Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Di culik Part 5


__ADS_3

Karena kaki Ariana yang terluka. Ariana kesusahan untuk berjalan.


"Naiklah ke punggungku!" Tawar Orion sambil menyodorkan punggungnya pada Ariana.


"Apa?" Ariana malah tertegun seraya memandangi punggung suaminya yang sudah bersiap di depannya.


"Tunggu apa lagi, ayo naik! Aku akan menggendongmu sampai keluar hutan ini. Tadi aku sudah menandai setiap jalan yang ku lalui waktu mulai memasuki hutan ini tadi, jadi kita pasti tak kan tersesat lagi." Ujar Orion seraya menoleh ke arah istrinya dan tersenyum.


Ariana jadi turut tersenyum. "Kamu benar-benar cerdik sayang! Maafkan aku yang selalu ceroboh dan merepotkan mu!" Seru Ariana dengan wajah yang seketika berubah sedih.


"Hei...Sayang, kamu ini bicara apa? Kamu tidak merepotkan ku, kamu adalah pujaanku, jantung hatiku, jadi berhentilah merasa tidak enak padaku! Hemmm...Apa kamu senang sekarang?" Seloroh Orion bermaksud menggoda istrinya agar tak merasa bersalah lagi.


"Aaahhh...Kamu ini, selalu saja mbuatku seolah berhenti bernafas. Hehe!" Ariana terkekeh sambil menepuk punggung suaminya pelan.


"Kalo begitu cepatlah naik ke punggungku, sebelum tenagaku benar-benar habis. Hari sudah mulai siang dan perutku merasa lapar!"


"Baiklah kalo begitu. Aku tak kan ragu-ragu lagi!" Ujar Ariana sambil melompat ke punggung suaminya.


Mereka berdua sama-sama tersenyum, dan kemudian Orion mulai berjalan seraya menggendong Ariana di punggungnya.


Mereka terus tertawa sambil bercerita sambil menyusuri hutan yang tampak rimbun itu. Hingga tanpa terasa mereka sampai juga di bibir hutan.


Ariana pun memaksa turun dari punggung suaminya. "Sudah sampai di tepi pantai sayang, turunkan aku!" Pintanya dengan suara pelan. Ia tahu pasti suaminya sangat kelelahan karena menggendongnya tadi.


Dengan perlahan Orion pun menurunkan Ariana dari punggungnya. Ia memang sudah merasa kelelahan dan di tambah lagi perutnya yang semakin lapar.

__ADS_1


"Sayang! Apa tadi saat memancing kamu dapat ikan?" Tanya Ariana sambil berusaha berdiri mnyeimbangkan kakinya yang sakit, jadi ia harus berdiri dengan sedikit mengangkat sebelah kakinya.


Melihat itu Orion buru-buru memegangi tubuh istrinya yang hampir saja terjatuh. "Iya...Aku dapat seekor ikan yang lumayan besar tadi!" Serunya sambil terus memegangi tubuh istrinya. "Kamu tunggulah disini, biar aku yang akan mengambil ikan hasil memancingku tadi!" Lanjutnya seraya membantu Ariana untuk duduk di dekat situ. Di dekat hutan suasananya tidak terlalu panas karena tertutupi rimbunnya pepohonan. Sedangkan di pantai berpasir putih yang terhampar di hadapan mereka sudah tampak panas karena teriknya sinar matahari.


Setelah membantu istrinya untuk duduk. Orionpun segera berlari ke tengah pantai untuk mencari ikan hasil memancingnya tadi yang sempat ia lempar begitu saja karena merasa panik saat mendapati istrinya menghilang begitu saja.


Orion terhenti tepat dimana pancingannya sempat ia tinggalkan tadi. Dan beruntung ikan hasil tangkapannya juga masih ada. Senyumnya pun mengembang dan segera meraih pancingannya beserta ikannya. "Waktunya makan siang!" Gumamnya lirih sambil langkahnya kembali menuju ke tempat istrinya berada.


*****


Di tempat berbeda. Sean sudah tampak membawa pulang kembali kapal laut milik ayahnya. Ia tadi mengambil kapal tersebut di pulau seberang dengan menggunakan spit boot. Sekarang ia pun bersiap turun dari kapal yang di kendarainya tadi.


Di bawah sudah nampak ada Ayah nya juga sepupunya Angel yang memandang heran ke arahnya. "Kenapa kapal ini bisa sama kamu lagi? Katamu kapal ini di sewa oleh turis lokal sampai 3 hari kedepan. Ini baru mau menjelang dua hari kenapa kapalnya sudah sampai sini saja!" Pak Hans sepertinya tidak bisa membendung rasa penasarannya. Baru saja Sean turun dari kapal. Namun ayahnya itu sudah memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.


Sean tampak tersenyum santai. Sedangkan Angel masih diam saja menunggu Sean memberi penjelasan pada Ayahnya. "Entahlah ayah, aku hanya mengikuti perintah si penyewa kapal saja. Aku tidak tahu rencana mereka yang sebenarnya apa! Lagi pula itu bukan urusanku. Besok pagi mereka menyuruhku untuk kembali mengantarkan kapal ini ke pulau seberang itu lagi." Jelas Sean dengan gaya seolah cuek. Padahal ia memang menemukan seolah ada gelagat mencurigakan dari para penyewa kapalnya tersebut. Tapi ia tak mau begitu memikirkannya. Terlebih lagi ia tak suka jika harus ikut campur dengan urusan orang lain.


"Benar kata Angel nak. Tapi semoga tidak terjadi apa-apa atau hal yang tidak menyenangkan terjadi." Tambah Pak Hans sambil menatap ke arah Sean dan Angel secara bergantian. Wajahnya menyiratkan ke kawatiran.


"Sudahlah Yah. Penyewa kapal kita sepertinya mereka orang baik-baik. Lagipula tidak sopan kan tanya-tanya soal rencana mereka?" Sean berusaha memberikan pendapat melalui sudut pandangnya.


"Ya...Semoga yang kamu katakan itu benar nak. Ayah hanya merasa sedikit kawatir saja." Kali ini Pak Hans merasa sedikit lega. Meskipun masih banyak tanda tanya di benaknya.


"Baiklah kalo begitu. Ayo kita masuk dan makan siang bersama. Tadi aku dan bibi sudah selesai memasak!" Seru Angel akhirnya berusaha mengalihkan ketegangan yang sempat terjadi.


"Baiklah, mari!" Jawab Pak Hans seraya tersenyum ke arah Sean dan Angel. Setelah itu mereka sama-sama beranjak dari sana dan berjalan menuju rumah.

__ADS_1


*****


Di pulau seberang yang terpencil dan tak berpenghuni. Tampak Orion sibuk mengumpulkan ranting-ranting kering untuk membakar ikan yang tadi sudah sempat ia bersihkan.


Sekarang semua ranting sudah tampak terkumpul. Ia pun membawa ranting-ranting tersebut ke dekat istrinya yang sedang duduk. Sedangkan Ariana sudah tampak selesai membumbui ikan dengan bumbu yang sempat Orion bawa dari kapal tadi.


"Nah...waktunya membakar ikan!" Seru Orion dengan wajah sumringah. Karena merasa kegerahan ia pun segera melepas jaket yang melekat di tubuhnya. Tampaklah sekarang ia bertelanjang dada, karena kaos putih yang sempat ia kenakan, ia gunakan untuk membalut luka istrinya waktu di dalam hutan tadi. Ia mengikatkan jaketnya di pinggangnya. Dan kini ia siap menyalakan api di atas ranting kayu yang sudah tersusun rapi.


"Hemmm...Baunya harum ya! Perutku jadi semakin lapar!" Seru Ariana seraya memandangi Orion yang sedang membolak-balik ikan di atas api.


"Sabar sayang! Sebentar lagi juga matang!" Orion nampaknya juga sudah tak sabar untuk menyantap ikan tersebut.


"Sayang aku haus! Apakah kamu bawa minuman dari dalam kapal tadi?" Ariana mengelus tenggorokannya yang terasa kering.


"Sepertinya aku lupa membawa minum dari kapal tadi. Baiklah kamu pegang ini." Orion menyerahkan ikan yang ada di tangannya kepada Ariana. "Aku akan kembali ke kapal untuk mengambil minuman!" Lanjutnya sambil segera beranjak dari duduknya.


Lalu Orion merasa terkejut saat pandanganya sudah teralih ke laut. Ia tak melihat apapun disana. Entah sejak kapan kapal yang membawa mereka ke pulau ini tiba-tiba menghilang. Dan Orion pun baru menyadarinya.


"Ada apa sayang!" Heran Ariana yang melihat Orion diam mematung.


"Kita dalam masalah besar sayang!" Orion mengusap wajahnya tampak frustasi.


Kemudian Arianapun mengikuti arah pandangan suaminya. Sekarang ia mengerti apa yang di katakan suaminya.


"Sepertinya kamu benar sayang! Kita dalam masalah besar sekarang!"

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2