Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Perasaan Satu Sama Lain


__ADS_3

**Ayo beri author semangat dengan vote dan likenya ya. Thanks**


Anan masuk kedalam kios dengan wajah murung, kesal, pagi-pagi urusan pentingnya harus terganggu oleh anak sultan di kampus itu. "Bedebah!" gerutu Anan dalam hati sambil masuk kedalam kiosnya.


"Anan kau sudah kembali? Gimana, kamu sudah tau tentang nona muda?" tanya Sanya menatap Anan berbinar.


"Sudah kak." jawab Anan tersenyum singkat lalu beranjak pergi ke belakang.


Anan membasahi wajahnya, berharap air dingin akan menyejukkan otot kepalanya yang mulai menegang akibat menahan emosinya. Mengatur nafas, mencoba rileks sebelum ia kembali kedepan untuk menyapa para pelanggan yang datang untuk membeli kue.


Hari ini adalah hari terakhir ia membantu kakaknya berjualan, besok, Anan akan memulai pekerjaan baru yang penuh resiko dan tanggung jawab. Dapat dipercaya yang utama, seperti menggadaikan nyawa.


"Haaahh" Anan mendengus panjang.


Tangannya kembali menjangkau topi yang dibelikan oleh Casandra, namun ia terhenti, menatap sejenak huruf A yang terpampang. Anan tersenyum tipis, mengingat tingkah gadis lugu yang suka sekali berdebat dengannya.


"Anan, kau tidak apa-apa kan?" ucap Sanya tiba-tiba masuk mengamati tingkah aneh adiknya. "Senyam senyum sendiri sambil liatin topi. Jangan-jangan..." Sanya terdiam.


"Jangan-jangan kenapa kak?" Anan merenyitkan alisnya.


"Kau pasti teringat nona Sandra kan?"


"Maksudmu?" ucap Anan tidak mengerti.


"Hihi. Sudahlah Anan, jangan pura-pura di depan Kakakmu ini, jawab dengan jujur, kau menyukainya kan?" ucap Sanya merangkul pundak Anan.


"Menyukai siapa Kak?"


"Nona Sandra, Anan. Siapa lagi?!" jawab Sanya mulai kesal karena Anan yang tidak peka.


Maklum sih, selama ini juga Sanya belum pernah melihat Anan jatuh cinta. "Sudah jangan bercanda Kak" ucap Anan mencoba untuk tidak bersitatap dengan mata kakaknya itu.


"Haha ternyata wajah dinginmu bisa tersipu juga ya!" teriak Sanya menggoda adiknya.


Anan menyambar topinya, lalu kembali ke depan meninggalkan Sanya yang masih menatapnya sambil menahan tawa.


"Anan, Anan. Bibirmu bisa berkata tidak, tapi matamu tidak bisa berbohong" gunam Sanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Beberapa pengunjung telah mendapatkan pesanannya, Sanya tersenyum ramah melambai pada pelanggan yang beranjak dari kiosnya. Di siai lain, Anan masih sibuk dengan kain lapnya, ia membersihkan meja sambil berfikir keras.


"Apa maksudnya jatuh cinta? Setahuku cinta itu ya saling suka, tapi kalau jatuh? Apa artinya?" gumam Anan dalam hati, wajahnya serius memikirkan apa yang ada di benaknya.


"Ah sudahlah!" ucap Anan langsung melempar lap itu dan tidak melanjutkan aktivitasnya.

__ADS_1


"Persetan dengan jatuh cinta" gumamnya lagi saat lewat di belakang Sanya.


Sanya segera menoleh, tapi ternyata Anan sudah hilang di anak tangga. "Kenapa lagi anak itu? Apa aku salah dengar?" gumam Sanya merenyitkan alisnya.


Tak berapa lama kemudian, terparkirlah mobil mewah di depan kiosnya. Sanya segera menghampiri kedepan, siapa tau ada pelanggan yang akan memesan kuenya. Tapi saat si pemilik mobil itu turun, Sanya terpekik pelan.


"Tu... Tuan Sam" ucap Sanya terbata memberi salam.


"Dimana adikmu?" Sam bernada dingin.


"Saya panggilkan tuan, silahkan masuk"


Sanya langsung menghampiri Anan dengan jantung yang berdegup kencang. Sesampainya di atas iapun langsung mengetuk pintu kamar Anan.


"Anan. Ada tuan Sam di bawah" ucap Sanya cemas.


"Apa?"


Anan bergegas merapikan bajunya lalu menemui Sam. Ia tau kalau Sam tidak suka menunggu terlalu lama.


"Selamat pagi Tuan" sapa Anan sopan.


"Hm. Bagaimana, kau sudah menemui putriku?" tanya Sam sambil memainkan sedotan dengan jarinya.


Bahkan diapun tau kalau aku menemui putrinya. "Sudah Tuan" jawab Anan yakin.


"Iya tuan. Nona muda sangat manis" jawab Anan melayani ucapan Sam.


"Tapi kau tidak boleh menatapnya terlalu lama. Paham!"


"Paham tuan"


"Besok jangan sampai terlambat!." ucap Sam sambil berlalu pergi.


"Siap Tuan" Anan menjawab mantap. Ia menatap sayu punggung pria tegas di depannya dan menghilang beriringan dengan mobil yang melaju sedang.


*****


Sedangkan di sisi lain, di taman kampus Casandra dan Riko masih berupaya menjelaskan apa yang terjadi. Tapi sepertinya Casandra harus benar-benar sabar menghadapinya, karena sifat Riko yang tidak mau kalah.


"Riko. Aku ga ngerti kenapa kamu kasar banget sama Anan" protes Casandra. Ia merasa sedikit kesal dengan perlakuan Riko yang menghina seseorang dengan sangat kasar.


"Kenapa kamu malah membela si gembel itu?! Jangan-jangan kau menyukainya!" Riko tidak kalah kesal.

__ADS_1


Terlihat Casandra memijat keningnya perlahan, entah kata-kata apa lagi yang harus ia jelaskan. Casandra senang Riko cemburu, itu berarti terbukti kalau dia memang suka padanya.


"Riko, sudah aku bilang aku dan Anan hanya sekedar teman. Ga lebih" jelas Casandra mencoba berbicara selembut mungkin. "Sudah jangan marah lagi, okey"


Terdiam sejenak menatap Casandra pekat. "Oke. Tapi jika aku melihat kau berdekatan lagi dengannya, aku ga akan segan-segan mematahkan tangannya" Riko menatap tajam.


"Haaaahhh" mendengus panjang. Mata Casandra menatap Riko mencoba membaca matanya. "Kenapa kau sangat membenci Anan? Dan sepertinya kalian saling kenal. Benarkan?" Casandra menatap tajam.


Riko terdiam. Bingung menjawab pertanyaan Casandra, ia tidak menyangka kalau Casandra memiliki pemikiran yang begitu teliti.


"Ya, Aku kenal Anan. Bahkan aku sangat membencinya" jawab Riko pasrah.


"Jelaskan padaku, kenapa kau membencinya?" Casandra menyedakapkan kedua tangannya.


"Cukup Casandra. Aku tidak mau kamu dekat-dekat dengannya"


"Kasih tau aku alasannya Riko." tapi Riko hanya terdiam, seakan sulit untuk menjelaskan. "Terserahlah" ucap Casandra kesal lalu beranjak pergi.


"Casandra. Hey!" teriak Riko. Tapi Casandra masih tetap berjalan tanpa menoleh ke arahnya.


Casandra terdiam berjalan perlahan menusuri lorong kampus. Ada rasa tidak terima ketika mendengar Riko menghina Anan, ada rasa marah saat Riko mengancam Anan. Entahlah mungkin karena Anan sudah seperti teman meskipun menyebalkan, hanya saja ....


"Sandra!" ucap Nanda menepuk pundak, mengagetkan.


"Eh iya. Haduh. Kenapa kamu suka banget ngagetin aku!" Casandra tersentak memegangi dadanya.


"Ya... Sorry. Ada apa? Kenapa kamu melamun begitu? Jangan bilang kamu bertengkar dengan Riko" Nanda menatap seksama.


"Hem. Sedikit" jawab Casandra agak enggan mengangkat kedua bahunya


"San. Kalian kan baru dekat, masa udah bertengkar sih"


"Nanda... " Casandra terdiam sejenak. "Aku... Nggak suka sikap dia yang kasar."


"Iya juga sih, Riko memang agak keterlaluan tadi" Nanda tersadar. "Tapi San, aku ngga ngerti. Kenapa kamu membohongi Anan?" Nanda menatap seksama.


"Membohongi apa maksudmu?"


"Kau bilang padanya kalau Sara adalah putrinya ayahmu! Kenapa Casandra?!"


"Oohhh haha itu ya" Casandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku... Minta maaf Nanda, aku hanya ingin tau kenapa pria menyebalkan itu ingin sekali cari tau tentang aku. Kau tau sendiri kan? Ayah sangat menutupi identitasku, jadi terpaksa aku bohong" jelas Casandra.


"Iya juga sih, tapi ya.... Semoga kau tidak terjerat masalah baru lagi nantinya!"

__ADS_1


"Tenang saja Nanda, aku pasti akan mengurusnya."


Nanda mengangguk, mereka beriringan kembali menuju kelas.


__ADS_2