
Seorang gadis berhenti menatap gedung tinggi dari seberang
jalan raya, kegelisahan terlihat dari gerakkan tubuhnya yang selalu meremat
erat jari jemarinya. Pikirannya sibuk menyusun kata-kata, kata permohonan
supaya Sam mau mengembalikan sebagian perusahaan Mangsur, meskipun hanya
mendapatkan 35% saja mungkin lebih baik dari pada tidak sama sekali. Lila berharap
tujuannya tercapai tanpa ada drama pengusiran dari gedung perusahan Randar
Manunggal.
Meskipun ragu, tapi akhirnya kaki Lila masuk menuju
resepsionis untuk meminta ijin bertemu dengan Sam. Apa salahnya di coba, Sam tidak akan membunuhku bukan? Cukup pasang
muka melas dan suara memohon dia pasti akan mengabulkan permintaanku. Lamunan
Lila buyar saat sekertaris menghampirinya.
“Ada yang bias saya bantu Nona?” Lila terperanjak bangun
dari tempat duduknya.
“Em… Saya mau bertemu dengan tuan Sam. Bisa?” mulai memasang
wajah lesunya.
“Maafkan saya Nona, tuan Sam sedang ada rapat diluar.
Mungkin kau bisa datang lain waktu”
“Aku akan menunggunya disini” penuh harap.
“Maaf nona, rapat mungkin akan usai sampai sore nanti. Tuan
Sam pasti akan langsung pulang kekediamannya. Lebih baik nona kembali lagi lain
waktu” sekali lagi sekertaris mengingatkan.
Tatapan penuh harap itu berubah kecewa. Dia pasti sengaja menghindariku. Gumam dalam hati. “Bagaimanan
nona? Saya harus kembali bekerja sekarang” sekertaris membuat kode keras kalau
dirinya tidak akan membuang waktu.
“Baiklah, aku akan kembali lain waktu”
“Kalau begitu saya prmisi”
Sekertaris beranjak meninggalkan Lila yang masih berdiri
terdiam di tempatnya. Tidak ada pilihan lain hari itu, Lila pulang dengan hampa
karena tujuannya tertunda. Mobil membelah kota dengan kecepatan sedang,
perasaannya sudah tidak secemas ketika berada di kantor Sam tadi. Setelah
kejadian perang itu, bisa jadi Sam lebih waspada juga tegas menghadapi semuanya.
Apalagi tau kalau Lila putri yang di besarkan oleh Mangsur, sumber kekacauan,
sudah pasti Sam akan lebih jaga jarak dengannya, lebih acuh daripada dulu saat
ia masih menjadi tunangannya. Tapi meskipun begitu, Lila tidakakan menyerah. Ia
masih akan mencoba sekali lagi mengejarnya, meskipun ia tau, resikonya akan
sangat besar jika dirinya masih mengganggu kehidupannya.
Mobil berhenti tepat di persimpangan lampu merah, matanya
menatap keluar jendela menyusuri toko-toko besar dan restoran yang terpampang
di kota. Sesaat setelah itu tatapannya melebar ketika melihat seseorang yang ia
kenal keluar dari parkiran menuju salah satu restoran xx. “Riyu? Tapi siapa
anak kecil yang ia bawa?” Lila merenyitkan alisnya.
“Pak. Tolong berhenti di restoran itu.” Ucap Lila sambil menunjuk
__ADS_1
kearah restoran.
“Baik Non” Supir taksi berbalik arah saat lampu merah
berubah menjadi hijau.
Setelah membayar taxi Lila bergegas menyusul Riyu. Setelah
sampai didalam restoran, pandangan mata Lila langsung menyusuri setiap meja dan
kursi makan disana. Beberapa menit berlalu, benar saja, terlihat Riyu sedang
berbincang ceria dengan seorang gadis kecil. “Siapa anak itu?” gumamnya dalam
hati.
Kursi belakang Riyu menjadi tempat pengintaian tepat untuk
Lila, ia sedikit membiarkan rambutnya terurai untuk menutupi sebagian wajahnya.
Tak lama kemudian seorang pelayan menghampirinya dengan buku menu. Lila memesan
beberapa makanan kecil dan juga minuman soda, sesekali ia menoleh melirik
kearah Riyu menatap lekat.
“Mama, kenapa makanannya lama sekali? Dhea sudah lapar” ucap
Dhea tidak sabar menantikan menu makanan dan minuman spcialnya.
“Haha, sabar ya sayang. Sebentar lagi pasti akan datang.”
Mendengar percakapan singkat itu Lila terkejut, bagaimana bisa
bocah kecil itu memanggil Riyu dengan sebutan mama. “Mama?” gumamnya bingung
tambah penasaran. Tapi tidak mungkin kan Lila menemui mereka dan bertegur sok
ramah?, bagaimanapun juga Lila sangat membenci Riyu yang selalu menang darinya.
Perlahan tangannya merogoh ponsel yang ia letakkan di tas. Diam-diam Lila
mengambil beberapa foto Dhea, dengan berpura-pura selfie, Lila berhasil
ini aku bisa mengambil data informasi tentang bocah kecil itu” Lila langsung
membuka email bersiap mengirim foto kepada seseorang yang ia kenal untuk penyelidikan. Tanpa ia sadari
ternyata ada seorang lelaki bertubuh tegap telah duduk di seberang kursinya,
menatap tajam.
“Saya harap urungkan niatmu nona, atau nyawamu sendiri yang
akan dalam bahaya”
Lila terperanjak hampir menjatuhkan ponselnya. “Siapa kau?!”
kesal.
“Saya anak buah tuan Sam yang melindungi nona Riyu kemanapun
ia pergi” ucap Doni melempar tatapan dinginnya.
Mulai salah tingkah, wajah Lila berubah pias menatap kearah
Doni. “Sekarang ijinkan saya untuk melihat ponsel nona” tangan Doni menggantung
di udara menanti Lila menyerahkan ponselnya.
“Tidak!” jawab Lila dengan cepat menggenggam erat ponsel di tangannya. Meskipun begitu Doni masih
tidak bergeming dari posisinya.
“Nona, sikap saya tergantung pada sikap anda” ucapan Doni
sudah terdengar seperti sebuah kecaman, Lila menggenggam ponselnya erat.
Rasanya ragu unuk memberikan ponsel itu, tapi ia juga sudah bisa menduga jika
sampai dirinya tetap tidak mau menyerahkan ponselnya.
Ragu-ragu Lila menyerahkan ponselnya ke tangan Doni. “Saya
__ADS_1
tidak sangka kalau anda masih berani berbuat selancang ini nona” Doni
berdecak ketika melihat apa yang akan Lila lakukan dengan gambar Dhea.
“Sepertinya kau masih penasaran dengan kehidupan nyonya galuh dan juga tuan
Sam. Bahkan kau juga ingin menyelidiki anak kecil ini” Doni menghadapkan layar
ponsel kearah Lila. Foto yang berhasil ia dapatkan tadi, telah terdelete tanpa
sisa.
“Ingat nona,jika tuan Sam tau kau pasti akan menerima
kemarahannya”
“Diam kau! Lagian aku hanya ingin tau siapa gadis kecil
itu.” Ucap Lila berusaha menyembunyikan kecemasannya.
Seringai tipis terpapar di bibir Doni. “Berhentilah
mengganggu kehidupan mereka Nona, Berkosentrasilah pada hidupmu sendiri” Doni
mengangguk sambil tersenyum sopan lalu menyerahkan ponsel kembali ke Lila
setelah menghapus semua foto tadi. Iapun beranjak pergi kembali menjadi
bayangan Sam yang tak terlihat, bahkan Lila sampai tidak bisa menemukanya,
padahal Doni baru beberapa detik meninggalkannya.
“Sial! Sudah hebat kau Riyu. Bahkan Sam sampai melindungimu
meskipun kau tidak sedang dengannya” menggerutu sendiri. Meski masih penasaran
dengan bocah kecil yang dibawa Riyu, Lila memilih untuk menahan diri sementara
ini. Ia takut anak buah Sam akan melaporkannya, bisa-bisa rencana untuk memelas
pada Sam akan gagal.
Sebelum keluar dari restoran Lila kembali melihat kea rah meja
Riyu. Cih,bisa-bisanya dia makan dengan
seriang itu. Hari ini aku memang gagal, tapi bukan berarti aku akan menyerah begitu
saja. Awas kau! Gumam kesal dalam hatinya.
“Eh, itu seperti Lila” ucap Riyu saat tidak sengaja menoleh
ke jendela. Riyu terdiam menatap lekat, menajamkan penglihatannya, memastikan
kalau dirinya tidak salah mengenali orang. Tidak
salah lagi, itu memang benar Lila. Menyadari orang licik itu ada di
sekitarnya Riyu menatap cemas pada Dhea.
“Ada apa mama?” Tanya Dhea masih dengan mulut yang penuh
dengan makanan.
“Dhea, habiskan makananmu. Setelah ini kita akan pulang oke”
ucap Riyu dengan wajah pias. Ia sudah menduga kalau Lila sudah melihatnya
dengan Dhea, khawatir jika Lila akan melakukan rencana apalagi jika sampai melibatkan
Dhea.
Untunglah ada Doni yang telah menggagalkan Lila. Mungkin
Riyu juga tidak sadar kalau dirinya telah di bayang-bayangi, mungkin lebih baik
Riyu tidak tau. Sam sudah menduga kalau Riyu pasti tidak akan nyaman jika tau
ada seseorang yang selalu mengawasinya dari dekat. Sejak kejadian yang
merenggut Kakek Darma, Sam menjadi lebih ketat dan juga waspada. Apalagi untuk
urusan Riyu, ia akan melipat gandakan keamanan demi menjaganya.
__ADS_1