Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Sentuhan Pertama


__ADS_3

Sambil memandangi foto itu, ingatan Riyu muncul saat pertemuan pertama kalinya dengan Darma. Mengingat bagaimana Darma memperlakukan, milindungi, dan menganggap dirinya seperti cucunya.


 


Darma sudah tau dari awal, namun Riyu baru tau sekarang. Meskipun ia tidak tau alasan kenapa kakek Darma tidak jujur.


Riyu mengingat ucapan Darma saat dirinya bilang kalau telah menemukan cucunya dan akan menikahkan Sam dengan cucunya, "Itu berarti... Kakek Darma merestui aku dengan Sam" ucap Riyu lirih.


Di ruang tamu Mirah terlihat sangat cemas sambil mondar-mandir di ruangan itu, Mirah sudah mencoba menghubungi semua orang namun tidak ada Jawaban dari mereka.


"Aku tidak boleh diam saja, Aku harus membawa non Riyu ke rumah sakit!" ucap Mirah bergegas mengangkat gagang telepon lagi untuk menghubungi rumah sakit. Namun Mirah mengurungkan niatnya ketika melihat Riyu yang turun dari kamarnya.


"Non Riyu, saya akan panggil ambulance kemari. Non Riyu harus berobat ke rumah sakit" ucap Mirah sambil membantu Riyu turun tangga.


"Tidak perlu, panggilkan aku taksi"


"Tapi non Riyu mau kemana? Dengan keadaan seperti ini non Riyu tidak bisa pergi"


Riyu tidak menjawab Mirah, ia melangkah ke arah telepon rumah.


"Baiklah, non Riyu duduk saja di sini. Biar Bibi yang memesan taksi"


Mirah jadi serba salah, tapi ia menduga apa yang di alami oleh Riyu ini pasti karena tuan Noval. Tidak ada yang berani menyakiti Riyu, kecuali dia.


Lima menit kemudian taksi sudah datang, dengan langkah lemah Riyu masuk ke dalam taksi.


"Non biar saya antar non Riyu ya" ucap Mirah tidak tega membiarkan Riyu pergi sendiri.


"Tidak perlu, Jika ada yang mencari ku bilang saja tidak tau. Kau tidak perlu banyak bicara" ucap Riyu menatap hampa lalu menutup pintu taxi.


"Pak jalan" ucap Riyu tanpa menoleh ke Mirah yang masih berdiri menatap dari depan pintu gerbang.


Hingga sore hari Darma masih belum bisa menghubungi Riyu. "Bagaimana apa Riyu menjawab teleponmu?!" tanya Darma pada Bayu dengan mimik wajah khawatir.


"Nona Riyu juga tidak menjawab telepon saya Tuan"

__ADS_1


Darma kembali menatap ke luar jendela, perasaannya mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan Riyu. Tidak biasanya dia bersikap diam seperti ini, apalagi tidak datang ke perusahaan tanpa ijin atau keterangan apapun.


"Bayu, kau pergilah ke rumah Mahesa. Selidiki apa yang terjadi pada cucuku!"


"Baik tuan" Bayu membungkuk lalu pergi dari ruangannya.


"Apa yang terjadi sebenarnya" gumam Darma penuh dengan kecemasan.


*****


 


Hujan deras melanda sebagian kota Y bagian barat, Riyu melangkah hampa masuk menuju villa Sam yang tampak sepi.


 


"Loh non Riyu???" Seorang pelayan yang hendak mengecek pintu gerbang terkejut saat melihat Riyu berdiri diam di depan pintu dengan baju yang basah kuyup.


"Non Riyu sejak kapan di sini? Mari silahkan masuk" Pelayan Sam merasa canggung, tidak ada satupun kata yang diucapkan Riyu.


Pelayan itu membantu Riyu duduk di sofa ruang tamu, ia mengamati wajah dan tangan Riyu yang banyak luka lebam. Ia mencoba menawarkan ini dan itu kepada Riyu, namun masih tidak ada jawaban, Riyu hanya diam tertunduk, bahkan teh hangat yang telah disediakan untuknya sama sekali tidak disentuh.


"Tu. Tan Sam, Non Riyu ada disini" bisik pelayan melalui telepon rumah.


"Apa?" Tanya Sam dari seberang sana.


"Sepertinya iya tuan, tapi ada yang aneh. Non Riyu hanya diam saja bahkan menolak saat saya mencoba membantunya mengganti bajunya yang basah kuyup. Dan... Non Riyu memiliki banyak luka tuan"


Sam langsung menutup telponnya.


Meskipun hujan cukup lebat, Sam langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menerobos jalanan kota.


Sesampainya di rumah Sam melihat Riyu yang sedang duduk terdiam di kursi Sofanya, tubuhnya masih basah dan terlihat gemetar, menggigil kedinginan.


Perlahan ia mendekati Riyu, matanya menatap seksama wajah yang pucat dengan luka terukir di kulit mulusnya.

__ADS_1


Melihat Sam telah datang Riyu langsung berdiri menatapnya sejenak, setelah itu ia berlari menuju dekapannya.


"Sam..." Bisik Riyu lirih.


Pelukan Riyu dilepas, lalu Sam mendongakkan Riyu dengan lembut.


"Semua kesakitan yang kau rasakan akan terbalas" ucap Sam menahan segala amarahnya, matanya merah dengan tangan gemetar menahan gejolak yang kuat. Seseorang yang dicintainya di perlakukan buruk dan tak berperasaan.


Sam menyibakkan rambut Riyu dan membelai pipinya dengan penuh kehangatan, menatap mata Riyu yang hampa membuatnya semakin tidak sabar untuk menghajar Noval. Sam berpaling hendak pergi dari villa, namun beberapa langkah kemudian.


"Sam, maukah kau menyentuhku"


Sam berhenti berbalik menatap Riyu,


"Sam... Sentuh aku" Riyu menatap Sam tajam lalu menarik tali bajunya hingga meluncur ke bawah.


Sam tertegun menatap Riyu, jantungnya berdegup kencang. Selama ini Sam belum pernah melihat Riyu bersikap berani seperti itu.


"Aku tau kau sedang tertekan, jika aku menyentuhmu sekarang maka aku orang yang kejam Riyu, mencari kesempatan dalam kesempitan" ucap Sam kembali menutupi tubuh Riyu dengan jas nya.


"Kau perlu istirahat, aku tidak mau menyentuhmu kalau kau tidak menginginkannya" ucap Sam membimbing Riyu beristirahat.


"Aku menginginkannya" ucap Riyu menarik tangan Sam.


"Riyu kau sedang terluka!"


Tak peduli apa yang di ucapkan, Riyu langsung mencium Sam.


"Riyu jangan memancingku!"


Tidak peduli dengan kata-kata Sam, Riyu masih tetap melanjutkan aktivitasnya membuat Sam merasa panas, "Kau yang memulainya!" ucap Sam kemudian menggendong Riyu menuju kamar utama.


Perlahan Sam meletakkan Riyu di atas tempat tidurnya "Kau yakin?" Sam minta keyakinan kalau Riyu benar-benar rela untuk ia sentuh.


"Yakin, atau kau lebih rela jika keparat itu yang menyentuhku?"

__ADS_1


Kamar berubah senyap, aktivitas mereka berdua berbaur dengan rintik hujan yang mengucur deras sore itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2