
"Aduh, ke kampus dulu atau ke tempat kak Sanya dulu ya? Tapi gimana ngomongnya sama om Doni. Tar pasti ngadu lagi. Dasar nyebelin!" gumam Casandra berdiri di depan cermin.
Tangannya menyambar tas yang sudah siap di sofa, Casandra bergegas turun ke bawah menemui Riyu dan Sam yang sudah menunggunya di meja makan.
Casandra duduk sambil meremat jari jemarinya di bawah meja, ingin ijin ke kedai Sanya tapi takut Sam tidak mengijinkannya. Tapi kalau bohong juga pasti ketahuan. Begitu pikir Casandra.
"Ayah, ibu" Casandra memberanikan diri untuk bicara. "Pagi ini, apa boleh aku pergi ke kedai kak Sanya sebentar? Aku... " Casandra terdiam, ragu meneruskan kata-katanya.
"Boleh" jawab Sam.
"Apa?" ucap Casandra memastikan. Ga mungkin kan, secepat itu ayahnya memberi ijin tanpa berdebat. Tumben.
"Apa jawaban ayah kurang jelas? Kau boleh ke sana" ucap Sam lagi.
"Pergilah nak, tapi kau harus tetap hati-hati ya" Riyu menimpali.
Senyum lebar di bibir Casandra, ia senang, akhirnya setelah sekian lama dia bisa juga pergi keluar dengan ijin yang mudah. Eh, bentar deh. Ini ga beres. Pasti ayah sedang merencanakan sesuatu! Dia ga akan semudah itu kalau ga ada tujuannya kan?! Casandra menatap Sam seksama.
Usai sarapan Casandra bersiap menuju mobilnya, namun langkahnya terhenti, ketika matanya melihat sosok yang berdiri tegak di depannya. Sosok yang ia kenal dengan logat senyum yang khas.
"Om Aji???" ucap Casandra tidak menyangka.
"Selamat pagi Nona" Aji membungkuk dan tersenyum padanya.
"Hiks. Om Aji... " Casandra terharu langsung berlari memeluknya. "Maafin Casandra ya om. Gara-gara aku kau cidera. Gara-gara aku juga kau di berhentikan oleh Ayah" ucap Casandra sesenggukan memeluk Aji.
"Sudah Nona. Aku ini bawahanmu, tidak pantas aku diperlakukan seperti ini" ucap Aji sungkan.
"Tidak kau sudah aku anggap seperti keluargaku tau! Tapi... Ada apa Om Aji datang kemari?"
"Tuan Sam menyuruh saya untuk kembali karena saya sudah sembuh, Nona"
Casandra terdiam menatap Aji seksama, "Ma... Maksudnya?"
"Cidera di tangan saya sudah sembuh, oleh karena itu Tuan Sam menyuruhku untuk kembali bekerja" ucap Aji menunjukkan tangannya.
"Jadi... Jadi Om Aji ga dipecat?"
"Tuan Sam hanya memberhentikan saya untuk sementara. Sampai luka saya sembuh" Aji tersenyum tenang.
Sedangkan Sam dan Riyu berdiri melihat mereka. "Aku jadi iri padamu Aji, kenapa putriku bisa memelukmu sampai sesenggukan seperti itu" ucap Sam tiba-tiba.
__ADS_1
Mendengar suara ayahnya, Casandra langsung menghapus air matanya. Menyesal aku menangisimu tadi! gumam Casandra dalam hati, wajahnya memerah tersipu malu.
"Sandra pergi kuliah dulu. Dah." ucapnya dengan nada kesal dan wajah yang cemberut.
"Sayang, kau lupa dengan kecupan pagi!" protes Riyu menahan tawa.
"Tidak ada kecupan pagi Bu. Hari ini aku sudah rugi air mata dan pelukan. Ayah kau menyebalkan! Om Aji, kau juga menyebalkan!" gerutu Casandra sebelum memasuki mobilnya.
Sam dan Riyu tertawa. Entah rasanya putri mereka terlihat sangat imut saat ngambek seperti itu.
*****
Hari ini adalah hari paling bahagia untuk Casandra, ia diijinkan untuk membawa mobilnya sendiri, main ke kedai Sanya, tanpa penjagaan yang ketat. Serasa burung merak yang keluar dari sangkar emasnya. Casandra tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
Masih ada cukup waktu untuk Casandra mengunjungi Sanya, usai memarkirkan mobilnya, ia berjalan masuk. Sanya sedang sibuk menata kue buatannya di etalase yang sudah ia bersihkan sebelumnya.
"Kak Sanya" sapa Casandra. Sesekali ia menyeka seluruh ruangan dengan matanya. Sepertinya dia tidak ada, aduh bagaimana jika ayah melakukan sesuatu padanya.
"Waaahh, Nona Sandra. Ayo kesini, aku akan menyiapkan kue terlezat untukmu" Sanya riang. Ia tau Casandra sangat suka pada kue moci buatannya.
Sanya menyediakan satu porsi kue dan juga teh hangat untuk Casandra. "Nona, tumben sekali pagi-pagi nona Sandra bisa berada di sini?"
"Oh hehe, iya kak. Masih kepagian kalau ke kampus jadi, aku mampir saja ke sini"
Casandra menatap wanita manis di hadapannya itu, wajahnya yang ceria membuat hatinya menampis semua pikiran negatif. "Kak... Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan" ucap Casandra ragu.
"Silahkan Nona" wajah Sanya berubah serius menatap Casandra.
"Kak, Pria itu... " ucapan Casandra terputus karena Anan yang tiba-tiba datang.
"Kau!" ucap Anan. "Sini, aku mau bicara padamu!" Tangan Casandra ditarik lalu Anan membawanya ke dapur. Sedangkan Sanya bingung dengan sikap adiknya.
"Anan!" Ucap Sanya berusaha mencegah. Ia takut kalau mereka akan berkelahi lagi.
"Kakak tenang saja, aku hanya ingin bicara penting padanya"
Melihat Anan yang begitu serius, Sanya terdiam. Anan menahan Casandra di tembok dapur, ia menghalangi Casandra supaya tidak kabur dengan kedua tangannya.
"Kau wanita menyebalkan. Sekarang aku yang harus menjadi tumbalmu!" ucap Anan menggertakkan giginya.
Casandra menatap wajah Anan yang kini sangat dekat dengan wajahnya. "Ap... Apa maksudmu!"
__ADS_1
"Kau kan. Yang mencuri dan memakai topi Nonamu? Seharusnya kau yang mendapat hukuman. Bukan aku!"
"Mencuri topi nona ku?! Maksudmu apa si!" Casandra kesal.
"Iya! Kamu cuma bodyguard dikeluarga Tuan Sam. Berani-beraninya kau memakai topi putri tuan Sam! Dengar, seharusnya kamu yang dihukum! Tapi gara-gara topi yang kita pakai tertukar, jadi aku yang kena imbasnya!"
Jadi dia pikir aku cuma bodyguard? Kurang ajar!. Kesal sekali rasanya. Tapi Casandra juga merasa bersalah ketika melihat wajah Anan yang masih lebam. Jadi benar? Ayah memukulinya? gumam Casandra masih terdiam menatap Anan.
"Jawab. Kenapa kau memakai topi putri tuan Sam?!"
Rasanya pengen tertawa, Anan benar-benar tidak tau kalau yang ada dihadapannya itu adalah anak Sam. "Aku... Dia meminjamkan padaku" jawab Casandra. Sekalian saja mengerjainya kan haha.
"Jadi, kau dipukuli gara-gara ketahuan memakai topi itu?"
Anan terdiam, ia tertunduk sambil menghela nafas panjang. "Ya. Selain dipukuli aku juga kehilangan topi berhargaku."
Jantung Casandra berdegub kencang, ia tertunduk merasa bersalah. "Maaf" ucapnya lirih.
"Sekarang katakan padaku. Seperti apa putri kesayangannya Tuan Sam itu?" Anan menatap polos. Sebelum ia menyetujui tawaran Sam, Anan ingin mencari tau dulu seperti apa sosok tuan putri itu.
Tanganku gatal. Pengen deh rasanya menarik hidung pria bodoh ini. "Dia... Cantik" jawab Casandra ragu, tapi Anan sangat serius mendengarkan ciri-ciri yang disebutkan.
"Selain cantik dia juga gadis yang cerdas." ucapnya sangat bersemangat.
Sedangkan Anan, perasaannya dirundung keraguan. Apa dia bisa menjadi bodyguardnya nanti.
"Hey! Kenapa kau melamun? Jangan bilang kau sedang memikirkan hal mesum karena tau ciri-ciri Nona muda sangat menawan!"
"Tutup mulutmu!" jawab Anan.
"Kenapa kau tersipu seperti itu? Tapi... Apa benar kau sama sekali belum pernah melihat putri tuan Sam?"
Anan menggeleng. Baru saja Casandra mau membuka mulutnya untuk bicara, nada ponselnya berdering. Tanda waktunya harus segera pergi ke kampus.
"Oh ya ampun. Aku harus pergi." ucap Casandra.
"Hey kau! Urusan kita belum selesai!." teriak Anan.
"Baiklah, kita lanjutkan saja nanti, aku harus pergi sekarang." balas Casandra. "Kaak Sanya, aku pergi dulu ya"
"Iya Nona" Sanya melambai riang.
__ADS_1
Sepasang mata cerah masih menatap mobil Casandra yang berlalu.