
Wung.... Wung.....
Deru mesin pesawat lepas landas meninggalkan Bandara pagi itu.
"Riyu, gara-gara menunggumu kita terlambat setengah jam dari jadwal yang sudah di tentukan kemarin. Sebenarnya kemana kau pergi?"
"Maafkan aku kek, aku pergi mencari sesuatu tadi. Setelah operasi itu mungkin banyak orang yang tidak aku ingat di kota Y termasuk keluarga Noval, jadi... Untuk mengurangi rasa canggung nantinya, aku membeli hadiah untuk mereka" Jawab Riyu tersenyum memperlihatkan bag yang dibelinya.
"Oh iya, kau bilang ada adik ipar di sana. Jadi sekalian aku membelikannya hadiah, bagaimana menurutmu? Apa ini cocok?" Tanya Riyu memperlihatkan sebuah arloji keluaran terbaru kepada Noval.
"Ya... Aku rasa itu sangat cocok untuknya" jawab Noval mengangkat kedua bahunya.
Darma memandang Riyu dan Noval yang duduk diseberangnya. Mendengar ucapan Riyu, tiba-tiba muncul perasaan bersalah, khawatir pada Sam yang bercampur di hati Darma. Setelah sampai di kota Y nanti dia pasti harus menghadapi Sam untuk bertanggung jawab atas janjinya, dan mungkin akan memerlukan waktu karena Sam pasti tidak akan terima jika melihat Riyu bersama Noval.
Tapi Darma tidak bisa melakukan apapun, dia sudah menguatkan hatinya untuk menerima apapun konsekuensinya nanti. Seandainya Riyu sudah tidak menjadi istri Noval. Sudah pasti dia akan mempersatukan Sam dan Riyu, tapi karena mereka masih suami istri yang sah, terasa sangat sulit jika Darma mendukung Sam saat ini.
***
"Sam. Nanti malam akan ada tamu spesial yang datang, papa harap kau bisa pulang tepat waktu" ucap Mahesa di tengah-tengah suasana sarapan pagi.
Sam berhenti mengunyah menatap Mahesa,
"Siapa pa? Apa Lila yang akan datang? Kebetulan sekali aku sangat merindukannya" Sahut Nita.
"Aku sudah selesai!" Ucap Sam yang langsung berdiri meninggalkan meja makan. Selera makannya hilang seketika setelah mendengar nama Lila. Sepertinya Nita sengaja membuat Sam hilang selera.
"Sam. Dengarkan papa! Apa kau tidak ingin tau siapa yang akan datang?" Teriak Mahesa. Tapi Sam sama sekali tidak menanggapi dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Ini semua gara-gara kau Nita! Sudah tau Sam sangat tidak suka dengan Lila, kenapa kau malah menambah keruh suasana!" ucap Mahesa kesal.
"Papa. Aku minta maaf. Tapi... Apa kau tidak mau mencoba mendekatkan Sam pada Lila lagi? Y... Ya aku tau Lila dan Noval pernah melakukan kesalahan tapi aku yakin dia akan memperbaikinya"
"Sudah cukup, aku tidak mau mendengar omong kosong mu!" Mahesa berdiri hendak meninggalkan meja makan, namun Nita menahan lengan Mahesa sampai kembali duduk di bangkunya.
"Dengarkan aku Pa, aku tau ini begitu berat untuk Sam. Tapi apa kau tidak kasihan padanya? Saat Noval dan Riyu kembali nanti, perasaan Sam pasti akan sangat hancur. Kau tidak mau kan Sam terus-menerus terpuruk karena cintanya pada kakak iparnya? Dengan mendekatkan Lila dan Sam mungkin akan jauh lebih baik" ucap Nita mencoba meyakinkan Mahesa.
"Mungkin sebagian ucapanmu ada benarnya, tapi aku tidak setuju jika Lila yang harus bersama Sam. Putraku harus mendapatkan wanita yang lebih baik" Mahesa melepaskan tangan Nita dari lengannya dan meninggalkan Nita sendirian di meja makan.
"Haah. Terserahlah, aku tinggal menunggu drama nanti malam. Aku benar-benar tidak sabar menanti pertemuan antara kedua orang yang saling mencintai, Sam... Sam... Kau kalah!" ucap Nita menyeringai sambil mengoleskan selai ke roti sarapannya.
****
Kabar tentang Tuan Darma yang kembali hari itu telah sampai di telinga Mangsur, hatinya semakin tidak sabar untuk kembali bertemu Noval dan melanjutkan kerja samanya.
Saat itu juga melalui anak buahnya, Darma menyebarkan undangan kepada orang-orang penting dan juga para partner bisnisnya untuk hadir dipesta penyambutan besok malam, termasuk Mangsur juga mendapatkan undangan itu. Darma akan membuat pesta untuk menyambut atas kesembuhan dan kembalinya Riyu, Presdir Galuh Union.
*****
Tak terasa hari telah larut, namun Sam yang selalu berdiam diri di ruangannya masih sibuk bekerja memeriksa berkas dan file yang ia terima hari ini.
"Bos ini sudah larut malam, sampai kapan kau di sini? Tidak makan, mematikan telepon, apa kau akan beralih menjalani hidup seperti jaman batu!" Aji datang mengomel.
"Diamlah! Kau pulang saja dulu. Aku masih sibuk" ucap Sam tanpa menoleh Aji sedikitpun.
"Jika kau tidak pulang sekarang maka kau akan menyesal" Aji mencoba membujuk Sam. Tapi Sam sama sekali tidak bergeming dari pekerjaannya.
"Sam. Kau berani mengabaikanku?. Okey aku masih maklum. Tapi sayang sekali jika kau mengabaikan kedatangan tuan putri"
Mendengar ucapan Aji, Sam langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap Aji dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?!"
"Bos kau terlalu menutup diri sampai-sampai kau tidak tau kalau Tuan Darma pulang malam ini"
"Apa Riyu juga pulang?" wajah Sam berubah merah.
"Tentu" Aji mengangkat kedua bahunya.
"Aji kau bereskan ini aku akan pulang sekarang!" Ucap Sam girang sambil menepuk pundak Aji dan langsung berlari keluar dari ruangannya, meninggalkan Aji bersama berkas-berkas yang masih berserakan di atas meja.
Melihat tumpukan berkas itu Aji menghela nafasnya... "Hah. Berurusan dengan bos yang mabuk karena cinta memang sangat merepotkan" ucap Aji, tapi maklumlah melihat Sam tersenyum tadi membuat Aji merasa senang.
****
Sam melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, jantungnya berdegup kencang mendengar Riyu telah kembali. Orang yang selama ini ia rindukan, orang yang selama ini ia nantikan. Seperti apa Riyu sekarang, apakah dia juga merindukanku?. Itulah bisikan Sam dalam hati sepanjang perjalanan.
Setahun lamanya, Sam menanti dan menahan senyumnya. Untuk pertama kali ini Sam tersenyum lega, tersenyum untuk pertemuannya dengan Riyu.
Satu jam perjalanan akhirnya Sam sampai di gerbang kediaman Mahesa, ia berlari masuk menuju ruangan utama.
Tap... Tap... Tap...
Hentakan langkah Sam memasuki ruangan itu, Sam berhenti tepat di depan pintu utama. Seluruh orang yang ada di ruang utama menoleh ke arah Sam yang tiba-tiba tertegun tidak melanjutkan langkahnya.
Mata Sam memandang ke arah Tuan Darma, ke arah Noval dan... Terakhir ke arah sosok wanita cantik yang berdiri agak jauh dari hadapannya. Wanita itu berdiri lalu tersenyum padanya. Senyum yang tidak berubah dari dulu, senyum yang selalu hadir dalam kerinduannya.
Seketika itu juga mata Sam menjadi berbinar, seakan seperti orang buta yang dapat melihat dunia lagi, senyum yang selama setahun ini tidak pernah terlukis di bibirnya kini melekat riang.
"Riyu..." ucap Sam bergetar.
Sam langsung berlari ke arah Riyu dan memeluknya dengan sangat erat. Sam memeluk Riyu seperti orang yang tak ingin kehilangan lagi.
Seluruh orang di dalam ruangan itu terdiam, hanya terdengar deru nafas Sam yang menahan kejolaknya, sedih, bahagia semua tersirat di wajahnya. Senyum puas terlihat di wajah Nita. Namun Darma dan Mahesa... Mereka mencoba untuk membendung air matanya. Melihat Sam yang begitu besar mencintai Riyu, Mahesa dan Darma benar-benar merasa bersalah dan tak berdaya.
Riyu membalas pelukan Sam dengan erat dan menepuk lembut punggung Sam, Riyu merasakan bahwa Sam sangat merindukannya hingga ia tak mampu berkutik di pelukannya.
"Kau pasti adik ipar bukan?" Ucap Riyu. Suara itu begitu jelas terdengar di telinga Sam dan menghentakkan jantungnya.
Sam melepaskan pelukannya lalu memandang Riyu heran. "Kau adik ipar kan? Sam?" ucap Riyu lagi dengan senyum ramahnya.
"Bagaimana kabarmu adik ipar?" Riyu menjulurkan tangannya.
Sam terdiam menatap tangan Riyu yang mengajaknya berjabat tangan. "Riyu... Kau..." Sam sama sekali tidak mengerti dengan sikap Riyu, Sam beralih memandang Darma yang langsung menundukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi padamu Riyu? Apa yang mereka lakukan padamu?!" Wanita yang dicintainya memperlakukan dirinya begitu jauh dan asing.
Riyu menatap Sam dalam, ia benar-benar tidak tau apa yang terjadi. "Aku... " Jawab Riyu dengan nada ragu.
"Jawab. Kau tidak ingat siapa aku?" ucap Sam mencengkram erat kedua lengan Riyu. Untuk pertama kalinya Sam tidak melihat dirinya di mata Riyu.
"Tentu aku tau siapa kamu, ku adik iparku kan?" ucap Riyu takut menatap mata Sam yang tajam.
Riyu melepaskan tangan Sam dari lengannya lalu berlari ke arah Noval. "Noval apa yang terjadi pada adik ipar?" Ucap Riyu memeluk pinggang Noval seakan meminta perlindungan.
"Tenang saja istriku, mungkin dia sangat merindukanmu sampai-sampai tidak mampu mengendalikan dirinya" jawab Noval memandang Sam.
Melihat sikap Riyu yang dekat dengan Noval membuat Sam berdiri tak berdaya, ada sesuatu yang remuk diulu hatinya, terasa sesak dan begitu menusuk.
"Riyu... Kau sama sekali tidak mengingatku? Apa yang kita lalui, apa yang kita lakukan, kau..."
"Sam cukup!" Bentak Noval. "Ayo Riyu, kau tidak boleh terlalu letih. Aku akan mengantarmu ke kamar" Ucap Noval menatap Sam tajam.
__ADS_1
Melihat tangan Noval yang merangkul Riyu, membuat Sam ingin sekali menyerangnya dan mematahkan tangannya. Tapi dia tidak memiliki kekuatan itu karena Riyu begitu terlihat patuh pada Noval.
Sam melangkah menghadap tepat di depan Darma, "Apa yang kau lakukan padanya!" Sam menggertakkan giginya, menatap tajam.
"Akan aku jelaskan padamu Nak" ucap Darma lembut membelai pundak Sam. Namun Sam menyingkirkan tangan Darma.
"Aku akan mendengarnya" ucap Sam dengan ekspresi dingin.
"Sam. Alasan aku membawa Riyu selama ini karena aku berusaha menyelamatkan nyawanya, Dia harus menjalani operasi untuk bisa sembuh tapi, Resiko dari operasi itu Riyu kehilangan ingatannya"
Sam lunglai melangkah mundur menjauhi Darma, matanya mulai memerah dan berair. "Kau tau tapi tidak memberi tauku, bahkan menyembunyikannya dariku" Ucap Sam lirih menatap hampa pada Mahesa.
"Sam papa cuma..." Mahesa terdiam saat Sam berpaling dari tatapannya.
"Sam..." panggil Darma dengan nada yang bergetar.
"Kau juga Tuan Darma, bahkan kau sama sekali tidak mengijinkan aku untuk mengakses keadaan Riyu. Aku tau sekarang..."
Sam mulai gemetar mengepalkan tangannya, tak lama setelah itu dia menghantamkan pukulannya di cermin hias yang terpampang di tembok ruangan itu... "Pranggg" seketika pecahan kaca hancur berserakan diiringi darah segar yang mengalir di tangan Sam.
Semua yang ada di ruangan terkejut, namun Sam tidak memperdulikan lukanya. "Kau khawatir dengan luka yang berdarah ini? Tapi kau tidak pernah memikirkan luka diperasaanku!" ucap Sam menghentikan langkah Mahesa dan Darma yang hendak mendekat.
Sam berbalik menatap benci pada Darma diiringi air bening yang terhempas dari pelupuk matanya. "Terutama kau Tuan Darma... Orang yang pertama kali berucap merestuiku dengannya, tapi semua hanya omong kosong!"
"Sam. Aku tidak mampu berbuat apapun karena Riyu membatalkan perceraian dengan Noval, aku..." Ucapan Darma terputus saat melihat Sam mengibaskan tangannya.
"Kau bahkan menghianatiku dan berdiri mendukung keparat itu. Cih!"
Darma terdiam...
"Aku sadar sekarang... Bahkan Tuhan juga tidak berpihak padaku. Setelah Dia mengambil wanita yang melahirkan aku. Dia juga membiarkan wanita yang menjadi nafasku pergi dari dekapanku"
Tidak ada yang bisa diucapkan. Bibir Mahesa dan Darma terkunci rapat, mereka bisa merasakan hancurnya perasaan Sam. Mereka hanya bisa menerima kebencian Sam sekarang.
Sam melangkah keluar pintu. "Sam. Papa mohon, relakan. Papa yakin akan ada yang lebih baik kedepannya" ucap Mahesa mencoba menghentikan langkah Sam yang hendak pergi.
"Setelah apa yang aku alami, aku tidak percaya pada orang-orang sepertimu Tuan Mahesa, Tuan Darma... Bahkan Tuhan sekalipun!" Sam berbalik lalu pergi dengan darah yang masih menetes dari lukanya.
Darma dan Mahesa menatap hampa ke arah pintu, "Maafkan aku Mahesa." ucap Darma dengan penuh rasa bersalah.
Sedangkan di sisi lain, Riyu masih berdiri menyaksikan kekacauan itu dari lantai atas. Melihat Sam, mendengar ucapan Sam. Membuat Riyu merasakan dada yang sesak, sangat sesak sampai-sampai iapun memegangi dadanya setelah Sam keluar dari rumah.
Apa yang dia saksikan sepertinya bukanlah masalah yang sepele, bukan perasaan rindu biasa antara adik dengan kakak iparnya. Riyu merasa kalau Sam memiliki perasaan yang benar-benar dalam padanya, tapi Riyu sama sekali tidak ingat apapun.
Riyu berlari masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya, di sana Riyu menangis sejadinya. Sambil menatap bayangan wajahnya di cermin dan perlahan bayangan yang tertera di cermin itu samar berubah menjadi wajah Sam yang penuh luka. Riyu terperangah, ia terkejut dan melangkah mundur hingga tidak sengaja kakinya menendang tempat sampah.
"Riyu. Apa yang terjadi?" Ucap Noval dari balik pintu.
"Tidak. Tidak ada apa-apa Noval. Aku. Hanya tidak sengaja menyenggol tempat sampah" Jawab Riyu dengan nafas tersengal.
"Kalau begitu kau harus cepat istirahat, aku akan menemui papa untuk diskusi perkejaan"
"Iya Noval, setelah ini aku akan langsung istirahat" jawab Riyu menyembunyikan keresahannya.
Setelah mendengar suara pintu yang tertutup Riyu segera meledakkan tangisnya lagi, ia seperti merasakan sakit yang sama dengan Sam. Menyaksikan kejadian tadi membuatnya ingin tau, apa yang terjadi sebenarnya. Bagaimana hubungannya dengan Sam sebelumnya.
***
Tidak peduli apapun kondisi jalan di ibukota, Sam tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil membawa emosinya. Aji sampai kualahan menyusul mobil Sam, tapi dia berusaha mengikuti kemana Sam pergi.
Di bukit perbatasan kota Sam menghentikan mobilnya 200 meter dari tepian danau. Aji masih mengamati Sam dijaraknya, ia kira Sam akan turun dari mobil untuk menenangkan diri. Tapi ternyata Sam malah tancap gas, melajukan mobilnya untuk terjun ke dalam Danau.
__ADS_1