
Waktu berlalu begitu cepat, Kesehatan Orion sudah semakin membaik, Dan dokter pun membolehkan Orion untuk pulang. Bahkan sekarang ia tak perlu mengunakan kursi roda lagi untuk berpindah tempat. Perlahan namun pasti, Kini ia sudah mulai bisa berjalan kembali seperti semula, Nampaknya semangat dan perhatian yang tulus dari Ariana tidaklah sia-sia, Orion berhasil pulih lebih cepat dari yang di perkirakan dokter sebelumnya.
Ariana sengaja berdandan cantik hari ini saat hendak menjenguk Orion, Ia tahu hari ini Orion sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, Ia sengaja datang untuk sekalian menjemput, Ternyata di rumah sakit sudah ada anggota keluarga yang lain berkumpul, Ada Aska, Haikal, Juga Pak Alvian yang sengaja meluangkan waktunya untuk menjemput Orion. Beliau juga berencana agar Orion di rawat di rumah besar keluarga Adriano untuk sementara waktu.
"Ayah senang akhirnya kamu sudah pulih nak, Ayah sudah sangat tua dan mudah lelah, Ayah berharap kamu bisa segera menggantikan posisi Ayah kembali di kantor seperti sebelumnya."Ujar Pak Alvian dengan nada bercanda.
"Ya ampun Ayah, Jadi Ayah senang aku sembuh, atau senang akan segera pensiun?Hemm." Orion memasang muka masam, Ia masih duduk di atas ranjangnya, Sedangkan Aska dan Haikal yang berdiri di sisi ranjangnya hanya terkekeh saat mendengar celotehnya.
Ayah juga ikut terkekeh."Haha..Ayah senang dengan keduanya nak." Menepuk-nepuk pelan pundak Orion.
"Assalamualaikum!" Seru Ariana yang sudah berdiri di ambang pintu kamar pintu Orion. Semua yang ada di dalam kamar menoleh ke arahnya. Ariana tersenyum kemudian melangkah masuk dengan malu-malu. Merasa sedikit canggung dengan semua mata yang menatap ke arahnya. "Eh..sudah banyak orang rupanya!" Ujar Ariana seakan salah tingkah.
"Wah..lihat kakak ipar, Hari ini kakak kelihatan berbeda, Kakak pake make up, Kelihatan manis, Pasti karena ingin menyambut kepulangan kak Orion ya!" Celetuk Haikal dengan wajah polosnya.
Muka Ariana seketika bersemu merah seperti tomat."Ah..aku.." Kalimatnya menggantung, Suaranya terdengar malu-malu.
"Wah..Nak, Bagaimana kabarmu? Lama tak bertemu." Ujar Pak Alvian yang merasa senang dengan kedatangan menantunya itu.
"Kabarku baik Ayah." Ujar Ariana seraya meraih tangan Ayah mertuanya untuk bersalaman."Bagaimana dengan Ayah sendiri?" Serunya lagi seusai bersalaman.
"Seperti yang kamu lihat nak, menurutmu bagaimana?" Tersenyum ramah.
"Hehe..Ayah kelihatan sehat dan baik-baik saja, Syukurlah." Jawabnya seraya tersenyum.
"Kakak ipar apa kakak tidak ingin menyapaku juga!" Aska memasang muka merajuk.
"Aska, Kita kan sering bertemu, haruskah aku tanyakan kabarmu juga?" Tersenyum meledek.
"Tidak perlu Kakak ipar, Lebih baik kakak fokus saja pada kakakku, Lihatlah, sepertinya dia terpana melihatmu, sampai -sampai tak bisa berkata-kata." Ujar Aska dengan nada bercanda. Semua yang ada di ruangan itu jadi terkekeh karena mendengar celotehannya. Kecuali Orion, Ia memang masih tampak terdiam di atas ranjangnya, Matanya menatap lurus ke arah istrinya.
"Kenapa kamu berdandan seperti itu, bukankah itu membuatmu terlihat seperti bukan dirimu." kata Orion datar, semua yang tadinya terkekeh langsung terdiam seketika. Merasa sedikit kawatir dengan perasaan Ariana. Mereka saling tatap sejenak. Tidak mengerti dengan maksud Orion. Bukankah harusnya Orion memuji istrinya karena sudah mau berdandan untuknya. Begitu kira-kira sorot tatapan mata mereka. "Tapi lumayan, Manis juga, Aku terekesan." Lanjut Orion akhirnya seraya tersenyum.
__ADS_1
Tiba-tiba semua orang yang ada di ruangan itu merasa lega. Terutama Ariana, Hampir saja ia ngambek kalo saja Orion tak segera mengucapkkan kalimat terakhinya.
"Ya ampun Kakak, Kamu keterlaluan sekali, Aku pikir akan ada drama sepasang suami istri bertengkar tadi.hahaha." Ujar Aska seraya tergelak.
"Huh..aku pikir juga begitu, Aku berharap kakak ipar akan meninjumu tadi kak. Haha." Haikal turut meledek Kakaknya.
"Hahaha..sudah-sudah, Sebaiknya kita keluar saja, Kita tunggu di luar. Dan biarkan sepasang suami istri ini bicara." Ayah menambahkan seraya tergelak.
Wajah Ariana jadi bertambah bersemu merah."Eh .tidak perlu, Tidak perlu keluar, Kalian tidak perlu kemana-kemana Tetaplah disini, Aku hanya ingin membereskan barang-barang Orion yang akan di bawa pulang. Itu saja." Ujar Ariana dengan sedikit gugup.
"Tidak apa-apa nak, Biar kami keluar sebentar, Kalian bicaralah." Ujar Pak Alvian lagi seraya mengerlingkan sebelah matanya pada Orion. Bermaksud menjahili putra pertamanya.
"Iya, Kami akan tunggu di luar saja dengan Ayah. Kami juga tak ingin mengganggu.Hihihi." Aska menambahkan sambil melirik ke arah Haikal dan mulai tertawa cekikikan.
"Hah..apa lagi aku yang masih di bawah umur, Aku tak ingin mata polosku ini melihat adegan dewasa.Hihihi." Haikal menimpali sambil terus cekikikan.
'Ya ampun..apa-apaan ini.' Wajah Ariana jadi terasa panas. Mungkin saat ini wajahnya sudah mirip kepiting rebus.Eh Tomat rebus,Eh apa lagi ya? berpikirlah pembaca.Haha.
Sesaat keadaan menjadi hening, Tinggal ada Orion dan Ariana saja di dalam kamar." Mereka sudah keluar." Ujar Orion akhirnya, mencoba memecah keheningan.
"Ah..apa!" Ariana terhenyak, Matanya menatap ke arah Orion dengan menahan nafasnya,Eh bukan, sebenarnya menahan degup jantung yang seakan berdenyut sangat kencang saat itu juga.
"Mereka sudah keluar, Kamu boleh memelukku sekarang!" Orion tersenyum jahil pada istrinya.
Ariana membelalakkan matanya. 'Eh..dasar, Jadi itu yang dia pikirkan dari tadi .'
"Kenapa malah bengong, Cepat lakukan, Sebelum aku berubah pikiran." Kata Orion pura-pura mengancam.
Ariana masih terdiam seraya mengangkat sebelah alisnya.' Apa lagi itu maksudnya?'
"Ayolah! cepatlah sini, Kamu itu lamban sekali." Menarik Tangan Ariana yang sedang berdiri di sisi ranjang hingga jatuh ke pelukannya." Tidak tahu apa aku kangen sekali padamu." Lanjutnya saat Ariana sudah ada dalam pelukannya. Kemudian senyumnya menyembul seperti anak kecil.
__ADS_1
Arianapun turut tersenyum, Ia menyukai Orion yang bersikap manja padanya seperti anak kecil. Menurutnya itu manis sekali. Dan rasanya Pelukan ini sangat nyaman. Begitu pikirnya.
"Bukankah kita sudah sering bertemu, kenapa kamu masih saja kangen padaku, hah..dasar." Meski begitu, Ariana malah mengeratkan pelukannya.
"Memangnya tidak boleh ya!" Orion melepaskan pelukan, Kemudian menatap wajah istrinya dalam-dalam.
"Bukan begitu, memangnya kamu tidak bosan melihatku terus setiap hari." Ariana membalas tatapan dalam mata suaminya. Terlihat ada pancaran kebahagiaan disana.
"Mana mungkin aku bosan, Kamu kan istriku, Sampai kapanpun akan tetap menjadi istriku."Tersenyum.
"Kamu tidak berniat mencari... istri muda kan?" Ariana mencoba menggoda suaminya.
"Memangnya boleh?" Orion balas menggoda.
"Huh..coba saja kalo berani!" Mencubit pipi Orion gemas.
"Aughh..ini sakit tau."
"Makanya jangan bicara yang macam-macam." Sungut Ariana.
"Kamu yang mulai duluan tadi."
"Hemm!" Memanyunkan bibirnya.
Melihat istrinya merajuk, Orion menjadi gemas, Ia segera mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Berniat untuk menciumnya.
Tok..tok..."Permisi...!" Tiba-tiba suara ketukan pintu dan seruan seseorang membuat ciuman mereka gagal.
Sejenak mereka jadi sedikit canggung, Tak berapa lama ada seseorang masuk dari arah pintu.
"Maaf mengganggu !" Angel sudah tampak hadir dengan kursi rodanya di hadapan mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....