Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Bertemu Dengan Kakek Darma


__ADS_3

*Rumah keluarga Mahesa*


Noval berjalan menuju kamar untuk bersiap pergi ke acara pertemuan, tapi ia tidak menemukan Riyu di sana.


"Kemana wanita kampung itu, bukannya bantuin aku bersiap!" Noval menggerutu, ia keluar dari kamar lalu berteriak dari lantai dua.


"Bi. Bi Mirah!" suara Noval menggema di ruangan rumah yang sunyi.


"Iya tuan" jawab Mirah dari lantai satu. Mirah langsung bergegas menghampiri Noval " Ada apa tuan?" tanyanya.


"Kemana wanita kampung itu?" tanya Noval dengan wajah kesal.


"Non Riyu maksudnya?"


"Iya lah! Siapa lagi! Kemana dia?"


"Anu. Tadi tuan muda Sam mengajak non Riyu pergi, katanya mau nganterin non Riyu beli gaun untuk acara nanti" ucap Mirah menjelaskan.


Noval mengerutkan keningnya "Sam?" tanya Noval agak kurang yakin.


Mirah mengangguk, "Apa ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Tidak, pergilah" jawab Noval lalu kembali masuk ke dalam kamar.


Tling... Sebuah email masuk ke ponsel Noval, dalam layar ponselnya tersirat nama yang tidak ia kenal mengirimkan sebuah foto.


Di dalam foto itu terlihat Sam dan Riyu yang sedang berciuman. "Kurang ajar! Ternyata mereka berani bermain gila di belakangku!" ucap Noval menatap kesal foto di ponselnya.


Di waktu yang sama, seringai seorang wanita terlihat puas karena berhasil mendapatkan alat untuk mengancam keluarga Mahesa terutama Sam. Lila. Sejak Sam dan Riyu keluar dari butik ternyata ia menguntitnya.


Lila berada di tempat dimana dia bisa mengambil gambar pada saat Riyu dan Sam berpelukan di atas balkon, dia juga yang mengirimkan foto itu kepada Noval.


"Sam. Kamu telah menantangku, dan membuatku terbakar oleh api cemburu. Tapi kali ini kamu tidak akan bisa lolos Sam. Kau pasti akan menjadi milikku hemh!." gumam Lila sambil menatap villa Sam. "Jalan pak!." ucapnya memberi kode pada supir taksi.


****


 Malam telah tiba, Kini saatnya menghadiri pesta pertemuan, sejak sore tadi Riyu dan Sam berpisah, Riyu di antar oleh Aji ke sebuah salon untuk membantu merias wajah dan menata rambutnya. Ponsel Riyu berdering, tanpa melihat ke layar ponselnya iapun menjawab telepon itu.


"Hallo" Sapa Riyu.


"Kau dimana!"


"Noval? Aku... Aku sedang ada di salon xx" jawab Riyu gugup.


"Sam ada sama kamu?"


"Tidak, aku di antar oleh Aji" jawab Riyu melirik ke arah Aji yang sedang berada di ruang tunggu.


"Baiklah, tunggu aku di sana. Aku akan menjemputmu"


Riyu sedikit kurang percaya kalau Noval mau menjemputnya, tapi dia merasa tidak enak hati. "Tidak perlu Noval, biar.... Nanti aku ke pesta di antar Aji saja"


"Apa kau kira aku sudi menjemputmu! Aku hanya ingat kalau di acara itu banyak sekali orang penting yang hadir, jika kita datang terpisah maka sama saja dengan mempermalukan keluarga Mahesa!" Panggilan itu langsung terputus.


Tidak ada kata yang mampu diucapkan, ponselnya tergenggam erat ditangannya. "Apa sedikitpun dia tidak bisa untuk tidak menyinggungku. Aku istrinya kan?" bisik Riyu dalam hati.


Usai di rias Riyu menghampiri Aji yang sedang sibuk membaca koran di ruang tunggu. "Aji" sapa Riyu malu-malu.


Aji berdiri memandang Riyu, di balik kacamata hitamnya mata Aji enggan beranjak dari sosok wanita cantik yang berdiri di hadapannya.


"Kenapa? A... Apa wajahku aneh?" tanya Riyu tidak percaya diri, ia salah tingkah karena Aji terdiam cukup lama.


"Tidak nona, kau terlihat cantik" ucap Aji. "Jika ada bos Sam di sini bisa-bisa dia meninju mataku tanpa segan" bisiknya Aji dalam hati.

__ADS_1


"Em... Aji aku minta maaf, setelah ini kamu bisa pergi. Noval akan menjeputku"


"Baiklah" jawab Aji singkat, dia membungkuk memberi hormat lalu beranjak pergi.


*******


Riyu berjalan sedikit pincang tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum anggun, Riyu berjalan menggandeng lengan Noval membuat para tamu yang ada di sana terpana dengan pemandangan pengantin baru itu.


Acara malam itu berlangsung meriah, dihadiri oleh orang-orang penting di kota Y, termasuk salah satunya adalah Mangsur juga istrinya.


 


Riyu masih sangat jelas mengenali wajah pembunuh orang tuanya, Mangsur mendekat ke arah Noval dan Riyu. Sebisa mungkin Riyu menyembunyikan ketakutan dan kebenciannya untuk bisa bersikap biasa.


Mereka bersalaman, saling menyapa satu sama lain, Riyu bersembunyi di balik senyum ramahnya.


"Noval, kau pandai mencari istri. Dia sangat cantik" ucap Mangsur mengamati wajah Riyu seksama.


"Kau pandai berbicara manis pak Mangsur" jawab Noval tersenyum.


"Lihat Lila dan Sam, aku rasa mereka sangat dekat dan akrab bukan?" ucap Mangsur menunjuk ke arah Lila dan Sam yang sedang mengobrol di dekat meja minuman.


Riyu melirik ke arah mereka, ada perasaan bergetar yang sulit ia jelaskan. Melihat gelagat Riyu yang cemburu Noval mencari kesempatan.


"Kau betul pak Mangsur, Sam dan Lila sangat serasi. Bagaimana jika kalian datang saat papa dan mama pulang nanti, kalian harus segera membicarakannya pada mereka, benarkan Riyu?" ucap Noval merangkul pinggang Riyu yang sedang menatapnya kesal.


"Te... Tentu" ucap Riyu berusaha tenang.


"Jadi... Lila anakmu?" tanya Riyu pada Mangsur.


"Benar. Ada apa Riyu?" Mangsur menatap lekat.


"Tidak apa-apa, dia wanita yang cantik" jawab Riyu lalu menengguk minumannya.


"Ah pak Mangsur di dunia banyak sekali wajah dan nama yang memang mirip" ucap Riyu mencela.


"Oh iya kau benar" Mangsur merasa tidak enak hati.


Usai berbincang dengan keluarga Mangsur, Noval dan Riyu kembali menemui tamu lainnya. Sam yang melihat pemandangan itu menahan api dalam dadanya. Saat Riyu dan Noval lewat di depan Sam, Noval menghentikan langkah kakinya. "Aku tidak menyangka kalau kau akan tertarik pada istriku Sam" ucap Noval tersenyum sinis.


Riyu terperangah mendengar kata-kata Noval, sedangkan Sam lebih memilih diam dan tersenyum tenang.


"Hati-hati dengan kelakuanmu itu, jika papa tau maka dia akan mencoretmu dari hak waris" ucap Noval agak berbisik.


"Hemh. Terimakasih atas perhatianmu, tapi. Aku yakin papa tidak akan sanggup melakukannya" ucap Sam menepuk pundak Noval lalu beranjak pergi.


"Jangan kau anggap aku tidak tau tentang apa yang kau lakukan di belakangku. Riyu" ucap Noval beralih menatap Riyu dengan tajam.


Tidak ada yg bisa Riyu jawab. Wajahnya berubah pias, tapi apa dia harus merasa bersalah?.


Noval beranjak menemui para tamu dan sahabatnya. Sedangkan Riyu hanya berdiri di dekat tangga sambil melihat sekeliling. Jari jemarinya tergenggam erat. "Bagaimana Noval bisa tau?" begitulah pertanyaan yang tersirat di benaknya.


Tanpa di sadari seorang kakek tua mengamatinya dari jauh, tak berselang lama mata Riyu menangkap sosok kakek yang sedang memandangnya lekat.


"Apa aku terlihat aneh? Kenapa kakek itu menatapku seperti itu" gumam Riyu sambil menyelipkan rambutnya di sela telinga.


Sang kakek berjalan mendekati Riyu dengan tongkatnya, Riyu semakin salah tingkah.


"Gadis muda, siapa namamu?" Tanya si kakek dengan ramah.


"Nama saya Riyu kek"


"Riyu?" Kakek mengerutkan alisnya dan terdiam sejenak. "Berapa usiamu?"

__ADS_1


"19 tahun kek"


"Kenapa aku merasa familiar dengan kakek ini, siapa dia?!." gumam Riyu dalam hati.


"Hehe, tidak perlu khawatir aku tidak akan berniat jahat padamu. Boleh temani kakek ngobrol sebentar?"


Riyu tersenyum mengangguk, lalu mengikuti kakek itu berjalan keluar dan mereka duduk di bangku panjang di taman gedung itu.


"Kenapa kau hanya diam sendirian? Dimana keluargamu, Riyu?" tanya si kakek dengan nada khas orang tua.


"Aku hanya sedang menunggu suamiku kek, dia sedang sibuk menemui para tamu. Dan kalau keluargaku... Mereka sudah lama meninggal" ucap Riyu tertunduk.


"Oh. Maafkan kakek membuatmu sedih."


"Hm. Tidak apa-apa. Oh iya, kakek sudah tau namaku lalu apa kakek tidak ingin memberi tau namamu?" ucap Riyu ramah.


"Oh hehe. Kakek sampai lupa, kau bisa panggil aku kakek Galuh Darma. Jangan sungkan, meskipun kau tidak punya keluarga aku tidak keberatan jika kau menganggapku sebagai kakekmu"


"Benarkah? Aku boleh?" ucap Riyu senang. Darma tersenyum melihat semangat Riyu.


"Terimakasih kek, Tuhan telah mengabulkan doaku. Dulu kalau aku bertanya pada ayah dan ibu, apakah aku memiliki kakek, mereka jawab ada. Tapi aku tidak pernah diajak menemui kakek dengan alasan kakek sibuk"


Darma tersentak, matanya mulai membendung cairan bening, seketika Riyu menghentikan ocehannya saat sadar ekspresi kakek Darma berubah sedih.


"Ada apa kek? Apa kata-kataku ada yang menyinggung? Aku... " jadi ga enak hati.


"Tidak. Tidak ada yang menyinggungku Riyu" Darma menghela nafas panjang. "Aku hanya teringat masa lalu yang membuatku menyesal hingga sekarang"


"Jika kakek tidak keberatan, ceritalah padaku. Mungkin kakek bisa lega setelah bercerita"


Darma menatap sayu pada Riyu, "Kau mirip sekali dengan menantuku, dia wanita yang baik tetapi, Aku terlalu jahat padanya"


Riyu semakin serius menatap Kakek Darma.


"Aku memiliki seorang anak, dia adalah putra satu-satunya yang aku miliki. Suatu hari dia datang ke rumah membawa seorang gadis yang sederhana, manis, sopan dan, Lemah lembut. Putraku bilang kalau mereka datang meminta restu untuk menikah." Kakek Darma tertunduk sesaat.


"Lalu. Apa kakek merestuinya?"


"Tidak. Justru aku bersikeras agar putraku meninggalkannya. Saat itu aku berfikir kalau wanita yang dia bawa tidak layak untuk putraku karena statusnya. Seorang gadis yang tinggal di panti asuhan, tidak berpendidikan, tidak layak untuk putraku yang memiliki segalanya. Aku mengusirnya" Kakek Darma bergetar, menghela nafas berat.


"Tapi putraku memang orang yang keras kepala, dia memilih pergi meninggalkanku demi gadis itu. Aku merasa gagal mendidik putraku, sampai akhirnya aku mendapatkan kabar kalau dia bisa berdiri sebagai pembisnis ternama di kota ini. Aku bangga, dia masuk koran, dan juga majalah. Pernah suatu hari dia ingin datang membawa anaknya, tapi rasanya aku tidak memiliki keberanian untuk bertemu mereka, meskipun sebenarnya, aku sangat ingin bertemu dengan cucuku." Ada senyum di wajah Darma, tapi senyum itu tetap tidak bisa menutupi kesedihannya.


"Tapi kek, mungkin sekarang kakek bisa meminta maaf. Kakek bisa menemui menantu dan cucu kakek, iya kan?"


"Tidak Riyu. Aku sudah tidak bisa bertemu mereka lagi" ucap Darma.


"Loh kenapa kek?"


"Mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu"


Riyu terperangah tidak percaya, pendapatnya barusan membuatnya sesak, mungkin secara tidak sengaja pasti telah menyinggung kakek Darma. "Maafkan aku kek. Aku tidak tau kalau... " ucapan Riyu terputus, tidak sanggup meneruskan kata-katanya.


"Tidak apa-apa, jangan merasa bersalah" Darma tersenyum ramah.


"Tapi kalau boleh tau, siapa nama putra kakek?" tanya Riyu dengan mimik wajah yang serius. Barangkali dia juga mengenal atau pernah melihat putra kakek Darma.


"Dia... " belum sempat Darma menjawab, Noval memanggil Riyu dari depan gedung.


"Riyu." keduanya menoleh bersamaan.


"Kakek, dia suamiku. Senang bisa berkenalan dan berbincang denganmu, tapi aku harus pergi sekarang" Genggaman lembut diiringi dengan pamit. Darma hanya tersenyum sambil menatap punggung Riyu yang semakin jauh dari pandangannya.


"Selidiki gadis itu, aku ingin tau seperti apa kehidupannya selama ini!." ucap Darma pada asistennya yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2