Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Rumah Baru


__ADS_3

Tiba-tiba saja banyak wartawan dari berbagai media mendatangi kediaman Pak Alvian. Ada yang memghembuskan kabar bahwa anak sulung Pak Alvian telah menginanp di hotel dengan seorang gadis beberapa hari yang lalu. dan tujuan mereka kemari adalah untuk meminta kelarivikasi pada Keluarga Adrianao. sebab itu hanya berita saja. Tidak ada bukti foto atau yang lainya. Entah siapa yang telah menyebarkan gosip tersebut. Meskipun gosip tersebut benar adanya. Ya..Mereka kan ke hotel karena sudah menikah.lalu kenapa. Para awak media itu hanya membuat rumit saja.


Tapi untungnya Jason asistent pribadi Pak Alvian cepat membereskan kekacauan kecil ini.


"Semua itu tidak benar. Mohon awak media jangan terlalu termakan berita simpang siur yang belum benar adanya."


"Apa benar kalo Orion anak pertama pak Alvian itu play boy seperti ayahnya. Ia suka berganti-ganti pasangan. Benarkah itu?" Seorang wartawan mengajukan pertanyaan.


"Apa lagi itu. Itu sama sekali tidak benar. kalian kan tidak punya bukti. Jadi jangan bicara sembarangan. Nanti pada waktunya. kami akan menjelaskan semuanya. Sekarang belum waktunya. Nanti kalian pasti tahu cerita yang sebenarnya. Sudah ya. Saya harap sekian dulu klarivikasinya. Sekian dan terima kasih."


Fiuh..mereka semua ini merepotkan saja. siapa yang telah menyebarkan gosip muraha seperti itu. Nanti akan ku selidiki. Jason.


*******


Karena banyaknya berita miring akhir-akhir ini di layangkan pada Orion. Pak Alvian jadi merasa sedikit kawatir. Ia pun berinisiatif untuk membelikan Orion dan Ariana rumah baru. Rumah baru yang sederhana dan tidak terlihat mencolok. Dan tentu saja harus di lakukan sangat rahasia. Agar tak banyak yang mengeskpost kehidupan pribadi mereka. Dan agar mereka bisa hidup normal layaknya suami istri pada umumya.


"Apa Yah..Rumah baru? Kenapa aku harus pindah rumah segala?" Ujar Orion setelah mendengar penjelasan Ayahnya yang akan membelikannya rumah baru.


Sedangkan Ariana. Aska dan Haikal yang juga ada disana masih tampak terdiam.


Pak Alvian tersenyum tenang seperti biasanya." Ya..agar kalian semakin terbiasa saja sebagi pasangan suami istri. Dengan begitu kalian akan cepat saling jatuh cinta. Cinta itu juga bisa datang karena terbiasa. Terbiasa bersama-sama." Pak Alfian menutupi alasan yang sebenarnya. Ia juga tidak menceritakan banyaknya awak media yang datang ke rumah pagi tadi. Ia tak ingin anak-anaknya jadi merasa kawatir.


"Alasan macam apa itu." Dengus Orion sedikit kesal.


Apa !...Aku harus tinggal berdua saja dengan Orion? Ariana.

__ADS_1


"Kakak, yang di katakan Ayah itu benar. Lebih baik kalian tinggal di rumah kalian sendiri. Agar kalian juga bisa belajar mandiri." Aska menambahkan. Anak itu memang selalu sok dewasa. Begitu pikir Orion.


"Tapi kalo kak Orion pergi. Kakak ipar juga pergi. Nanti Haikal pasti jadi kesepian." Haikal langsung memasang wajah sedihnya.


"Tenang saja Haikal. Kan masih ada Kak Aska disini menemani Haikal. Lagipula kita bisa ketemu setiap hari dengan kakak ipar di sekolah. Sekolah kita kan sama." Aska berusaha menghibur Haikal yang sedang merajuk.


"Jadi cepatlah berkemas. Paman Jason akan mengantar kalian malam ini juga." Ujar Ayah memerintah.


"Apa !! Ayah selalu saja begitu. Selalu saja dadakan. Harusnya Ayah biarkan aku dan Ariana..Emm paling tidak biarkan kami yang memilih rumah yang kami suka. Kenapa Ayah selalu saja begini." Sergah Orion dengan urat leher yang hampir keluar semua. Dia selalu saja begitu. Kalo bicara selalu menggebu-gebu.


Sedangkan Pak Alvian selalu memasang wajah Cool nya. "Ayolah Orion..itu hanya masalah kecil. Ayah hanya ingi yang terbaik untukmu dan Ariana. Bukan begitu Ariana?" kini pandangannya teralih pada menantunya itu. Yang sejak tadi hanya diam saja.


Ariana memandang ke arah Orion sejenak. Sorot matanya seolah sedang bertanya. Aku harus jawab apa. Begitu kira-kira suara hatinya. "Emmm..Aku terserah Orion saja."


Sudah ku duga. Lagi-lagi pasti terserah padaku. dasar payah. Apa dia tidak punya pendapat lain selain terserah Orion saja. Pasti setelah ini Ayah akan bilang baiklah Orion. Lihatlah Ariana juga sudah setuju.pasti begitu. Orion.


Tuh kan. Benar dugaanku. Pasti Ayah selalu memuji gadis itu. Padahal kan aku yang Anaknya. Huft.


Maafkan Aku Orion. Aku tidak tahu harus jawab apa pada Ayahmu. Ariana.


"Ya..Baiklah..Baiklah..Atur Saja Sesuai keinginan Ayah." Ujar Orion sambil ingin berlalu dari tempat itu.


"Hei..kamu mau kemana?" Tegur Ayah.


"Aku mau ke kamarku lah. Aku mau membereskan bajuku. Katanya mau pindah malam ini juga."

__ADS_1


"Kalo begitu Aku juga mau permisi dulu. Aku juga akan berkemas.permisi." Ujar Ariana yang ikut berdiri dan berjalan di belakang Orion.


" Ya..baiklah. Sebaiknya kalian segera berkemas. Nanti kalian kemalaman. Kalian hanya perlu mengemas baju-baju kalian dan barang-barang yang menurut kalian perlukan. Karena rumah yang Ayah beli sudah beserta isinya. Sudah rapih dan kalian hanya tinggal menempati saja."


"Ya..Terserah Ayah saja." Orion masih bermuka masam. Sedangkan Pak Alvian hanya tersenyum santai. Ariana masih dengan wajah bingung buru-buru berjalan mengikuti Orion menaiki tangga menuju kamar masing-masing.


"Kamu senang kan sekarang." Seru Orion sesaat setelah berada di lantai atas.


"Senang kenapa?" Ariana masih bingung. Tidak tahu arah pembicaraan Orion.


" Ya..kamu senang sekarang Ayahku lebih memihakmu daripada aku. Ya kan menantu kesayangan." Orion menatap dengan tatapan menyindir.


"Kenapa kamu ini. Kamu iri ya. Kan aku memang manis. Hehe." Ariana malah tersenyum jahil sekarang.


" Cih..kenapa aku harus iri padamu. Oh..iya..Ngomong-ngomong di rumah baru nanti kita akan sering berduaan terus. Apa kamu tidak takut?" Sekarang gantian Orion yang tersenyum jahil. Wajahnya kian mendekat ke arah Ariana.


"Hei..ka..mu..mau..a..pa." Suara Ariana terbata. Sekarang ia sudah mulai ketakutan. Wajah Orion semakin dekat.


"Menurutmu Apa?"


"A..ku.." Ariana sudah semakin terdesak. Ia tak bisa melangkah mundur lagi karena di belakangnya ada tembok. Orion semakin mendekatkan wajahnya pada Ariana. "Hei..hentikan. Jangan begini. "Ujar Ariana setelah ia berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk menghindar dari Orion. Ia mendorong tubuh Orion agar menjauh darinya.


"Haha..segitu saja kamu sudah pucat pasi. Pasti sebenarnya kamu ingin kan. Tapi kamu malu." Goda Orion lagi.


" Apa sih..kurang kerjaan." Mendengus kesal seraya meninggalkan Orion. Memasuki kamarnya dan kemudian menguncinya.

__ADS_1


Apa sih yang di pikirkan Orion itu. Bikin kesal saja. Dasar mesum. Tidak tahu apa. Aku hampir berhenti bernafas tadi. Huft..bagaimana nanti ya. Kalo hanya berdua saja di rumah baru. Ahh..yasudahlah..kalo kupikirkan hanya akan bikin pusing saja. rumah baru ya..Heeemmm.


BERSAMBUNG...


__ADS_2