada apa dengannya?"


"Ga ada apa-apa sih, cuma aku agak aneh aja sama dia akhir-akhir ini"


"Aneh gimana May? Aku ga terlalu mengamati sih, tapi aku rasa kerjanya pak Amir bagus kok"


"Iya sih, dia juga sudah puluhan tahun ikut kakek." Maya terdiam mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. "Mungkin cuma perasaan ku saja".


Mobil yang membawa mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Maya dan Riyu berjalan beriringan masuk, lalu berjalan melewati koridor rumah sakit menuju kamar tempat Noval di rawat. Namun


saat hampir sampai di kamar Noval, mereka terhenti sejenak memandang sosok yang sedang berdiri di depan kamar rumah sakit.


"Sam?" gumam Riyu.


"Apalagi yang kau tunggu, cepat, lari dan peluklah pangeran mu" ucap Maya berbisik di telinga Riyu.


"Apaan sih kamu May!" lengan Maya di tepuk. Meskipun malu, tetap saja, Riyu langsung berlari ke arah Sam dan memeluknya.


"Sam, kau ada di sini?" bisik Riyu, takut kalau Noval mendengar suaranya. "Eh tunggu sebentar. Apa kalian sudah akur? Sepertinya kau sudah sangat perhatian pada Noval, sampai-sampai mau menjenguknya." Riyu menatap Sam, tangannya masih melingkar erat di pinggang Sam.


"Itu memuakkan. Aku kesini karena ingin bertemu denganmu, bodoh" Sam tersenyum tipis.


"Hey!, berhenti menyebutku bodoh" protes. Riyu kembali membenamkan wajahnya di dada Sam.


"Ehem. Baiklah, kalian nikmati saja waktunya. Seperti biasanya, aku akan mengalir perhatian, mengulur waktu, supaya kalian nisa ngobrol berdua" Maya menepuk pundak Riyu dan Sam bersamaan. Riyu menutup bibirnya menahan tawa, sedangkan Sam meringis.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan masuk duluan ke dalam" bisik Maya.


"Hati-hati Nona, rubah di dalam sangat menyebalkan" bisik Sam pada Maya. Ucapan Sam membuatnya tertawa geli, setelah itu Maya meninggalkan Sam dan Riyu.


*****


Maya melangkah ragu mendekati Noval yang sedang duduk bersandar di bed hospital, ia menarik nafas dalam untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Hai" sapa Maya memasang senyum ramah di wajahnya.


Noval terdengar mendengus sebal, memalingkan pandangannya ke arah lain saat Maya duduk di kursi.


"Kenapa kamu di sini? Dimana Riyu?" Tanya Noval bernada dingin.


"Riyu, ada urusan sebentar. Nanti dia nyusul ke sini. Bagaimana keadaanmu?" Maya tau Noval tidak suka dengan kehadirannya, tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum tenang.


"Baik" jawab Noval singkat.


Entah apa lagi yang harus Maya katakan, Noval benar-benar tidak peduli padanya.


"Noval, aku... "


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu" ucapnya memotong ucapan Maya.


"Tanyakanlah" Maya tersenyum riang.


"Kenapa kau betah sekali di sini?" Tanya Noval dengan nada remeh. "Apa kau tidak tahu malu sehingga tidak lekas pergi dari rumah kakek Darma? Apa tujuanmu sebenarnya?!"


Pertanyaan Noval membuat Maya mencengkram erat lututnya. "Kakek Darma yang menyuruhku menetap di sini untuk menemani Riyu" jawab Maya tegas.


Noval terdiam menatap kesal, namun Maya tetap memasang wajah tenang. "Noval apa kau masih membenciku? Apa kau tidak lelah membenciku atas kesalahan yang tidak aku lakukan?"


"Aku tidak mengungkit, aku hanya ingin menjelaskan sesuatu yang belum sempat aku jelaskan" ucap Maya tenang.


"Hahaha. Menjelaskan apa? Menjelaskan kalau kau tidak bersalah? Atau menjelaskan kalau kau tidak tidur dengan pria itu, dan masih ingin bersikukuh bahwa anak yang kau kandung adalah anakku?!"


"Itu memang anakmu, Noval. Nurani mu tertutup karena fitnah dan kebencian. Kau sangat percaya dengan Tante Nita yang sengaja menyingkirkan aku, dan anakmu!"


"Berhenti omong kosong, Maya" Noval semakin geram saat Maya malah menuduh Nita.


"Omong kosong? Aku punya bukti yang akurat, hanya saja, aku belum memiliki kesempatan untuk memperlihatkannya padamu" Maya beranjak dari tempat duduknya, mendekat ke arah Noval.


"Aku memiliki hasil tes DNA, yang memperlihatkan bahwa bayi yang aku kandung 99% cocok dengan DNA mu. Perlu kau ketahui Noval, Tante Nita sengaja menyingkirkan aku dan anak kita karena akan menikahkan mu dengan mangsanya yang tidak lain adalah pewaris tunggal Galuh Saputra!"


Deerrrrr....


Bagaikan sambaran petir beribu-ribu volt menyambar tubuh Riyu yang berdiri di depan pintu. Maya tersentak saat mendengar nafas Riyu yang berat di kamar itu.


"Riyu... " Maya terpekik.


Tidak menyangka kalau Riyu telah berdiri mematung menatap tajam, keberadaan Riyu di dalam kamar tidak di sadari oleh Noval dan Maya. Entah sejak kapan dia ada di sana tapi, melihat ekspresinya, sepertinya Riyu telah mendengar semua percakapan itu.


Kamar rumah sakit senyap seketika, hawa dingin tiba-tiba menyelimuti atmosfir di sana. Maya tertunduk dalam meremat jari-jemarinya, setelah ini entah harus bagaimana dia akan menjelaskan pada Riyu.


"Apa semua itu benar, Noval?" tanya Riyu bergetar. "Jawab! Apa yang di katakan Maya itu benar?!" sentak Riyu.


"Kau percaya dengan bualan wanita ini?!" telunjuk Noval mengarah ke Maya yang tertunduk diam.


Riyu mendekati Maya dengan tatapan tajamnya, mencari titik kekuatan di dalam mata Maya yang mulai terlihat berair. "Riyu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud... " suara bergetar.

__ADS_1


"Tatap mataku, Maya. Angkat kepalamu dan tunjukkan tatapan tegas mu!" ucap Riyu marah. Tapi saat itu kekuatan Maya hilang seketika. Ia merasa bersalah, takut, jika masa lalunya akan menyakiti hati Riyu.


"Dan kau, Noval. Aku tidak menyangka kalau Mama Nita ternyata wanita yang keji, sama sepertimu!"


"Diam kau Riyu. Ini bukan urusanmu!"


"Bukan urusanku?" Tatapan benci kini ia lemparkan kepada suaminya. "Maya adalah saudaraku, dia melindungiku dan menyayangiku layaknya adik kandung. Hal yang melukainya maka akan melukaiku juga, Noval" ucap Riyu menggertakkan gigi, kemarahan yang belum pernah terlihat sebelumnya.


"Riyu... " suara Maya lirih gemetar. Ucapan Riyu membuatnya terharu hingga Maya tak mampu membendung air matanya lagi.


"Jadi ini laki-laki yang kau cintai, Maya?" telunjuk Riyu mengarah ke arah Noval. "Laki-laki seperti ini yang kau cintai sampai sekarang?! Orang seperti dia tidak layak mendapatkan ketulusan mu, bahkan namanya saja tidak layak kau ucapkan!"


Sesekali Maya terlihat menghapus air matanya yang menetes di pipi, ia menarik nafas panjang berusaha menenangkan diri.


"Sudahlah Riyu, ini rumah sakit. Jangan ribut di sini, oke. Kita sudah menjenguk Noval dan dia baik-baik saja, lebih baik kita pulang sekarang" ucap Maya menarik tangan Riyu, meskipun bibirnya tersenyum tapi masih saja ada buliran bening meluncur di pipinya.


"Tidak May! Aku masih mau memaki pria iblis ini!" Riyu menatap Noval tajam.


"Riyu, please. Kita pulang" Maya memohon dengan suara serak. Riyu terdiam menatap Maya, kesedihan yang tak bisa lagi di ungkapkan melalui kata-kata.


Akhirnya Riyu mengalah, mereka memutuskan untuk pulang tanpa berpamitan pada Noval. Jangankan berpamitan, melihat wajahnya saja tidak. Riyu pasti tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, dan akan melempar wajah Noval dengan vas bunga jika ia menoleh kearahnya lagi.


****


Kejadian sebelum Riyu masuk ke kamar inap Noval.


"Sam, Aku sangat merindukanmu" ucap Riyu yang masih berada di dekapannya.


"Aku juga merindukanmu" Sam mengecup kepala Riyu dengan lembut.


Setelah terdiam sejenak. "Sebenarnya aku penasaran, kenapa kau tiba-tiba ingat semuanya? Ah, sepertinya kejadian malam itu sangat membantu. Aku jadi ingin melakukannya lebih sering supaya kau tidak bisa melupakan aku seumur hidup!" mulailah omongan dengan nada yang menyebalkan.


Riyu langsung mendongakkan kepalanya dan menepuk dada Sam dengan keras, "Kenapa kau selalu menyebalkan?!" protes Riyu, wajah kesal wanita yang masih di pelukannya membuat Sam gemas.


"Karena aku mencintaimu"


Sam merengkuh tengkuk Riyu, lalu menciumnya. Mata dari keduanya terpejam, menikmati sentuhan bibir yang beradu kasih.


Cukup lama mereka hanyut dalam ciuman manisnya, setelah Sam menarik kembali ciumannya, ia mengecup kening Riyu. "Aku akan pergi ke kantor sekarang" ucap Sam lembut menatap teduh.


"Secepat itukah?"


"Haha. Aku akan mencari waktu untuk bertemu lagi denganmu. Gadis bodoh" Sam mengusap kepala Riyu.


"Berhenti memanggilku gadis bodoh aku bilang!" Riyu menepis tangan Sam.


"Kenapa kau terlihat imut begini kalau sedang kesal, hemm"


"Diamlah! Sudah sana pergi" bukannya bersalah, Sam malah tertawa melihat wanitanya ngambek.


"Haha, baiklah aku minta maaf, sayang" mengucapkan dengan nada menyebalkan. Bukannya senang di panggil sayang, Riyu malah semakin kesal mendengarnya. Kemudian, Sam kembali menarik Riyu dan menciumnya sekali lagi.


"Masih ngambek?"


Riyu tersipu dan menggeleng, sebelum mereka berpisah, pelukan hangat mengiringi, sebelum Sam kembali ke kantornya. Sedangkan Riyu, masuk ke dalam kamar untuk menjenguk Noval.


*****


Di sepanjang perjalanan pulang, Maya dan Riyu tidak terlibat percakapan apapun. Mereka sibuk merenung dengan perasaannya masing-masing, sambil melihat ke luar jendela mobil. Riyu masih tidak terima dengan apa yang Maya lalui, sangat tidak di sangka

__ADS_1


Kalau pria yang Maya ceritakan waktu itu ternyata adalah Noval. Suaminya sendiri.


__ADS_2