Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Sambutan Untuk Riyu


__ADS_3

Singapore


Malam itu Tuan Darma membuat pesta perayaan di sebuah restoran besar. Meskipun tamu yang diundang hanya segelintir orang tertentu saja, demi merayakan rasa syukurnya Tuan Darma atas kesembuhan Riyu.


Selama hampir satu tahun dihantui rasa kecemasan dan was-was, kini Darma bisa bernafas lega, setelah cucu tercintanya mulai pulih seperti sedia kala.


Tap... Tap... Tap...


Langkah kaki berhias sepatu high heels, dan tubuh yang terbalut gaun mewah terlihat begitu tegas dan anggun melintas di atas karpet merah yang terpasang disepanjang pintu masuk restoran hotel berbintang. Kepalanya yang tegak, matanya menatap tajam dan penuh dengan ketelitian. Di bibirnya tercantum senyum tegas yang membuat orang merasa kagum pada dirinya.


Noval berdiri di depan pintu menyambut tangan halusnya, "Welcome back honey" sapa Noval dengan senyum yang menawan, menjulur tangannya untuk menyambut kedatangan Riyu.


"Thankyou" jawab Riyu lalu menggandengkan tangan Noval.


"Patut kau terlambat, kau berdandan begitu cantik malam ini" puji Noval dengan nada yang sedikit berbisik.


"Terimakasih suamiku, aku hanya ingin orang tau bahwa cucu kakek Darma patut bersanding dengan mereka" senyum sinis tersirat di bibir Riyu.


Perbincangan singkat itu berhenti saat Riyu dan Noval sampai di depan para tamu yang telah menunggu di meja makan. Melihat Riyu dan Noval, mereka berdiri menyambut dengan ramah dan senyum yang bahagia.


"Maaf kakek, Riyu terlambat" ucap Riyu mengecup singkat pipi kanan Darma.


"Ya. Terlambat 10 menit masih bisa kakek maafkan dengan melihat penampilan mu malam ini, semua terbayar sudah. Cucu kakek sangat cantik" ucap Darma memuji membuat Riyu tersenyum malu.


Darma mempersilahkan para tamu untuk kembali duduk di kursinya masing-masing. Di atas meja telah tersedia berbagai macam makanan mewah untuk dinikmati.


"Selamat atas kesembuhan mu Nona Riyu, tapi setelah ini kau harus menyiapkan banyak tenaga untuk kembali berdiri di atas presedir Galuh union" ucap salah satu sahabat Darma diiringi tawa ringan.


"Tentu saja Om. Sudah terlalu lama aku tidur nyenyak, dan kini saatnya kembali aku melakukan kewajibanku. Benar kan suamiku!" jawab Riyu, pandangannya langsung ke arah wajah Noval yang menatapnya penuh dengan perhatian.


"Tentu saja sayang. Mari bersulang. Untuk menyambut kembalinya presedir Galuh union!" Noval mengangkat gelas anggurnya.


Ting... Suara gelas yang beradu.


Mereka menikmati makan malam bersama dengan penuh tawa dan perbincangan ringan. Lusa Riyu, Darma, dan Noval sudah harus kembali ke kota Y untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Riyu, jika kau sudah kembali ke negara Y nanti, jangan lupa untuk sesekali main ke tempat bibi" ucap seorang wanita paruh baya. Dia adalah pemilik perusahaan kosmetik di sana.


"Tentu Bi, jika liburan nanti aku pasti akan berkunjung" jawab Riyu. Ia langsung menyembunyikan senyumnya dan tertunduk.

__ADS_1


"Ada apa Riyu? Tanya Darma mengamati.


"Ga apa-apa kek, cuma. Ada perasaan aneh saat aku mendengar negara Y. Ada apa di sana?"


Darma terdiam, ia bingung mau menjelaskan apa. "Ehem... Riyu, negara Y adalah tanah kelahiranmu. Hal yang wajar jika kau merasa aneh, benarkan Tuan Darma" ucap Noval mencoba mengalihkan.


"Ya... Ya benar" Darma gugup.


Riyu menanggapinya dengan sebuah senyuman. Meskipun jawaban Noval cukup masuk akal, tetap saja Riyu masih belum puas.


Usai makan malam Riyu membersihkan diri di kamarnya, ia mengganti bajunya dengan baju tidur yang nyaman. Di depan meja rias Riyu menyisir rambutnya sebelum tidur, Noval mengamati dari bayangan cermin.


"Ternyata dia cantik juga" gumam Noval dalam hati.


Riyu baru sadar saat melirik bayangan Noval di cermin "Em... Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Riyu merasa gugup.


"Aku hanya ingin menyampaikan kalau aku sangat merindukanmu" Noval beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati Riyu.


"Apa kau tidak ingat? Dulu kita adalah pasangan suami istri yang bahagia" Noval membelai pundak Riyu dengan lembut.


"Hemh. Benarkah!" Ucapnya tersenyum sinis. Ia beranjak dari bangku rias dan berjalan menuju tempat tidur. Namun Noval menarik lengan Riyu hingga ia terhempas ke pelukannya.


"Apa yang akan kau lakukan!" Riyu mencoba melepaskan pelukannya.


"Apa lagi Riyu? Aku suamimu, sudah hal yang wajar kalau kau melayaniku bukan?" ucap Noval membelai lembut wajah Riyu.


Riyu terdiam, ya. Memang dia tau kalau Noval adalah suaminya, namun dalam hatinya Riyu sangat keberatan setiap kali Noval menyentuhnya.


Noval mencium Riyu dan membimbingnya ke atas tempat tidur, meskipun sebenarnya ia menolak tapi... Riyu juga tidak bisa mengabaikan kewajibannya.


Riyu memejamkan matanya, berharap akan berakhir dengan cepat. Namun... Pada saat Noval sedang mencumbu dengan penuh kelembutan, bayangan hitam putih muncul seketika dipelupuk matanya yang terpejam.


Riyu mulai gelisah dan mencoba mendorong Noval perlahan tapi belum berhasil. Semakin Noval melanjutkan aktivitasnya bayangan yang Riyu ingat semakin terpampang jelas. Dalam bayangan hitam putih yang bergerak cepat, Riyu melihat seorang pria yang sedang menyentuhnya. Dia yakin kalau pria itu bukanlah Noval.


"Cukup! Cukup hentikan!" Teriak Riyu mendorong Noval dengan sekuat tenaga. Riyu langsung duduk dengan nafas tersengal dan membetulkan bajunya.


Noval terdiam, sudah hampir sedikit lagi tapi lagi-lagi ia harus menahannya.


"Maafkan aku... Tapi aku tidak bisa Noval!" Riyu turun dari tempat tidur dan langsung berlari menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Apa yang salah padaku?. Kenapa setiap Noval menyentuhku bayangan itu selalu muncul! Apa yang terjadi sebenarnya!" Riyu lunglai terduduk bersandar di pintu kamar mandinya.


*****


Pagi itu Sam duduk sambil memandang pigura diatas meja kamarnya. Disebuah foto yang terbingkai indah memperlihatkan Riyu yang sedang tersenyum, senyum manis yang selalu hadir dalam ingatan Sam. Sampai saat ini Sam masih belum tau keadaannya, dimana Riyu, seperti apa dia. Sam tidak pernah tau. Berkali-kali juga Sam mencoba untuk mencari informasi tentang keberadaan Riyu, namun semua berhasil nihil, Tuan Darma benar-benar menutupinya dengan sangat rapat.


Usai termenung sejenak Sam kembali bersiap ke kantornya. Sejak Riyu menghilang dari hidupnya sikap Sam juga semakin banyak berubah, jadi sangat pendiam, lebih dingin dari biasanya.


"Bos. Sudah waktunya jam makan siang" ucap Aji menunjuk arlojinya.


"Ya kau boleh pergi" jawab Sam singkat.


"Kau?"


"Aku tidak lapar" jawab Sam tanpa malingkan mata dari layar laptopnya.


Tanpa banyak bicara Aji pun melangkah keluar, namun sebelum membuka pintu Aji berbalik memandang Sam yang masih sibuk mengetikkan jari jemarinya di atas keyboard laptopnya.


"Sam kau tidak makan siang?" Mahesa masuk keruangan Sam.


"Pa bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk?" Sam memandang kesal.


"Papa sudah mengetuk pintu berkali-kali tapi kau tidak mendengarnya, papa kira kau sudah keluar dari ruangan untuk makan siang"


"Oh... Sorry aku ga dengar papa ngetuk pintu" Sam menatap Mahesa sejenak lalu beralih ke layar laptop lagi.


Suasana kembali hening, Mahesa mencari cara supaya bisa menjalin ikatan dengan putranya itu.


"Sam, temani papa makan siang" ucap Mahesa tiba-tiba.


Jari Sam berhenti mengetik, ia memandang Mahesa heran. "Kenapa? Apa salah jika seorang ayah mengajak putranya makan siang?" Mahesa mengangkat kedua bahunya.


"Tidak... Tidak salah. Cuma aneh aja, ga seperti biasanya papa mengajakku makan bersama. Kenapa kau tidak mengajak istri tercintamu?"


"Sam tolong jangan memulai perdebatan, papa akan menunggumu di loby!" Ucap Mahesa lalu beranjak pergi.


Sam termenung, yang ingin dia lakukan sekarang ini adalah menyendiri dan menyibukkan pikirannya untuk mengalihkan kecemasan. Tapi di sisi lain dia juga tidak enak jika harus menolak permintaan Mahesa.


Sepuluh menit kemudian, Mahesa yang masih menunggu di loby akhirnya bisa tersenyum lega saat Sam menerima ajakan makan siangnya, mereka naik mobil bersama dan memilih restoran yang tak jauh dari kantor.

__ADS_1


Sebenarnya ada yang ingin Mahesa sampaikan pada Sam, ia tau kalau Riyu akan kembali sebentar lagi. Tapi... Mahesa tidak sampai memberitahu ke Sam tentang hal ini. Ia mencoba mencari kata-kata untuk membahasnya tapi tetap saja Mahesa tidak memiliki keberanian.


__ADS_2