
"Sial! Dasar Bodoh!!" Teriak Aji, dia langsung segera melajukan mobilnya menghadang mobil Sam yang akan terjun ke danau.
Sam kaget karena tiba-tiba ada mobil yang menghadangnya, seketika Sam langsung membanting setir dan menginjak rem.
"Ciiiitttttt.... Braaakkk!"
Decitan rem dan dentuman keras akibat mobil yang saling bertabrakan.
Mobil Sam yang oleng mendorong mobil Aji Sampai dibatas tepi Danau, Sam yang terkejut langsung menginjak lebih kuat rem nya untuk menghentikan mobilnya. Terlihat pintu mobil bagian kemudi ringsek akibat ia tabrak.
"Aji!" Ucap Sam langsung keluar dari mobil.
Asap mengepul akibat debu, dan goresan ban mobil, Sam langsung segera mengeluarkan Aji sebelum mobil jatuh ke dalam danau. Suasana sangat menegangkan saat itu, sedikit saja Sam terlambat... Maka Aji akan terjatuh bersama mobilnya.
Mereka berdua terengah lalu menjauh dari tepian danau, Sam memapah Aji mereka tersungkur ke tanah, tak lama kemudian mobil Aji jatuh ke dalam danau. Sam dan Aji terpaku melihat mobil itu.
"Dasar bodoh! Kenapa kau menabrakkan diri!" Bentak Sam yang semakin merasa kesal.
"Hah! Kau yang bodoh! Gara-gara Putus cinta kau pun berfikiran untuk bunuh diri!" Bentak Aji kembali.
"Brengsek! Aku bos mu! Kau berani membentakku!"
"Kau yang brengsek! Aku tidak memiliki bos bodoh sepertimu!" Balas Aji lagi.
Sam langsung berdiri, begitu juga dengan Aji. Mereka bertatapan satu sama lain, Sam dengan tatapan marahnya, Aji membalas dengan tatapan kesal. Meskipun Aji mencoba membakar amarah Sam tapi Sam melihat tangan kanan Aji yang cidera akibat tabrakannya tadi.
"Kali ini aku mengampuni mu" Ucap Sam berbalik menjauhi Aji.
"Hemh. Apa kau lupa? Aku orang kidal... Sam. Aku masih bisa memukul dengan tangan kiriku" ucap Aji.
Sam menengok ke belakang, ia melihat Aji yang sudah siap mengambil ancang-ancang sebagai isyarat dia siap menerima serangan.
"Kau menantangku!" Ucap Sam. Tanpa menjawab, Aji menyeringai dan menggerakkan jarinya sebagai tanda ia menantang Sam untuk menyerang terlebih dahulu.
"Jangan salahkan aku kalau begitu... Hiyaaaahhhh" Sam berlari cepat menyerang Aji.
__ADS_1
"Bak... Buk... Duak..." Baku hantam tak terelakkan. Danau di perbatasan kota menjadi saksi pelampiasan kekesalan mereka.
Dua jam berlalu, pertempuran sengit itu terhenti sudah. Sam dan Aji terkapar di atas tanah dengan nafas terengah dan kelelahan.
Tidak perlu kalian bayangkan lagi, wajah mereka sudah pasti babak belur dan pakaian yang sobek sana sini.
"Hah... Hahaha" Aji tiba-tiba tertawa di tengah-tengah suasana yang sepi. Sam mengangkat kepalanya melihat ke arah Aji dengan heran.
"Sepertinya pukulanku terlalu keras sehingga membuat otakmu rusak!" ucap Sam. Aji masih tertawa geli hingga merasakan nyeri di perutnya.
"Hahaha... Uhuk ... Argh... Kau, seharusnya berusaha mengasah otak tumpulmu itu untuk merebut kembali hakmu, tapi kau malah mau menceburkan diri ke dalam danau. Sejak kapan kau meniru drama sinetron Sam!"
"Kau yang bodoh! Mana mungkin aku menyia-nyiakan nyawaku begitu saja!"
"Lalu?" Tanya Aji mengangkat kepalanya.
"Aku menginjak pedal gas untuk berbelok membuat lingkaran di tepi danau ini, tapi kau malah muncul dengan gaya sok pahlawan dan merusak mobilku!"
"Apa?" Teriak Aji.
"Apa lagi!" Balas Sam lalu ia duduk.
"Aku tau perasaanmu"
"Berhenti omong kosong! Kau bahkan tidak memiliki kekasih selama ini, beraninya bilang kau tau perasaanku!"
"Cih... Aku lebih tua darimu Sam. Tidak memiliki kekasih bukan berarti aku tidak pernah jatuh cinta"
Sam terkejut memandang Aji dalam. "Lalu apa yang terjadi?" Tanyanya.
"Sama seperti apa yang kau alami, hanya saja bedanya dia bukan kakak iparku! Tapi aku lebih memilih pergi dari pada memperjuangkannya"
"Bodoh!" jawab Sam seketika.
"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Aji menyeringai.
__ADS_1
"Hemh... Lihat saja nanti. Go. Aku lapar!" Sam beranjak berjalan pincang menuju mobilnya.
****
Pagi harinya Sam pulang dengan keadaan yang benar-benar lusuh, ia memang sengaja pulang agak siang supaya tidak bertemu dengan orang di rumah. Dengan kaki yang masih pincang Sam berjalan perlahan untuk membuka pintu, tapi di saat itu juga Riyu terlebih dahulu membukanya dari dalam.
Mereka sama-sama terkejut dan saling pandang satu sama lain. "Adik ipar? Apa yang terjadi padamu?" Tanya Riyu dengan pandangan khawatir.
Mendengar Riyu memanggilnya adik ipar, Sam merasa sangat muak. Dia berjalan melewati Riyu tanpa menjawab pertanyaannya, tapi Riyu masih berdiri memandang Sam yang kesulitan berjalan.
"Ayo biar aku bantu mengobati lukamu" ucap Riyu memegangi lengan Sam dan memapahnya duduk di sofa. Riyu bergegas mengambil kotak obat yang tersimpan di ruang tengah.
"Apa kau berkelahi? Lukamu parah sekali!" Ucap Riyu khawatir. "Kau harus tahan mungkin ini agak sedikit perih" Ucap Riyu menyeka luka dengan kapas yang telah di basahi alkohol.
Wajah mereka saling berdekatan, Sam memandang Riyu tanpa berkedip mengamati setiap inci wajah Riyu yang fokus mengobati lukanya. Perlahan Sam menggenggam erat tangan Riyu yang sedang mengoleskan obat, Riyu terkejut menatap Sam heran.
"Kau sudah mengobati luka di wajahku, lalu bagaimana kau akan mengobati luka di hatiku?" Tanya Sam dengan nada yang sangat lembut, Riyu tidak dapat berkutik saat melihat tatapan mata Sam yang sayu.
"Apa yang sedang kalian lakukan!" Hardik Nita yang tiba-tiba sudah berdiri menatap mereka. Riyu langsung menarik tangannya dan menjauh dari wajah Sam.
"Aku... Aku sedang mengobati luka di wajah adik ipar Ma" ucap Riyu gugup.
"Berikan padaku, biar aku yang melanjutkan. Riyu kau harus segera pergi kekantor kan?"
Riyu mengangguk, ia meletakkan kotak obat lalu berpamitan pergi. Sebelum beranjak keluar dari pintu Riyu menoleh ke arah Sam sebentar melihat Nita yang duduk di sebelah Sam meneruskan mengoleskan obat di wajahnya.
"Sepertinya kau sangat putus asa Nak, sudahlah menyerah saja. Riyu sudah menjadi milik Noval seutuhnya, lebih baik kau tidak usah menggodanya lagi" ucap Nita sambil menuangkan obat di kapas, saat Nita akan mengoleskan obat itu, Sam langsung menahan tangannya.
Sam menatap Nita dengan tajam, "Aku tidak ingin tangan kotor mu menyentuh wajahku... Nita" ucap Sam dengan nada dingin.
Nita terdiam, namun dia tidak berani berkata apapun meskipun Sam tidak menghormatinya dengan hanya memanggil namanya saja.
"Kau tatap mataku baik-baik! Hari ini kau masih bisa berbicara dengan mulut manismu, kau masih bisa mengenakan perhiasan dan pakaian mahal dari uang keluarga Mahesa. Nita..." Sam membelai lembut tangan Nita, Nita hanya terdiam menatap Sam dengan penuh tanda tanya.
"Aku akan berbakti padamu. Kau tenang saja. Aku akan memperlakukanmu seperti kau memperlakukan ibuku" Sam mengecup tangan Nita. Ia kembali menatap Nita dengan senyum seringai yang misterius, lalu Sam pergi dari hadapannya.
__ADS_1
Dari tatapan Sam, Nita merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Apa maksud dari perkataan anak sialan itu, kenapa dia..." Nita mulai resah. Ia segera meletakkan kembali kotak obat di atas meja.
"Pelayanan! Bereskan kotak obat ini!" Ucap Nita dengan nada yang sedikit kesal. Dengan hati gundah Ia pun bergegas perg.