Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Prolog Mencintai Kakak Ipar (Part 3)


__ADS_3

Hai, kalian pasti telah menantikan kisah Sam dan Riyu kan? Seperti pada episode terakhir, kalau mereka kini sudah menikah dan menjalani hidup bahagia.


Pagi itu... Sorak sorai, tepuk tangan berhias tawa riang menyambut Sam dan Riyu yang sudah siap menggunting pita sebagai tanda bahwa rumah telah selesai dibangun dan siap dihuni. Setelah tragedi leburnya kediaman Darma, Sam memutuskan untuk kembali membangun istananya diatas lahan itu, juga sebagai kenangan untuk Almarhum kakek Darma.


Dua tahun menunggu akhirnya hari ini datang juga. Berbagai rangkaian bunga ucapan selamat diterima dari berbagai perusahaan di kota Y, berjejer rapi disepanjang taman halaman rumahnya.


"Selamat untuk kalian berdua, akhirnya istana ini selesai Sam. Kau benar-benar memiliki desain yang luar biasa"


"Terimakasih" ucap Sam menyambut jabatan tangan dari teman perusahaannya.


"Hidupmu sudah sempurna sekarang, jadi, kapan kalian akan memiliki momongan?"


Wajah Riyu tersipu mendengar pertanyaan itu. "Kau tenang saja, Riyu juga sedang menjalani program kehamilan"


"Semoga berhasil Sam, aku sudah tidak sabar melihat keluargamu lengkap"Sam tersenyum memeluk pinggang istrinya.


Dunia bisnis sudah terasa damai selama beberapa tahun ini. Semua terkendali dengan imbang. Meskipun masalah memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tapi bukan berarti juga tidak bisa diatasi.


Sejak pernikahan Riyu dan Sam, bagaimana nasib Noval dan Maya? Apa mereka bersatu? Mungkin ini yang ada dibenak kalian. Tapi sayangnya tidak.


Mereka masih belum bersatu. Noval lebih memilih untuk tinggal jauh di Luar Negeri dan hanya kembali jika hatinya ingin kembali. Sedangkan Maya, ia hidup bersama ibunya dan Dhea di Singapore, Sesekali Maya datang bersama Dhea saat Mahesa merindukan cucu pertamanya itu. Maya sudah tidak memiliki keinginan lagi karena sudah memiliki Dhea dihidupnya.


*****


Sam dan Riyu sudah menjalani berbagai cara program kehamilan, tapi sudah tiga tahun ini masih saja belum membuahkan hasil. Bukannya ia tidak bisa hamil, hanya saja, Riyu memiliki masalah pada rahimnya.


Ia harus menyiapkan fisik dan juga makanan bergizi, membatasi aktifitasnya, supaya tidak terlalu lelah, dokter Lukman dan dokter Santi ahli kandungan menjelaskan kalau Riyu memiliki rahim yang lemah.


"Sam." ucap Riyu yang baru saja keluar dari kamar mandi menggenggam erat test pack di tangannya.


Sam menatap wajah istrinya yang tertunduk, meskipun hatinya juga sedih karena untuk kesekian kali selalu berakhir dengan hasil yang "negatif".


"Sudah, tidak apa-apa. Jangan sedih. Kita berusaha lagi, oke?." Sam merengkuh Riyu masuk kedalam dekapannya. Meskipun ada perasaan bergetar karena lagi-lagi ia belum bisa menjadi seorang ayah.


"Positif Sam. Positif!" Riyu berteriak dalam dekapan.


"Apa?" ucap Sam bergetar lirih. Ia mencoba menyadarkan dirinya kalau apa yang didengar barusan tidak salah.


"Hasilnya positif. Aku hamil Sam. Aku hamil! " tawa diiringi tangis bahagianya meledak seketika.


Sam mengambil test pack yang digenggam Riyu, ia melihat ada dua garis merah pertanda hasil tes positif. "Hahaha. Jadi... Aku akan jadi seorang ayah?" Sam tertawa lepas dengan mata yang berair.


"Lihat duniaaa. Aku akan jadi seorang Ayah!!!" Suara Sam memenuhi langit-langit kamar.


Pengalaman mereka berdua semasa kecil menjadi suatu pelajaran, Sam memiliki masa kecil yang mengerikan meskipun dirinya masih tinggal bersama orang tuanya. Riyu, masa kecilnya bahagia namun hanya sebatas usia 12 tahun setelah itu, ia menjalani hidup dengan keluarga angkatnya.


Dari sanalah janji terucap sepenuh hati dari calon orang tua menyambut bayinya, Sam dan Riyu pasti akan memberikan kasih sayang juga perlindungan untuk calon anaknya. Cukup orang tua saja yang mengalami hal buruk, jangan sampai mendera anak-anaknya nanti.


"Riyu, kamu sedang hamil sekarang. Jangan terlalu lelah!" Sam menghawatirkan istrinya yang masih saja ingin beraktivitas di perusahaan.


"Sayang, aku hanya 2x masuk dalam seminggu. Itupun karena aku kangen suasana kantor. Lagian aku bosan kalau di rumah terus." Riyu memohon.


Keinginan wanita hamil juga sepertinya tidak terlalu baik kalau terlalu dikekang. Meskipun khawatir, Sam juga tidak bisa terlalu melarang istrinya. Selagi masih dibatas normal dan dalam pengawasannya, Sam akan membiarkan Riyu, meskipun pekerjaannya harus ditunda, yang penting, ia bisa mendampingi Riyu.


*****


Hari berganti Minggu, minggu berganti bulan. Kondisi fisik Riyu sempat down saat pengalami pendarahan diusia 4 bulan kehamilan. Semua orang dibuat cemas dengan kondisi itu, sejak itu juga Sam tidak mengijinkan Riyu pergi keluar rumah meskipun sebentar. Ia tidak mau terjadi apa-apa pada istrinya juga pada calon bayinya yang telah lama mereka nantikan.

__ADS_1


Kehamilan Riyu menginjak usia 8 bulan. Pendarahan kala itu memang meninggalkan trauma pada Sam, tapi ia bersyukur bayi dan istrinya baik-baik saja.


Rumah luasnya yang tadinya hanya terisi kebahagiaan mereka berdua, sebentar lagi akan datang satu lagi anggota keluarga baru. Segala pernak-pernik perlengkapan bayi juga sudah memenuhi Kamar istimewa, dari tempat tidur bayi, poster dinding, dan lainnya.


"Aduh... " rintih Riyu tiba-tiba ketika mereka asik melihat mainan bayi.


"Kenapa? Ada apa sayang?" Sam langsung merengkuh Riyu, cemas takut terjadi apa-apa.


"Haha, tidak apa-apa Sam. Aku hanya terkejut karena anakmu menendang perutku terlalu kencang"


Sam menghela nafas lega, kemudian ia mendekatkan wajahnya setelah mengelus lembut perut besar Riyu. "Jangan buat ayahmu ketakutan nak, dan jangan menendang ibumu terlalu kencang. Jangan khawatir, setelah kamu keluar nanti, kamu bisa belajar beladiri dengan Ayah dan menendang sepuasmu." ucap Sam berbisik di depan perut besar Riyu.


"Sam. Gimana kalau anakmu ini perempuan?"


"Aku tetap akan mengajarinya beladiri juga!"


"Apa?"


"Apa? Tidak salah kan? Wanita juga perlu beladiri untuk melindungi diri sayang" Sam meninju-ninju udara.


"Jangan dengarkan ayahmu nak, jika kamu perempuan kamu harus lemah lembut dan anggun seperti ibumu" Riyu tidak mau kalah dengan Sam.


"Tapi mudah ditindas" Sam memasang wajah datar pada Riyu.


"Apa maksudmu! Kenapa kau berkata begitu Sam! Kau jahat!" Riyu mulai merengek, matanya mulai berair karena tersinggung ucapan Sam.


Aduhh, habislah kau Sam! Apa kamu lupa kalau mood ibu hamil sangat sensitif!.


"Am... Emm... Sayang, kenapa kamu nangis? Aku cuma ga mau anakku mudah ditindas, lemah. Aku tidak mau anakku sebodoh itu dan... " Sam mencoba menjelaskan.


"Huaaaaaaa"


"Bilang saja! Kamu memang sengaja menyindirku! Aku bodoh dan mudah ditindas kan! Hu hu hu"


"Ti... Tidak sayang, bukan kamu. Aku cuma... "


"Sam! Apa yang terjadi!"


Mahesa langsung masuk ke kamar bayi karena mendengar Riyu menangis kencang. "Kau apakan lagi Riyu?!" hardiknya dengan wajah marah.


"Aku?. Aku tidak melakukan apa-apa pa!" protes Sam.


"Kalau kamu tidak melakukan apa-apa tidak mungkin Riyu menangis sekencang itu! Sudah papa bilang jangan menggodanya!"


Sam terdiam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mahesa merengkuh Riyu lalu membawanya ke ruang makan, buah apel kesukaannya semasa hamil selalu bisa mengembalikan mood Riyu yang tidak bagus.


Sudahlah Sam, mengalah saja. Hiks.


*****


Tap... Tap... Tap...


Deru langkah kaki terhentak di koridor rumah sakit ibu dan anak di kota Y. Riyu merintih menahan mulas yang teramat sangat diperutnya, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya, sebentar lagi Riyu akan melahirkan.


"Maaf tuan Sam, anda harus menunggu diluar" ucap dokter Santi yang selama ini mendampingi Riyu dari awal kehamilan.


"Tapi bagaimana dengan istriku!" Sam keberatan jika harus membiarkan istrinya sendirian.

__ADS_1


"Tuan, kami akan melakukan yang terbaik. Kau tenanglah, dan tunggu hingga proses melahirkan selesai" tanpa menunggu waktu lagi, suster langsung menutup pintunya.


"Hey! Beraninya kau! Biarkan aku masuk!" Sam mencoba mendorong pintu ruangan bersalin.


"Sam! Kau tenanglah. Percayakan semuanya pada dokter, papa yakin mereka akan baik-baik saja" Mahesa mencoba menenangkan Sam.


"Bagaimana aku bisa tenang pa! Istri dan anakku sedang didalam tanpa aku. Kalau sampai dokter itu melakukan hal yang tidak-tidak, aku tidak akan segan untuk memberhentikannya!"


Mahesa merasa pusing dengan kecemasan Sam yang berlebihan, tapi mau bagaimana lagi? Ia juga memaklumi karena Sam baru akan menjadi seorang ayah, wajar jika panik dan khawatir.


Mahesa duduk tenang sambil terus berdoa untuk keselamatan Riyu dan cucunya, sedangkan Sam masih terus mondar-mandir, sesekali ia menggoyangkan pintu untuk memastikan apakah pintu bisa dibuka atau belum.


"Sudah satu jam. Kenapa mereka belum keluar juga! Apa yang terjadi sebenarnya!" gerutu Sam semakin panik.


"Tentu saja sedang terjadi persalinan bos, apa lagi?"


"Diam kau Aji! Lebih baik sekarang kau bantu aku mendobrak pintu itu!"


"Bos. Tapi... "


"Cepat!." Sam menggertakkan giginya.


Baru saja ia melakukan ancang-ancang. Terdengar suara jerit tangis bayi terngiang di telinganya.


"Samm. Syukurlah, anakmu sudah lahir!" ucap Mahesa senang hati.


"Anaku? Apa itu tadi suara anaku?" Sam mematung.


Tak lama kemudian, dokter Santi keluar dari ruang bersalin. Senyum lebarnya menyambut Sam yang masih tertegun didepan pintu.


"Selamat Tuan. Bayi anda lahir dengan selamat, dan nona Riyu juga dalam keadaan baik" Dokter Santi menjabat tangannya.


"Apa aku boleh masuk sekarang?"


"Tentu, silahkan Tuan"


Sam melangkah perlahan memasuki ruang bersalin. Ia melihat Riyu yang masih terbaring dengan seorang bayi yang terbalut kain didalam dekapannya. Bibir istrinya tersenyum lebar, menyiratkan betapa bahagianya dia sudah menjadi seorang ibu. Meskipun wajah terlihat lelah dengan peluh yang masih bercucuran.


"Ini anakku?" ucap Sam tanpa memalingkan pandangannya dari bayi didekapan Riyu.


"Iya Sam. Ini anak kita"


"Hallo jagoanku" Sapa Sam lembut.


"Dia perempuan Sam!" Riyu tertawa kecil.


"Hai tuan putri, ini ayah" Sam menyentuh pelan pipi rona bayi mungilnya. Disusul kemudian kecupan hangat dikening istrinya. "Terimakasih sayang, kau sudah berjuang untuk buah hati kita"


Tidak ada kata-kata yang mampu ia ucapkan lagi, Sam sudah menjadi seorang ayah sekarang dan Riyu sudah menjadi seorang ibu. Kehidupan mereka lengkap sudah, selama bertahun-tahun, akhirnya, pelengkap keluarga telah hadir.


Persalinan berjalan dengan lancar, Riyu dan bayinya sehat. Mereka dipindahkan ke ruang rawat terbaik di rumah sakit tersebut.


"Sam. Apa kau sudah menyiapkan nama untuk putrimu?" tanya Mahesa yang enggan berpaling dari cucunya.


Sam terdiam sejenak, menatap putrinya yang mungil dengan bibir merah dan pipi meronanya.


"Dia akan menjadi putri di kota ini, dia memiliki keanggunan, keberanian, juga ketangguhan. Aku akan menamainya Casandra" Kecupan hangat dari Sam mendarat dikening Putrinya.

__ADS_1



__ADS_2