
Setelah berada di kamar, Riyu memandang sejenak kamar itu. Sungguh tidak ada yang berubah sama sekali, masih sama seperti kamar yang dulu saat pertama kali ia datang ke rumah Mahesa sebagai menantu kampungan. Tempat dimana ia di tindas dan di pukuli, tempat dimana Noval dan Dewi memadu kasih di atas ranjangnya. Sangat memuakkan.
Riyu mendengus kesal, mengingat masa suramnya ia benar-benar muak. Kemudian tangannya merogoh ke dalam tas selempang untuk mengambil handphonenya.
"Hallo, selamat siang Nona Riyu. Ada yang bisa saya bantu?" jawab asisten Rani. Orang kepercayaan Riyu yang bisa di bilang setia.
"Maaf telah mengganggu hari libur mu, Rani. Apa kau sedang sibuk sekarang?"
"Tidak Nona, jangan sungkan. Ada apa Nona menghubungi saya?"
"Baiklah. Aku ingin meminta bantuan mu. Bisakah kau pergi ke toko furniture? Aku ingin kau membelikanku seperangkat desain kamar yang baru. Harus hari ini juga!"
"Baiklah Nona, saya akan memilihkan yang terbaik"
"Bagus. Terimakasih. Hubungi aku jika kau sudah ada di sana, dan jangan lupa, kau kirimkan aku foto koleksi furniture yang ada di toko itu"
"Baik Nona" jawab Rani. Riyu mengakhiri obrolannya. "Sebelum kamar ini di ganti semua perabotannya, aku tidak akan masuk ke kamar ini!" ucap Riyu sambil berlalu.
*****
Di sisi lain, Nita dan Noval sedang berbincang di ruangan Nita. Ia ingin memastikan kalau apa yang di ucapkan Mangsur itu tidak benar.
"Sekarang jawab dengan jujur Noval, apa kau mulai menyukai gadis itu?" tanya Nita menatap Noval seksama, tidak ingin sedetikpun melewati ekspresi anaknya.
Noval hanya diam, angannya tiba-tiba saja teringat Maya. Dulu Noval juga sangat mencintai Maya, tapi Nita malah menghancurkan hubungan mereka Apa aku harus berkata jujur? gumam Noval dalam hati. "Maksudmu, Riyu?"
"Ya! Siapa lagi?!"
"Tidak. Aku tidak menyukainya"
"Sudah mulai berani membohongi ibumu?" Nita menatap tajam.
"Hemh. Kalau aku menyukainya, apa kau juga akan melakukan sama seperti apa yang kau lakukan pada Maya?"
"Noval!" Nita menggebrak meja. "Aku menyingkirkan wanita itu darimu karena dia tidak berguna di hidupmu!" ucap Nita bergetar karena ucapannya sendiri.
"Oh, jadi benar" Noval beralih menatap Nita tajam. "Jadi benar apa yang di ucapkan Maya kemarin. Ternyata di balik keburukannya ada campur tangamu ya Ma." Noval tertawa getir.
"Noval, Mama hanya ingin... "
"Kekuasaan? Kau melakukannya untuk mendapatkan kekuasaan! Menyingkirkan Maya bahkan anakku... " Noval tertunduk bersalah, tangannya tergenggam erat di bawah meja. "Kau menyingkirkan mereka dan menikahkan aku dengan Riyu, karena kau sudah tau kalau dia pewaris tunggal Galuh Saputra!"
"Hentikan Noval! Aku melakukan ini semua untuk masa depanmu! Bukannya kamu juga setuju kan?!" Nita benar-benar geram pada Noval yang mulai goyah.
"Masa depanku Ma? Dan sekarang. Jika aku menyukai Riyu, atau bahkan mencintainya, kau mau apa? Menyingkirkannya juga seperti apa yang kau lakukan pada Maya?! Aku setuju karena dulu aku membencinya!
"Itu memang tujuan kita kan Noval! Setelah kita berhasil merebut semua itu, untuk apa lagi kau bersamanya? Kau bisa menikmati semua keberhasilan itu dengan gadis lain! Tidak. Kau tidak boleh menyukai gadis itu Noval, ayolah, kenapa kau jadi bodoh sekarang?!"
Noval terdiam menatap hampa pada Nita, apa mamanya akan kembali mengulang menyakiti orang yang ia cintai? Termasuk Riyu yang kini ada di genggamannya. Noval merenung sejenak bergelut dengan pikirannya.
"Kalau begitu, aku berhenti Ma. Aku tidak akan meneruskan rencana itu" ucap Noval dengan nada dingin. Ia beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas keluar ruangan Nita.
"Apa yang kau... Noval? Noval!" panggilan Nita tidak di gubris sedikitpun, ia memandang punggung anaknya hingga menghilang dari balik pintu. Nita kembali membanting tubuhnya ke atas kursi kerjanya. "Kenapa semua jadi seperti ini!" ucap Nita menopang kepala dengan kedua tangannya di atas meja.
*****
Noval berjalan melewati dapur untuk minum, merilekskan pikiran. Ia harap semoga keputusannya kali ini adalah keputusan yang benar. Kemudian ia berjalan menuju ke kamar, masih dengan pikiran dan perasaan yang campur aduk. Tapi dari pintu depan, telinganya menangkap suara kehebohan dari Riyu dan beberapa suara yang tidak ia kenal. Noval berbelok, berjalan menuju pintu utama, memastikan siapa yang berisik di depan rumah. Langkah kakinya terhenti saat melihat banyak sekali barang yang baru datang.
Ada yang sedang menggotong tempat tidur baru, lemari, meja rias, dan masih banyak lagi. "Apa-apa ini?!" Protres Noval, kepalanya serasa mau pecah mendengar kebisingan dan barang-barang yang menumpuk memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
"Tempat tidur baru" jawab Riyu cuek.
"Apa?! Tempat tidur sebelumnya juga masih baru Riyu!"
"Enggak. Tempat tidur yang sebelumnya sudah bekas orang! Bekas kau dan Dewi, apa aku harus memakainya juga? Menjijikkan" Riyu mlengos kembali fokus pada para tukang yang sedang menunggu arahannya. "Pak langsung aja bawa ke atas" ucap Riyu meninggalkan Noval yang masih menatapnya heran, sesekali terlihat ia memijat keningnya pelan.
"Oh iya Noval," Riyu berhenti di tengah tangga lalu berbalik ke arah Noval. "Kau jangan khawatir, aku tidak membuang ranjang mu itu"
"Lalu?"
"Aku memberikannya untuk Dewi" Riyu tersenyum dan mengangkat kedua bahunya, lalu melanjutkan berjalan lagi. Noval sempat terkejut dengan kelakuan Riyu yang konyol itu, masa iya ranjangnya beneran di berikan kepada Dewi???
"Haahhh. Terserah kau sajalah, lakukan semaumu" gumam Noval yang sudah di buat stres oleh mamanya, dan sekarang di tambah lagi oleh Riyu. Sebenarnya ingin sekali istirahat di kamarnya, tapi karena sedang di bongkar, Noval terpaksa istirahat di kamar tamu untuk sementara.
*****
"Nah iya pak, lemari tolong geser sedikit ke kanan" sibuk sekali Riyu mengatur denah kamarnya. Ia mengganti semua posisi, aksesoris, bantal, semua dari hal kecilpun tak luput dari pandangan Riyu.
"Apa-apaan ini?!" Tanya Nita yang tiba-tiba muncul dengan wajah yang tidak suka.
"Mendesain suasana baru" jawab Riyu santai. "Ini untukmu pak, terimakasih atas bantuannya" ucap Riyu pada salah seorang yang membantu mengatur dan mengangkat barang. Nita hanya berdiri menatap marah dengan kedua tangannya yang di tekuk di depan dadanya.
"Terimakasih Non" jawab para tukang, mereka membungkuk lalu berpamitan pergi.
"Siapa yang menyuruhmu untuk mengganti semua furniture di kamar ini?!" Nita masih saja tidak terima.
"Tidak ada Ma, semua atas dasar keinginan Riyu sendiri. Riyu cuma ingin suasana yang baru, bosan dengan suasana lama"
"Kau menantu di rumah ini, kau tidak berhak mengatur semaumu apa lagi tanpa seijinku!"
"Kenapa Riyu harus meminta ijin kepada mama kalau papa Mahesa sudah mengijinkan aku?" ucap Riyu menatap Nita dingin.
"Mulai kurang ajar kau ya!"
Nita terdiam, kedua tangannya tergenggam erat. "Maaf Mah, Riyu masih harus membereskan baju ke dalam lemari. Kalau Mama sudah selesai ngajak ngobrolnya, Riyu akan melanjutkan pekerjaan ini"
Tanpa berucap lagi, Nita membuang wajah dengan kesalnya. Ia berlalu menahan umpatan untuk Riyu. "Gadis itu benar-benar sudah lancang sekarang! Kurang ajar. Ini ga bisa di biarkan, yang ada dia akan semakin melunjak nanti. Huh!" sambil mempercepat langkah kakinya, Nita langsung mencari Noval ke beberapa kamar tamu.
"Noval!" ucap Nita setelah menemukan putranya sedang bersantai sambil menatap layar ponselnya di ruang tamu yang paling pojok yang ada di rumah Mahesa. "Kenapa kamu ada di sini?" ucap Nita masih kesal.
"Ada apa Mah?" Noval sudah menerka kalau ibunya pasti kesal dengan Riyu.
"Ada apa?! Apa kamu tidak tahu apa yang sedang di lakukan oleh istrimu?!"
"Memangnya apa yang di lakukan oleh istriku? Bukannya dia cuma mengganti furniture yang ada di kamar?" Noval masih santai menghadapinya.
"Tidak hanya itu! Dia juga sudah berani melawanku sekarang. Kau harus memberi pelajaran padanya supaya bersikap sopan pada Mama. Atau... Mama sendiri yang akan memberinya pelajaran!"
Noval langsung menghentikan ketikan jarinya di layar ponselnya. "Baiklah, aku akan menegurnya" ucap Noval beranjak dari tempat tidur dan bergegas menemui Riyu. Noval tidak hanya cemas, jika Nita sudah berucap seperti itu takutnya dia akan mencelakai Riyu nantinya.
Sesampainya di kamar, Noval langsung menarik lengan Riyu yang sedang sibuk membereskan baju dengan para pelayan. "Apa apaan sih kamu!" Riyu kesal, ia mengibaskan lengannya sampai terlepas dari tangan Noval.
"Kau ikuti saja permainanku, jika tidak ingin masalah jadi ribet!" ucap Noval agak berbisik. Riyu tidak mengerti kenapa Noval bertingkah sangat menggelikan.
"Aku hanya ingin tanya, apa kau melawan ibuku? Kau sudah berani lancang. Apa itu benar?!" tanya Noval.
"Tidak. Oohh jadi Mama ngadu ke kamu ya haha, tapi suamiku, aku sama sekali tidak melawannya. Kenapa Mama Nita memberi bumbu manis sekali di aduannya, hem?!"
"Lalu kau bisa menjelaskan padaku kenapa mamaku kesal padamu"
__ADS_1
"Dia kesal karena aku mengganti furniture di kamar ini tanpa seijinnya. Tapi aku sudah bilang ke Papa Mahesa dan beliau mengijinkan aku"
"Oh jadi begitu" Noval berjalan mendekati tempat tidur yang baru Riyu beli, lalu duduk di atasnya. "Pilihan yang bagus, rupanya aku tidak salah memberikan tugas ini padamu" Noval meraba permukaan bed yang lembut.
"Apa kau bilang?!" ucap Riyu keberatan. Padahal kan ini memang keinginan Riyu sendiri untuk mengganti tempat tidur. "Tugas darimu kau bilang?!" Riyu gemas karena kesal. Tapi tiba-tiba terlihat Nita dari ujung matanya, tanpa menoleh Riyu bisa melihat Nita yang sedang mengawasi mereka dari luar kamar. "Oh jadi ini rencamu" bisik Riyu dalam hati.
"Haha, apa kau suka suamiku?" ucap Riyu agak merasa geli di lidahnya.
"Tentu saja aku suka, bukankah ideku bagus? Sekarang kamar ini jadi lebih nyaman"
Sial. Apa dia bilang? ini kan ideku, bukan idemu! umpat Riyu dalam hati. "Kemarilah" Noval menepuk sisi tempat tidur agar Riyu duduk di sebelahnya, Sedangkan Nita masih berdiri mengawasi mereka.
"Bagaimana jika kita mencoba ranjang ini?" Noval menggenggam tangan Riyu.
"Apa?!" teriak Riyu, reflek karena ucapan Noval yang mulai ngelantur. Tiba-tiba Noval langsung menarik Riyu dan memeluknya erat.
"Kau diamlah bodoh! Mamaku sedang melihat kita di sana. Dia kan belum tau kalau ingatanmu sudah pulih, ikuti permainanku jika kau mau aman!" bisik Noval di telinga Riyu.
"Dasar kau gila! Menyebalkan! Kau sengaja dan memang mencari kesempatan bukan!" balas Riyu berbisik sambil mencubit kencang pinggul Noval.
"Argh. Itu sakit! Dasar kau!" Noval reflek langsung mendorong Riyu dan menahannya di bawah tubuhnya.
Disisi depan pintu, Nita langsung mengalihkan pandangannya. "Anak kurang ajar! Ternyata dia yang menyuruh Riyu mengganti furniture nya. Kenapa ga bilang dari tadi! Malah mengumbar kemesraan di depanku!" gerutu Nita sambil berjalan menuruni tangga.
Saat itu juga Sam baru pulang dari luar, ia melihat Nita yang berjalan dengan wajah yang kesal. Tanpa ingin tau, Sam langsung melewati Nita tanpa menyapa.
"Sam, kau sudah pulang?" Tanya Nita, sepertinya kesempatan yang bagus untuk membuat Sam terbakar api cemburu. Masih tidak memedulikan Nita, Sam terus saja berjalan.
"Sam tunggu sebentar" Nita menghentikan langkah kaki Sam, terdengar dengusan nafas kesal keluar dari bibir Sam. Setelah Sam berhenti Nita langsung mendekat ke arah Sam.
"Eum... Sam lebih baik kau jangan naik ke atas sekarang" ucap Nita sambil menunjuk kamar.
"Atas dasar apa kau mengaturku" tatapan dingin.
"Haha, tidak, aku tidak mengaturmu. Aku hanya menyelamatkan hati dan matamu, itu saja. Aku hanya tidak ingin kau terbakar karena melihat sepasang merak sedang memadu kasih"
"Menyingkirlah" ucap Sam menatap Nita tajam.
Melihat Sam sudah mulai kesal, Nita tersenyum puas. "Oke. Aku sudah memperingatkan mu Sam" sebelum Nita berlalu ia menepuk pundak Sam.
"Aku akui kau terlihat menggemaskan" ucap Noval.
Langkah kaki Sam berhenti tepat di sela-sela pintu kamar yang tidak tertutup dengan rapat.
"Hey! Kau. Ide tempat tidur baru ini adalah ideku, kenapa seakan-akan bangga sekali menyebutkan bahwa ini idemu di depan Mama Nita!"
Saat mendengar suara Riyu, Sam langsung melihat ke kesela-sela pintu. Bibir Sam terkunci rapat, tangannya mengepal erat, ia melihat Riyu yang masih ada di bawah Noval. Sepertinya apa yang di ucapkan Nita terjadi sudah, Sam terbakar melihat Riyu dan Noval sedang bermesraan.
"Sudah cukup dramanya! Kau enyahlah dari atas tubuhku dasar kau pria brengsek" Riyu mendorong Noval hingga terhempas di sisi tempat tidur.
"Hei. Aku sudah menyelamatkan hidupmu, bukannya berterimakasih malah kasar padaku"
"Menyelamatkan hidupku? Justru kau mempersulit hiduku tau! Sudah minggir sana, gara-gara kamu dan Mamamu pelayanku jadi kabur semua!" Riyu bangun dan langsung merapikan rambutnya. Noval memandang Riyu yang terlihat dari cermin sambil tersenyum.
"Pantas saja Sam sangat tergila-gila padamu, tingkahmu yang menggemaskan itu memang membuat orang ingin memakanmu" gumam Noval dalam hati.
Riyu bergegas untuk memanggil para pelayannya lagi, tapi ia tersentak saat membuka pintu kamarnya.
"Sam... " terpekik.
__ADS_1
Riyu berdiri mematung, ia melihat kemarahan di tatapan mata Sam. "Sam kau jangan salah paham aku dan Noval hanya... "
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Sam langsung beranjak pergi. "Sam.... Sam!" panggil Riyu. Tapi Sam tak menggubrisnya malah membanting pintu dengan sangat kencang.