
Musim dingin kini telah beralih menjadi musim semi, udara dingin mulai terasa lebih hangat. Cahaya mentari perlahan menembus korden jendela tempat Sam dirawat, lenguhan lirih disertai gerakan jemari lemah mulai terlihat jelas.
"Pak. Tuan Sam sadar" ucap Aji menelpon Mahesa.
"Oh Tuhan... Syukurlah, Aji kau hubungi dokter supaya memeriksa kondisi Sam! Aku akan segera kesana" jawab Mahesa dari telepon.
"Baik" ucap Aji lalu menutup teleponnya.
Tak lama kemudian, dokter datang memeriksa fisik dan keadaan Sam dengan cermat. Aji yang berdiri disisi ranjang melihat dengan penuh harap kalau Sam akan segera pulih.
"Dokter bagaimana keadaan putraku?" Tanya Mahesa yang baru masuk ke kamar rawat itu.
"Luar biasa Pak Mahesa, Kondisi Sam mulai stabil, dan membaik dengan sangat pesat akhir-akhir ini. Dia hanya butuh waktu untuk memulihkan tenaganya" ucap dokter tersenyum menjabat tangan Mahesa.
"Terimakasih Dokter" sahut Mahesa dengan perasaan semang dan lega.
"Sama-sama pak, jika ada yang diperlukan hubungi saya. Saya permisi dulu" ucap Dokter langsung melangkah pergi.
Mahesa mendekati Sam yang masih terpejam, ia sangat ingin berada disisi sam sampai ia membuka mata. Tapi kondisi sangat tidak memungkinkan karena hari itu juga Mahesa harus menghadiri rapat penting.
"Aji, kau jaga Sam baik-baik. Aku harus pergi untuk rapat, beri tahu aku keadaan Sam setiap saat. Kau paham?!"
"Siap Pak" jawab Aji lugas. Mahesa memandang Sam sejenak lalu ia bergegas pergi.
"Bos. Sampai kapan kau akan tertidur seperti ini? Bagaimana kalau kita bertukar? Aku yang tidur dan kau berdiri selama dua hari menggantikan ku!" Ucap Aji sambil merebahkan tubuhnya disandaran kursi yang berada disisi ranjang Sam.
Aji melenguh panjang sambil menikmati punggungnya yang terasa lebih rileks saat bersandar, ia mulai merasa ngantuk. Memang selama Sam koma Aji lebih jarang tidur di tempat tidur hangat. Ia sangat merindukan suasana dimana bisa tidur nyenyak.
"Kau benar-benar cari mati denganku!" tiba-tiba saja terdengar orang berbicara.
Aji melompat dari kursinya karena kaget, ia menatap Sam. Tapi saat itu Sam masih diam dan terpejam, Aji memutar kepalanya melihat sekeliling. Tidak ada orang di sana kecuali dirinya dan Sam.
"Baiklah, tidak mungkin kan Sam jadi hantu. Tunggu. Apa dia masih bernafas?" Gumam Aji sambil mendekati Sam pelan-pelan.
"Aji tunggu aku pulih jika ingin meledekku, aku belum mampu baku hantam sekarang!" ucap Sam yang langsung membuka matanya melirik Aji dengan tajam.
"Bos kau benar-benar sudah sadar?" Aji menatap Sam seksama.
"Kau pikir aku berpura-pura? Konyol!"
Dengan sekuat tenaga Sam mencoba bangkit dan duduk di atas hospital bed-nya. "Arrgghhh... Badanku rasanya seperti kayu yang lapuk!" Sam menggerutu.
"Tentu saja, kau tidur selama tiga bulan!" ucap Aji kembali duduk di kursi.
"Tiga bulan??!."
"Ya tiga bulan! Kau berhutang wiski padaku, karena selama menjagamu aku sama sekali tidak bisa menikmati hidup!" Aji menggigit apel yang ia ambil dari atas meja pasien.
__ADS_1
Sam terdiam, wajah herannya berubah menjadi tanpa ekspresi. "Ada apa bos?" Tanya Aji yang sadar kalau ada sesuatu yang sedang dipikirkan Sam.
"Selama aku tidak sadar, apa dia datang menjengukku?" Tanya Sam menatap sayu.
"Em... Maksudmu Nona Riyu?" Tanya Aji, meskipun Sam tidak menjawab tapi terlihat dari ekspresinya. Aji berhenti mengunyah, darahnya terasa berdesir jika ditanya tentang Riyu. Bagaimana ia menjelaskan tentang semuanya, Aji takut akan membuat emosional Sam tak terkendali.
"Dia..."
"Sam... Syukurlah kau sudah sadar" Nita hadir menyapa memotong ucapan Aji.
"Bagaimana keadaanmu putraku? Apa sudah lebih baik sekarang?"
"Ya baik" Jawab Sam dengan nada enggan tanpa sedikitpun menoleh ke arah Nita, ibu tirinya.
"Ooh Sam. Kau tidur begitu lama dan... Banyak sekali melewatkan sesuatu yang penting, termasuk nasib kakak iparmu" ucap Nita dengan nada yang lembut dan wajah yang pura-pura cemas.
"Maksudmu Riyu? Apa yang kau lakukan padanya!" Sam langsung marah mencengkram erat lengan Nita.
"Bos kendalikan dirimu. Nyonya Nita, lebih baik bahas masalah ini lain kali. Tuan Sam baru sadar dan perlu istirahat!" Aji memberi peringatan.
"Katakan padaku apa yang terjadi pada Riyu!" Sam bergetar menatap tajam. Nita menghempaskan tangan Sam dari lengannya.
"Baiklah akan aku beri tahu, Riyu mengalami koma setelah beberapa hari kau di rawat. Dia memiliki gumpalan darah yang menyumbat di saraf otaknya. Tapi tenang saja Sam, kini Riyu sudah membaik dan sedang menjalani perawatan di Singapore"
"Singapore?" Ucap Sam mengerutkan kedua alisnya.
"Ya. Singapore, tapi... Aku harap kau tidak perlu membuang tenaga dan fikiran mu untuk masalah ini karena sudah ada Noval yang mengurusnya. Suami sah Riyu" Nita mendekati Sam dengan tatapan tajam, ia melihat wajah Sam yang mulai berkeringat dingin.
Sam bergetar mengepalkan kedua tangannya, ingatannya kembali pada masa dimana dirinya melihat Riyu yang sedang diancam Noval. Namun saat dirinya mencoba menyelamatkan Riyu, Sam malah masuk ke dalam jebakan Noval.
"Bos kau..." Aji mencoba mencairkan suasana.
"Kapan aku boleh keluar dari rumah sakit?"
"Perkiraan satu Minggu kedepan bos, kau harus benar-benar pulih!"
"Siapkan jadwal aku ingin keluar besok!"
Aji hanya bisa diam, karena percuma bicara pun Sam tidak akan mendengar nasehatnya. "Akan aku coba bos" ucap Aji sekenanya.
"Kau boleh pergi"
Aji mengangguk sekali lalu melangkah keluar kamar, sebelum menutup pintu Aji menoleh ke arah Sam yang sedang terlihat kacau.
Bayangan saat Riyu tersenyum terpampang jelas di depan angannya, namun... Semakin berusaha menggapainya Sam semakin jauh darinya.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya, Mahesa mendengar Sam nekat akan keluar rumah sakit hari ini. Dia sendiri tidak setuju karena khawatir Sam belum benar-benar pulih, sebelum itu terjadi, pagi-pagi sebelum Mahesa berangkat ke kantor ia bergegas menemui Sam di rumah sakit. Namun pada saat Mahesa membuka pintu utama.
"Sam..." Ucap Mahesa terkejut melihat Sam yang sudah berdiri di depan pintu.
"Papa katakan padaku. Dimana Riyu dirawat? Singapore? rumah sakit apa?" ucap Sam secara tiba-tiba. Wajah Sam yang masih terlihat pucat membuat Mahesa merasa khawatir.
"Darimana kau mendapatkan informasi seperti itu!"
"Istri tercintamu, siapa lagi?"
"Sam kau tidak seharusnya keluar dari rumah sakit sekarang, kau benar-benar belum pulih!"
"Papa tolong katakan padaku bagaimana keadaan Riyu" ucap Sam lirih. Kakinya mulai gemetar lemas karena belum terlalu kuat menopang tubuhnya. Sam ambruk di depan Mahesa, namun dengan sigap Mahesa memeluknya. "Aji! Bantu aku mengantar Sam ke rumah sakit!" teriak Mahesa panik.
Aji langsung berlari menghampiri keduanya dan membantu Mahesa menopang Sam. "Aku ga mau ke rumah sakit!" Protes Sam, keningnya mulai berkeringat dingin.
"Sam kau jangan keras kepala!" sentak Mahesa.
"Aji, bantu aku ke kamar" Aji langsung memapah Sam melangkah ke kamarnya pelan pelan.
Tidak ada kata-kata lagi yang bisa Mahesa katakan, Sam tidak akan pernah mendengarnya. Mahesa terduduk lunglai di sofa ruang tamu, matanya menatap tajam ke arah foto istrinya yang terpasang ditembok tepat diseberang Mahesa duduk.
"Nita..." Ucap Mahesa menahan geram.
Mahesa langsung mengarahkan mobilnya menuju kantor cabang yang dikelola oleh istrinya, sengaja ia tidak menelpon terlebih dahulu karena Nita pasti akan memiliki banyak alasan saat berbicara ditelepon.
Saat itu Nita sedang sibuk berbicara dengan klien di ruang tunggu VIP, ia terkejut melihat Mahesa yang sudah berdiri menatapnya dingin. Dengan hati yang berdebar, Nita mendekati Mahesa menyembunyikan kecemasan melalui senyumnya.
"Suamiku... Eum... Tumben kau datang? Ada apa?" Tanya Nita dengan nada yang lembut.
"Jika sudah selesai berdiskusi, temui aku di ruangan mu!" Ucap Mahesa langsung berbalik pergi.
Nita meremat jari jemarinya, ia tau apa yang ada di wajah Mahesa adalah kemarahan yang ingin disampaikan. Sepuluh menit kemudian, usai klien pergi Nita langsung menemui Mahesa di ruangannya. Dengan langkah yang pelan Nita mendekat ke hadapan Mahesa dan duduk tegak di kursi yang bersebrangan dengan Mahesa.
"Ada apa pa?" Tanya Nita agak ragu.
"Nita usiamu kini sudah tidak lagi muda, tapi kenapa kau tidak bisa membimbing dirimu untuk menjadi orang tua yang baik?" ucap Mahesa telak.
"A... Apa maksudmu?!"
"Kau tau Sam adalah putraku satu-satunya, penerus keluarga Mahesa yang sah! Aku tidak akan mengampuni diriku jika terjadi sesuatu padanya, tapi kenapa dengan mudahnya kau merusak emosionalnya saat dia baru sembuh!" Mahesa mulai berbicara dengan nada tinggi.
"Aku... Aku hanya. Sam bertanya tentang Riyu, jadi apa aku salah jika aku memberitahu dia!"
"Jika kau ingin memberi tau keadaan Riyu, apa tidak bisa menunggu hingga Sam benar-benar sehat! Kau sengaja Nita! Karena kau tau Sam sangat mencintai Riyu jadi kau sengaja menghancurkan perasaannya"
Nita tidak mampu menjawab, setelah sekian lama Nita melihat Mahesa benar-benar marah padanya.
__ADS_1
"Nita... Aku menikahi mu karena untuk menggantikan posisi Ranu dihidupku, meskipun, Kau sama sekali tidak pernah berperan menjadi ibu yang baik untuk Sam selama ini. Anggap saja ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan padamu!" Ucap Mahesa, ia langsung beranjak dari kursinya lalu keluar dari ruangan Nita.
Dada Nita terasa sedikit sesak mendengar ucapan Mahesa, ia mengepalkan tangannya menahan kesal dengan wajah memerah dan genangan air di matanya.