Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Rekaman Cctv


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, Riyu sudah sembuh sekarang bahkan sudah keluar dari rumah sakit. Tapi tetap saja, dia belum boleh keluar rumah, masih di rumah Darma, sebentar lagi Noval pulang dari luar negeri dan mereka akan kembali ke kediaman Mahesa bersama-sama.


"Kakek, boleh aku ijin sebentar ke ruanganmu? Aku ingin meminjam buku" ucap Riyu. Ia merasa jenuh tanpa kegiatan, mumpung masih banyak waktu lebih baik pinjam buku kakek untuk belajar di taman belakang.


Darma yang sedang menonton acara berita memandang Riyu sambil membuka sedikit kacamata beningnya. "Riyu di ruangan kakek tidak ada buku novel" ucapnya lalu tertawa ringan.


"Ga kek, bukan buku novel yang Riyu cari. Tapi buku panduan berbisnis. Riyu pernah lihat sampulnya waktu mengambilkan kakek berkas"


Darma tersenyum, senang rasanya saat cucu tercintanya mau mempelajari lebih lanjut dunia berbisnisnya. "Baiklah, pergi dan ambillah" ucap Darma tersenyum hangat.


"Terimakasih kakek" Riyu berlari kecil menaiki tangga, kemudian kakinya menyusuri lantai menuju ruangan Darma.


Sesampainya di ruangan itu Riyu mengingat ingat dimana letak buku yang ia cari waktu itu, telunjuknya meraba satu persatu judul buku yang berjejer rapi di rak.


"Ah ketemu" Ditariknya buku itu, namun cukup sulit karena terlalu berhimpitan dengan buku dan box kecil yang ada di sisi kiri dan kanannya. Dengan hati-hati Riyu berusaha menarik buku dari tempatnya, tapi box hitam yang ada di samping buku itu ikut tertarik hingga terjatuh di lantai.


Glodak... Bleerr... Suara jatuh di susul dengan isi di dalamnya berserakan di lantai. "Oh ya ampun" Riyu menggigit bibir bawahnya.


"Riyu, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?!" Teriak Darma dari lantai bawah, kaget karena mendengar suara benda jatuh.


"A... Aku baik-baik saja kek, maaf karena aku menjatuhkan bukunya" sahut Riyu. Terpaksa dia bohong, takut Darma marah kalau tau barang di ruangannya jatuh berserakan.


"Oh syukurlah kalau begitu" sahut Darma lagi. Riyu memegangi dadanya merasa lega, bergegas memunguti lagi benda-benda kecil yang berserakan di lantai ke dalam box.


"Apa ini?" Gumam Riyu merenyitkan alisnya, mengamati dengan seksama benda kecil yang sedang ia kemasi ke dalam box.


"Ini seperti flashdisk deh. Tapi kok banyak banget" gumamnya lagi. Riyu mengambil box dan ternyata di permukaan box ada sebuah tulisan "Rekaman Cctv Kediaman Darma". Riyu terdiam sesaat, matanya melirik ke kiri seperti memikirkan sesuatu.


Setelah itu, tangannya bergerak cepat. Menyusuri satu persatu flashdisk sambil melihat bulan dan tahun yang tertera. "2018..." gumamnya. Riyu terdiam dan berfikir lagi,


"Riyu, apa kau sudah menemukan bukunya?" Teriak Darma dari lantai bawah membuyarkan fikirannya.


"Sudah kek. Riyu akan segera turun" Ucap Riyu, flashdisk yang dia lihat barusan langsung di taruh di kantong celana jeans nya, lalu cepat-cepat mengemasi kembali sisa flashdisk yang berserakan.


"Maafkan aku kek, aku hanya meminjamnya sebentar" Riyu berbicara sendiri.


Setelah memastikan tidak ada flashdisk yang tertinggal, ia langsung mengembalikan box ke tempat semula dan bergegas turun.


"Kakek, aku sudah mendapatkan bukunya. Riyu duluan ke kamar ya" Ucapnya menyembunyikan gugup saat melewati Darma.


"Baiklah. Ini sudah larut, aku juga mau kembali ke kamar. Ingat Riyu! Jangan membaca terlalu malam, kau perlu istirahat"


"Baik kek"


Riyu masih berdiri menunggu Darma menghilang di balik pintu kamarnya, setelah itu Riyu bergegas menuju kamar.


_________


Sesampainya di kamar, Riyu langsung membuka laptopnya dan memasang flashdisk. Jantungnya berdegup kencang, ia gugup tapi yakin dengan bisikkan hatinya. Tangannya mulai terasa dingin saat mengotak atik setiap berkas yang terpampang di layar.


"Seharusnya ini rekaman sebelum aku berangkat ke Singapore kan! Tapi bulan berapa kira-kira" Ucap Riyu fokus pada apa yang ia cari.


Karena tidak ingin melewatkan kesempatan penting itu, terpaksa satu persatu Riyu membuka video-video yang ada.


Berjam jam sudah Riyu mencari, matanya mulai merah dan lengket karena ngantuk. Sudah ratusan video yang ia lihat tapi hanya ada rekaman yang membosankan. Ruangan kosong, sesekali terlihat Darma yang sedang bersantai, para pelayan yang sibuk bekerja. Jenuh...


Matanya sudah terasa sangat ngantuk, tapi di sisi lain juga ia masih ingin mencari tau. Riyu menopang kepalanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya masih mengotak atik mouse.


"Klik..."


Karena ngantuk tak sengaja Riyu mengklik video yang entah di tanggal, bulan dan hari apa. Riyu terperanjak "Oh ya ampun kan! Tadi aku sampai mana coba!" Ucapnya kesal.


Namun pada saat telunjuknya hendak mengklik vidio sebelumnya...


"Sam??" ucapnya tidak percaya.


Riyu semakin fokus dengan apa yang ia lihat. Dalam video itu terlihat Sam yang memasuki ruang tamu, lalu duduk berhadapan dengan Darma. Sontak Riyu langsung mengambil earphone dan mengencangkan suara untuk mendengarkan percakapan di video itu...


"*Ada apa Kakek Darma Galuh mengundangku ke istana ini?"

__ADS_1


"Apa benar itu kau bersama Riyu? Kau coba-coba mempermainkan cucuku!" (Darma)


"Ya benar!. Tapi aku tidak mempermainkan cucumu! Aku mencintainya" (Sam)


"Apa kau gila! Kamu mencintai wanita yang menjadi kakak iparmu!" (Darma)


"Tuan Darma, aku hanya terlambat selangkah dari kakak tiri ku. Dia berhasil menikahi Riyu karena perjodohan, sedangkan aku dengan Riyu memang sudah di pertemukan sebelum dia lahir ke dunia!"


"Apa maksudmu!" (Darma)


"Aku sudah bertemu Riyu sejak Riyu berada di perut Tante Diana, menantumu! Selanjutnya aku bertemu dengan Riyu saat dia di kejar oleh kepala gangster dan berhasil menyelamatkannya, terakhir... Aku bertemu dia tergeletak di jalanan, hingga sekarang aku masih bertemu dengannya!"


"Kakek... Saat aku akan di pertemukan gadis kecilku yang aku ingat selama bertahun-tahun, dia telah di ambil kakak tiri ku. Saat Noval mencium di pernikahan itu, hampir saja aku tidak bisa menahan amarahku... Selain merenggut nyawa ibuku, dia juga telah merebut kekasihku. Katakan Tuan Darma, Seberapa besar kesalahanku!?"


"Ingat tuan Darma, jika bukan karena aku.... Sampai saat ini juga kau tidak akan pernah menemukan cucumu"


"Aku sudah memberikan kejelasan ku, jika tidak ada urusan lagi, aku undur diri"


"Jika Riyu tidak bahagia dengan pernikahannya, bawa dia bersamamu!" (Darma)


"Akan aku lakukan" (Sam)


"Tuan, kau serius dengan kata-kata mu barusan?" (Bayu)


"Kapan aku tidak serius! Saat aku bertemu Riyu di pesta pertemuan itu, aku tau bagaimana suaminya mengabaikan cucuku. Aku percaya dengan keseriusan anak muda itu, selama ada dia, aku yakin Riyu akan baik-baik saja" (Lengkapnya di bab 24*)


Buliran bening mulai mengalir deras di pipi Riyu, bibirnya mulai gemetar, tubuhnya merinding karena percakapan yang ia dengar. Tangan Riyu yang gemetar mulai mencari video berikutnya, dadanya mulai naik turun mengiringi nafas yang tak beraturan.


Namun setelahnya kembali lagi ke video yang merekam ruang kosong dan aktivitas Darma. Semakin kesal Riyu mencari dan mengklik dengan kasar, hatinya semakin merasa tidak sabar. Sampai akhirnya, ia melihat lagi rekaman Cctv yang terlihat ada dirinya dan Sam masuk menemui Darma yang telah menyambut dirinya dan Sam. Hanya itu yang terlihat, Riyu menggeser rekaman ke seluruh penjuru yang ada. Ruangan Darma...


"*Riyu, mungkin setelah orang-orang tau bahwa kau pewaris tunggal dari Galuh Saputra, akan banyak orang yang berusaha menjatuhkan atau bahkan mempersulit mu" (Darma)


"Termasuk keluarga Mangsur?!" (Riyu)


"Ya... Ditambah lagi.... Dari keluarga Mahesa" (Darma)


"Aku paham kek, Noval dan Nita pasti akan mengincar ku juga" (Riyu)


"Kakek jangan khawatir, aku pasti akan secepatnya bercerai dengan Noval. Tapi... Aku juga harus memikirkan keselamatan bude dan juga mas Agi, mau bagaimanapun juga mereka masih keluargaku kek, apa kakek tidak keberatan?" (Riyu)


"Tentu saja tidak, kau mulailah dengan mereka. Aku akan membawa mereka pindah dari kota Y ini, mungkin akan terpisah jauh dari mu Riyu, namun setidaknya mereka aman" (Darma)


"Aku percaya pada kakek, tapi sebelum itu... Bolehkah Riyu bertemu dengan mereka? Aku akan memberi tau mereka tentang ini" (Riyu)


"Baiklah, kau dan Sam aku ijinkan untuk menemui mereka besok. Kalian tidurlah, sudah larut malam" (Darma)


"Kakek... Aku belum ngantuk, bolehkah aku dan Sam pergi ke balkon untuk berbincang-bincang?" (Riyu)


"Ya, tapi kau harus mengganti pakaianmu dengan yang lebih hangat, udara di luar Cukup dingin" (Darma*)


"Nita? Mangsur? Menceraikan Noval?!' Gumam Riyu menggerakkan giginya. Klik... Klik... Riyu kembali mencari rekaman di balkon...


 


"*Kau terlihat resah Riyu, tidak perlu khawatir. Perang bisnis ini memang sudah sering terjadi sejak dulu" (Sam)


"Sam... Aku tidak takut karena ada kakek yang membimbing ku, dan... Ada kau yang pasti akan melindungiku" (Riyu)


"Lalu... Apa yang kau khawatirkan?" (Sam)


"Entahlah... Perasaanku sangat tidak enak, seperti ada perasaan bahwa akan pergi jauh untuk beberapa saat" (Riyu)


"Apa maksudmu!" (Sam)


"Sam... Dalam keadaan apapun, kau masih tetap mau menungguku bukan?" (Riyu)


"Jangan berbicara yang tidak-tidak Riyu" (Sam)


"Sam... Berjanjilah kau akan tetap setia padaku" (Riyu)

__ADS_1


"Aku janji" (Sam*) (Selengkapnya di bab 38)


Adegan terakhir yang ia lihat adalah Sam menciumnya dengan penuh kasih....


Braakkk!! Riyu membanting earphone ke laptopnya, ia terperanjak bangun dari tempat duduknya.


"Kalian mempermainkan aku! Errgghh!!" Riyu melempar laptop hingga terhempas di lantai.


Sempoyongan Riyu berjalan menuju wastafel, tapi lantai yang ia pijak terasa semu... Hampir saja ia ambruk, Glodaakkk... Riyu menyambar seluruh barang yang ada di meja rias hingga jatuh berserakan. Iapun tersimpuh bersandar meja riasnya, sontak tangisnya meledak. Seluruh nama, dan percakapan itu mengisi angan. Kesal, marah, kecewa... "Aaahhh" Riyu menjerit.


"Riyu... Riyu apa yang terjadi!" Terdengar suara Maya dari luar kamarnya. Maya langsung panik saat mendengar laptop jatuh dan teriakan Riyu, ia takut terjadi sesuatu. Semua terdengar jelas karena kamar Maya bersebelahan dengannya.


"Riyu buka pintunya!"


Semakin panik karena Riyu tidak menjawab, Maya langsung berlari menuju kamar kepala pelayan dan meminta kunci cadangan kamar Riyu.


Setelah pintu terbuka, Maya langsung menghampiri Riyu yang tersimpuh di lantai...


"Apa yang terjadi Riyu?!" Maya bergetar. Tapi Riyu terdiam menatap kosong lurus ke depan, hanya air matanya yang terlihat keluar begitu deras. "Riyu jawab aku!" Sentak Maya bergetar Sambil menggoyangkan wajah Riyu.


Perlahan mata Riyu memandang ke arah Maya. "Pergilah... Tinggalkan aku sendiri" ucap Riyu lirih.


"Enggak Riyu! Katakan padaku kenapa kamu seperti ini!"


"Pergi Maya! Pergi!!!" Riyu membentak dan mendorong Maya hingga ia terduduk di lantai. "Tinggalkan aku sendiri!" Ucap Riyu menggertakkan gigi, menatap tajam ke arah Maya.


Maya mematung, ia sangat khawatir tapi sepertinya Riyu benar-benar tidak ingin di ganggu. Maya bangkit dan berjalan keluar perlahan, sebelum menutup pintu, ia melihat Riyu terisak memeluk lututnya...


*****


Setelah kejadian itu Riyu jadi semakin banyak diam, beberapa kali Maya memergoki Riyu termenung sambil memijat kepalanya. Tapi saat di tanya, hanya jawaban "Aku ga papa kok" Sambil tersenyum.


"Riyu" panggil kakek Darma ketika makan malam bersama. Riyu lalu menoleh ke arah Darma sambil mengunyah makanannya.


"Besok Noval pulang, kakek harap tidak akan ada keributan di antara kalian"


Riyu terdiam mengalihkan tatapannya ke atas piring, sendok di tangan ia gulirkan di atas nasinya. "Bukan aku yang ribut kek, tapi pria tempramen itu pasti akan menghajarku" senyum tipis tersirat di wajahnya.


"Apa maksudmu?!" Darma menatap Riyu seksama, Maya terdiam menyimak percakapan itu.


"Kakek tenang saja, aku sudah biasa menghadapi Noval. Buktinya aku masih hidup sampai sekarang meskipun dia hampir mencekikku sampai mau mati!" ucap Riyu tidak mampu membendung isi hatinya.


Apa yang terjadi padamu sebenarnya Riyu, gumam Maya dalam hati. Riyu menggeletakkan sendoknya lalu bergegas pergi.


"Riyu!" Panggil Darma dengan nada keras membuat Riyu terhenti.


"Ada apa denganmu sebenarnya! Jika ada masalah dengan suamimu ceritakan baik-baik!" Ucap Darma tegas.


Riyu langsung berbalik menatap Darma tajam. "Apa lagi yang harus aku ceritakan kek? Bukankah kakek sudah tau semuanya?! Justru kakek menutupi semuanya dariku termasuk tentang Sam!"


"Berhenti menyebut nama Sam!" Darma menggebrak meja dan berdiri marah.


"Kenapa... Kenapa aku tidak boleh menyebut Sam kek. Apa kau membencinya? Atau karena dia adik iparku dan aku tidak boleh mencintainya?!"


Darma terbelalak mendengar ucapan Riyu...


"Kenapa berubah pikiran setelah membuat Sam berjanji untuk melindungiku? Kau yang membuatnya berjanji untuk melindungiku kan!" Riyu bergetar.


"Riyu bagaimana kau..." Darma tidak percaya dengan apa yang Riyu ucapkan.


"Kau merestui kami. Tapi kau juga yang memisahkan kami!" Tangan Riyu mengepal erat, mata dan kata-katanya menusuk Darma dengan telak. Darma lunglai dan kembali duduk di kursinya.


"Hiks... Maafkan aku kek... Maafkan Riyu..." Riyu terisak dan langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


Darma tertunduk mengusap wajahnya, Maya yang masih ada di meja makan mendekati Darma dan menggenggam tangannya erat.


"Kakek..."


"Apa yang harus aku lakukan Maya... Apa yang harus aku lakukan" pecahlah tangisan Darma.

__ADS_1


Maya menatapnya tidak tega. Darma yang dikenal kuat, Darma yang di kenal tak terkalahkan... Kini terlihat lemah dan tak berdaya.


Apa yang membuat tangisnya meledak bukanlah sakit hati karena ucapan cucunya, tapi rasa bersalah karena telah menghancurkan dua hati yang ia sayangi. Darma sadar Riyu sudah hampir pulih ingatannya. Itu membuatnya senang, tapi di sisi lain... Dia sedih karena harus menerima kekecewaan yang Riyu rasakan.


__ADS_2