Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Semoga Berlangsung Selamanya


__ADS_3

Setelah sempat di rawat di ruang IGD. Akhirnya Orion di pindahkan ke ruang rawat inap malam itu juga.


Ayahnya yang datang sedari tadi siang masih tampak setia menunggu. Begitu pun dengan Ariana. Sedangkan Haikal kembali pulang ke rumah di antar oleh Anesya.


Fina. Wanita itu ikut pulang bersama Haikal dan Anesya. Pikirnya ini lah kesempatannya untuk bisa lebih dekat dengan putra semata wayangnya. Sementara Alvian sibuk dengan putra sulungnya, Orion. Fina meminta izin pada Alvian untuk menemani Haikal di rumahnya. Tanpa merasa curiga Alvian pun mengizinkan dengan catatan Fina tetap memegang teguh janjinya untuk tidak membuka jati dirinya di hadapan Haikal.


Sedangkan Aska dan Reno sudah tampak kembali dari kantor polisi. Mereka berdua mampir sebentar ke rumah sakit untuk menjenguk Orion. Baru setelah itu mereka kembali pulang ke rumah masing-masing.


Di dalam kamar inap Orion.


Ariana dan dan ayah mertuanya sedang berbincang ringan dengan Orion yang sedang terbaring di ranjangnya. Di lihat dari wajah dan senyumnya, Orion sudah tampak membaik.


"Sepertinya ayah akan jadi pengganggu saja kalo terus disini!" Celetuk Pak Alvian tiba-tiba. Ia baru saja memergoki Orion dan Ariana yang saling melirik sejak tadi.


Seketika wajah Ariana jadi merona merah karena malu.


"Ayah ini bicara apa?!" Sedangkan Orion pura-pura memasang muka masam pada ayahnya.


Pak Alvian pun malah tergelak. "Haha...Ayah kan juga pernah muda. Jadi ayah tahu kalo kalian ingin berduaan terus, iya kan?" Goda Ayah lagi pada putra sulungnya itu.


"Ayah ini!" Orion memanyunkan bibirnya.


"Kenapa kalian harus malu. Ayah malah sudah tidak sabar untuk menimang cucu!"


"Ayah!" Protes Orion lagi, berharap ayahnya mau berhenti untuk menggodanya.


"Baiklah, ayah tidak akan banyak bicara lagi, ayah akan pulang, ayah sudah sangat letih dan ingin segera beristirahat. Maklum lah orang tua, gampang merasa lelah!" Pak Alvian beralasan. Ia tak ingin lebih lama lagi ada di sana, yang mungkin saja bisa mengganggu saat-saat berduaan sepasang pengantin baru tersebut.


"Nah begitu dong yah, pengertian!" Orion balik menggoda ayahnya.


Pak Alvian tersenyum. "Jadi kamu benar ingin ayah segera pergi ya!" Pak Alvian berbalik pura-pura protes.


"Bukan begitu, ayah harus banyak istirahat demi kesehatan ayah, jangan terlalu letih, biar Ariana saja yang jaga Orion!" Ariana yang dari tadi diam saja akhirnya ikut angkat bicara.


"Oh jadi kamu juga ikut berkonspirasi dengan suamimu untuk mengusir ayah secara halus ya!" Pak Alvian sengaja protes juga pada menantunya itu.


Ariana pun segera menggelengkan kepalanya. Takut kalo ayah mertuanya itu tersinggung. "Bukan...bukan seperti itu maksudku yah!" Ujar Ariana dengan nada panik.


Tapi lagi-lagi pak Alvian hanya tergelak. "Hahaha...Tenang saja nak, Ayah hanya bercanda."


"Oh..." Ariana kembali tersipu malu.


Tak lama kemudian seorang suster dan petugas rumah sakit masuk ke dalam ruang inap tersebut. Sejenak keadaan menjadi hening.

__ADS_1


"Maaf mengganggu, sudah waktunya makan malam dan minum obat!" Ujar seorang perawat. Yang kemudian dengan telaten memindahkan makan malam Orion dari meja dorong yang di bawa oleh seorang petugas rumah sakit, kemudian meletakkannya di meja kecil dekat ranjang pasien.


"Terimakasih sus!" Ujar Ariana ramah. Di ikuti pula dengan Pak Alvian dan Orion.


"Sama-sama!" Balas Perawat dan petugas tersebut sebelum akhirnya kembali berlalu.


"Baiklah Orion, Ariana, Ayah pamit ya! Ayah sudah sangat mengantuk juga, besok pagi ayah ada meeting dengan client." Ujar Ayah sembari beranjak dari duduk nya.


"Baiklah Yah! Hati-hati di jalan!" Seru Orion dengan tersenyum saat memandangi punggung ayah nya yang mulai menghilang di balik pintu.


Sepeninggalan Ayah, tinggal kini Ariana dan Orion saja di kamar tersebut. Entah mengapa mereka jadi terasa sedikit canggung. Ariana teringat candaan ayah nya tadi, dan ia merasa sedikit malu.


Pengantin baru pasti ingin selalu berduaan.


Kata-kata dari Ayah mertuanya masih terngiang-ngiang di telinga Ariana. Dan itu membuat pipinya semakin bersemu merah.


"Hei...kamu kenapa?" Tegur Orion yang seketika membuyarkan lamunannya.


"Eh...apa!" Ariana merasa gugup.


"Kenapa dari tadi diam saja, cepat sini mendekat!" Seru Orion seraya menatap dalam ke arah istrinya. Jantung Ariana seketika berdebar sangat cepat. Entah mengapa, saat suaminya menatapnya seperti itu, Ariana seolah luluh dalam pesona pria yang kini bahkan sudah menjadi suami sah nya. Tapi debaran di hatinya tak pernah berkurang sedikit pun ketika berada di dekat suaminya itu. Bahkan setiap hari seolah perasaan cinta nya pada Orion kian bertambah.


Dengan malu-malu, akhirnya Ariana menuruti perintah suaminya. Ia duduk mendekat di sisi ranjang Orion.


"Lebih dekat lagi!" Seru Orion.


"Apanya yang apa!"


"Lebih dekat lagi kataku!" Orion berkata masih dengan tatapan yang sama.


"Dekatkan wajahmu!" Goda Orion sambil tersenyum simpul. "Nah sekarang cium aku!" Bisik Orion ketika wajah Ariana sudah sangat dekat dengan wajahnya.


Tapi belum sempat Ariana menjawab. Orion sudah lebih dulu menempelkan bibirnya pada bibir Ariana. Ia merasakan kerinduan yang amat sangat pada istrinya itu.


Ah dasar! Gumam Ariana dalam hati seraya berusaha memejamkan matanya.


Kemudian dengan perlahan mereka mengakhiri ciuman mereka yang terjadi cukup lama dan dalam tadi.


"Nah sekarang waktunya makan!" Ujar Ariana berusaha menghilangkan kegugupannya. Ia masih merasa malu setelah berciuman tadi.


"Disuapin ya!" Rajuk Orion manja.


"Iya!" Ujar Ariana seraya tersenyum senang.

__ADS_1


Meski bukan pertama kalinya. Mereka berciuman dan bermesraan. Tapi tetap saja getaran cinta di antara mereka berdua masih sangat kuat terasa. Semoga semua ini akan berlangsung selamanya. Harap Ariana dan Orion dalam hati.


*****


Di tempat yang berbeda.


Angel dan Sean sudah tampak sampai di rumah kediaman keluarga Angel di kota J. Mama dan Papa Angel menyambut keponakannya, Sean dengan hangat.


"Semoga kamu betah ya tinggal disini?" Ujar Pak Frans ayah Angel dengan ramah.


"Anggap saja rumah sendiri!" Tambah Ibu Casandra Mamanya Angel.


"Makasih Om, Tante, Sean sudah di bolehin tinggal disini." Ujar Sean seraya tersenyum. Ia senang Om dan tantenya ternyata sangat ramah terhadapnya.


"Ayo aku Anter kamu ke kamar mu!" Seru Angel sambil menarik koper Sean.


"Biar aku sendiri aja yang bawa!" Pinta Sean.


"Oke!" Jawab angel santai sambil mulai melangkahkan kakinya ke arah tangga. Kemudian Sean mengekor di belakangnya.


"Selesai membersihkan badan, turun ya! Kita makan malam sama-sama!" Seru Ibu Casandra yang masih berdiri di lantai bawah.


"Beres Ma!" Jawab Angel tanpa menghentikan langkah kakinya.


Tak lama kemudian Angel dan Sean telah sampai di lantai atas, tepatnya di lantai dua. Sean tampak masih mengawasi sekitar. Ia terlihat kagum melihat isi rumah keluarga Angel yang mewah dan megah.


"Ayo masuk!" Seru Angel yang sudah tampak membuka pintu sebuah kamar. Sean pun buru-buru mendekat ke arah Angel.


"Nah ini kamar kamu! Gimana?" Ujar Angel lagi saat mereka berdua tengah memasuki kamar tersebut.


Sean masih belum menjawab, ia menyapu seisi kamar dengan pandangannya. Ia kembali takjub. Kamar yang di tunjukkan Angel padanya sangat besar dan bagus.


"Ini beneran kamar buat Aku?!" Sean berkata dengan tatapan belum percaya.


Angel menggeleng pelan seraya tersenyum, merasa lucu dengan tingkah sepupunya itu.


"Iyalah...kamar kamu, memang kamar siapa lagi!" Ujar Angel menjelaskan.


"Bagus!" Seru Sean masih dengan pandangan mengawasi seisi ruangan.


"Yasudah, semoga kamu betah ya! Kalo mau cari aku, kamarku di sebelah kamar ini, sekarang kamu mandi dulu, habis itu kita makan malam bareng mama papa ku di bawah!" Angel pun segera berlalu dari kamar tersebut.


Tinggallah Sean di dalam kamar. Dan tiba-tiba ia pun teringat pesan dari ibu nya, jika sudah sampai di kota J, harus segera menghubungi orang tuanya. Ia teringat dari tadi sejak tiba di bandara, ia sama sekali belum mengabari salah satu dari orang tuanya.

__ADS_1


Setelah berhasil menghubungi salah satu orang tuanya, ia pun bergegas mandi. Ia tak ingin terlambat datang ke meja makan dan membuat Om dan tantenya lama menunggunya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2