
Beruntung nyawa Orion tertolong. Pisau yang menusuk perutnya tidak sampai mengenai organ dalamnya. Ariana dan yang lainnya yang kini tengah menunggu di luar ruang IGD bisa bernafas lega setelah dokter yang keluar dari ruangan tersebut menjelaskan bawa, tak ada luka serius dan Orion sudah berhasil melewati masa kritisnya setelah tadi sempat pingsan karena mengeluarkan banyak darah.
"Apa saya boleh ke dalam untuk menjenguk suami saya dok!" Ujar Ariana dengan wajah sumringah.
"Tentu saja, tapi sepertinya suami anda sedang tertidur karena pengaruh obat bius tadi saat kami menjahit lukanya. Nanti rencananya setelah dia bangun, kami akan memindahkannya ke ruang perawatan!" Jelas sang dokter sembari tersenyum ramah. "Tapi lebih baik saya sarankan, jangan banyak orang dulu untuk masuk ke ruang IGD. sebaiknya satu orang saja!" Tambah sang dokter.
Ariana dan yang lainnya pun saling bertatapan satu sama lain. Aska yang melihat wajah Ariana begitu kawatir akhirnya mempersilahkan Kakak iparnya tersebut untuk masuk terlebih dahulu.
"Semua akan baik-baik saja. Orion pasti akan segera pulih." Anesya mengelus bahu Ariana berusaha memberi kekutan pada gadis itu.
Ariana pun hanya mengangguk kemudian mulai melangkah masuk ke dalam ruang IGD.
"Hei...!" Sapannya pada suaminya yang kini tengah berbaring lemah dengan mata terpejam. Mata Ariana sudah mulai berkaca-kaca. Rasanya ia ingin segera memeluk Orion saat itu juga. Tapi kondisi Orion sedang tak memungkinkan. "Nanti setelah kamu sembuh, kita jalan-jalan lagi ya! Dan kamu janji harus bisa menjaga dirimu lebih baik lagi. Kalo kamu sakit seperti ini, siapa yang akan menjagaku dan menghiburku nantinya!" Lanjut Ariana sambil duduk di sisi ranjang suaminya. Ia pun meraih tangan suaminya itu dan menciumi punggung tangannya.
Tak berapa lama tangan Orion yang ada di genggaman tangan Ariana mulai bergerak. Matanya pun perlahan-lahan terbuka. Ariana yang melihat itu merasa sangat senang. "Kamu sudah bangun? Apa aku mengganggu tidur nyenyak mu!" Ujar Ariana lagi sambil menempelkan telapak tangan Orion pada pipinya.
Melihat itu Orion jadi gemas dan berusaha tersenyum. "Bodoh! Aku malah ingin cepat-cepat bangun agar bisa melihat mu, aku kangen sama kamu sayang!" Seru Orion dengan suara lemah.
Mendengar itu Ariana jadi turut tersenyum. "Kamu ini, masih sakit, tapi masih sempat-sempatnya buat aku tersenyum. Makasih ya!" Ariana mengelus pipi Orion lembut.
"Karena senyummu itu yang selalu ingin ku lihat. Saat yang ku lihat semuanya menjadi gelap. Aku sempat berpikir tidak akan bertemu..." Kalimat Orion menggantung.
"Suuuutttt...!" Jangan teruskan. Ariana sudah tampak menempelkan telunjuknya pada bibir Orion. "Jangan teruskan sayang, aku mohon. Karena aku pun merasakan hal yang sama. Aku belum ingin berpisah denganmu!" Mata Ariana mulai berkaca-kaca kembali.
Orion yang melihat itupun...hanya tersenyum seraya mengelus kepala Ariana lembut. "Jangan kawatir sayang, aku pasti akan berusah untuk selalu menjadi pelindungmu, percayalah!" Ucap Orion dengan sungguh-sungguh.
"Aku selalu percaya padamu sayang!" Jawab Ariana sambil turut tersenyum.
*****
__ADS_1
Di luar.
Tiba-tiba saja ponsel Aska Yang ada di saku celananya berdering. Karena bunyi telpon tersebut ia baru ingat kalo dia belum menghubungi ayahnya yaitu pak Alvian sama sekali. Setelah mengangkat telpon di ponselnya, ia berpikir akan mengabari ayah nya tersebut tentang keadaan Orion nanti.
Aska berusaha melihat layar ponselnya untuk melihat siapa yang sedang menelponnya. Ternyata dari kantor polisi. Aska pun segera mengangkat sambungan teleponnya.
"Halo!" Seru Aska dan itu membuat orang yang ada di sekitarnya, yaitu Haikal, Anesya dan Reno. Memberikan perhatian padanya. Mereka terlihat menunggu dengan seksama.
"Oh...jadi seperti itu ya pak. Baiklah kami akan segera kesana untuk membuat laporan!" Seru Aska mengahiri percakapannya di telpon.
"Siapa yang menelpon? Apa itu tadi dari pihak kepolisian?" Ujar Reno sambil menatap penasaran pada Aska.
"Benar kak, tadi dari pihak kepolisian. Mereka ingin aku membuat laporan agar mereka bisa melakukan penyelidikan lebih lanjut." Jelas Aska. Namun sejenak wajahnya terlihat ragu.
"Ada apa Aska? Apa perlu ku temani ke kantor polisi?" Tawar Reno dengan menyakinkan.
"Wah boleh tuh kak, aku kan masih belum cukup dewasa, jadi tidak tahu harus bagaimana dsana nanti!" Wajah Aska kini berubah lega karena Reno akan menemaninya ke kantor polisi. "Sebentar ya kak, aku hubungi ayah dulu, baru setelah itu kita ke kantor polisi."
Ayah kemana? Ayo cepat angkat telponnya! Gumam Aska dalam hati sambil terus berusaha menghubungi ayahnya tersebut.
"Aku sudah menghubungi Ayah berulang kali tapi tetap tidak di angkat." Aska mengangkat bahunya tanda menyerah.
"Mungkin ayah sedang sibuk kak! Kakak ke kantor polisi aja Sama kak Reno. Biar aku sama kak Anesya disini. Nanti biar aku aja yang coba hubungi ayah lagi!" Haikal berinisiatif.
Tanpa pikir panjang. Aska pun menyetujui. "Oke deh kalo gitu." Sahutnya ringan. "Yuk kak Reno kita berangkat!" Lanjutnya seraya memberi isyarat dengan kepalanya.
"Oke...!" Seru Reno. "Sayang aku tinggal dulu ya!" Pamit Reno pada Anesya.
"Iya...Hati-hati ya di jalan!" Anesya tersenyum.
__ADS_1
"Ya ampun pasangan ini, masih aja sempet-sempetnya mesra-mesraan!" Aska menggelengkan kepalanya heran. Sedangkan Anesya dan Reno hanya bisa terkekeh. Wajah Anesya tampak malu-malu.
"Dah...! Tunggu aku ya!" Untuk sekali lagi Reno berusaha menggoda kekasihnya itu dengan cara melambaikan tangan seraya mengerling kan sebelah matanya.
"Tunggu di mana sayang!" Anesya menimpali sambil terus terkekeh.
"Tunggu aku di pelaminan!" Ujar Reno sambil berjalan menjauh dari hadapan Anesya. Aska sudah jalan duluan di depan.
"Ya...ampun kalian ini, ada anak polos disini, telingaku jadi ternodai kan!" Seloroh Haikal yang dari tadi diam saja. Anesya hanya tertawa mendengar celotehan Haikal seraya mengacak rambut anak tambun itu lembut.
"Kamu itu bikin gemes tahu!" Seru Anesya seraya menoel hidung Haikal manja.
"Aku memang menggemaskan dari lahir kak!" Seloroh Haikal lagi.
Mendengar itu gelak tawa Anesya makin pecah. "Ya ampu kamu narsis banget sih...mirip Orion!" Anesya tertawa geli sambil memegangi perutnya.
Tapi tiba-tiba saja wajah Haikal malah menjadi murung.
Tapi sayangnya Kak Orion bukan kakak kandungku. Kalo dia tahu aku bukan adik kandungnya? Apa dia akan tetap sayang padaku seperti biasanya. Gumam Haikal dalam hati.
"Kenapa Haikal? Kok tiba-tiba murung?" Rupanya Anesya menyadari perubahan sikap Haikal.
Haikal seketika menggeleng cepat. "Nggak apa-apa kak. Aku cuma lapar. Kita cari makan yuk kak!" Seru Haikal dengan memasang wajah cerianya kembali.
"Oh...cuma lapar? Aku kira kenapa? Tapi bagaimana dengan Ariana? Kita tunggu Ariana keluar dulu dari ruang IGD, baru kita cari makan sama-sama!"
"Oh...oke deh kalo gitu. Sambil nunggu kak Ariana, lebih baik aku coba hubungi ayah lagi. Siapa tahu sekarang ayang sudah nggak sibuk!" Haikal pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, lalu kemudian mencari nama ayah nya di deretan kontaknya.
"Halo! Siapa ini?" Sebuah suara menyahut dari ponsel ayahnya. Tapi kali ini yang mengangkat adalah suara wanita. Haikal tertegun sejenak. Siapa wanita ini sebenarnya? Kenapa dia yang mengangkat telpon ayahnya. Pikirnya bingung.
__ADS_1
BERSAMBUNG.
jangan lupa, like, coment and vote ya...makasih 😉