Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Hancurnya Kediaman Darma


__ADS_3

Riyu terduduk lemas bersandar pada pintu kamar villa, tangannya meluk lututnya erat. Memandang kosong pada langit-langit kamar yang bisu, sesekali buliran bening meluncur melewati pipinya dan menetes membasahi tubuh yang tak berdaya. Apa yang harus dia lakukan, Sam mengurungnya sekarang. Bibirnya terkatup rapat tanpa suara, Riyu tidak tau bagaimana nasib Maya dan kakeknya, kedua orang yang sangat ia sayangi. Belum lagi perlakuan Noval, ia senang karena Noval bersedia menceraikan dirinya, tapi kepercayaan Riyu seperti dihianati saat Noval mencuri liontin berlian, warisan turun-temurun almarhum ayahnya.


Wung... Wung... Wung...


Mobil Sam melaju cepat menuju kediaman Darma, diiringi dengan beberapa mobil cheap yang berisi Teratai Hitam lengkap dengan senjata. Gerbang pertama, Sam masih belum menggunakan senjatanya karena ternyata para bodyguard di beberapa gerbang telah kosong. Begitu juga gerbang kedua dan selanjutnya. Sampai di gerbang utama, Sam turun dari mobil dan langsung menderetkan tembakannya, menghabisi semua penghianat yang beralih berdiri dipihak Mangsur.


Beberapa menit kemudian suasana kembali senyap, sisa asap putih dan juga para tubuh bergelimpangan bersimbah darah. Kemudian Sam berlari menuju pintu masuk, ia berhenti tepat di teras didepan pintu yang telah terbuka lebar. Ada sesuatu yang tidak beres yang dirasakan Sam, ia menyisir seluruh tempat dengan matanya sebelum masuk ke dalam rumah, sedangkan anak buahnya yang telah ia kerahkan sudah berderet rapi mengepung kediaman Darma dengan senjata yang siap meluncurkan peluru.


Cekrek...


Sam menyiapkan senjata, menodongkan ke depan pandangannya. Mata tajamnya waspada pada setiap gerakan yang kemungkinan bisa datang lalu tiba-tiba menyerang. Perlahan ia berjalan masuk ke dalam rumah, tapi baru saja Sam melewati pintu...


Duaaarrrr.....


Ledakan keras dari dalam kediaman Darma langsung menghempaskan Sam bersama dengan puing-puing bangunan antik yang hancur berhamburan. Sam terpental hingga taman depan, ia tak sadarkan diri.


Asap tebal berwarna hitam memenuhi udara, angin berhembus membawa, menyisihkan asap hitam perlahan. Samar-samar terlihat, kediaman yang tadinya terlihat berdiri kokoh dan megah, kini hancur lebur, menyisakan puing-puing yang bertumpang tindih akibat ledakan bom. Tidak lama Sam pingsan, tangannya mulai bergerak menopang tubuhnya. Darah segar mulai mengalir dari telinga dan pelipisnya, Sam bangkit, terhuyung berjalan menuju puing-puing rumah Darma yang runtuh.


"Darmaaaaa" Sam meraung kencang.


Susah payah Sam menembus puing dengan kaki pincangnya, tak jauh dari tempatnya berjalan, salah satu anak buahnya yang juga mengalami cidera akibat ledakan bom, memanggilnya karena menemukan sesuatu.


"Bos!"


Sam langsung menoleh, ia bergegas mendekati anak buahnya. Setelah sampai ia melihat satu tubuh yang sebagian telah terjepit tembok yang runtuh.


"Bayu! Bayu!" ucap Sam menggoyangkan Bayu yang hanya terlihat kepalanya saja.


"Tu... Tuan Darma" ucapnya terbata dengan sisa nafasnya.


"Dimana Darma? Dimana dia?!" Sam berkata dengan perasaan sedih.


"Ma... Maafkan aku, maaf" hanya kata itu yang keluar dari bibir Bayu yang sekarat.


"Bayu!" Sam kembali mencoba menyadarkannya, tapi Bayu sudah tidak berkutik dengan mata yang masih terbuka menatapnya, Bayu telah tewas sebelum anak buahnya berhasil mengangkat tembok yang menindihnya. Sam menyeka wajah Bayu menggunakan tangannya, sesaat ia tertunduk menahan amarahnya. Meskipun Bayu belum sempat memberitahukan dimana Darma, Sam terus mencari di sisa-sisa ruangan yang telah hancur. Hingga sampai pada akhirnya, matanya menangkap tubuh yang tergeletak tertindih rak buku yang biasanya berdiri kokoh di ruangan Darma dengan berkas-berkasnya.


Sam bergegas menyingkirkan runtuhan untuk sampai ke Darma, ia juga berusaha menyingkirkan rak yang menindih tubuh Darma. Sesekali ia berteriak untuk mengerahkan seluruh tenaganya supaya bisa menyelamatkan Darma.


"Kakek... Kakek!" Sam menopang kepala Darma ke atas pangkuannya. "Darma jawab aku!" Sam berteriak. Tarikan nafas berat terdengar dari hidung Darma.


"Sam" ucap Darma lirih.


"Kau jangan bicara dulu kakek tua! Aku akan membawamu" Sam hendak mengangkat dan menggendong Darma, tapi tangannya di genggam dengan erat.


"Kau tau kenapa aku memilihmu? Sam, kau yang akan menggantikan aku setelah ini. Menjadi orang yang kuat di kota" Sesekali Darma batuk, Sam diam mendengarkannya. "Sam, beritahu aku. Aku tidak salah menunjukmu kan? Aku akan pergi dengan damai karena kau pasti akan menjaga cucuku dengan baik"


"Omong kosong! Biarkan aku membawamu, kau akan pulih dan bertemu lagi dengan Riyu" Sam mencoba melepaskan tangan Darma, tapi... Darma menatapnya tersenyum dan tidak bergerak lagi.


"Kakek" Sam mengamati Darma, tidak ada nafas dan juga gerakan bibirnya lagi. "Kau mencoba mengerjai aku kakek tua! Cepat bangun aku bilang!" Tetap saja, Darma diam tersenyum menatapnya. Sam merengkuh tubuh Darma yang sudah tidak bernyawa, seketika itu juga tangisnya meledak disertai luapan amarahnya. Rasa bersalah karena tidak mampu menempati janjinya pada Riyu. Mungkin setelah ini dia tidak akan sanggup menatap Riyu yang pasti akan merasa hancur saat tau kakeknya telah tiada.


*****


Plok... Plok... Plok...


Tepuk tangan menyambut kedatangan Noval di markas Bram yang terletak di tempat terpencil jauh dari kota, Noval menatap tajam pada sosok pria paruh baya yang berdiri dengan seringainya. Mata serakah itu langsung melirik ke liontin yang menggantung di tangan Noval, liontin berayun, mata berlian yang mengkilap semakin membuat Mangsur tergiur, tidak sabar untuk mendapatkannya.

__ADS_1


"Anak pintar, rupanya kau bersedia berjuang keras untuk membawakan kunci kejayaan itu" Mangsur tertawa bangga.


"Kunci kejayaan, juga kunci kematian untukmu!" Noval geram menggertakkan giginya.


Sontak anak buah Mangsur yang ada di ruangan itu langsung menodongkan senjata ke arah Noval, Noval melihat ke arah mereka dengan tatapan yang menyiratkan kalau dia tidak peduli.


"Sekarang berikan padaku liontinnya. Dengan begitu, aku akan memberikan hadiahku padamu. Dengan selamat tentunya. Jika kau berani mempermainkan aku, maka jangan salahkan aku jika orang yang ingin kau selamatkan akan bernasib sama dengan Darma"


Sontak Noval langsung mencengkram kuat kerah Mangsur. "Apa?! Apa yang kau lakukan pada Darma?!" bentak Noval, seketika itu juga anak buah yang mengepung semakin maju waspada jika Noval sampai berani melukai bosnya.


Tangan Mangsur terangkat di udara, isyarat untuk anak buahnya kalau dia baik-baik saja. Merekapun kembali mundur beberapa langkah namun masih tetap dengan senjata yang siaga.


"Hemh, kau ingin tau apa yang terjadi pada Darma? Terlambat nak, mungkin sekarang ini Darma sudah hancur bersama kediamannya."


Mendengar itu, Noval tergeletak. Ia lunglai melangkah mundur menjauhi Mangsur. "Kenapa anak muda? Sepertinya kau juga menyayangi kakek tua itu, hahaha. Sekarang berikan padaku liontinnya!"


Noval masih terdiam, tangannya tergenggam erat. Ingin sekali dia menghabisi orang yang di hadapannya itu, tapi untuk sekarang, Mangsur masih memegang orang yang penting di hidupnya.


"Aku ingin bertemu dengannya, untuk memastikan kalau anak itu baik-baik saja" ucap Noval menatap tajam, "Ingat Mangsur, suruh anak buahmu untuk mundur, jika tidak, aku tetap bisa menghancurkan liontin ini meskipun dalam keadaan sekarat!" Noval mengecam keras, kemudian ia memasang liontin berlian Riyu di lehernya.


Mangsur terdiam sesaat menatap Noval dengan berbagai rencana di benaknya. Mangsur paham, Noval pasti tidak akan dengan mudah menyerahkan liontin itu. Ia memberikan isyarat dengan tangannya supaya anak buahnya pergi, setelah itu, Mangsur membawa Noval masuk le dalam suatu ruangan. Betapa terkejutnya saat Noval melihat Nita di sana.


"Jadi benar. Kau terlibat dengannya!" Bentak Noval. Nita mengalihkan pandangannya supaya tidak melihat tatapan kebencian dari Noval yang di lontarkan padanya.


"Noval, maafkan Mama"


"Aku kira setelah mendapatkan Mahesa, kau akan menghentikan sifat serakahmu itu"


"Noval... " Nita tidak diberi kesempatan untuk bicara.


*****


Kembali kemasa dimana Maya keguguran saat itu. Maya yang habis pergi dari toko perlengkapan bayi, berjalan menuju parkiran dengan perut besarnya. Tapi, Nita yang menunggunya dari balik kemudi mobil langsung menabraknya. Maya terguling dengan darah yang keluar deras.


Maya dibawa ke rumah sakit untuk segera dioperasi, sebelum itu Maya telah berpesan pada dokter. Entah bayinya selamat atau tidak, Maya ingin diberikan stempel dari janinnya untuk tes DNA. Tidak sampai di situ, Nita masih mengawasi Maya di rumah sakit untuk memastikan bahwa anaknya telah tewas. Sampai pada akhirnya, Nita tau, bayi Maya ternyata berhasil di selamatkan. Nita masih tidak menghentikan aksinya, ia menyogok dokter dan juga para suster yang menangani Maya di rumah sakit. Nita menyuruh mereka untuk tidak memberitahukan Maya, kalau anak yang ia kandung berhasil selamat. Bahkan sampai sekarang yang Maya tau, anaknya telah meninggal.


Setelah menerima uang dari Nita, suster dan dokter itu menyerahkan bayi ke tangan Nita. Sebelum Maya sadar dari obat bius karena Operasi, Nita bergegas pergi dari rumah sakit sambil membawa bayinya. Awalnya, Nita berniat untuk menghabisi bayi itu, tapi ternyata ia tidak memiliki keberanian. Nita mengemudikan mobilnya menuju ke suatu panti asuhan, disanalah Nita membuang bayi merah yang terbungkus kain dan di letakkan di sebuah kardus.


Tanpa Noval tau, tanpa Maya tau, anak mereka ternyata masih hidup hingga sekarang. Merasa putus harapan karena tidak juga mendapatkan liontin berlian, Nita dan Mangsur melanjutkan kejahatannya dengan memperalat Noval. Mereka menebus kembali bayi yang Nita buang beberapa tahun yang lalu dan rencana mereka berhasil, membawa Noval ke hadapannya tanpa melawan juga dengan liontin yang mereka inginkan. Mangsur memberi imbalan akan mengembalikan anaknya dan Maya, sedangkan Noval akan menebus mereka dengan liontin berlian.


*****


"Ayah... "


Suara sapaan lembut dari bibir seorang bocah berusia 4tahun. Noval diam mematung, tatapan bencinya seketika luntur begitu saja, ia belum berani menoleh ke sumber suara yang memanggilnya ayah. Getaran hebat terasa di sekujur tubuhnya, benarkah dia anakku, benarkah aku yang dia panggil ayah, atau aku sedang berhalusinasi? Noval bergelut dengan perasaannya.


"Kata Om itu, kau adalah ayahku. Apa itu benar?" Suara polos itu terdengar lagi.


Noval menguatkan dirinya untuk menoleh ke balik badannya. Setelah ia berbalik, matanya langsung menatap pada sosok anak kecil yang kini berdiri di hadapannya. Noval terdiam menatapnya dengan mata yang mulai berair, menelusuri kaki hingga ujung rambut pada anak perempuan yang tersenyum hangat. Pandangan Noval berhenti di mata putri kecil itu, mata tegas, sama seperti sorot mata Maya dan juga senyum hangatnya. Reflek, Noval langsung berlari memeluk putrinya yang baru pertama kali ia lihat.


Noval tersimpuh, Erat sekali Noval memeluk gadis kecil itu, tak sadar airmata mengalir deras tapi Noval tidak memperdulikannya. "Kau putriku... "ucap Noval dengan suara lirih dan serak, mengecup beberapa kali kepala yang ia belai erat.


"Siapa namamu?" tanya Noval diiringi airmata yang meluncur deras dipipinya.


Namun tanpa di sangka, tangan lembut putri kecilnya bergerak perlahan menghapus airmata Noval. Entah perasaan Noval sudah sangat sulit di jelaskan dengan kata-kata. "Kenapa ayah menangis? Namaku Dhea, ayah" Senyum riangnya benar-benar membuat hati Noval luluh seketika. Ia kembali mengecup putrinya.

__ADS_1


"Wah, wah, wah mengharukan sekali." ucap Mangsur merusak perasaan Noval.


Sedangkan Nita hanya diam berdiri, melihat putranya yang sangat menerima anak kecil itu, perasaan Nita kembali menyeruak khawatir. Ia pasti akan mendapatkan hukuman berat dari putranya.


"Lihat, aku sudah menemukan putrimu. Sekarang berikan liontin itu padaku" Mangsur menjulurkan tangannya.


"Haha, kau sungguh tidak berperasaan Mangsur. Benar aku sudah menemukan putriku, tapi bagaimana dengan ibunya?" Noval menyembunyikan perasaan lembutnya, beralih menatap Mangsur dengan tatapan dingin.


Ekspresi Mangsur berubah seketika itu juga, Sebenarnya apa rencanamu Noval! gumam Mangsur dalam hati, ia mulai menangkap seperti Noval ada rencana lain yang tidak ia ketahui. Tidak ingin membiarkan putrinya hilang dari dekapannya, Noval mengendong Dhea lalu, mengikuti Mangsur yang membawanya ke ruangan lain.


"Maya" ucap Noval lirih, tangannya terasa lemas. Hampir saja Dhea meluncur dari gendongannya, tapi ia tetap menguatkan dirinya. Ujian untukmu Noval, mungkin saat Noval menjadi orang yang tanpa perasaan, dia tidak akan selemah ini.


Wanita yang sedang menahan sakit di sekujur tubuhnya, masih terkulai lemah dengan kaki yang terpasung, juga leher yang yang terikat dengan rantai. Bagaimana bisa, manusia diperlukan seperti itu, bahkan hewanpun rasanya lebih beruntung daripada nasib Maya saat itu.


Dhea yang digendong Noval bergerak ingin melihat apa yang membuat tubuh ayahnya gemetar, tapi saat kepala Dhea hendak berputar, Noval menahannya. "Dhea, kau putri ayah yang baik kan?" ucap Noval lirih.


"Iya ayah" Jawab Dhea memeluk pundak Noval erat.


"Kau mau menuruti permintaan ayah?"


"Apa permintaan ayah?"


"Tapi Dhea harus janji, dan tidak akan mengingkari janjinya" sekarang Dhea dan Noval saling bertatapan. Dhea mengangguk tanda setuju ajakan ayahnya. "Dhea dengar, ayah akan menurunkanmu. Tapi kau harus menutup matamu. Kau janji pada ayah, sebelum ayah sendiri yang menyuruhmu untuk membuka mata. Maka kau tidak boleh membuka matamu, dan apapun yang kau dengar, jika kau takut tutup telingamu kuat-kuat. Mengerti?"


Senyum Dhea hilang begitu saja "Apa ayah akan meninggalkan aku lagi dan membawaku kembali ke panti?" tanya Dhea polos.


"Tidak. Justru Ayah akan membawamu dan ibumu pergi, kita akan hidup bersama setelah ini, tapi ayah harus melawan om jahat itu sayang" Noval menyentuh kepala Dhea penuh kasih. Dhea kembali tersenyum riang, benar saja, ia langsung menutup matanya, menuruti ucapan Noval.


Kemudian Noval menurunkan Dhea lalu mendekati Maya, satu tujuan Noval menyuruh Dhea menutup mata adalah Noval tidak mau, anaknya melihat kondisi ibunya yang mengenaskan. "Lepaskan dia" ucap Noval menatap dingin pada anak buah Mangsur. Sebelum membuka gembok pada pasung dan rantai yang terpasang di tubuh Maya, ia melihat kearah Mangsur untuk mendapatkan ijinnya. "Lepaskan" ucap Mangsur singkat.


Noval langsung merengkuh Maya, dan menggendongnya ke pojokan ruangan bersama dengan Dhea. "Kalian tunggu disini, ada urusan yang harus ayah selesaikan terlebih dahulu" Noval menatap kedua orang yang kini sangat berharga baginya. melihat Maya yang mulai kritis, Noval tidak lagi bisa menahan amarahnya sejak ia datang ketempat itu.


Diam-diam Noval menyiapkan pistol yang ia sembunyikan di balik lengan bajunya, seketika itu juga Noval berbalik langsung menembak anak buah yang ada di ruangan itu. Noval menoleh sejenak ke arah Dhea, anak itu ternyata benar-benar menurutinya. Dhea masih memejamkan matanya, meskipun sekarang ia ketakutan jongkok sambil menutup kedua telinganya.


Noval melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat, ia mengejar Mangsur yang telah kabur menghindarinya. Pistol di tangan kanan kiri Noval menembak ke berbagai arah, menghabisi siapapun yang ada di hadapannya. Tapi Noval tidak bisa pergi jauh dan harus menjaga pintu ruangan tempat dimana Dhea dan Maya ada disana. Sesekali Noval berbalik ke seluruh arah dengan tatapan dan pistol yang siaga. Tapi Naas, Noval terkena tembak di bagian punggungnya.


Noval tersungkur, tapi ia tetap berusaha untuk tidak kehilangan kesadarannya. "Hemh, aku salah karena telah meremehkan keberanian mu Noval." Mangsur meniup Moncong pistol yang masih mengeluarkan asap.


Dengan seluruh kekuatannya, Noval berusaha bangkit, tapi saat itu juga Mangsur menghajarnya. Tangannya berusaha menggapai liontin yang tergantung di leher Noval, namun, selalu gagal karena Noval tidak membiarkan liontin itu jatuh di tangan Mangsur. "Kau sudah tidak menginginkan nyawamu rupanya!" gertak Mangsur yang langsung menginjak punggung Noval yang tertembak.


Dengan pandanganya, Noval berusaha menemukan salah satu senjata untuk mempertahankan diri, juga mempertahankan Dhea dan Maya. Tapi tubuhnya semakin lemas sekarang. Mangsur tertawa puas melihat Noval yang sudah tidak berdaya, namun tak lama kemudian. Drentetan suara tembakan terdengar dari depan markas itu.


Mangsur bergegas untuk melihat, siapa yang berani menyerangnya dari pintu besi yang terbuka, ternyata, disana ia melihat Sam, dan juga para anggota Gangster Teratai Hitam sedang menderu menghabisi anak buahnya. Bahkan termasuk Bram, yang sudah tewas dengan lubang di keningnya. Mangsur berusaha menutup pintu besi itu, tapi engselnya terlalu kuat hingga ia memutuskan untuk kabur dan bersembunyi di dalam.


"Cepat! Aku harap si bodoh itu belum memberikan liontin berlian itu kepada Mangsur" Sam bergegas masuk disusul dengan anak buahnya.


Kedatangan Sam, membuat sebagian dari musuh memilih untuk kabur. Saat Noval berhasil bangkit, ia melihat Amir yang panik saat melihatnya. "Kau tidak memiliki jalan kabur ya?" ucap Noval menyeringai. Keduanya melirik ke arah pistol yang sama, dalam benak masing-masing mereka berbisik "Siapa cepat, dia yang selamat"


Amir dan Noval langsung berusaha mengambil pistol itu, beruntung Noval lebih cepat. Tanpa celah lagi, ia langsung menembaki Amir tanpa celah. Tak berselang lama, Amir sudah tewas di tangannya.


"Ayah!" Teriak Dhea.


Noval berbalik, ia melihat Mangsur yang telah menodongkan pisau ke leher Dhea....


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2