Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Pemakaman Darma


__ADS_3

Riyu, cucuku. Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah pergi jauh bersama kedamaian, tapi aku tidak khawatir karena sudah ada Sam yang akan menggantikanku. Aku bersyukur, karena diakhir perjalanan masih diberi kesempatan untuk bertemu dan melihat cucuku. Berbahagialah, kakek akan selalu memyertaimu. _Darma_


Berbagai bentuk rangkaian bunga ucapan belasungkawa terjejer disepanjang jalan pemakaman X, "Turut berdukacita atas meninggalnya Darma Saputra. Semoga beristirahat dengan damai"


Pemakaman Darma juga dihadiri oleh orang-orang penting dari kota Y, mereka sangat merasa kehilangan karena selama ini perusahaan Darma Union banyak sekali membantu mereka, menjadi motivasi untuk banyak orang. Tapi sang pemimpin tewas dengan cara yang mengenaskan ditangan para penjahat berhati serakah, dan mereka menyesal karena tidak mampu membantu apa-apa. Semoga tragedi perang darah dunia bisnis, cukup sampai disini saja.


Riyu memandangi peti jenazah Darma dengan berlinang air mata, tubuhnya terbalut dress hitam tanda bahwa dirinya sedang dirundung duka, vigora yang terpasang foto Darma tergenggam erat di pelukannya. Rasanya ingin sekali berteriak saat para petugas yang sedang menurunkan peti kedalam liang kubur aku mohon jangan pergi kek, tapi jika Riyu tidak bisa merelakan, maka akan menjadi beban tersendiri untuk Darma dialam sana.


Ditengah perasaannya yang hancur, sebuah genggaman hangat datang dari orang yang berada di samping kanannya, Sam, berdiri tegak menggenggam Riyu dengan erat. Sorot matanya terus melihat peti jenazah yang kini sudah masuk kedalam liang kubur.


Aku menggenggam tangan cucumu sekarang, Riyu telah menjadi sebagian nafasku, aku tidak akan membiarkannya sendirian dan aku berjanji akan menjaganya. Pergilah dengan damai Kakek Darma, restui kami.


Sam melangkah mendekati liang kubur, ia mengambil segenggam tanah pemakaman lalu melemparkannya kedalam liang, terhempas diatas peti darma yang dingin. Setelah itu, para petugas pemakaman langsung menutup kembali makam Darma. Tangisan Riyu kembali meledak, Sam mendekapnya erat. Rasanya berat sekali melihat kakek ditimbun oleh tanah, meskipun tak sanggup, namun Riyu belum bisa beranjak dari pemakaman sebelum melakukan penghormatan terakhirnya.


Pemakaman telah usai, Riyu duduk bersandar memandang kosong keluar jendela mobil. Sesekali terlihat nafasnya tersengal akibat sisa isak tangis yang masih tertinggal. Apa ini sebuah kutukan? Katakan padaku Tuhan, kenapa keluargaku selalu tewas dengan cara yang mengenaskan? Apa kau juga akan memberikan takdir yang sama padaku juga?!


"Riyu, apa kau meragukan aku?" ucap Sam tiba-tiba, seakan mengerti apa yang Riyu resahkan dalam renungannya, Sam menggenggam tangan Riyu erat.


Kini mata basahnya beralih kepada sosok pria disampingnya, pria yang selama ini berjuang untuknya. Rela melawan seluruh keluarga bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi dirinya, tatapan tenang yang selalu membuat Riyu tidak mampu berpaling darinya.


"Maaf. Maafkan aku, Sam" Riyu bergeser langsung memeluknya. "Aku hampir lupa kalau kau ada disisiku sekarang, aku bahkan lupa kalau Noval sudah menceraikan aku" Riyu terisak.


"Dasar bodoh" Sam tersenyum lembut. "Jadi kita sudah bukan saudara ipar lagi bukan?" ucap Sam. Riyu mendongakkan kepalanya menatap.


"Mantan saudara ipar?" tanya Riyu serak.


"Bukan. Tapi calon pengantinku" Ucap Sam lalu mengecup keningnya.


Senyum lebar mengiasi kedua wajah itu, tidak, tapi tiga wajah yang tersenyum lega. Aji yang fokus menyetir juga ikut merasakan hati yang bahagia melihat kedua orang yang saling mencintai itu akhirnya bisa bersatu. Mobil membelah jalanan kota yang senggang, mereka akan kembali dulu ke villa untuk menjemput si kecil Dhea sebelum kembali Kediaman Mahesa.


Mahesa.... Tentu dia sudah tau apa yang telah terjadi, Mahesa sedang dalam perjalanan sekarang. Sejak mendengar kabar istrinya yang meninggal, ia lebih memilih menyendiri dan mengunci mulutnya. Hatinya tentu saja hancur, bukan hancur karena Nita telah tiada. Tapi hancur karena selama ini dia telah memperjuangkan wanita yang salah, Mahesa menyesal dulu telah mengabaikan wanita yang mencintainya bahkan, membuangnya seperti barang bekas demi sebuah serpihan beling di pinggir jalan. Dan kini, ia baru merasakan serpihan beling itu menusuk disetiap urat hatinya.


Mahesa merenung menatap keluar jendela pesawat yang sedang melayang diatas awan, Nita... Kenapa kau begitu tega mengkhianati aku, bahkan kau juga tega menyakiti putramu sendiri. Mahesa menghela nafas panjang, entah apa yang harus dia ekspresikan saat dipemakaman Nita nanti. Sedih? Tapi untuk apa sedih? Sedangkan wanita itu memang pantas mendapatkan kematian daripada hidup tapi menyakiti banyak orang. Marah? Tentu, marah, kecewa, kesal. Tapi semua itu percuma karena Nita telah tiada.


*****


"Mama muda, Om galak, sudah pulang" sambut Dhea yang langsung berlari menghampiri Riyu dan Sam yang baru saja masuk. Meskipun mata sembabnya tidak bisa disembunyikan tapi Riyu tetap mencoba tersenyum saat Dhea memeluknya.


"Kau panggil aku apa tadi?!" protes Sam memelototi Dhea.


"Om Sam, aku lapar" ucap Dhea mengalihkan pembahasan.


"Cih, dasar"


"Sam, apa kau juga akan memusuhi anak kecil? Lihat wajah imut ini, bukankah dia sangat menggemaskan?" Riyu tersenyum. "Ayo Mama akan suapi kamu makan" Riyu menggendong Dhea menuju meja makan.


"Hey, kau tidak mengajakku?!" Protes Sam, Dhea melirik dari bahu Riyu dan tertawa pada Sam. "Awas kau anak kecil. Aku akan menggigit pipimu nanti! Merepotkan" Sam ngomel menyusul mereka ke meja makan.


"Sam, apa saat pemakaman Mama Nita besok, Noval bisa pergi?" tanya Riyu, tangannya sibuk menyiduk makanan untuk Dhea.


"Entahlah, aku rasa Noval tidak akan sudi menghadiri pemakaman itu" jawab Sam lalu menggigit apelnya.


"Mama muda, siapa Nita?" tanya Dhea penasaran.


"Kau ingat nenek sihir yang jahat kemarin? Dialah Nita!" sahut Sam seenaknya.

__ADS_1


"Sam!" protres Riyu. Menurutnya tidak baik berbicara seperti itu dengan anak kecil.


"Apa sayang? Aku bicara jujur" Sam mengangkat kedua tangannya. Sedangkan Riyu meliriknya tajam.


"Dhea, Nita adalah nenekmu" ucap Riyu lembut.


"Nenek? Tapi kenapa dia mencubitku mama?"


"Sudah Om bilang dia... "


"Sudah jangan dengarkan omongan Om galak! Sekarang habiskan makananmu. Setelah itu kau harus harus tidur lebih awal, besok kita akan bangun pagi dan pergi menjenguk ayah Noval dan juga mama Maya. Oke?" Apalah daya Sam, Riyu lebih membela Dhea daripada dirinya.


Pagi buta Dhea sudah membangunkan seluruh rumah karena dia sudah tidak sabar ingin sekali bertemu dengan ayah dan ibu kandungnya. Orang yang paling terganggu yang pasti Sam, bahkan matahari belum beranjak naik saja, Dhea sudah naik ke tubuh Sam membangunkan Sam supaya bersiap pergi. Pagi-pagi sekali Aji datang sekalian membawakan beberapa baju ganti untuk Dhea.


Didalam mobil Dhea dan Riyu asik mengobrol, sedangkan Sam masih terpejam dengan telinga yang tertutup rapat dengan earphone.


"Mama muda, katanya kita akan pergi ke rumah sakit. Tapi kenapa ke terminal pesawat?" tanya Dhea sibuk menelusuri bandara dengan matanya.


"Haha, ini bukan terminal sayang. Tapi bandara, kita akan menjemput kakek dulu baru kita akan pergi ke rumah sakit bersama-sama. Oke?"


"Apa Dhea punya kakek?" tanyanya sambil menatap Riyu dengan mata bulatnya, tatapannya benar-benar mirip Maya, tegas tapi penuh kasih juga keceriaan. Riyu membelai lembut kepala Dhea.


"Tentu, kau punya seorang kakek" Riyu mematung, hatinya kembali bergetar saat mengucapkan kata Kakek. Seperti aku, aku juga memiliki kakek. Kakek terbaik di dunia. Sam keluar dari pintu mobilnya, Riyu terkejut dan menyembunyikan matanya yang hampir tak mampu terbendung.


Mereka sudah melihat Mahesa yang keluar dari loby Aji membungkuk dan menyambutnya lalu membantu Mahesa untuk menaruh barang dibagasi mobil.


"Papa" sapa Riyu dan Sam serentak. Mahesa memeluk Sam, kemudian Riyu, ia mengelus punggung Riyu.


"Kau yang tabah ya" ucap Mahesa. Riyu mengangguk dan tersenyum.


Setelah itu, pandangan Mahesa terpaku pada seorang gadis kecil yang bersembunyi di belakang kaki Riyu.


"Cucumu. Siapa lagi?" jawab Sam dengan nada malas.


"Cucuku?" Mahesa merenyitkan alisnya. "Baru beberapa hari kalian bersama, aku sudah memiliki cucu sebesar ini?" Mahesa tak percaya.


"Surprise" Sam menyeringai. Seketika itu Riyu langsung menepuk perut Sam sampai nyengir karena nyeri.


"Jangan dengarkan dia pa, ini Dhea, cucu papa. Dhea adalah buah hati Noval dan Maya" Riyu menjelaskan.


"Apa?? Noval dan Maya" Mahesa semakin tidak percaya dan tidak paham.


"Pa, akan aku ceritakan nanti untuk cerita pengantar tidurmu. Sekarang lebih baik kita cepat pergi, aku lapar! Setan kecil ini tidak memberiku kesempatan untuk sarapan pagi tadi!" Sam merengut lalu masuk kedalam mobil.


"Ba... Baiklah" ucap Mahesa terbata. Pandangannya tidak lepas dari Dhea yang sesekali mengintipnya lalu kembali bersembunyi dikaki Riyu. Mahesa membungkuk, kini wajah mungil itu terlihat jelas sedang takut padanya. "Haha, anak manis. Apa kau tidak ingin memeluk kakekmu?" ucap Mahesa dengan senyum hangat.


Dhea melirik ke wajah Mahesa, memastikan kalau Mahesa bukan orang jahat. Dhea agak trauma dengan perlakuan Mangsur saat itu. Setelah melihat wajah Mahesa yang tersenyum, Dhea mendekati Mahesa dengan ragu, ia mendongak kearah Riyu yang tersenyum dan mengangguk padanya. Setelah Dhea berdiri dihadapannya, Mahesa langsung merengkuhnya, mengangkat Dhea kedalam gendongannya.


"Haha ya Tuhan, lihat. Dia begitu imut dan cantik. Kenapa kau takut pada kakek? Ayo sini duduk didepan, kakek akan memangkumu" ucap Mahesa dengan penuh kegembiraan, seperti habis mendapatkan hadiah yang indah. Tanpa berucap apapun tiba-tiba Dhea memeluk Mahesa, seperti seorang anak yang baru bertemu dengan ayahnya.


"Kakek orang baik kan? Kalau begitu Dhea sayang kakek" ucap Dhea.


Riyu dan Mahesa tersenyum membelai kepala Dhea. "Hei, bisakah kalian tunda dulu drama mengharukan ini?" teriak Sam dari dalam mobil. Ia sudah tidak sabar karena lapar. Riyu tertawa, merekapun bergegas masuk kedalam mobil.


*****

__ADS_1


Rumah Sakit


Maya masih terbaring tidak sadarkan diri, sekarang Maya masih dirawat diruang ICU, sampai saat ini ia masih belum membuka matanya. Untuk orang yang ingin menjenguknya juga dibatasi, tidak boleh lebih dari dua orang itupun harus menggunakan baju khusus untuk menjaga supaya tetap steril. Sam dan Mahesa menunggu diluar ruangan, meskipun mereka juga ingin melihat keadaan Maya, tapi Sam dan Mahesa lebih mementingkan Riyu dan Dhea yang masuk menjenguk Maya. Riyu menggenggam tangan Maya lembut. "Maya sadarlah, lihat, apa kau tidak ingin melihat putrimu? Dia sangat cerdas juga cantik sama sepertimu" bisik Riyu bergetar.


"Mama" Dhea menyentuh pipi Maya dengan jari mungilnya. "Mama muda, apa mama sedang tidur?" tanya Dhea polos.


"Ya sayang, Mamamu masih tidur" jelas Riyu sekenanya. Dhea mungkin masih belum mengerti keadaan Maya yang sebenarnya.


"Mama, Dhea sekarang punya Mama. Dhea juga punya Ayah dan kakek. Mama ayo bangun, nanti kita bisa main sama-sama, mama" ucap Dhea menatap Maya penuh harap. Tapi Maya sama sekali tidak bergeming, Riyu berusaha untuk tidak menangis, tapi ia sangat sedih airmata tidak bisa lagi dibendung.


Riyu memandang Maya, namun matanya menangkap satu reaksi pada tubuh Maya. Terlihat jelas tepat di bagian ujung mata Maya yang terpejam keluar cairan bening seperti air mata. Riyu mendekatkan wajahnya. "Maya... Maya... " ia menggoyangkan pelan tangan Maya, tapi tetap tidak ada reaksi. Riyu memencet tombol yang terletak di sisi bed hospital, tak lama setelah itu dokter Lukman langsung datang.


"Ada apa Nona?" tanya Lukman langsung memeriksa Maya.


"Dokter, tadi Maya bereaksi, aku lihat ada airmata yang keluar" ucap Riyu cemas. "Dokter, apa Maya akan segera sadar?"


Beberapa saat Lukman terdiam fokus memeriksa kondisi Maya. "Luar biasa Nona, detak jantungnya mulai stabil. Kemajuan yang sangat pesat" ucap Lukman tersenyum, lalu ia memandang kearah Dhea.


"Ini Dhea dok, dia anak kandung Maya" ucap Riyu yang langsung bisa menjawab pertanyaan Lukman yang bertanya melalui tatapan matanya. Seketika itu juga, Lukman tau kenapa Maya bisa memiliki semangat untuk melawan alam bawah sadarnya.


"Kehadiranmu akan membuat Mama Maya lekas sembuh" Lukman tersenyum pada Dhea, jawabannya juga membuat Riyu bernafas lega. Usai dokter Lukman memeriksa, Riyupun keluar dari kamar Maya.


Disuatu kamar, Noval duduk bersandar di bed hospital sambil memandang keluar jendela. Bahkan saat Mahesa masuk kedalam, Noval tidak mendengarnya. "Bagaimana keadaanmu putraku?" tanya Mahesa dengan suara tenang, ia berdiri disisi ranjang sekarang, sedangkan lainnya masih berdiri memandang Noval dan Mahesa.


Noval tetap terdiam, hatinya bergetar saat mendengar suara Mahesa menghawatirkan dirinya. Tapi disisi lain Noval juga merasa malu pada Mahesa. Apa aku masih pantas untuk kau sebut sebagai putramu? Apa masih pantas setelah apa yang dilakukan oleh Mama dan juga... Aku padamu. Noval terdiam bergelut dengan perasaannya.


"Pergilah" ucap Noval lirih.


"Kau mengusir Papamu, Noval?" ucap Mahesa.


"Kau bukan papaku Tuan Mahesa!" Noval bergetar menatap Mahesa tajam dengan mata yang merah. "Aku tidak pantas menjadi putramu! Tidak pantas"


Seakan tidak peduli dengan ucapan Noval, Mahesa mengambil sekotak coklat yang ia bawa dari Inggris, kemudian duduk di tepian bed hospital tepat dihadapan Noval. "Sewaktu kau remaja, kau suka sekali dengan coklat ini" ucap Mahesa sambil membuka satu coklat dan akan menyuapinya ke mulut Noval. "Bahkan setiap kali papa pergi ke Inggris kau selalu minta untuk dibawakan coklat ini. Makanlah"


Noval memalingkan wajahnya, "Pergilah" ucapnya semakin kelu. Mahesa meletakkan kembali coklat yang telah dibukanya.


"Lihat Noval, tangan ini pernah menuntunmu saat kita pergi bersama bukan?" Mahesa membuka telapak tangannya.


"Aku membesarkanmu dengan tangan ini, kita hidup bersama bukan hanya satu atau dua hari. Kita hidup bersama selama puluhan tahun. Kau makan dengan makanan yang aku beli! Kau memakai pakaian yang aku beli! Bahkan kau bersenang-senang dengan uang hasil kerja kerasku. Sekarang setelah kau dewasa, kau bilang kalau aku bukan papamu dan berani mengusirku pergi?!. Apa kau tidak cukup menyakiti perasaanku Noval!" ucap Mahesa dengan nada tinggi namun bergetar.


Noval terdiam, masih memalingkan wajahnya, sedikitpun tidak berani menatap Mahesa.


"Bahkan aku juga menyia-nyiakan adikmu Sam demi memanjakanmu!" ucap Mahesa merah padam menunjuk kearah Sam yang berdiri dibelakangnya. Noval mulai gemetar, dadanya naik turun mengikuti irama nafasnya, kemudian tangisan meledak begitu saja, tubuhnya langsung terhempas memeluk Mahesa erat.


"Maafkan aku pa, maaf" ucap Noval terisak dipelukan Mahesa.


"Ingat. Sampai kapanpun kau adalah putraku. Paham?" Mahesa bergetar menepuk pundak Noval pelan.


"Lihat. Bahkan sampai sekarang kalian tetap tidak memperdulikan aku, dan hanya membiarkan aku berdiri dengan kesunyian tanpa pelukan" ucap Sam mulai lebay. Ya, lebay hmmm.


Riyu yang terharu jadi tertawa karena tingkah Sam yang sedang merasa iri, Mahesa tertawa menoleh kearah Sam. "Kemarilah kau manusia tengil!" Noval membuka kedua tangannya, menyambut Sam kedalam pelukannya. "Jadi kita kakak adik sekarang?" ucap Noval.


"Baiklah, meskipun terdengar menggelikan tapi aku setuju" ucap Sam lalu menepuk punggung Noval.


"Arrgh. Sakit dasar kau... Argh" umpat Noval, wajahnya langsung merah karena luka yang nyeri. Sam lupa kalau Noval memiliki luka tembak dipunggungnya.

__ADS_1


"Hey, kalian sibuk berdamai sehingga lupa kalau kami juga ada disini?" protes Riyu yang dari tadi hanya berdiri memandang moment mengharukan itu.


"Riyu, Dhea? Dhea sini peluk ayah" seketika itu juga, Dhea berlari menuju ke pelukan Noval. Berkali-kali Noval mengecup Dhea, ia memang kehilangan ibunya, tapi ia juga bersyukur Tuhan telah menghadirkan buah hati yang begitu imut dan cantik.


__ADS_2