
Riyu tersadar dari pingsannya. Perlahan ia membuka mata, rasa nyeri, sakit dan ngilu ia rasakan di seluruh tubuh terutama dibagian leher belakangnya. Riyu mengumpulkan tenaga untuk mencoba bergerak, namun tangan dan kakinya sulit untuk bergerak karena terikat dengan kursi yang ia duduki.
"Selamat pagi sayang." ucap Noval yang berjongkok di hadapan Riyu yang tak berdaya.
Riyu menatap Noval dengan tatapan lemah dan sayu, mulutnya tidak bisa berkata apapun karena ditutup oleh kain.
"Maafkan aku Nyonya Galuh, aku telah bertindak kurang sopan terhadapmu. Namun. Aku ingin kau bertahan dalam posisi seperti ini sampai umpanku datang untuk menyelamatkanmu" ucap Noval membelai lembut wajah Riyu yang pucat.
Apalah daya, Riyu tak mampu melawan dalam keadaan seperti itu. Sesekali matanya terpejam karena menahan pening di kepalanya.
Di sisi lain tepatnya di perusahaan Mahesa, kala itu Sam sedang ada rapat di ruangannya bersama seorang klien. Pada saat kliennya menjelaskan produknya, tiba-tiba seseorang datang dengan ekspresi yang sangat marah masuk begitu saja.
Baaakkk! Tongkat keras Darma mendarat di pipi kanan Sam.
Seketika itu juga klien pergi keluar ruangan dengan wajah yang panik dan ketakutan, Sam terdiam memegangi pipinya yang terluka akibat pukulan tongkat Darma, ia diam karena yang memukulnya adalah kakek dari orang yang dicintainya, selain itu juga Sam sangat menghormati tuan Darma.
"Dimana Riyu! Sudah aku katakan kau boleh mengunjunginya tapi tidak boleh membawanya pergi!"
Sam mengerutkan kedua alisnya, ia sama sekali tidak mengerti apa yang Darma katakan.
"Riyu? Bukankah..."
Tluuttt..... Sebuah pesan masuk menghentikan ucapan Sam. Sam melirik ke arah ponselnya, dilayar ia melihat foto seorang wanita yang sedang disekap.
"Sam aku sedang berbicara padamu! Katakan dimana kau membawa Riyu!" ucap Darma dengan wajah yang merah padam.
Namun Sam terfokus pada ponselnya, ia meraih ponsel lalu memperjelas foto yang dikirim oleh orang yang tidak dikenal.
Darma mengamati ekspresi Sam yang berubah marah, tanpa memperdulikan Darma yang ada di hadapannya, Sam langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Sam. Sam!" Teriak Darma, namun Sam tak berhenti satu langkahpun.
Segera Sam mencari mobilnya di parkiran,
"Katakan dimana Riyu sekarang!" ucap Sam pada seseorang melalui ponselnya.
__ADS_1
"Tenang bos, dia ada di tempat terpencil sekarang. Dia aman hanya saja... Riyu menahan kesakitan" ucap penculik sengaja memancing amarah Sam.
"Kurang ajar! Cepat katakan dimana Riyu sekarang!" bentak Sam.
Namun penculik itu mematikan teleponnya, tak lama kemudian pesan kembali masuk ke ponsel Sam menunjukkan satu peta tempat mereka menyekap Riyu.
Tanpa berfikir panjang, Sam langsung menancap pedal gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Perlu waktu satu setengah jam untuk Sam menemukan tempat itu, akhirnya ia sampai pada gedung terbengkalai di lahan kosong. Sam mengambil satu senjata yang tersimpan dikotak darurat yang terdapat didalam mobilnya, setelah itu ia langsung bergegas memasuki gedung kosong itu untuk mencari Riyu.
Mata dan gerakan Sam selalu waspada ketika melewati setiap ruangan, pistol tergenggam erat di tangannya. Akhirnya... Sam menemukan Riyu yang terikat disuatu kursi yang terletak di ruangan panling belakang di dalam gedung kosong itu.
"Riyu..." ucap Sam lega karena berhasil menemukan Riyu.
"Em... Mmmm..." jerit Riyu sambil menggelengkan kepalanya.
Sam tidak mengerti apa maksud isyarat Riyu itu, Riyu masih berteriak dengan mulut yang dibekap kain, Riyu mulai menangis terisak saat Sam berlari mendekat ke arahnya.
"Riyu jangan khawatir, aku akan segera membebaskanmu" ucap Sam.
Namun kurang dari dua meter jarak Sam dengan Riyu, tiba-tiba dari balik tembok Seseorang menusuk perutnya.
"Oh lihat. Pangeranmu sekarat Riyu, bukannya ini suatu bukti betapa bodoh dan lemahnya dia?" ucap Noval mendekati Riyu dengan pisau dan tangan yang berlumuran darah.
"Kau..." ucap Sam gemetar menahan luka dengan tangannya.
"Hemh... Kenapa adikku? Sudah diamlah, jika kau terus bergerak dan berbicara maka darah yang akan keluar semakin banyak" ucap Noval.
"Ayo sayang, sekarang katakan padaku. Apa kau akan tetap menceraikan aku hanya karena adikku yang bodoh ini? Hem?"
Noval membuka ikatan kain yang ada di mulut Riyu.
"Kau gila Noval! lepaskan aku, aku harus bawa Sam ke rumah sakit." Riyu terisak.
"Aku bisa dengan mudah membawa Sam ke rumah sakit sayang. Tapi jawab dulu pertanyaanku. Kau memilih Sam atau aku?"
"Cih, sampai kapanpun aku tidak akan sudi memilihmu!" jawab Riyu.
"Oh... Jawaban yang bagus!"
__ADS_1
Mendengar jawaban Riyu, Noval langsung menendang perut Sam, hingga Sam terpental ke belakang.
"Uhuk. Riyu..." ucap Sam dengan nada yang berat.
"Tidak! Hentikan" Riyu berontak dari ikatannya.
"Aku memiliki pertanyaan lagi, apa kau masih akan tetap menceraikan aku?" Tanya Noval.
Riyu terdiam, isaknya semakin sesak. Riyu takut untuk menjawab, karena Riyu takut jika jawabannya akan membuat Noval semakin menyakiti Sam.
"Jawab!" bentak Noval, suaranya menggema di ruang hampa.
"Ya! Aku akan tetap menceraikanmu!" teriak Riyu.
"Baiklah" jawab Noval singkat dengan tatapan yang dingin.
Kali ini datang lagi 3 orang anak buah Noval dengan tubuh yang kekar, dua dari mereka mengangkat Sam yang sudah lemah karena banyak mengeluarkan darah.
"Apa yang kalian lakukan, lepaskan dia!" teriak Riyu semakin ketakutan.
Noval tau kalau perasaan Riyu akan semakin hancur saat melihat Sam tersakiti, Noval melepaskan ikatan yang ada di badan Riyu.
"Sam...." Riyu mencoba berlari ke arah Sam, namun Noval langsung menahannya.
"Jika kau ingin kekasihmu selamat. Kau harus setuju dengan perjanjian ini!" ucap Noval melempar sebuah map coklat kepada Riyu. Riyu membaca semua perjanjian yang tertulis diselembar kertas.
Dalam perjanjian itu tertulis bahwa Noval harus tetap menjadi suami sah Riyu, dan akan bersanding dengannya di perusahaan Galuh.
"Kau gila! Aku tidak akan membiarkan kau menghancurkan perusahaan ayahku!" ucap Riyu melempar kembali map ke wajah Noval.
"Haha baiklah jika itu maumu"
Habisi dia!" ucap Noval lagi pada anak buahnya.
Seketika itu juga Sam langsung menerima pukulan dari berbagai arah, pendengarannya mulai hening, pandangan Sam mulai kabur.
"Cukup hentikan! Sam. Tidak..." Isak Riyu, namun Noval tetap menahannya supaya tidak mendekati Sam.
"Noval aku mohon hentikan. Aku akan menuruti kemauanmu, tapi jangan sakiti Sam Lagi." Isak Riyu semakin tidak tega melihat Sam yang terkulai tak berdaya.
__ADS_1
Kemeja putih yang di tubuh Sam berubah menjadi merah darah, Dalam tatapan terakhirnya, Sam melihat Riyu yang sedang berontak dan menangis memanggil namanya, setelah itu. Sam kehilangan kesadaran.