Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Usaha Lila


__ADS_3

Seorang gadis berhenti menatap gedung tinggi dari seberang


jalan raya, kegelisahan terlihat dari gerakkan tubuhnya yang selalu meremat


erat jari jemarinya. Pikirannya sibuk menyusun kata-kata, kata permohonan


supaya Sam mau mengembalikan sebagian perusahaan Mangsur, meskipun hanya


mendapatkan 35% saja mungkin lebih baik dari pada tidak sama sekali. Lila berharap


tujuannya tercapai tanpa ada drama pengusiran dari gedung perusahan Randar


Manunggal.


 Meskipun ragu, tapi akhirnya kaki Lila masuk menuju


resepsionis untuk meminta ijin bertemu dengan Sam. Apa salahnya di coba, Sam tidak akan membunuhku bukan? Cukup pasang


muka melas dan suara memohon dia pasti akan mengabulkan permintaanku. Lamunan


Lila buyar saat sekertaris menghampirinya.


 “Ada yang bias saya bantu Nona?” Lila terperanjak bangun


dari tempat duduknya.


 “Em… Saya mau bertemu dengan tuan Sam. Bisa?” mulai memasang


wajah lesunya.


 “Maafkan saya Nona, tuan Sam sedang ada rapat diluar.


Mungkin kau bisa datang lain waktu”


 “Aku akan menunggunya disini” penuh harap.


 “Maaf nona, rapat mungkin akan usai sampai sore nanti. Tuan


Sam pasti akan langsung pulang kekediamannya. Lebih baik nona kembali lagi lain


waktu” sekali lagi sekertaris mengingatkan.


 Tatapan penuh harap itu berubah kecewa. Dia pasti sengaja menghindariku. Gumam dalam hati. “Bagaimanan


nona? Saya harus kembali bekerja sekarang” sekertaris membuat kode keras kalau


dirinya tidak akan membuang waktu.


 “Baiklah, aku akan kembali lain waktu”


 “Kalau begitu saya prmisi”


 Sekertaris beranjak meninggalkan Lila yang masih berdiri


terdiam di tempatnya. Tidak ada pilihan lain hari itu, Lila pulang dengan hampa


karena tujuannya tertunda. Mobil membelah kota dengan kecepatan sedang,


perasaannya sudah tidak secemas ketika berada di kantor Sam tadi. Setelah


kejadian perang itu, bisa jadi Sam lebih waspada juga tegas menghadapi semuanya.


Apalagi tau kalau Lila putri yang di besarkan oleh Mangsur, sumber kekacauan,


sudah pasti Sam akan lebih jaga jarak dengannya, lebih acuh daripada dulu saat


ia masih menjadi tunangannya. Tapi meskipun begitu, Lila tidakakan menyerah. Ia


masih akan mencoba sekali lagi mengejarnya, meskipun ia tau, resikonya akan


sangat besar jika dirinya masih mengganggu kehidupannya.


Mobil berhenti tepat di persimpangan lampu merah, matanya


menatap keluar jendela menyusuri toko-toko besar dan restoran yang terpampang


di kota. Sesaat setelah itu tatapannya melebar ketika melihat seseorang yang ia


kenal keluar dari parkiran menuju salah satu restoran xx. “Riyu? Tapi siapa


anak kecil yang ia bawa?” Lila merenyitkan alisnya.


 “Pak. Tolong berhenti di restoran itu.” Ucap Lila sambil menunjuk

__ADS_1


kearah restoran.


 “Baik Non” Supir taksi berbalik arah saat lampu merah


berubah menjadi hijau.


 Setelah membayar taxi Lila bergegas menyusul Riyu. Setelah


sampai didalam restoran, pandangan mata Lila langsung menyusuri setiap meja dan


kursi makan disana. Beberapa menit berlalu, benar saja, terlihat Riyu sedang


berbincang ceria dengan seorang gadis kecil. “Siapa anak itu?” gumamnya dalam


hati.


Kursi belakang Riyu menjadi tempat pengintaian tepat untuk


Lila, ia sedikit membiarkan rambutnya terurai untuk menutupi sebagian wajahnya.


Tak lama kemudian seorang pelayan menghampirinya dengan buku menu. Lila memesan


beberapa makanan kecil dan juga minuman soda, sesekali ia menoleh melirik


kearah Riyu menatap lekat.


 “Mama, kenapa makanannya lama sekali? Dhea sudah lapar” ucap


Dhea tidak sabar menantikan menu makanan dan minuman spcialnya.


 “Haha, sabar ya sayang. Sebentar lagi pasti akan datang.”


 Mendengar percakapan singkat itu Lila terkejut, bagaimana bisa


bocah kecil itu memanggil Riyu dengan sebutan mama. “Mama?” gumamnya bingung


tambah penasaran. Tapi tidak mungkin kan Lila menemui mereka dan bertegur sok


ramah?, bagaimanapun juga Lila sangat membenci Riyu yang selalu menang darinya.


Perlahan tangannya merogoh ponsel yang ia letakkan di tas. Diam-diam Lila


mengambil beberapa foto Dhea, dengan berpura-pura selfie, Lila berhasil


ini aku bisa mengambil data informasi tentang bocah kecil itu” Lila langsung


membuka email bersiap mengirim foto kepada seseorang yang ia kenal untuk penyelidikan. Tanpa ia sadari


ternyata ada seorang lelaki bertubuh tegap telah duduk di seberang kursinya,


menatap tajam.


 “Saya harap urungkan niatmu nona, atau nyawamu sendiri yang


akan dalam bahaya”


 Lila terperanjak hampir menjatuhkan ponselnya. “Siapa kau?!”


kesal.


 “Saya anak buah tuan Sam yang melindungi nona Riyu kemanapun


ia pergi” ucap Doni melempar tatapan dinginnya.


 Mulai salah tingkah, wajah Lila berubah pias menatap kearah


Doni. “Sekarang ijinkan saya untuk melihat ponsel nona” tangan Doni menggantung


di udara menanti Lila menyerahkan ponselnya.


 “Tidak!” jawab Lila dengan cepat menggenggam erat ponsel di tangannya. Meskipun begitu Doni masih


tidak bergeming dari posisinya.


 “Nona, sikap saya tergantung pada sikap anda” ucapan Doni


sudah terdengar seperti sebuah kecaman, Lila menggenggam ponselnya erat.


Rasanya ragu unuk memberikan ponsel itu, tapi ia juga sudah bisa menduga jika


sampai dirinya tetap tidak mau menyerahkan ponselnya.


 Ragu-ragu Lila menyerahkan ponselnya ke tangan Doni. “Saya

__ADS_1


tidak sangka kalau anda masih berani berbuat selancang ini nona” Doni


berdecak ketika melihat apa yang akan Lila lakukan dengan gambar Dhea.


“Sepertinya kau masih penasaran dengan kehidupan nyonya galuh dan juga tuan


Sam. Bahkan kau juga ingin menyelidiki anak kecil ini” Doni menghadapkan layar


ponsel kearah Lila. Foto yang berhasil ia dapatkan tadi, telah terdelete tanpa


sisa.


 “Ingat nona,jika tuan Sam tau kau pasti akan menerima


kemarahannya”


 “Diam kau! Lagian aku hanya ingin tau siapa gadis kecil


itu.” Ucap Lila berusaha menyembunyikan kecemasannya.


 Seringai tipis terpapar di bibir Doni. “Berhentilah


mengganggu kehidupan mereka Nona, Berkosentrasilah pada hidupmu sendiri” Doni


mengangguk sambil tersenyum sopan lalu menyerahkan ponsel kembali ke Lila


setelah menghapus semua foto tadi. Iapun beranjak pergi kembali menjadi


bayangan Sam yang tak terlihat, bahkan Lila sampai tidak bisa menemukanya,


padahal Doni baru beberapa detik meninggalkannya.


 “Sial! Sudah hebat kau Riyu. Bahkan Sam sampai melindungimu


meskipun kau tidak sedang dengannya” menggerutu sendiri. Meski masih penasaran


dengan bocah kecil yang dibawa Riyu, Lila memilih untuk menahan diri sementara


ini. Ia takut anak buah Sam akan melaporkannya, bisa-bisa rencana untuk memelas


pada Sam akan gagal.


 Sebelum keluar dari restoran Lila kembali melihat kea rah meja


Riyu. Cih,bisa-bisanya dia makan dengan


seriang itu. Hari ini aku memang gagal, tapi bukan berarti aku akan menyerah begitu


saja. Awas kau! Gumam kesal dalam hatinya.


 “Eh, itu seperti Lila” ucap Riyu saat tidak sengaja menoleh


ke jendela. Riyu terdiam menatap lekat, menajamkan penglihatannya, memastikan


kalau dirinya tidak salah mengenali orang. Tidak


salah lagi, itu memang benar Lila. Menyadari orang licik itu ada di


sekitarnya Riyu menatap cemas pada Dhea.


 “Ada apa mama?” Tanya Dhea masih dengan mulut yang penuh


dengan makanan.


“Dhea, habiskan makananmu. Setelah ini kita akan pulang oke”


ucap Riyu dengan wajah pias. Ia sudah menduga kalau Lila sudah melihatnya


dengan Dhea, khawatir jika Lila akan melakukan rencana apalagi jika sampai melibatkan


Dhea.


 Untunglah ada Doni yang telah menggagalkan Lila. Mungkin


Riyu juga tidak sadar kalau dirinya telah di bayang-bayangi, mungkin lebih baik


Riyu tidak tau. Sam sudah menduga kalau Riyu pasti tidak akan nyaman jika tau


ada seseorang yang selalu mengawasinya dari dekat. Sejak kejadian yang


merenggut Kakek Darma, Sam menjadi lebih ketat dan juga waspada. Apalagi untuk


urusan Riyu, ia akan melipat gandakan keamanan demi menjaganya.

__ADS_1


__ADS_2