Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Mama Muda


__ADS_3

Tanpa celah lagi, Noval langsung menembaki Amir tanpa celah. Tak berselang lama, Amir sudah tewas di tangannya.


"Ayah!" Teriak Dhea.Noval berbalik, ia melihat Mangsur yang telah menodongkan pisau ke leher Dhea.


Putrinya terancam, Noval berusaha kuat menopang tubuhnya meskipun darah terus merembes dari punggung Noval yang terkena tembakan. "Letakkan senjatamu!" gertak Mangsur semakin melekatkan pisau ke leher kecil Dhea. Noval tau kalau posisi Mangsur sudah tidak ada jalan lagi, ia terkepung dan banyak kehilangan anak buahnya. Didepan sudah ada Sam yang sedang membasmi sisanya sekarang, tidak adalagi jalan keluar untuk Mangsur kabur, sehingga dia menggunakan Dhea untuk menyelamatkan diri.


Noval melirik ke arah Dhea, memikirkan cara bagaimana supaya dirinya bisa menyerang Mangsur tapi Dhea juga harus selamat. "Aku bilang letakkan senjatamu, Noval. Jika tidak, leher mungil anak ini akan merasakan tajamnya pisauku!"


"Jika kau berani hadapi aku keparat! Beraninya memperalat anak kecil" Noval geram.


Tapi saat Noval akan mendekat ke arah Mangsur, Nita datang dari arah lain langsung memeluk Noval dan Sleeebbbb......


Noval terpekik merasakan tusukan di area perutnya. Sisa teganya kini berusaha menahan sakit akibat tusukan itu. Noval tersimpuh lemah, setelah itu terlihat tangan berceceran darah gemetar dari sosok wanita yang berada di hadapannya. "Maafkan Mama Noval" ucap Nita gemetar, psau terjatuh tak jauh dari tempatnya berdiri. Airmata mengalir deras dari matanya. Melihat Noval yang sudah tidak berdaya, Nita bersimpuh di depan Noval yang menatapnya hampa dengan perasaan yang hancur.


"Maafkan mama" ucap Nita lagi sambil terisak. kemudian, Nita mengambil liontin berlian yang tergantung di leher Noval.


Noval terdiam, matanya menatap kosong pada Nita. Angannya bergerak pada satu pertanyaan, sebenarnya apa arti dirinya bagi Nita, bahkan Nita sendiri tega melukainya demi Mangsur, demi liontin berlian itu. Nita tidak hanya melukai tubuhnya tapi juga perasaannya. Ibu, yang selama ini selalu ia patuhi meskipun yang diinginkan Nita adalah satu kejahatan.


Kini liontin berlian telah berhasil Nita dapatkan, ia berpaling dari Noval lalu menyerahkannya pada Mangsur. "Hahaha, kau berhasil sayang." ucap Mangsur begitu bahagia saat memegang liontinnya, membuat Mangsur seketika lengah dan melupakan sanderanya. Noval mengambil kesempatan itu, saat Mangsur sedang lengah dari Dhea, tangannya yang lemah dan gemetar perlahan terangkat menodongkan pistol ke arah Mangsur yang sedang gembira dengan liontin.


Daarrrr.... Peluru panas mengenai sebelah kanan dada Mangsur, dia terduduk sambil memegangi lukanya. Dhea yang terlepas dari cengkeraman Mangsur langsung berlari menghampiri ayahnya.


"Mangsur" teriak Nita histeris. Noval berusaha berdiri, meskipun ia harus mati hari itu. Setidaknya musuh gila dan mengerikan seperti Mangsur harus mati juga di tangannya. "Kau... Aku tidak akan mengampunimu!" Noval menggeletakkan gigi. Ia langsung mencengkram leher Mangsur dan menodongkan pistol ke keningnya. "Kau harus mati!" teriak Noval.


"Noval dia ayahmu!" teriak Nita tiba-tiba. Jari telunjuk yang telah siap menarik pelatuk pistol terhenti seketika.


"Noval Mama mohon, jangan bunuh ayahmu sendiri. Mangsur adalah ayah kandungmu" tangis Nita terisak.


Apalagi yang dilakukan oleh Nita? Noval merasa sangat terkejut dengan kenyataan itu. Seorang pria bejat yang ada di cengkeraman tangannya kini, ternyata adalah ayahnya. Ayah kandung Noval. Noval terdiam menatap wajah Mangsur yang telah pucat pasi. "Jadi pria menjijikkan ini adalah ayahku?" ucap Noval bergetar. Tangannya perlahan melepaskan cengkeraman di leher Mangsur, seketika itu juga Mangsur terduduk di lantai.


Noval berbalik menatap ibunya sayu. "Kau... Seharusnya kau wanita yang aku hormati di dunia ini Ma, seharusnya kau... Wanita yang aku lindungi di dunia ini. Aku sangat mencintaimu" Noval terisak.


"Tapi demi pria ini bahkan kau tega melukaiku?! Sekarang aku baru paham kalau aku tidak berarti apapun untukmu selain menjadi mainan kesayanganmu kan?"


Tidak ada yang bisa di katakan Nita selain airmata yang mengucur semakin deras. "Pergilah, pergilah peluk pria itu dengan kasih sayangmu, dengan cintamu" ucap Noval lirih masih menatap nanar.


Nita terdiam sejenak menatap Noval, kemudian perlahan berjalan ke arahnya, Noval kira pintu hati Nita akan terketuk dan memeluknya dengan berkata maaf. Tapi ternyata Nita berjalan melewatinya dan lebih memilih untuk mendekat ke arah Mangsur. Membuat perasaan Noval semakin merasa hancur, Mangsur lebih penting untuk dirinya daripada anaknya sendiri. Namun saat Nita sudah hampir merengkuh Mangsur,


Darrr darrr darrr...


"Tidaaakkkkk!!!" teriak Nita melihat Mangsur kini tewas di tangan anaknya. Dhea memeluk kaki Noval sambil memejamkan matanya.


Nita tersimpuh. Diam memandang Mangsur yang sudah tidak bernyawa, Ia melirik ke arah pisau yang tergeletak tidak jauh dari jasad Mangsur, kemudian mengambil pisau yang digunakan Mangsur untuk mengancam Dhea tadi, dengan tangannya yang tergenggam erat. Nita berjalan ke arah Noval yang telah pasrah menerima serangan dari ibunya itu, sedikitpun Noval tidak akan melawan jika Nita memang menginginkan dirinya mati, namun di saat yang bersamaan, Sam langsung datang. Tanpa aba-aba apapun Sam menembak Nita tepat di bagian punggung, membuat Nita terpekik dan pisau di tangannya terjatuh.


"Hadiah dari Mama untukmu Nita" ucap Sam menatap kejam. Mata Nita kini beralih menatap Sam yang berjalan ke arahnya, bibirnya terkunci menahan sakit diluka tembaknya. "Tenang saja, aku masih memiliki hadiah lainnya, dariku, dari papa, juga... Dari Darma!"


Daaaarrr.... Peluru tepat mengenai kepala Nita, iapun terhempas tewas seketika.


Sedangkan Noval hanya memandang hampa dua mayat di hadapannya. Ada perasaan sedih menceruat di hatinya, perasaan sedih karena kenyataan yang selama ini ternyata dia tidak terlalu di inginkan, terbuang secara tidak langsung. Pandangan Noval semakin gelap, ia ambruk tak sanggup lagi mempertahankan kesadarannya.


 


\*


 


 Kejadian Sebelumnya...


"Dimana kau?!" tanya Sam dan Noval serentak dari ponselnya masing-masing.


"Aku pergi menemui Kakek Darma" Jawab Sam.


"Aku pergi menyelamatkan Maya" jawab Noval kemudian, sambil fokus mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"Apa yang diucapkan Riyu benar?"


"Ya, aku sudah menceraikannya"


"Ternyata kau perhatian sekali padaku ya" Sam tersenyum tipis.


"Haha. Aku hanya tidak ingin dia janda karena aku tinggal mati"


"Hemh. Lalu bagaimana dengan liontin berlian yang kau curi?"


"Kau bisa mendapatkannya lagi Sam, semoga kau datang tepat waktu" Noval mematikan teleponnya, langsung ia mengirim pesan untuk memberikan lokasi dimana Sam bisa menemukan Noval setelah menemui Darma. Noval harap Sam akan datang tepat waktu sebelum Noval terbunuh di tangan para penjahat itu, karena sebenarnya Noval sangat ragu keluar hidup-hidup, Mangsur pasti tidak akan membiarkannya.


 


\*


 


Begitu banyak pertumpahan darah hari ini, sejarah mengerikan persaingan dunia bisnis yang kotor dan serakah hingga rela mengorbankan orang-orang terkasih demi mendapatkan keinginannya. Peran licik yang tersembunyi, peran kotor yang selalu di gunakan apakah sudah berakhir sekarang? Entahlah.


Sam berjalan pincang menuju pintu villanya, namun ia berhenti setelah melihat tatapan sendu seorang wanita yang telah menunggunya. Riyu memandang Sam, melihat ke setiap luka dan darah yang mulai mengering yang terdapat di tubuhnya. Riyu Memandang Sam, yang masih merangkul sahabat dinginnya di tangan kanannya. Diam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Sekarang dari mana Sam akan memberi tau... Apa mungkin ia harus langsung berkata maaf Riyu, aku tidak bisa menepati janjiku, kakek Darma telah tiada sekarang. Begitukah? Tapi Sam tidak sanggup mengatakan kenyataan itu. Sam tertunduk penuh dengan penyesalan, sesekali keringat terlihat menetes di ujung rambutnya. "Maaf" ucap Sam lirih tanpa menatap Riyu.


Deru nafas yang tak beraturan membuat dada Riyu naik turun mengiringi hembusannya, Riyu berlari, berlari cepat menuju arah Sam dan menghempaskan tubuhnya kedalam pelukannya.


"Sam... Kakek sudah meninggalkan aku. Aku harap kau tidak akan meninggalkan aku juga, kau tidak akan meninggalkan aku kan Sam?" ucap Riyu terisak.


Tangan Sam merengkuh tubuh Riyu, "Aku tidak akan meninggalkanmu. Tidak akan" pelukan semakin erat.


Sebelum Sam datang Riyu telah mendengar kabar dari anak buah Sam, ia memaksa ingin tau bagaimana keadaan Sam dan juga kakeknya. Tapi yang ia dapatkan adalah kabar yang tak sesuai harapannya, kakek Darma telah meninggal, Kakek Darma runtuh bersama dengan kediaman dan perusahaannya. Kini yang tersisa dari keluarga Saputra hanyalah Riyu seorang, beban di pundaknya akan semakin besar nantinya. Tapi meskipun begitu, Riyu tidak begitu khawatir, selagi ada Sam yang selalu di sisinya.


"Mama muda"


Sapa suara kecil di moment yang mengharukan itu. Riyu berhenti menangis, ia mengendurkan pelukannya lalu menoleh kesamping kanannya. Seorang bocah kecil dengan poni, berambut panjang, mata bulat dan pipi tembem menatap Riyu tanpa berkedip. Riyu menatap Sam dengan tatapan yang tidak mengerti, siapa anak ini? itulah yang tersirat dari tatapannya.


"Hey bocah kecil! Bisakah kau tidak memanggilnya Mama muda?!" Sam protres.


"Anak siapa ini?" tanya Riyu bingung. Tiba-tiba Dhea memewekkan bibirnya, lalu hendak menangis. "Lihat Sam! Kau membuatnya menangis!" ucap Riyu kesal karena sikap Sam yang galak. Ia menghapus sisa air matanya lalu membungkuk. "Anak manis, siapa namamu?" Riyu mengangkat Dhea ke gendongannya.


"Dhea, Ma. Ayah bilang, aku harus tinggal dulu sama Mama muda" jawab Dhea bergetar.


"Ayah? Memangnya siapa ayahmu?" tanya Riyu penasaran.


"Ayah Noval, dia sedang di rumah sakit sekarang"


"Noval??? Noval punya anak? Tapi... Tapi... " Riyu benar-benar tidak percaya.


Sam yang gemas melihat ekspresi Riyu langsung menjawab. "Ya, dia anak Noval dan juga Maya"


"Apa???!!!"


"Hey, biasa saja. Kenapa kau berteriak seperti itu!" Sam protres mengelus telinganya.


"Katakan padaku Sam, bagaimana bisa Noval dan Maya bisa memiliki anak secantik ini?"


"Sayang, kita bisa membuat anak yang lebih cantik setelah ini" jawab Sam menyeringai. Seketika itu juga Riyu langsung menepuk bahu Sam hingga ia kesakitan, karena yang Riyu tepuk adalah bahu yang terbentur saat terhempas karena ledakan bom.


"Aku serius!" Riyu kesal.


"Baiklah, akan aku ceritakan nanti. Lebih baik kita masuk dulu, aku mau mandi"


Riyu mengangguk, sambil menggendong Dhea ia bergandengan tangan dengan Sam dan masuk ke dalam villa. Kalau di lihat-lihat, merek seperti satu keluarga ya. Hmmm.

__ADS_1


Akibat luka yang parah Noval dan Maya menjalani serangkaian perawatan di rumah sakit, itu sebabnya Noval meminta Sam untuk membawa dan merawat Dhea terlebih dulu sampai mereka sembuh. Hanya saja, melihat keadaan Maya kini begitu memprihatinkan. Maya mengalami kerusakan pada pita suara dan juga kelumpuhan pada kedua kakinya. Dokter Lukman akan berusaha melakukan pengobatan terbaik untuk Maya, meskipun untuk sementara ini Maya tidak bisa bicara dan juga tidak bisa berjalan. Semoga saja, Maya mampu menguatkan hatinya saat tau kenyataan yang ia alami jika sudah tersadar nanti.


*****


Malam telah tiba, Riyu duduk termenung duduk bersandar menatap luar jendela. Meskipun tak bersuara namun air matanya menetes deras, mengingat bagaimana ia pertama kali bertemu dengan Darma, saat Darma memarahinya, perhatiannya, dan juga kasih sayangnya. Sekarang mantannya terpejam, merasakan kembali bagaimana Darma menyentuh kepalanya sambil mengingat kembali senyum hangat.


Besok adalah pemakaman Darma, mungkin Riyu juga harus bisa menguatkan diri. Sam yang baru keluar dari kamar mandi tertegun melihat kekasihnya diam melamun, langkah pincangnya berjalan pelan menuju ke arah Riyu. Namun Sam terhenti saat melihat Dhea sudah berlari dan naik ke atas pangkuan Riyu.


"Mama muda, kenapa nangis?" Riyu tergeletak menatap mata bulat di hadapannya.


"Ahaha, Mama ga nangis kok. Kau belum tidur Dhea?" Riyu langsung memasang wajah riang dan menghapus air matanya. "Boleh Mama tanya padamu?"


"Hem" Dhea mengangguk.


"Kenapa kau memanggilku Mama muda? Darimana kau mendapatkan ide seperti itu?" Riyu penasaran.


Dhea terlihat berfikir mengingat ingat jawabannya, "Ayah yang bilang" jawab Dhea dengan logat polos anak kecil.


"Oh, jadi ayahmu?" Sahut Sam menekuk kedua tangannya di depan dada.


"Em" Dhea mengangguk lagi. "Papa Sam Dhea lapar"


"Ayo turun ke bawah, ajak Mama muda untuk makan juga"


"Gendong" Dhea menjulurkan kedua tangannya. Tatapan dan wajah imut Dhea benar-benar meluluhkan hati Sam.


"Kau punya kaki kecil untuk berjalan kan? Kenapa harus gendong?!" mulai galak.


"Sam!" Riyu melotot. Lagi-lagi bibir Dhea mulai melengkung ke bawah, suaranya lirih kemudian menangis kencang.


"Papa Sam nakal" ucap Dhea berhenti menangis lalu menangis kencang lagi, wajahnya memerah, membuat Sam tak mampu berkutik.


"Aaahhh ya sudah ayo!" ucap Sam. Seketika itu Dhea langsung berhenti menangis, sambil tertawa ia berlari ke arah Sam. "Dasar kau, anak dan ayah sama saja menyebalkan" gumam Sam tapi jelas terdengar di telinga Riyu.


"Sam!" protes Riyu lagi.


"Apa? Aku tidak bicara apapun" Sam menggendong Dhea di punggungnya, meskipun jalan pincang dan menahan sakit di pundaknya tapi Sam tidak keberatan dengan Dhea yang nemplok di punggungnya.


Makan malam benar-benar terasa hambar di lidah, namun meskipun hanya mampu menelan beberapa suap saja Riyu tetap berusaha melahapnya demi Dhea. Usai makan malam, Riyu dan Dhea tidur bersama di kamar utama, sedangkan Sam tidur di kamar sebelah sambil mengompres lukanya.


"Bos" ucap Aji baru datang.


"Ya, masuklah" Sam meringis saat menekan bahunya dengan kompres. "Bagaimana lukamu?"


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku Bos, hanya luka kecil dan sudah di obati. Kenapa kau tidak pergi ke rumah sakit dulu sebelum pulang?"


Sam tersenyum singkat. "Jika aku ke rumah sakit, aku yakin dokter tidak akan mengijinkan aku pulang. Entah apa yang terjadi pada Riyu jika aku tidak pulang hari ini"


Aji terdiam, ia membantu mengoleskan salep pada luka lebam yang ada di tubuh Sam. "Kau sudah mengurus sisa peperangan itu?


"Sudah Bos, jenazah Nita baru akan dimakamkan besok lusa"


"Sedangkan Mangsur akan dimakamkan besok"


"Lalu sisanya?" tanya Sam menatap Aji tajam.


"Teratai Hitam sudah mengurusnya" jawab Aji lugas. Mungkin tempat itu sudah terbakar habis dan rata dengan tanah sekarang. gumam Aji dalam hati.


"Baiklah, kau istirahat saja. Aku sudah selesai" ucap Sam kembali memakai bajunya. Aji mengangguk sopan, berlalu setelah membereskan kotak obat dan membawanya.


Sam terdiam sejenak, menengok jam yang menunjukkan pukul satu malam. Ia melangkah menuju kamar Riyu, membuka pintu perlahan hampir tak bersuara. Terlihat gadis mungil itu sudah tidur dengan lelap, kasihan, gadis kecil pasti lelah dan harus menyaksikan kejadian yang mengerikan hari ini.


Meskipun Riyu menutup tubuhnya rapat dengan selimut, tapi Sam masih bisa melihat gerakan isaknya. Pelan-pelan Sam mendekat, ia membuka selimut dan tidur di belakang Riyu lalu memeluknya. "Istirahatlah, kau pasti lelah" bisik Sam membelai kepala Riyu dengan lembut. Riyu terkejut, Sam yang tiba-tiba muncul memeluknya. Ia berusaha menghentikan tangisnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksamu untuk berhenti menangis, jika menangis membuatmu lega, menangislah"


Tidak ada jawaban dari Riyu, nafasnya tersengal yang kemudian di susul dengan tangis yang dari tadi tertahan di lehernya. Sam memeluk Riyu erat, masih dengan membelai kepalanya. Malam ini cukup lama Riyu menangis, hingga sampai pada akhirnya tertidur dalam dekapan Sam.


__ADS_2