
"Tidak...."
Ucap Riyu yang langsung terbangun dari pingsannya, keningnya berkeringat, nafas tersengal karena dia bermimpi kejadian malam itu.
Riyu duduk memegangi kepalanya yang masih terasa pening, matanya berputar mengelilingi ruangan, dia baru sadar kalau ternyata sedang berada di rumah sakit.
"Aku masih hidup?" gumamnya.
Dengan hati-hati Riyu mengambil air minum yang berada di atas meja tepat di samping ranjang, entah berapa lama dia pingsan, tapi tenggorokan rasanya benar-benar kering.
Riyu menyeka bibirnya dengan pergelangan tangan, dia kembali teringat saat Sam yang tiba-tiba menciumnya tanpa ragu sedikitpun.
"Dia benar-benar gila!" umpat Riyu kesal.
Tapi di sisi lain, Riyu juga teringat... Sam lah yang telah menyelamatkannya. Jantungnya kembali berdegup kencang saat ia terbayang Sam melindunginya di dalam pelukan yang erat.
Saat itu juga Darma masuk ke dalam kamar, ia menemui Riyu yang sedang duduk sambil melamun...
"Riyu kau sudah sadar?"
Suara Darma yang serak dan tegas membuat Riyu kaget, "I... Iya kek" jawabnya.
"Jangan terlalu banyak berfikir, kamu baru pulih" ucap Darma sambil duduk di kursi. Riyu tersenyum pada kakeknya.
"Em... Kek, bagaimana keadaan Sam?" Tanya Riyu canggung.
"Bocah tengik itu memiliki banyak nyawa! Kau tidak perlu khawatir"
Mendengar ucapan Darma Riyu tertawa geli, "Kakek, Sam itu..."
"Riyu..." Panggil seseorang yang tiba-tiba masuk memotong ucapan Riyu. serentak Darma dan Riyu menoleh ke sumber suara yang berasal dari depan pintu.
"Maya?" Ucap Riyu dengan ekspresi senang sekaligus tidak percaya.
"Riyu... Aku sangat merindukanmu..." Wanita bernama Maya itu langsung berlari memeluk Riyu.
"Maya, kau datang kemari kenapa tidak memberi tau! Aku bisa meminta Bayu untuk menjemputmu" Ucap Darma.
"Kakek, sengaja aku mau bikin surprise. Mendengar Riyu mengalami kecelakaan aku langsung panik dan ga kepikiran buat ngabarin kalian"
"Riyu, bagaimana keadaan mu? Sejak kau meninggalkan Singapore aku jadi sangat kesepian. Kau tau, cuma kamu teman yang asik di ajak ngobrol!" ucap Maya yang duduk di samping Riyu.
"Haha Maya kamu bisa aja. Aku sudah baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir"
Suasana kamar seketika berubah menjadi hangat, Riyu merasa sangat bahagia saat Maya mengunjunginya.
Maya adalah cucu keponakan Darma. Selama ini dia menetap dan tinggal di Singapore bersama ibunya, kehidupan Maya bisa di bilang tidak beruntung karena dia harus menjadi korban perceraian ibu dan ayahnya.
Awalnya Maya tinggal di kota S, tapi karena perusahaan orang tuanya bangkrut, mereka memutuskan untuk pindah ke Singapore dan memulai bisnis dari nol di sana.
"Oh iya... Dimana Noval? Sejak aku datang dia ga keliatan sedikitpun?"
"Biasalah May, dia orang sibuk. Mungkin nanti sore datangnya" jawab Riyu.
"Kakek lega kau ada di sini Maya. Kau baru tiba, sebaiknya pergilah istirahat"
"Tidak kek, aku pengen nemenin Riyu di sini. Kalau kakek ada urusan pergilah, biar aku yang menjaganya"
Darma tertawa ringan. "Kau ini memang wanita yang energik. Baiklah, kalau begitu kakek pergi dulu" ucap Darma berpamitan.
"Oke, kakek sudah pergi. Sekarang ceritakan padaku, apa yang terjadi Riyu? Kenapa kau bisa mengalami kecelakaan itu? Bagaimana kau bisa selamat? Apa yang meledakkan kincir sudah tertangkap??" Tanya Maya dengan sekali tarikan nafas.
"Maya pertanyaan mu bikin aku sakit kepala! Hemm... Ceritanya panjang May, mungkin lain waktu saja ceritanya ya"
"Haahhh... Oke lah" Maya membuang nafas panjang.
__ADS_1
"May... Anterin aku yuk!" Ucap Riyu bisik-bisik.
"Hem? Ke toilet kah?" Sahut Maya.
"Ish... Bukan! Anterin aku jenguk adik ipar" bisik Riyu lagi.
Maya terkejut memandang Riyu heran dan ekspresi wajah bingung.
"Please" Ucap Riyu memelas.
"Kamu belum pulih, kalau sampe kakek atau Noval tau, aku bisa di ***** habis oleh mereka!" Protes Maya.
Maya tau kalau sebenarnya Riyu ada sesuatu dengan adik iparnya, sat Riyu menjalani perawatan di Singapore Maya di ceritakan semuanya oleh Darma dengan syarat dia harus bisa merahasiakannya, karena Maya masih memiliki ikatan saudara dan keluarga, Darma pun mempercayai Maya selayaknya cucu sendiri, tentu mereka sangat hangat dan dekat.
"Ayolah Maya... Adik ipar sudah nylametin aku! Apa salah kalau aku pengen tau keadaannya?!"
Maya terdiam menatap dalam... Sebenarnya Maya ingin menolak ajakan Riyu, tapi jika dia menolaknya Riyu pasti akan sedih.
"Jawab dulu pertanyaan ku! Apa adik iparmu tampan?" Maya tersenyum nakal.
"Ya dia sangat tampan..." Jawab Riyu malu-malu, saat itu juga Riyu tersenyum membayangkan wajah Sam. Riyu sadar kalau Maya sedang mengawasinya ia pun kembali mengalihkan...
"Bagaimana? Kau mau kan?"
"Em... Oke, tapi jangan lama-lama ya! Aku ga mau kena marah!
Tawa senang terpancar di bibir Riyu, setelah mengawasi sekitar dan melihat tidak ada orang di sana... Riyu dan Maya langsung bergegas menuju kamar Sam.
"Maya, aku rasa dia ada di kamar ini" ucap Riyu yakin.
"Hey darimana kau tau? Gimana kalau yang ada di kamar ini adalah kakek tua yang genit!"
"Ish! Kau ini... Sudah ayo cepat"
Riyu membuka pintu perlahan, ia melongokkan kepalanya dan... Benar saja... Di sana ada Sam yang sedang bertelanjang dada usai mengganti pakaian.
"Apa yang kau lihat? Apa tubuh Noval ga seseksi ini?" Ucap Sam menggoda Riyu.
"A... Apa! Aku... Aku cuma liat lukamu!" sahut Riyu langsung mengalihkan pandangannya, wajahnya malu dan merah merona. Sam tersenyum geli melihat Riyu yang mulai salah tingkah.
"Riyu... Bisa kau geser sedikit?! Aku juga mau lihat seperti apa adik iparmu!" Maya berbisik dan menerobos Riyu yang berdiri di depannya.
"Wow... Seksi" Gumam Maya terperangah melihat Sam.
"Siapa kamu?!" Tanya Sam menatap tajam.
"Eum... Hehe Sam, jangan marah. Dia... Dia Maya, sepupu aku dari Singapore. Aku...Yang memintanya mengantarku untuk menjenguk mu" Jelas Riyu agak kurang enak hati.
"Yup betul" Sahut Maya tersenyum ringan tanpa ada rasa bersalah.
"Oke ladies... Kalian sudah lancang memasuki kamar singa tanpa mengetuk pintu! Jadi kalian harus membayarnya!" Ucap Sam sambil melempar baju kotornya ke sisi ranjang rumah sakit.
"Apa maksudmu?!" Ucap Riyu merasakan akan ada sesuatu yang tidak beres.
"Kau... Siapa namamu?" Tanya Sam menunjukkan jari.
"Maya" Jawab Maya riang.
"Maya... Kau berdiri di luar. Awasi pintu masuk! Jika ada orang datang kemari kau harus memberi kode!" Ucap Sam yang mendorong Maya perlahan sampai di depan pintu kamar inap nya.
"Ap... Tapi... Tapi..." Protres Maya, tapi Sam telah menutup pintunya dengan rapat.
"Hah... Haduh, bisa gawat ini!" gumam Maya cemas. Ia pun menoleh ke sana kemari untuk melihat keadaan. Berharap dalam suasana seperti ini Noval atau kakek tidak datang ke rumah sakit.
"Dan kau...." Ucap Sam beralih menatap Riyu. "Kau akan mendapatkan hukuman spesial dariku"
__ADS_1
Riyu gugup, ia melangkah mundur menghindari Sam yang semakin mendekat. "Sa... Sam, berapa kali aku harus bilang. Jaga sikap mu karena aku..."
"Kakak iparku? Riyu, Umurku 8 tahun di atas umurmu. Kau tidak pantas menyebutku sebagai adik ipar!" Sam semakin dekat dengan Riyu.
Punggung Riyu mulai tertahan oleh tembok, tidak ada jalan keluar lagi, sedangkan Sam sekarang benar-benar dekat dengannya.
"Sam... Kalau kau berani macam-macam aku akan teriak!" Ucap Riyu bergetar.
"Teriaklah" Sam masa bodo.
Saat ada celah di sebelah kanannya, Riyu langsung menerobos Sam untuk melarikan diri. Tapi Sam langsung menarik tangannya dan menghempaskan dirinya ke atas bangsal.
"Sam apa yang kau lakukan!" bentak Riyu.
"Aku cuma mau membantumu mengingat apa yang pernah kita lakukan dulu!" Sam menatap tajam.
Tidak sadar kini Riyu telah berada di bawah Sam, tangannya tertahan dengan kuat. "Apa sejauh ini kau mengingat sesuatu?!" Ucap Sam dengan nafas yang berat, Riyu tidak mampu bergerak banyak karena Sam telah menindihnya.
"Tidak... Sam lepaskan aku!"
Meskipun tau Riyu sangat ketakutan tapi Sam tidak peduli....
Di sisi lain, Maya masih bolak-balik di depan pintu sambil meremat jarinya. "Sebenarnya apa yang mereka lakukan di dalam! Sepertinya kakek Darma benar, adik ipar Riyu sedikit gila!" ucap Maya khawatir. Ia menpelkan telinganya di sela-sela pintu, Saat itu juga Maya mendengar suara Riyu yang terpekik...
"A... Apa yang terjadi, jangan-jangan Riyu sedang di cekik olehnya" mata Maya melotot membayangkan hal yang mengerikan. Ia pun mencoba untuk membuka pintu perlahan dan melihat ke dalam, saat Maya melihat ke dalam ia terpekik dan...
"Oh Astaga..." Maya langsung menutup lagi pintunya dengan cepat.
"Apa mereka gila!" Ucap Maya, ia mengibaskan tangan karena sesak nafas dan tubuhnya terasa panas seketika.
"Aduuhhh.... Gimana ini! Gimana kalau tiba-tiba datang..." Maya terdiam, ia terperangah saat melihat ke ujung lorong...
"Noval..." Pekik Maya.
Ia semakin panik saat melihat Noval yang sedang berjalan dari ujung lorong semakin dekat ke arahnya.
"Ri... Riyu.... Riyu!" Bisik Maya panik sambil mengetuk-ngetuk pintu.
"Maya?" Tanya Noval setelah sampai di hadapannya.
"Eumm... Hehe No... Noval, sedang apa kau di sini" Ucap Maya gugup.
"Seharusnya aku yang tanya! Sedang apa kau di sini?!"
"Aku... Aku sedang..." Maya bingung menjawabnya.
Noval menatap Maya tajam, ia merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan. "Dimana Riyu?!" Tanya Noval dengan nada dingin.
"Dia... Dia" Maya semakin gemetar, seketika itu juga Noval langsung menyingkirkan Maya dari depan pintu dan menerobos masuk ke dalam kamar inap Sam.
"Noval..." Maya mencoba mencegah Noval tapi terlanjur Noval telah masuk.
"Hai suamiku..." Sapa Riyu dengan nada yang ramah.
Jantung Maya benar-benar serasa mau meledak karena takut Noval akan memergoki Sam yang sedang berada di atas Riyu, tapi saat ia menyusul masuk, Riyu sudah duduk di kursi dan Sam di atas bangsalnya rebahan menyandar di bantal.
"Bagaimana bisa kau..." ucap Maya spontan. Tapi ia langsung terdiam saat Noval menoleh menatapnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Noval curiga.
"Apa? Aku hanya sedang menjenguk Sam" jawab Riyu. "Ayo Noval, kita kembali ke kamarku" Riyu beranjak dari kursinya lalu menggandeng tangan Noval.
Sedangkan Sam hanya diam mengamati dengan wajah yang menyebalkan, Riyu menarik Noval untuk kembali ke kamarnya, sedangkan Maya masih berdiri menatap Sam heran. "Aku melihatmu tadi! Tapi... Bagaimana bisa..."
"Maya! Ayo cepatlah!" ucap Riyu. Maya pun terkejut, ia menatap Sam yang tersenyum sambil mengangkat bahunya, lalu segera menyusul Riyu keluar kamar Sam.
__ADS_1
"Lain kali aku akan membiarkan Noval melihatnya Riyu... Kau benar-benar terlihat menggemaskan saat panik" Gumam Sam tersenyum geli mengingat wajah tadi.