
Bosan. Sejak pulang dari butik gaun hari itu, Sam menyuruhnya untuk tidak keluar rumah sampai hari pernikahan. Apa ini yang namanya dipingit? Hei Sam sudah jaman apa ini! Ini jaman modern bukan
jamannya Siti Nurbaya lagi. Tapi meskipun begitu, Riyu tetap mematuhi peraturan
calon suaminya itu. Sam pasti khawatir, menjelang hari penting pasti akan ada
banyak musuh yang akan melakukan berbagai rencana untuk menggagalkan pernikahan itu.
Matahari mulai terik, Riyu duduk termenung menatap bosan jendela kamarnya. Bahkan Sam membatasi dirinya untuk tidak terlalu lama bermain dengan Dhea, alasannya Riyu akan lelah dan akan berdampak di hari pernikahannya nanti. "Ingat ya, jangan keluar rumah! jangan terlalu banyak bermain! Jangan ini, jangan itu. Aaahhhh. Cuma dia yang boleh." menggerutu kesal.
"Sammm cepat pulang aku bosan!" teriakkannya memenuhi langit-langit kamar.
Tin...Tin... Suara klakson mobil
memasuki gerbang utama kediaman Mahesa. Wah secepat itukah Tuhan mengabulkan
doa Riyu, baru saja dia berucap Sam sudah langsung pulang. Antusias Riyu
berlari menuruni tangga, tapi saat melihat mobil yang terparkir, ternyata bukan
mobil Sam. Bukan juga mobil papa Mahesa. "Siapa yang datang?" Riyu
masih mengamati dari tempat yang aman dan tidak terlihat dari luar.
Namun, saat itu juga Riyu melihat Doni membukakan pintu mobil. Sepertinya tamu istimewa, jika tidak, mana mungkin Doni mau membukakan pintu itu untuknya. Gumam dalam hati sambil terus mengamati, Riyu semakin tidak sabar menanti orang yang ada di dalam mobil turun dan keluar.
Pelan tapi pasti, kaki yang menjulur keluar sepertinya kaki seorang wanita. Saat sosok itu mulai menampakkan dirinya Riyu mulai bergetar menutup rapat mulutnya dengan telapak tangan agar teredam suara jeritnya. "Bude" ucap Riyu, ia berlari memeluk sosok wanita yang sudah bertahun-tahun berpisah dengannya.
"Oh astaga, ada ap... Riyu..." Siti terkejut saat seseorang dari dalam rumah langsung berlari dan memeluknya begitu saja."Ini Riyu kan? Anak Gadisku"ucap Siti bergetar mengelus dan mengecup berkali-kali kepala Riyu yang semakin erat memeluknya.
"Maafkan aku bude. Maaflkan aku karena selama ini tidak pernah mengunjungimu" Riyu terisak. Beberapa lama
mereka berpelukan melepas rindu, sedangkan Agi, masih berdiri memandang Riyu yang kini semakin terlihat berbeda di matanya.
"Sial. Kenapa dia makin cantik sih!" Gumam Agi dalam hati masih maemandang Riyu dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Bodynya juga tambah hot. Iyalah, dia kan sekarang pemegang perusahaan Galuh. Sudah jadi orang kaya sudah pasti banyak melakukan perawatan. Kalau kaya gini meskipun janda juga ga masalah" Seringai tipis tersirat di wajah Agi dengan jari jemarinya yang mengusap dagu.
__ADS_1
"Saya harap anda bisa menjaga sikap, terutama pandangan kotor anda Tuan Agi" ucap Doni mendekati Agi dan
berbicara pelan, seakan tau kemana arah pikiran Agi saat itu. Sontak saja Agi langsung menoleh ke arah orang yang membuyarkan lamunannya. Senyum Doni terlihat tenang tapi juga seperti mengandung sebuah kecaman di wajahnya.
"Mas Agi. Bagaimana kabarmu?" ucap Riyu tersenyum ramah menyapa kakak angkatnya. Lama tak berjumpa, Riyu harap pria di hadapannya itu sudah berubah dan tidak akan mengganggunya lagi. Dari dulu hingga sekarang, yang Riyu bisa lakukan hanya menghormatinya sebagai kakak dan yang terpenting adalah jaga jarak dengannya.
"Seperti yang kau lihat. Aku sangat baik" balas Agi tersenyum ramah.
Selama ini Siti memang sengaja dipindahkan untuk melindunginya dari konflik yang terjadi. Entah dimana Darma menempatkan mereka, bahkan Riyu sendiri tidak tau dimana Siti tinggal sejak keluar darikota Y. Namun melihat dari keadaannya sekarang Siti dan Agi terlihat hidup berkecukupan juga bahagia. Tentu saja, sudah pasti Darma menjamin hidup mereka bukan? Karena, mau bagaimanapun juga Siti adalah orang yang berjasa karena telah merawat cucunya.
"Bude, seharusnya beri aku kabar kalau bude mau datang kemari. Jadi aku bisa menjemputmu kan?"
"Haha, justru itu nak. Sam menyuruh bude untuk tidak mengabarimu."
"Jadi Sam yang memintamu kemari?" Ada sedikit perasaan terharu, ternyata Sam memberi kejutan yang
sangat menggembirakan. Pernikahannya nanti akan jadi lebih istimewa karena seluruh keluarga bakal berkumpul. Tinggal menunggu Noval dan Maya, maka semua sudah sempurna.
Meskipun jarak memisahkan, Siti tetap tau apa yang terjadi menimpa Darma dan juga Riyu. Hanya saja saat itu, ia
“Riyu, aku sangat bahagia mendengar kabar bahwa kau akan menikah dengan Sam. Akhirnya, kalian akan bersatu sebentar lagi” Riyu tersipu mendengar Siti. Sedang Agi benar terkejut mendengarnya.
“Apa! Menikah dengan Sam?” ucapnya secara tiba-tiba.
“Kenapa kau baru tau? Seluruh penghuni di kota ini juga sudah tau tentang pernikahan Sam dan Riyu akan
diselenggarakan tiga hari lagi! Dan itulah tujuan kita. Kita datang kemari karena akan menyaksikan Sam dan Riyu menikah.” ucap Siti. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Agi sangat ketinggalan berita penting ini.
“Kurang ajar, aku bahkan tidak tau kalau Riyu akan menikah dengan mantan adik iparnya.” Agi menggerutu kesal dalam hatinya. Selama ini otaknya hanya dipenuhi bayangan Riyu yang janda, Agi sudah mempersiapkan dirinya untuk bertemu Riyu, memilikinya bila perlu. Tapi malah ditampar oleh perlangsungan pernikahan Riyu dengan Sam. Tapi apa dia mampu, yang menjadi lawannya kini Sam, ibarat seekor tikus berhadapan dengan seekor singa.
Pelayan sibuk menyiapkan kamar tamu, dua kamar tamu untuk Siti dan juga Agi. Mereka akan tinggal di sana dengan waktu yang tidak ditentukan. Sedangkan sebagian pelayan lagi sedang sibuk menyiapkan makan malam, sebentar lagi Sam dan Mahesa pulang dari kantornya. Sebelum jam makan malam tiba, Siti terlebih dulu istirahat di kamarnya. Sore itu Riyu sedang mengeringkan rambut Dhea di kamarnya.
“Mama, tadi siapa yang datang?”
“Yang datang adalah Bude mama. Tapi dia sudah seperti orang tua bagiku, kau tau? Bude Siti yang telah membesarkan mama” jelas Riyu sambil menggosoklembut kepala Dhea dengan anduk kecil.
__ADS_1
“Apa mama juga tidak punya ibu dan ayah?” Dhea menoleh ke belakang menatap Riyu.
“Tentu mama punya ibu dan ayah. Tapi mereka sudah di surga sekarang. Kau harus tau Dhea, kau adalah anak yang beruntung karena masih memiliki ibu dan ayah di dunia ini. Dhea harus menyayangi mereka, dan juga harus mematuhi setiap ucapannya jika itu hal baik. Kau mengerti?”
Dhea mengangguk. “Sebentar lagi ayah dan ibumu akan pulang dari Singapore,kau senang?”
“Yeee. Dhea sudah kangen sama ayah dan ibu” tawa riang keluar dari bibir mungilnya.
Perasaan ikut bahagia melihat senyum riang yang Dhea lontarkan, usai mengeringkan rambut Riyu langsung memakaikan baju santai yang telah di siapkan di sofa. Tanpa terduga sama sekali, saat mereka berdua keluar dari ruang ganti tiba-tiba sudah terlihat Agi yang duduk di sofa yang terletak di kamar Riyu.
“Mas Agi? Apayang kau lakukan disini?” Riyu terkejut. Bagaimana dia berani selancang itu, masuk kedalam kamarnya tanpa ijin terlebih dahulu.
“Oh, maaf karena telah mengejutkanmu” mata Agi langsung melirik ke anak kecil yang ada pada gendongan Riyu.
“Apa dia anakmu?”
“Bukan mas. Dia anak Noval”
Agi tidak terkejut mendengar Noval memiliki anak, ia sudah tau sifat Noval yang suka bermain dengan perempuan.
Tidak bisa dipungkiri kalau Noval memiliki anak diluar nikah. “Riyu, lama kita tidak berjumpa. Aku harap kau mau memenuhi permintaanku untuk pergi makan bersamaku sebentar”
Riyu terdiam sejenak, perasaannya mulai tidak nyaman saat melihat Agi yang menatap liar tubuhnya. “Maaf mas, tapi Sam melarangku untuk keluar rumah” ucap Riyu menutupi bagian dadanya menggunakan handuk Dhea.
“Apa? Melarangmu keluar rumah? Hahaha”
Dhea merengut melihat orang asing yang sedang berbicara dengan mama mudanya. “Riyu, apa kau yakin kau akan hidup bahagia dengan mantan adik iparmu itu? Lihat. Belum apa-apa saja dia sudah berani mengekangmu” Agi mulai menyerang Riyu.
“Mas, aku mau ganti baju, silahkan Mas Agi keluar dari sini” ucap Riyu mulai tidak nyaman.
Tapi bukannya pergi Agi malah semakin berjalan mendekati Riyu. Namun, langkahnya terhenti saat ada seseorang mencengkeram bahunya dari belakang. “Tuan tolong jaga sopan santunmu. Tamu dilarang sembarangan berkeliaran apalagi sampai lancang masuk ke dalam kamar tuan rumah.”
Agi diam tak berkutik, satu jengkalpun ia tidak berani melanjutkan langkahnya. Tangan Doni semakin kuat mencengkeram, meskipun mulai terasa menyakitkan, Agi tidak berani mengeluarkan ekspresinya. “Baiklah. Aku minta maaf atas kelancanganku. Silahkan Riyu, kau lanjutkan, aku pergi”
Setelah Agi keluar dari pintu kamarnya Riyu mulai bernafas lega. “Terimakasih Doni, kau datang tepat waktu”
__ADS_1
ucap Riyu, Doni mengangguk sopan lalu pamit undur diri.