
"Kau mengobati luka di wajahku, lalu bagaimana kau akan mengobati luka di hatiku..."
Tatapan dan suara lembut Sam pagi tadi terus terngiang di telinga Riyu, dalam ruangan rapat itu Riyu sibuk dengan lamunannya. Cetek... Cetek... Jarinya sibuk memainkan pulpen.
"Untuk artistik bulan lalu sudah di rangkum dan kalian bisa melihat seberapa besar pendapatan kita, Riyu, bisa kau serahkan file nya?" Ucap Darma di tengah-tengah rapat itu. namun Riyu sama sekali tidak menyimak rapat bahkan tidak mendengar saat Darma memanggilnya.
"Riyu..." Panggil Darma lagi. Seluruh mata di ruangan itu beralih menatap Riyu yang sedang memandang meja dengan tatapan kosong, Darma jadi merasa tidak enak.
"Bluk" Darma melempar sebuah sepidol yang mendarat tepat di hadapan Riyu, sontak Riyu terkejut bukan main.
"I... Iya kek" ucap Riyu terbata.
"Kita sedang rapat kau malah asik melamun!" Ucap Darma dengan nada tegas. Riyu melihat sekitar, ia jadi salah tingkah saat orang-orang di sana melihatnya dengan pandangan heran.
"Maaf" ucap Riyu mengangguk dan tersenyum malu.
"Sekarang kau bawa kemari berkas yang aku suruh kau kerjakan kemarin, apa kau sudah menyelesaikannya?!"
"Sudah" jawab Riyu singkat, dia mengambil salah satu berkas dan menyerahkannya pada Darma dengan canggung.
Karena telah ketahuan tidak berkonsentrasi Riyu mencoba untuk benar-benar menyimak sampai rapat itu selesai...
"Apa yang kau pikirkan sebenarnya Riyu! Pekerjaan mu bukanlah sebuah mainan, kau harus mulai serius mengurusnya!" ucap Darma setelah rapat.
"Aku minta maaf kek" Riyu menunduk. "Kakek, aku harap kau bisa menjelaskan padaku tentang kejadian semalam" Riyu menghentikan langkahnya menatap Darma dalam.
"Aku mohon... Sebenarnya apa yang terjadi antara aku dan adik ipar!" Riyu semakin menegaskan nada bicaranya.
Darma hanya bisa menatap Riyu, tapi tidak ingin mengungkit masalah Sam dan Riyu lagi. Tanpa berbicara sedikitpun Darma pergi meninggalkan Riyu yang memandangnya dengan penuh harap.
Riyu membuang nafasnya, dia benar-benar kesal karena semua orang berusaha menutupi darinya. Ia pun berjalan menuju lobby dan bergegas kembali ke perusahaan Galuh.
****
Sreet.... Suara laci terbuka.
Sebuah senjata api Hackler tersimpan rapi di laci yang terletak di ruangan pribadi milik Sam. Mulus, gagah, siap menembakkan 900 peluru dalam hitungan menit. Sam menyentuh lembut senjata kesayangannya itu, sudah lama teman dinginnya diam dalam laci rahasianya.
"Kini saatnya menunjukkan kekuatanmu sobat, tapi kita akan memulai dari para kecoa terlebih dulu" ucap Sam dengan tatapan tajam.
__ADS_1
__________________________
____Gangster Teratai____
Sam menghentikan mobilnya di depan pintu masuk sebuah gedung tua, tepat di depan gerbang terdapat dua orang penjaga bertubuh kekar dan membawa senjata api. Kedua orang itu langsung sigap, lalu mendekati Sam yang berdiri santai bersandar mobilnya sambil menyalakan rokok.
"Hey anak muda! Apa yang kau lakukan disini!" Bentak salah satu dari mereka.
Sam hanya menatap mereka tanpa menjawab pertanyaannya, ia langsung melangkah menuju pintu masuk mengabaikan kedua orang penjaga itu.
Cekrek... Cekrek... Suara senapan yang siap meluncurkan pelurunya, Sam berbalik menatap dingin ke arah mereka.
"Kau berani menyentuhku?" Tanya Sam singkat. Saat yang bersamaan juga, datang lagi 7 mobil cheap berwarna hitam yang parkir berjejer tepat di belakang mobil Sam.
Kedua penjaga tadi berbalik dan melihat kalau mereka telah di kepung oleh sekelompok gangster lain yang badannya lebih tinggi dari mereka, kedua penjaga itu saling pandang tanpa berani berkutik sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Sam menyeringai, ia membuang putung rokoknya lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan utama markas Gangster Api**** yang menjadi musuhnya.
"Braakkkk... Braaakkk... Braakkk" Tendangan keras ke tiga kalinya berhasil mendobrak pintu, seketika sekelompok orang yang sedang asik bermain judi Remi terkejut dan menoleh ke arah pintu masuk.
"Siapa yang berani mendobrak kediaman Geng Api!" Bentak salah satu dari mereka.
"Aku!"
"Kau... Sam..."
"Aku rasa kau masih ingat dengan wajahku. Orang yang kau hajar setahun lalu!" ucap Sam yang siap dengan senjata apinya.
"Hahaha... Jadi kau datang ke sini untuk menuntut balas. Aku masih ingat kalau kau seorang pecundang cinta yang lemah Nak"
Sam tetap berdiri tenang meskipun mereka mengejeknya. Namun di tengah-tengah pembicaraan itu, mata Sam menangkap satu anak buah Geng Api yang sedang memegang ponsel untuk menelpon bantuan.
Sam langsung mengarahkan senjata apinya .... Treeerrrrtttt.....Treeerrrrtttt... Treeerrrrtttt.... Seketika puluhan peluru langsung meluncur menembus kepala dan tubuh anak buah gang itu. Tak berselang lama.... Bluukkk.... Ia tersungkur di Sertai dengan darah segar yang mengalir di setiap lubang tempat peluru mendarat.
Geng Api terperangah, tidak di sangka Sam datang tanpa aba-aba apapun ketika mereka sedang lengah. Semakin Sam menatap mereka, api di dadanya semakin membara. Teringat bagaimana mereka menculik Riyu dan menghajar dirinya, sehingga mengalami koma dan kehilangan jejak Riyu selama setahun.
Sam kembali menodongkan senjatanya ke arah geng Api, tanpa ampun lagi Sam langsung menembaki mereka tanpa celah. Kegaduhan suara senjata memancing seluruh anggota geng yang ada di tempat itu, mereka langsung bermunculan dari berbagai arah dan mencoba untuk menembaki Sam.
Namun Teratai Hitam tidak tinggal diam, mereka yang berada di pihak Sam langsung mendobrak masuk. Perang tembak antara dua kubu tidak dapat terelakkan lagi.
__ADS_1
Dari pihak Sam tiga orang tewas dalam adu tembak itu, sedangkan geng Api yang menjadi anak buah Noval, seluruhnya terkapar tak bernyawa. Sam berdiri dengan nafas yang terengah memandang ke hamparan tubuh yang tergeletak bersimbah darah, lengannya sempat tergores peluru namun tidak menyurutkan mentalnya.
"Tinggalkan tempat ini dan bakar tanpa sisa!" Ucap Sam penuh amarah, kemudian ia bergegas menuju mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Geng Api kini hanya tinggal nama, selain melampiaskan dendamnya... Sam sengaja memusnahkan mereka untuk meneror Noval. Kini satu kekuatan Noval telah musnah di tangan Sam, setelah ini dia pasti akan memberi sinyal kepada Noval kalau Sam tidak main-main.
****
PESTA PENYAMBUTAN____
Seluruh keluarga Mahesa dan Darma sibuk menyambut para tamu yang hadir di acara malam itu, senyum riang terpapar di wajah Riyu. Sebenarnya dia lelah, malas menghadapi orang banyak tapi karena terlanjur kakek sudah membuat undangan... Apa boleh buat.
Keluarga Mangsur jelas turut hadir, justru merekalah yang paling semangat di antara tamu-tamu yang lainnya.
"Riyu... Senang rasanya bisa melihatmu kembali sehat" sambut Mahesa dengan sangat ramah.
"Thaks" jawab Riyu singkat.
"Oh iya dimana suamimu?"
"Dia sedang bersama kakek menyambut para tamu" Jawab Riyu menatap Mangsur dengan ekspresi yang enggan.
Melihat kedekatan Noval dengan Darma, Mangsur pun tersenyum bangga. Ini akan semakin memudahkannya untuk menggali informasi melalui Noval.
Riyu mulai merasa jenuh, dia memilih menyendiri di dekat meja prasmanan sambil menikmati minuman di tangannya. Matanya melihat-lihat ke para tamu yang ada, dan kemudian...
"Selamat malam kakak ipar" Sapa Sam yang tiba-tiba muncul di sebelah Riyu.
"Kau mengejutkanku" ucap Riyu tersentak.
"Pertemuan kita kemarin terkesan sangat kacau, kalau boleh... Aku akan mengajakmu makan malam lain waktu, ya... Anggap saja sebagai tanda permintaan maaf"
Riyu terdiam menatap Sam, "Mungkin ini adalah kesempatan untukku, aku bisa ngobrol dengannya dan mencari tau... Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku" gumam Riyu dalam hati.
"Baiklah, aku setuju" jawab Riyu.
Sewaktu Riyu sedang berbincang dengan Sam, saat itulah Noval menerima sebuah email. Dari kejauhan Sam mengawasi gelagat Noval yang cukup syok saat melihat layar ponselnya...
"Kurang ajar!" Gumam Noval menahan amarahnya, saat melihat vidio yang memperlihatkan mayat dan juga markas anak buahnya hangus terbakar.
__ADS_1
Noval beralih memandang Sam yang berdiri di samping Riyu. Sam pun melambaikan tangannya dan melempar senyum kepada Noval, malam itu Sam berhasil membuat kejutan pertama untuk Noval.