
Akhirnya, pesta telah usai. Waktu sudah terlalu larut, sehingga mobil bisa melaju bebas karena jalanan yang sepi. Noval mengambil kesempatan itu untuk membalas Riyu yang telah mengkhianatinya, ia melanjukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai Riyu gemetar ketakutan.
"Noval aku mohon hentikan. Pelankan mobilnya!." Riyu gemetar ketakutan, tangannya berpegangan erat.
"Haha kenapa Riyu? Menyenangkan bukan? haha" Noval tertawa jahat, puas melihat wajah Riyu yang mulai pucat.
Riyu terdiam, nafasnya terasa sangat sesak. Bayangan masa lalu dimana ia mengalami kecelakaan bersama orang tuanya, kembali mencuat. "Noval hentikan mobilnya!." teriak Riyu.
Tapi Noval sama sekali tidak menggubrisnya, dia semakin mengencangkan laju mobilnya. Riyu hanya bisa terpejam menahan gemetar di tubuhnya sampai mereka tiba di rumah.
Sam sudah terlebih dulu sampai, mengamati wajah Riyu yang pucat pasih ketika masuk kedalam rumah.
"Ambil dia jika kau mau!. Tidak berguna!" Noval mendorong Riyu hingga terhempas ke arah Sam.
Dengan sigap Sam langsung menangkap Riyu yang masih gemetar ketakutan.
"Menjijikkan!" ucap Noval sambil beranjak pergi.
Rasanya ingin sekali mendaratkan bogem mentah ke wajah Noval, tapi melihat keadaan Riyu, Sam membiarkan Noval untuk sekarang ini.
"Bi Mirah! Tolong ambilkan air minum." Sam memapah Riyu ke sofa yang berada di ruang keluarga, "Apa yang terjadi?" tanya Sam cemas.
"Mobil. Mobilnya melaju kencang. Sama seperti mobil ayah waktu itu. Kami terperosok ke dalam jurang, ayah, ibu... Mereka meninggal" Riyu tidak bisa mengendalikan dirinya, trauma yang dalam membuatnya benar-benar ketakutan dan mengingat semua kejadian mengerikan itu.
"Tenanglah Riyu, sekarang minumlah" Sam mencoba menenangkan Riyu.
"Ternyata Noval juga tau kalau Riyu memiliki trauma, dia sengaja mempermainkannya" gumam Sam dalam hati.
*****
Di waktu yang bersamaan Lila memegang ponselnya dengan wajah yang berbinar, jari jemarinya sibuk memencet nomor telepon mencari kontak didaftar ponselnya.
"Hallo." Terdengar jawaban dari seberang sana.
"Halo. Om Mahesa, apa aku mengganggu istirahatmu?" ucap Lila ramah.
"Siapa ini?"
"Aku Lila om, Putri dari keluarga Mangsur"
"Haha ternyata kau Lila, ada apa kok tumben menelponku?" Nada Mahesa berubah ramah.
"Apa om sudah membuka email yang aku kirimkan?"
"Email? Tunggu sebentar biar ku periksa" Mahesa beranjak membuka laptopnya yang berada di meja kerjanya. "Apa-apaan ini?" Mahesa tertegun melihat foto-foto yang yang ada disana.
"Apa om Mahesa tidak mengenali siapa yang berada di foto itu? Hemh. Om, sayang sekali ya. Ternyata keluarga terpandang sepertimu bisa memiliki menantu yang memalukan! Apa kurang puas Riyu mendapatkan Noval sehingga dia berani menggoda Sam?" Lila mulai mempengaruhi emosional Mahesa.
Mahesa terdiam, dia merasa syok dan tidak bisa berkata-kata.
"Om Mahesa tenang saja, aku sendiri yang memergoki mereka jadi aku berani jamin kalau aib ini tidak akan bocor sampai dunia luar tapi... Aku memiliki satu permintaan!"
"Apa permintaanmu" Tanya Mahesa, keningnya mulai berkeringat dingin.
"Sam harus bertunangan denganku. Bukankah itu sangat menguntungkan? Pertama kau mendapatkan kerja sama dengan perusahaan papaku dan yang kedua dengan Sam bertunangan denganku maka Sam tidak akan lagi digoda oleh kakak iparnya"
Mahesa terdiam sesaat, mempertimbangkan apa yang diucapkan Lila. "Dia benar, jika Lila bertunangan dengan Sam, maka hal memalukan seperti ini tidak akan terjadi" gumam batin Mahesa.
"Baiklah, aku setuju." jawab Mahesa. seketika itu merekapun mengakhiri percakapan.
Senyum puas terukir di wajah Lila. Akhirnya, ia mendapatkan kesempatan untuk dapat memiliki Sam dan bertunangan dengannya.
*****
Pagi itu mobil Mahesa telah terparkir di garasi, semua menyambut kedatangannya. Tanpa menundanya lagi Mahesa menyuruh seluruh anggota keluarga untuk berkumpul Di ruang keluarga. Mahesa duduk dengan wajah yang muram, tatapannya terlempar ke arah Riyu dengan tajam.
"Tidak ku sangka gadis polos sepertimu bisa berbuat memalukan!"
"Pa!" ucap Sam.
__ADS_1
"Diam kau disitu!" Mahesa menatap Sam dengan penuh kemarahan. Noval dan Nita tersenyum puas, drama yang mereka tunggu akan segera dimulai.
Sam terdiam, begitu juga Riyu. Mahesa beralih menatap Riyu lagi lalu berkata "Aku pikir memilih wanita biasa adalah pilihan yang tepat, tapi ternyata aku salah. Kau malah mempermalukanku!"
"Apa maksudmu pa?!" Tanya Riyu tidak mengerti.
Ceplaakkkk... Mahesa melempar beberapa lembar foto ke wajah Riyu.
"Apa kau masih ingin membantah semua ini!" Bentak Mahesa.
Riyu melihat pada gambar yang berserakan di lantai, dia terperangah saat melihat yang di foto itu adalah dia dan Sam saat berciuman di balkon.
"Pa aku... " Riyu tidak meneruskan ucapannya saat Mahesa menunjuk telunjuknya di depan wajahnya.
Kini, Mahesa beralih menatap putranya. "Kau diberikan pendidikan! Tapi kenapa kau sama sekali tidak memiliki moral! melakukan ini dengan kakak iparmu sendiri?!" ucap Mahesa dengan nada tinggi.
"Aku sudah memutuskan, Sam. Kau akan bertunangan dengan Lila lusa nanti, jika kau berani menolak aku tidak akan segan melakukan sesuatu pada Riyu!" kecam Mahesa lalu beranjak pergi. Disusul dengan Noval dan Nita.
Mahesa yakin, dengan ancaman akan melakukan sesuatu pada Riyu, maka Sam akan luluh dan menuruti perintahnya. Suasana di ruangan itu kembali senyap, Riyu tertegun dengan air mata yang mengalir bebas melewati pipinya.
"Maafkan aku Sam" ucap Riyu berlalu menuju kamarnya.
Hanya tinggal Sam seorang diri di ruangan itu "Arrgghhh!" Teriak Sam kesal.
"Ibu... Ayah... Maafkan Riyu karena telah menuruti ego, Riyu sudah menikah dan seharusnya bisa mempertahankan harga diri sebagai istri. Tapi... Di sisi lain aku ga ngerti kenapa perasaanku terhadap Sam tidak bisa aku tolak. Aku merasa sangat nyaman saat Sam di sampingku Bu." ucap Riyu membelai foto kedua orang tuanya.
*****
Sam melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia pergi tanpa arah membawa amarahnya. Hingga sampai akhirnya dia berhenti di tempat sunyi dengan pemandangan yang menenangkan, Sam turun dari mobilnya dengan membawa botol wine di tangannya.
Sam menengguk wine beberapakali, Matanya menerawang jauh ke awang-awang. Selama ini tidak ada satupun yang mampu memberikan kehangatan dalam hatinya selain Ranu, ibu kandung Sam.
Dan kini. Sam kembali bertemu dengan Riyu, seseorang yang mampu mencairkan hatinya, tapi dia harus mundur karena statusnya yang sebagai adik ipar.
**Flashback**
Kesendirian Sam di mulai dari sana, ketika Ranu mulai menderita penyakit aneh yang sulit dijelaskan.
Awalnya Ranu sering sekali pingsan, sakit-sakitan, lalu perlahan dia mulai kehilangan jati dirinya.
"Mama" Sapa Sam pada Ranu yang sudah terlihat memprihatinkan.
Ranu diikat di gudang, wanita yang cantik nan anggun terlihat tak terawat dan memprihatinkan. Kulitnya yang berubah kusam, rambutnya yang berantakan, Sam tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada ibunya.
Ranu menatap sayu pada Sam lalu membelai pipinya dengan lembut. "Sam. Kau percaya pada mama kan? Mama tidak gila, mereka yang gila!." ucap Ranu dengan mata merah berair memeluk Sam dengan penuh kehangatan.
"Sam! Sedang apa kau di sini!" Mahesa tiba-tiba muncul.
Ranu memeluk Sam semakin erat, seakan-akan ia tidak ingin melepaskannya. Tapi Mahesa memaksa dan merebut Sam, dia takut jika Ranu menyakitinya.
"Papa lepaskan aku! Aku mau sama mama. dia tidak gila!" Sam berontak ingin melepaskan diri dari Mahesa. Tapi Mahesa hanya diam merengkuh Sam kedalam gendongannya lalu membawa Sam menjauhi Ranu.
Hari demi hari, kondisi Ranu bukannya semakin membaik tapi malah semakin parah, dia terus berteriak tanpa sebab dan meronta tidak karuan.
"Mas. Kamu yang sabar ya, aku turut prihatin dengan apa yang terjadi pada saudaraku Ranu" ucap wanita yang mengelus lembut punggung Mahesa.
Sam terdiam di pojokan ruangan melihat pemandangan itu. Sam ingat, sejak wanita itu hadir di kediamannya, Ranu berubah, Wanita itu juga selalu mendekati papa dan mempengaruhinya.
Ranu dan Nita adalah saudara sepupu, hubungan mereka memang sangat dekat. Nita adalah seorang janda anak satu, ia mendapatkan perlakuan tidak baik oleh suaminya dan memutuskan untuk bercerai karena tidak kuat jika harus mendapatkan penganiayaan setiap hari.
Ranu sangat baik terhadap Nita, ia merasa sangat prihatin dan kasihan padanya. Selama Nita bercerai, Ranulah yang selalu membantu kehidupan Nita. Semakin lama Nita merasa iri pada kehidupan Ranu. Tinggal dirumah yang mewah, fasilitas terpenuhi, perhiasan, Ranu beruntung mendapatkan suami yang sukses dan kaya raya. Dari sanalah seringai jahat Nita di mulai.
Nita sering kali datang ke rumah Mahesa, karena ia bekerja paruh waktu untuk membantu Ranu menyelesaikan pekerjaannya.
Suatu hari, Sam melihat Nita mencampurkan sesuatu pada makanan dan minuman yang akan disantap oleh Ranu. Saat Ranu memakan makanan atau minuman yang dibuat oleh Nita, ia pasti akan merasa sakit kepala lalu berteriak-teriak histeris sambil membuat kegaduhan.
__ADS_1
"Papa, Wanita itu jahat. Papa usir dia dari sini, kau tidak boleh dekat-dekat dengannya!" Protes Sam pada Papa-nya.
"Sam. Dengar, Sebagai laki-laki dewasa papa juga butuh seseorang yang normal di samping papa, dia adalah Tante Nita, wanita yang selalu membantu papa selama mamamu sakit Sam. Dia wanita yang baik"
"Papa, mama Dia gak gila! Aku pernah lihat wanita itu memberikan suatu obat di minuman mama sebelum dia jadi seperti ini! Dia jahat. Tante itu sudah bikin mama sakit! Nita wanita jahat!"
"Sam cukup!" bentak Mahesa.
"Nita cuma mau menyingkirkan mama, supaya dia bisa mendekati papa"
Plaakkkk.....
"Cukup! Kau tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa Sam. Kau di hukum, tidak boleh menonton televisi selama 1 Minggu! dan selama 3 hari tidak boleh keluar kamar! Renungkan kesalahanmu"
Tamparan keras pertama kalinya yang mendarat di pipi Sam akan dia ingat di hatinya.
Beberapa bulan kemudian....
Keadaan Ranu semakin lemah, semakin hari Sam juga semakin sering melihat Nita datang ke rumahnya. Bahkan dia juga sering memergoki Nita tidur seranjang dengan Mahesa.
Pagi itu Sam berniat menerobos masuk ke gudang ingin bertemu dengan Ranu, tapi sesampainya di gudang Sam melihat Ranu dengan keadaan kejang-kejang, melotot, dan mulut yang mengeluarkan busa.
Sam berlari ke kamar Mahesa.
"Tolong.... tolong mama, selamatkan mama. Papa... papa buka pintunya! Mama..." Sam terdiam, ia mendengar suara aneh keluar dari mulut wanita.
"Mas, anakmu manggil,"
"Biarkan saja, aku tidak rela melepaskan kehangatan darimu"
Suara itu membuat Sam risih, perlahan dia mundur menjauhi kamar Mahesa. Sam berlari ke arah penjaga di rumahnya untuk minta bantuan, "Cepat buka pintu gudang dan bawa mama ke rumah sakit!" ucap Sam dengan tatapan tajam.
"Tapi tuan muda, kita harus meminta persetujuan bos Mahesa!" jawab salah satu penjaga itu.
Sam benar-benar tidak bisa lagi menahan diri, ia mengambil senjata yang ada di dalam laci kamarnya lalu.
"Buka pintunya dan bawa mamaku ke rumah sakit, atau satu persatu kepala kalian akan ku hancurkan!" Sam menodongkan pistol dengan kedua tangannya ke arah penjaga.
"Ba... Baik Tuan" jawab mereka.
Beberapa jam kemudian...
"Sam apa yang terjadi? Bagaimana keadaan mamamu?" Tanya Mahesa pada Sam yang terdiam di ruang tunggu sebuah rumah sakit kota Y.
Sam hanya terdiam dengan pandangan kosong, ia tidak berkutik bahkan tidak menatap Mahesa sedikitpun. Tidak lama kemudian, para suster dan seorang dokter mendorong ranjang dengan seorang di atasnya yang tertutup kain putih.
"Pak Mahesa. Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin" ucap dokter Bagas dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Sam." Sapa Bagas mendekat ke arah Sam.
Sam melangkah perlahan mendekati jenazah Ranu, tangannya menyibakkan kain yang menutupi wajahnya Ranu yang pucat.
"Mama. Istirahatlah dengan tenang, aku bersumpah akan membalas orang itu yang telah membuatku menjadi anak yatim piatu!" ucap Sam membelai lembut wajah Ranu untuk yang terakhir kalinya.
"Sam apa yang kau ucapkan! Masih ada aku papamu!" ucap Mahesa mencengkram erat kedua pundak Sam.
"Aku sudah kehilangan seorang papa! Sejak aku berteriak meminta tolong tapi dia malah sibuk menikmati kehangatan dari wanita lain!" ucap Sam dengan nada tinggi sambil menyisihkan kedua tangan Mahesa dari pundaknya.
Plakkk! "Jaga mulutmu!" lagi-lagi Mahesa menamparnya.
Tapi Sam tidak memperdulikan itu, "Urus jenazah mamaku dengan baik!" ucap Sam kepada para suster, merekapun melanjutkan mendorong bangsal.
"Dan kau Mahesa! Aku tidak akan membiarkan mu sedikitpun menyentuh jenazah ibuku dengan tangan yang menjijikkan itu!" ucap Sam menatap tajam ke arah Mahesa dengan mata merahnya lalu beranjak pergi.
Tidak ada lagi air mata yang bisa Sam keluarkan sejak itu, Sam bersama Seno yg berusia 18 tahun kala itu. Meskipun masih muda Seno memiliki keahlian bertarung yang hebat, yang setia pada keluarga Mahesa terutama Sam.
Beberapa Minggu kemudian, Mahesa kembali membawa Nita ke rumahnya bersama dengan seorang anak laki-laki yang usianya terpaut 3 tahun lebih tua dari Sam. Satu bulan Ranu meninggal Mahesa memutuskan untuk menikah dengan Nita.
Sejak kedatangannya di rumah itu, hubungan Sam dengan Mahesa menjadi semakin jauh. Berbagai macam hukuman Sam jalani pukulan, bahkan di kurung di ruang gelap dan tidak makan berhari-hari karena kesalahan yang tidak ia perbuat.
Sampai pada puncaknya, ketika Sam berusia 17 tahun, Mahesa kehilangan uang di berangkas. Nita mempengaruhi Mahesa meyakinkannya bahwa Sam lah yang mencuri uang itu untuk berjudi, tanpa mengumpulkan bukti Mahesa percaya dengan aduan Nita lalu menghukum Sam dengan berat.
Sam dicambuk tanpa ampun hingga tubuhnya penuh luka dan mengeluarkan banyak darah, Sam tidak melakukan pembelaan diri sama sekali. Dia hanya diam dan menerima semua perlakuan itu, dalam benak Sam. Dirinya sudah ikut mati bersama dengan Ranu.
__ADS_1
Karena kejadian itu Sam mengalami koma selama tiga bulan, tapi semua itu tidak membuat Nita merasa puas.
Dengan berbagai cara ia melakukan rencana piciknya untuk menyingkirkan Sam dari ahli waris satu-satunya di keluarga Mahesa, Akhirnya Sam di kirim keluar negeri.