Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Panti Asuhan


__ADS_3

Sepertinya ajuan Riyu untuk


menyelidiki pantiasuhan yang di tempati Dhea memang benar terlaksana, Doni


telah memberikan beberapa laporan penting yang mendapatkan perhatian Sam dengan


serius. Berkali-kali sam membaca ulang laporan yang telah Doni kumpulkan untuk


memastikan kalau matanya tidak salah membaca.


“Apa kau gila?! Jika berani


membuat laporan palsu aku tidak akan mengampunimu!” Sam melempar kertas laporan


tepat mengenai wajah Doni dan jatuh berserakan.


“Saya tidak akan berani melakukannya


tuan. Ini adalah hasil penyelidikan yang tuan Sam inginkan”


Tatapan kejam kembali menyeruak


dimatanya, Doni membalas mata Sam pandangan yang tenang namun tegas. Doni


adalah orang pilihan dari teratai hitam, dia tidak akan berani membuat laporan


palsu begitu saja. Apalagi selama ini Doni benar-benar orang yang sangat setia


padanya.


“Saya juga sudah pergi


mengunjungi panti, menyamar sebagai donator. Ibu Suti pengurus juga kepala


panti adalah orang yang baik juga penuh kasih sayang. Yang bermasalah hanya pak


Pandi, tukang kebun panti.”


“Kau tau? Sudah ada berapa anak


yang menjadi korbannya?”


“Untuk sementara ada tiga anak.


Namun saya cukup sulit untuk mendekati salah satu dari mereka. Sepertinya


mereka trauma”


“Apa Dhea salah  salah satu ari korban si bejat itu?!”


Doni terdiam. “Hampir menjadi

__ADS_1


korban Tuan”


“Jika keparat pedophilia itu


sudah mencoba melakukannya pada Dhea, itu berarti Dhea juga korban kan!” suara


Sam menggema di langit-langit ruangan. Apa yang membuat Sam begitu murka adalah


kelakuan Pandi yang malah memanfaatkan pekerjaannya untuk memangsa anak kecil. Bagaimana


jika Noval dan Maya tau tentang ini. Mungki tidak hanya mereka yang merasa


sakit, tapi juga Riyu dan Mahesa akan sangat marah mengetahui kenyataannya.


“Siapkan mobil kita akan memberi


pelajaran pada keparat itu” Sam bangun dari sofa yang ada di ruangannya.


Firasat Riyu benar, memang ada


sesuatu yang terjadi di panti asuhan itu. Mungkin karena Riyu sangat dekat pada


Dhea, jadi dia bisa melihat sikap Dhea yang jarang sekali orang pahami. Namun


meskipun Sam tidak peka terhadap keponakannya, bahkan dirinya dan Dhea malah


suka ribut, namun bukan berarti Sam membencinya. Bisa jadi dia gemas dan sayang tapi


*****


Keadaan perusahaan kini mulai stabil dan normal, meskipun jadwal sibuk, Riyu selalu pulang lebih awal demi menemani Dhea, ia percaya sekertarisnya bisa di andalkan untuk sementara ini, gajinya akan menjadi tiga kali lipat demi mengupah kerja kerasnya. Sebenarnya sesekali ia ingin membawa Dhea ikut bersamanya kekantor, tapi karena ia melihat Lila jadi takut kalau Dhea akan dalam bahaya nantinya.


Tin... Tin. Suara klakson mobil memasuki kediaman Mahesa.


"Loh, itu kan mobil Sam. Kok tumben jam segini sudah pulang" gumam Riyu memandangi mobil yang terparkir. Tak lama setelah itu, terlihat Sam masuk, namun wajahnya tidak menyeringai seperti biasanya saat Riyu menyambutnya.


"Sayang, kamu sudah pulang? Kok tumben cepet pulangnya?" tanya Riyu ramah. tapi melihat wajah Sam saat itu menyiratkan kalau suasana hatinya sedang buruk meskipun Sam mencoba bersikap biasa saja. Sam hanya tersenyum memandang Riyu. Hatinya masih di rundung murka meskipun urusan pria bejat tukang kebun panti asuhan telah usai.


"Om galak sudah pulang ya mah" ucap Dhea mengintip Sam dari balik kaki Riyu.


Mendengar suara kecil itu, mata Sam beralih menatap Dhea. Sam mendekat ke arah Dhea lalu berjongkok di hadapannya. "Apa kau takut padaku? Apa menurutmu aku orang jahat?" ucap Sam melempar pandangan prihatin pada Dhea.


Riyu tertegun. Apa yang terjadi pada Sam? Biasanya Sam selalu cuek pada Dhea bahkan terkesan sebal. Dalam hati Riyu bertanya-tanya.


"Dhea tau om galak. Tapi Om tidak jahat" ucap Dhea memiringkan kepalanya supaya wajahnya tidak tertutup kaki Riyu.


Sam tersenyum. Tanpa di duga tangannya mengelus kepala Dhea dengan lembut. "Kemarilah" ucap Sam membuka kedua tangannya. Saat itu juga Dhea berlari ke dalam pelukan Sam.


Satu sisi masih tidak percaya dengan sifat Sam yang tiba-tiba berubah. Riyu masih tertegun melihat pemandangan luar biasa itu. "Akhirnya hati Sam telah terbuka untuk Dhea, tapi apa yang membuatnya berubah semanis malaikat seperti ini. Lihat. Mereka seperti seorang ayah dan anak sekarang" gumam Riyu dalam hati.


*Malam harinya di balkon.*

__ADS_1


"Ibu Suti ingin bertemu dengan Dhea. Bagaimana menurutmu?" ucap Sam.


"Siapa ibu Suti Sam?" tanya Riyu penasaran.


"Pengurus panti asuhan dimana Dhea tinggal sebelumnya"


"Hey, kau pergi kesana dan kau tidak mengajakku?" protes. Karena sebelumnya Sam sudah berjanji padanya untuk mengajak Riyu mengunjungi panti asuhan bersama.


"Aku terpaksa pergi ke sana setelah mendapatkan hasil laporan Doni. Ada urusan yang harus aku selesaikan dulu sebelum aku mengajakmu dan Dhea pergi ke sana" mimik wajah Sam berubah serius.


Mendengar jawaban Sam hati Riyu berdebar, pasti memang benar ada yang tidak beres di sana. "Apa yang terjadi Sam?" tanya Riyu menatap Sam seksama, jantungnya berdegup kenjang menanti jawaban Sam. Kini tidak hanya mimik wajah yang berubah, tapi juga tatapan Sam yang menyeruak begitu dingin dan tajam. Apalagi jika memngingat wajah Pandi tadi siang. Rasanya belum puas meskipun tangannya sudah menghajarnya hingga sekarat.


*****


Sam melangkah cepat memasuki panti asuhan yang tidak begitu besar namun cukup nyaman untuk tempat tinggal anak-anak. Aji dan Doni mengiringi langkah di belakangnya. Pandangan anak-anak yang melihat Sam masuk tanpa permisi, dengan dua pria kekar di belakangnya membuat anak-anak ketakutan dan berhamburan berlari memeluk Suti.


Begitu juga dengan Suti, melihat tiga orang pria asing dengan wajah penuh kemarahan membuat Suti merasa takut dan was-was. Yang ada di pikiran Suti saat itu adalah, para pejabat yang ingin menggusur panti asuhan yang telah ia urus selama puluhan tahun.


"Apa ada yang bisa saya bentu tuan?" tanya Suti mencoba ramah meskipun tangan dan kakikanya gemetar hebat.


"Kau pengurus di sini?" tanya Sam. Matanya menyisir setiap  ruangan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"I, iya tuan. Boleh saya tau, ada maslah apa tuan datang kemari?" ucap Suti sambil mengamati wajah Sam yang seperti tidak asing baginya. Aku seperti melihat orang ini, tapi dimana ya? gumam suti bergelut dengan ingatannya.


"Astaga. Apa tuan ini adalah tuan Sam? Orang yang sukses mendirikan Randar manunggal?!" tanya Suti antusias, semoga dirinya tidak salah menebak kali ini.


Sam terdiam. Tidak di sangka wajahnya begitu di kenal meskipun mereka hanya melihatnya dari layar televisi. Sam hanya mengangguk menjawab pertanyaan Suti.


"Kau tidak perlu menyambutku. Ada urusan yang harus aku selesaikan di sini." ucap Sam dengan nada dinginnya. "Jwab dengan jujur. Apa orang ini masih bekerja sebagai tukang kebun di sini?" tanya Sam, di susul kemudian Doni menyodorkan amplop coklat berisi data dan juga foto Pandi.


"Iya masih tuan, tapi ada apa tuan mencarinya" tanya suti tidak mengerti.


Antarkan aku ke tempatnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2