
Pagi itu para cucu Darma telah sampai di kediamannya, kedatangannya langsung di sambut dengan senyuman Darma. Di penghujung usianya yang telah senja, Darma berharap akan menemui kehidupan yang damai. Tapi kini malah sebaliknya, namun melihat Riyu yang tersenyum bahagia, sudah menjadi kedamaian tersendiri untuk Darma meskipun, masalahnya kini masih dalam kondisi kritis.
"Kakek" ucap Riyu saat pria renta berwajah sayu telah menunggunya di ruang keluarga. Ia langsung berlari untuk memeluk kakeknya. Badannya kini terasa berbeda dengan terakhir kali Riyu memeluk kakek, terasa sekali kalau tubuh Kakek Darma semakin kurus. "Kakek Riyu kangen. Kenapa kau tidak memberitahu aku kalau kakek sakit?"
"Maafkan Kakek, Riyu. Kakek tau kau sangat sibuk, jadi kakek melarang Maya untuk tidak memberitahukanmu sampai akhir pekan nanti"
"Kenapa harus menunggu akhir pekan?! Aku bisa saja datang kapanpun Kakek minta" protres Riyu.
Riyu dan Darma sibuk ngobrol kesana-kemari, apapun, untuk melepas rindu, sedangkan Maya mulai menjalankan tugasnya. Maya berjalan menuju arah dapur untuk mencari pak Amir, Maya sudah yakin dengan firasatnya kalau memang penghianat di kediaman Darma adalah Amir.
Setelah melewati dapur Maya masih belum menemukan batang hidung Amir, ia kemudian berjalan lagi menuju tempat para pelayan, tapi di sana juga tidak ada. Kemana dia?.
"Kau. Apa kau tau dimana kepala pelayan? Kenapa dia tidak ada?" tanya Maya pada salah satu pelayan wanita yang kebetulan lewat di depannya.
"Maaf Nona Maya, kepala pelayan sedang ambil cuti sejak dari kemarin" ucap pelayan dengan sopan.
"Cuti?" Maya merenyitkan alisnya.
"Iya Nona. Apa Nona Maya membutuhkan sesuatu? Biar saya bantu siapkan." Pelayanan tersenyum ramah menawarkan diri.
"Oh tidak terimakasih. Kau boleh pergi"
"Baik Nona Maya, kalau begitu saya permisi" pelayan menundukkan kepalanya lalu pergi dari hadapan Maya.
Kemarin? Jangan-jangan mobil misterius itu adalah pak Amir yang sengaja menguntit ku. Maya termenung sejenak. Ia bergegas menemui Riyu dan Darma yang ternyata sudah pindah ke ruangan Darma.
Saat Maya masuk, Noval dan Sam ternyata juga sudah ada di ruangan itu. "Maya, kunci pintunya" ucap Darma seketika menghentikan langkah Maya yang hampir sampai di depan Darma.
"Baik kek" Maya berbalik lalu mengunci pintunya, kemudian ia duduk di samping Noval.
"Ternyata dia tidak ada Noval, kata salah satu pelayan pak Amir sedang ambil cuti dari kemarin" ucap Maya dengan nada yang pelan, Matanya mengawasi Darma berharap jangan dulu menoleh ke arahnya. Tapi setelah Maya memberi informasi itu, Darma beralih menatapnya. Maya kembali bersiap biasa dan menghentikan obrolan lirihnya dengan Noval.
Ruangan kembali senyap, semua terdiam menunggu Darma angkat bicara. Kedatangan Noval dan Sam sebenarnya hanya ingin mengantar Maya dengan aman, juga Riyu yang ingin sekali bertemu dengan kakeknya. Tapi siapa sangka, kalau kakek Darma kemudian mengumpulkan mereka di ruangannya. Itu berarti ada pembicaraan penting yang harus di sampaikan.
"Maya, sekarang jelaskan padaku" Darma menatap tajam.
"Jelaskan apa kek?" Maya gugup menggenggam tangannya erat.
"Sudah aku peringatkan kau untuk tidak ikut campur terlalu jauh, akhirnya begini kan jadinya. Kau yang terluka" berkata dengan nada dingin.
Maya hanya tertunduk tidak berani menatap Darma."Kakek, aku hanya ingin... "
"Membantu? Aku senang Maya dan terimakasih. Tapi aku lebih rela kehilangan perusahaan daripada kehilangan cucu-cucuku" ucap Darma bergetar.
"Tapi Kek, kita masih memiliki Galuh union kan? Kita bisa mengembalikan dana untuk Darma Union bangkit lagi" sahut Riyu optimis.
"Jika itu kau lakukan maka mereka juga akan membuka data perusahaanmu Riyu" jawaban Darma membuat wajah Riyu berubah pias. Pembicaraan semakin menjurus ke arah yang lebih serius. Namun entah kenapa Darma seperti kehilangan energi hidupnya, ia lebih memilih pasrah dan membiarkan perusahaannya musnah.
****
Di waktu yang bersamaan
"Apa?! Kau tidak menemukan berkas itu?!" Hardik Mangsur pada Amir.
"Maaf Tuan, saya sudah berusaha. Tapi saya tidak menemukan dimana Tuan Darma menyembunyikan berkas itu. Memang ada satu tempat yang sulit sekali saya jangkau, ruangan Tuan Darma." jawab Amir lugas
"Kau dengar! Aku sudah menjamin seluruh hidupmu, dan berjanji akan memberikan bayaran setimpal jika kau berhasil mendapatkan berkas dan peta pertambangan berlian. Tapi mana?! Bahkan tidak ada satupun informasi yang kau berikan padaku! Aku tidak mau tau bagaimana caranya kau masuk ke ruangan Darma, kau ambil bekas itu!" kini kedua tangan Mangsur telah mencengkram erat kerah Amir.
"Tuan, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi sepertinya Darma mulai curiga dengan adanya mata-mata di rumahnya. Dia tidak pernah menyinggung atau membicarakan tentang perusahaan ataupun tambang berlian itu, bahkan ketika melihat saya, wanita itu malah mengalihkan pembicaraan"
__ADS_1
"Maya?"
"Ya Tuan" jawab Amir menahan gemetar di tubuhnya.
"Wanita itu ternyata memiliki firasat yang cukup bagus, kau urus dia. Apapun rencananya, tunggulah informasi dariku" Mangsur langsung melepaskan cengkeramannya. Tak lama kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Tuan, Nyonya Nita ingin bertemu" ucap sekertaris memberi tau.
"Biarkan dia masuk. Dan kau Amir, kau boleh meninggalkan tempat ini"
"Baik Tuan" Amir membungkuk lalu beranjak pergi. Bersamaan dengan itu juga Nita masuk ke dalam ruangan Mangsur. Langkahnya berhenti sesaat mengamati Amir yang berpapasan dengannya.
"Bukankah dia kepala pelayan di kediaman Darma?" Nita sama sekali tidak menduga kalau Mangsur ternyata telah bertindak sejauh itu. Dia bahkan sampai bisa merekrut orang-orang kesetiaan Darma.
"Ya, surprise. Kau pasti tidak menyangka bukan?" Mangsur tertawa bangga. "Apa yang membuatmu datang kemari Nita?" Mangsur mendekati Nita, menggapainya tangannya lalu mengecupnya dengan lembut.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" ucap Nita kembali gugup dan salah tingkah dengan perlakuan Mangsur itu.
"Hanya itu? Apa kau tidak merindukan aku?"
Nita tergelak, ia menatap Mangsur terkejut. "Kenapa kau begitu terkejut Nita? Perasaanku terhadapmu masih sama seperti dulu. Hanya saja, aku berusaha untuk mengendalikan diriku. Apa kau masih memiliki perasaan yang sama terhadapku?" Mangsur menyusuri wajah Nita dengan jarinya. "Aku berusaha menghilangkan perasaan itu, tapi setelah sering bertemu dengamu aku semakin tidak bisa untuk membatasi diriku"
"Itu dulu Mangsur, tapi keadaannya sudah berbeda sekarang, bukan hanya sekarang, tapi sejak kau meninggalkan aku" Nita memalingkan wajahnya. Menghindari debaran yang telah lama tidak ia rasakan.
"Apa kau masih marah padaku? Nita semua itu bukanlah keinginanku." ucap Mangsur memeluk Nita dari belakang. Perlahan, Mangsur mulai menyeka leher Nita yang jenjang, sentuhan itu membuat Nita terpejam merasakan merinding di sekujur tubuhnya.
Apa yang bukan keinginan keinginan Mangsur? Pernikahan. Pernikahan dengan istrinya yang sekarang ini menjadi Nyonya Mangsur di keluarganya.
Dulu Mangsur dan Nita adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Tapi hubungan mereka harus terputus karena orang tua Mangsur menjodohkan dirinya dengan wanita yang masih menjadi istrinya sekarang, Dini. Saat itu Mangsur dan Nita berusaha untuk memperjuangkan keinginan mereka untuk bersatu, tapi hubungan mereka ditentang keras oleh orang tuanya.
Keadaan perusahaan Mangsur diambang batas kehancuran, jalan satu-satunya untuk memperbaiki kondisi perusahaan adalah dengan cara menikahkan Mangsur dengan putri konglomerat dari kota S. Kala itu Mangsur merasa keberatan, tapi dia juga tidak mau perusahaan keluarganya hancur. Akhirnya Mangsur menyetujui untuk menikah dengan Dini yang saat itu tengah hamil 2 bulan. Mangsur mendapatkan suntikan dana untuk perusahaan keluarganya, sedangkan Dini mendapatkan tutup untuk aib kehamilannya yang diluar nikah.
Setelah ditinggal menikah oleh Mangsur, Nita juga menikah tiga bulan setelahnya. Meskipun pernikahan itu tidak bertahan lama, karena Nita tidak kuat hidup dalam kekerasan rumah tangga dan kehidupan yang sulit. Setelah Nita bercerai dengan suami pertamanya, ia menikah dengan Mahesa.
Nita tertunduk, sesekali ia mengusap air matanya saat bayangan indah bersama Mangsur menyeruak kembali di ingatannya.
"Tapi apapun tindakanmu, aku mohon, jangan sesekali kau menyakiti atau bahkan melukai putraku, Mangsur. Karena hanya putraku Noval yang aku miliki, dia yang mendampingi aku selama ini. Jangan lukai dia" Nita menatap Mangsur dengan mata yang berurai, memohon supaya Mangsur tidak melukai Noval seperti tragedi bom di restoran.
"Itu tergantung putramu, ada dipihak mana dia berdiri. Tapi, aku akan memenuhi permohonan mu itu, dengan satu syarat" Mangsur mendekati Nita.
"Apa syaratmu?"
Mangsur mencengkram erat rahang Nita. "Tetaplah bersanding denganku!" Mangsur mendorong kuat hingga Nita terhempas diatas sofa, seketika itu juga Mangsur langsung menghampiri tubuh Nita. Seiring waktu berlalu, merekapun larut dalam kehangatan.
Setelah beberapa lama mereka pun usai melakukan aktivitasnya, Nita terperanjak dari sofa. Ia bergegas mengambil pakaian yang berserakan diatas lantai kemudian buru-buru memakainya. Mangsur juga demikian, ia memakai bajunya satu persatu.
"Setelah aku berhasil nanti, aku akan merebutmu dari Mahesa"
Mendengar ucapan Mangsur Nita tertegun menatapnya, ada rasa bahagia ada juga rasa bersalah karena Mahesa. Namun yang harus dia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan tujuan keduanya.
*****
Tidak terasa hari sudah semakin sore, puas Riyu bertemu dengan kakeknya. Usai rapat keluarga, mereka memutuskan untuk pulang ke kediaman Mahesa.
Darma union bangkrut, sebenarnya bisa saja Tuan Darma menggunakan alat terakhir yaitu pertambangan berlian. Itulah tujuan musuh sebenarnya, membuat perusahaan Darma union bangkrut supaya Darma menggunakan tambang berlian untuk menyelamatkan perusahaanya. Tapi sudah menjadi keputusan Darma untuk tidak melakukannya, dia malah lebih memilih merelakan perusahaannya mati.
Setelah makan malam Noval lebih memilih menonton acara sepak bola di ruang keluarga, sedangkan Riyu memutuskan untuk masuk ke kamar duluan. Tapi, saat dirinya berjalan melewati pintu kamar Sam. Dari dalam Sam langsung menarik tangannya dan menyeretnya kedalam kamar.
"Sam kau gila! Jantungku mau copot gara-gara kaget tau!" protres Riyu sambil menepuk kesal dada Sam berkali-kali. Tapi Sam langsung menangkap kedua tangan Riyu dan menahannya di atas kepalanya.
__ADS_1
"Dengan posisi seperti ini kau tidak bisa berkutik lagi bukan?" Sam menyeringai.
"Sam lepaskan aku!"
"Tidak! Aku akan melepaskanmu kalau aku sudah memakanmu"
"Apa? Hei dengar Tuan Sam, aku masih menjadi kakak iparmu"
"Aku tidak peduli, yang aku peduli adalah aku mencintaimu" suasana langsung senyap karena bibir mereka saling bertemu sudah.
Duug... Dug... Dug...
Gedoran pintu terdengar kencang hingga Riyu yang sedang ditahan Sam di depannya terperanjak kaget. Siapa lagi yang mengganggunya
"Sam... " Riyu gelisah, siapa yang menggedor pintu kamarnya dengan begitu kencang, apa Nita? atau perampok? Riyu sibuk menerka. Sam bergegas membuka pintu, sebelum ia jelas melihat ke orang yang berdiri di depannya, orang itu malah sudah nylonong masuk tanpa permisi.
"Kau ini! Ayo kembali ke kemarmu" Noval langsung menarik tangan Riyu.
"Hey, apa-apaan ini?! Kau bermain drama dengan kisah menculik kelinci dari dekapan singa?" Sam bersandar santai menghalangi pintu.
Noval berhenti menatap Sam, senyum seringai terlukis di wajahnya. Tangan Riyu kembali di tarik mendekat ke arahnya, kemudian dengan cepat, Noval merangkul Riyu. "Bukan kelinci di dekapan singa tapi, kelinci di genggaman penjagal. Minggir!"
Noval mendorong Sam supaya tidak menghalangi jalannya, "Hey! Sudah membawa kekasihku pergi kau berani mendorongku!"
"Sam, sebelum Riyu resmi aku ceraikan. Kau tidak boleh membawanya ke kamarmu!" Noval berjalan melewati Sam. "Lagi pula kau masih baru kekasihnya bukan? Sedangkan aku suaminya" Noval tersenyum tipis membuka kedua tangannya.
"Cih" Sam menggelengkan kepalanya.
"Ayo Riyu sayang, kita masih memiliki waktu untuk berdua, sebelum kau pergi dengannya" Blaakkk Noval langsung membanting pintu.
"Dasar!" ucap Sam kesal.
Sementara itu setelah sampai di dalam kamar, Noval melepaskan tangan Riyu, lalu berbaring di tempat tidurnya. Riyu masih berdiri menatap, rasanya tidak berani mendekat ke arah Noval.
"Hey, apa kau mau berdiri di situ sampai pagi?" ucap Noval, matanya sambil melihat ke layar ponselnya.
"Jika aku tidur, apa kau mau janji untuk tidak menerkamku?" ucap Riyu.
Noval tertawa geli mendengar Riyu, sepertinya gadis itu terlalu menganggap serius ucapannya tadi. Ia mendekati Riyu lalu menunjuk kepalanya dengan jari telunjuk. "Dasar kau bodoh. Seharusnya kau berterimakasih padaku karena telah menyelamatkanmu dari terkaman bocah tengik itu"
"Aahahaha. Iya kau benar, aku berterimakasih padamu kakak Noval" Riyu menggelayut pada Noval.
"Hentikan tingkahmu! Apa kau tidak takut aku akan melumatmu karena gemas?!. Sekarang tidur sana!" Noval berbicara dengan wajah serius, tapi melihat ekspresi Riyu sebenarnya, Noval ingin sekali tertawa.
Apa yang menjadi perlakuan Noval sekarang tak lain menganggap Riyu sebagai adik perempuannya. Meskipun terkadang masih suka sekali mengganggu dan membuat kesal kedua pasangan itu. Memang satu hal menyenangkan untuk Noval saat melihat Riyu kesal.
Tin... Tin...
Suara klakson mobil terdengar memasuki gerbang utama. Noval dan Riyu bergegas melongok dari jendela kamar ke mobil Nita yang baru saja pulang.
"Mama Nita? Tumben dia pulang selarut ini" ucap Riyu.
"Hemh, mungkin karena papa di luar negeri jadi pekerjaannya lebih banyak. Kau tetap di kamar. Awas jika diam-diam kau pergi ke kamar Sam, aku akan mengikatmu dengan lampu taman dan akan membiarkanmu menjadi santapan serangga!" Noval melangkah keluar kamar.
"Dasar! Masih saja berani mengancamku huh!" Riyu bergegas naik ke tempat tidurnya, ia sama sekali tidak ingin tau urusan mengenai Nita.
Sedangkan Noval berdiri di depan tangga menunggu Nita masuk ke dalam rumah. "Baru pulang Mah?" Noval bertanya.
"Eh Noval. Kau, belum istirahat?" Nita gugup. Tapi berusaha menyembunyikannya.
__ADS_1
Mata Noval menatap Nita dengan lekat, mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seperti ada sesuatu yang berbeda. "Apa kau memiliki simpanan baru? Kau terlihat lebih segar dari biasanya" ucap Noval tersenyum tipis.
"Apa yang kau pikirkan! Pergilah istirahat. Mama lelah karena banyak sekali pekerjaan di kantor!" Nita buru-buru pergi dari tatapan elang putranya. Dia benar-benar paham dengan perubahan wanita yang baru dapat suntikan energi lain. Tentu. Noval paham, dia sering mengamati wanita dalam setiap pengalamannya. Dan sekarang dia melihat perubahan itu ada pada mamanya.