
Tanpa terasa pagi pun menjelang. Matahari sudah tampak malu-malu menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Tampaknya sekarang kapal yang di tumpangi Ariana dan Orion telah terdampar di suatu pulau. Ariana dan Orion baru saja Bangun pagi itu. Dan mereka melihat keluar kapal, kemudian mendapati hamparan pasir putih dengan latar belakang hutan di hadapan mereka.
"Kapalnya berhenti." Seru Ariana yang sudah tampak berdiri di dek kapal.
"Kamu benar sayang. Apa kamu mau turun untuk melihat-lihat?" Ujar Orion yang kini tengah berdiri di sampingnya. Matanya turut memandang ke arah daratan yang ada di hadapannya.
"Ayo kita turun sebentar dan melihat-lihat." Seru Ariana lagi sambil menatap ke arah suaminya dengan tatapan memohon.
"Baiklah kalo begitu. Tapi kita harus membawa berbagai persiapan, tunggu sebentar, kamu tunggu dsini, dan biar aku yang mengambil ke dalam." Orion pun segera melangkahkan kakinya kembali ke dalam kapal. Sedangkan Ariana menunggu di dek kapal. Pandangannya kembali ia alihkan pada daratan yang ada di hadapannya. Fajar pun kian menyingsing dan itu menambah keindahan alam pagi itu.
Tak berapa lama Orion pun kembali dengan beberapa peralatan. Ia mengambil korek api senter dan sebagainya. Bahkan ia menemukan sebuah pancingan. Ia berpikir ingin memancing ikan untuk makan hari ini. Kebetulan bahan makanan di dalam kapal juga hampir habis. Hanya tersisa beberapa camilan saja.
"Yuk...kita turun Sayang!" Seru Orion dengan mantap.
"Kamu untuk apa semua barang itu?" Ariana menatap semua barang bawaan yang ada di tangan Orion.
"Tentu saja untuk persiapan sayang. Kita harus jag-jaga, kita kan sedang tersesat. Dan pancingan ini sepertinya lumayan. Kita bisa memancing ikan hari ini untuk makan kita hari ini." Ujar Orion sambil melirik ke arah laut. Ia memberi isyarat untuk memancing di laut itu pikirnya.
"Hemmm...Kamu cerdik sayang. Tidak salah aku jatuh cinta padamu. Hehe." Ariana sedikit terkekeh.
"Iya dong. Suami siapa dulu! Hehe." Orion ikut terkekeh sambil narsis.
"Hemmm...Tentu saja suamiku!" Timpal Ariana dan mereka jadi tertawa secara bersamaan.
******
Dari dalam hutan. Seolah sedang ada seseorang yang sedang mengawasi gerak-gerik Ariana dan Orion. Tapi entah siapa. Beberapa kali berkelebat bayangan tampak mengintai. Tapi sepertinya pasangan suami istri yang tengah di intai itu belum menyadarinya. Sekarang mereka malah tampak asik bermain-main di pinggir pantai. Orion berusaha memasang umpan di kail pancingannya. Sedangkan Ariana sibuk mengumpulkan ranting kering di pinggiran hutan. Ranting-ranting kering itu nantinya akan di gunakan untuk membakar ikan jika Orion berhasil memancing ikan.
Perut keduanya sudah terasa lapar. Mengingat keduanya belum makan dari semalam.
Tanpa sengaja Ariana melihat seekor kelinci masuk ke dalam hutan. Bulunya yang putih dan tingkahnya yang menggemaskan. Membuat Ariana tergoda untuk mengikuti langkah kelinci tersebut. Sebelum sempat masuk ke dalam hutan. Ariana menoleh ke arah Orion yang sedang sibuk memancing dengan duduk di atas batu karang. Lalu ia berpikir, tidak apa-apa kalo ia masuk ke dalam hutan sebentar saja. Ia tak perlu izin pada Orion. Begitu pikirnya sambil kakinya terus melangkah masuk ke dalam hutan.
Tapi sialnya ia malah kehilangan jejak kelinci tersebut. Karena asik fokus pada sang kelinci. Tanpa terasa Ariana sudah jauh tersesat ke dalam hutan.
Di pinggir pantai, tampak Orion sudah berhasil mendapatkan mangsa pertamanya. Yaitu seekor ikan yang cukup besar, setidaknya itu sudah cukup untuk sarapan pagi ini bersama istrinya. Begitu pikirnya.
__ADS_1
"Sayang!! Coba lihat ini, kamu pasti senang dengan apa yang ku dapat!" Seru Orion dengan senyum puas mengembang. Ia pun segera beranjak dari duduknya dan ingin segera menemui istri tercintanya.
Orion menoleh kesana kemari. Tapi seolah tak menemukan Ariana dimanapun.
"Sayang!! Kamu dimana?? Jangan bercanda, ini tidak lucu!" Seru Orion lagi. Sekarang perasaanya mulai kalut dan wajahnya berubah panik.
Arianaku. Dimana kamu!
Kemudian Orion teringat tadi istrinya berkata akan mencari ranting-ranting kering di pinggiran hutan. Mengingat itu Orion segera berlari ke arah hutan dan menjatuhkan pancing dan ikan hasil tangkapannya begitu saja di atas pasir putih.
Orion kini sudah mulai masuk ke dalam hutan sambil sesekali menyerukan nama istrinya. Dan tiba-tiba sekelebat bayangan yang seolah mengintai mereka kembali muncul. Saat Orion menyadari keberadaannya. Bayangan tersebut kembali menghilang di balik pohon. Tapi Orion tak ingin begitu memikirkannya. Yang ia pikirkan saat ini adalah keselamatan istrinya.
*****
Di tempat terpisah. Arian merasa panik, ia tersesat dan tidak bisa menemukan kembali jalan menuju keluar hutan. Langkahnya semakin gontai, perutnya yang lapar membuatnya semakin lemas saat berjalan. Tiba-tiba ada suara yang mengejutkan dari dalam hutan, seperti lolongan serigala, dan itu sontak membuat Ariana merasa ngeri dan berusaha berlari dengan keadaan tubuh yang lemah, hingga alas kaki yang di kenakannya terlepas karena tersangkut batang pohon yang melintang di hadapannya. Kini kakinya yang tanpa alas kaki tertusuk duri dan terluka.
Setelah merasa aman, Ariana berhenti sejenak dari larinya. Kemudian dengan langkah tertatih ia menuju ke sebuah batang pohon besar yang membujur dan duduk di atasnya. Sambil meringis kesakitan ia berusaha memeriksa sebelah kakinya yang terluka karena tertusuk duri.
"Augghh...Sakit!" Gumam Ariana sambil meringis. Lukanya cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah. Ia tak kuasa mencabut duri yang menancap di kakinya. "Orion kamu dimana? Aku takut!" Gumamnya lagi sambil terisak.
Ah...itu seperti suara Orion. Syukurlah.
"ORIONNN....!!! Aku disini!!! Seru Ariana sambil berusaha mengusap air matanya. Rasa khawatirnya sedikit berkurang sekarang.
Ah...itu suara Arianaku.
"ARIANAAA...DIMANA KAMU!!!" Orion kembali meneriakkan nama istrinya. Sambil terus berjalan ke sumber suara yang memanggilnya tadi.
Dan akhirnya Orion menemukan keberadaan istrinya. Ia pun langsung menghambur ke arah istrinya dan langsung memeluknya. "Astaga...apa yang kamu lakukan sayang! Aku panik mencarimu!" Sergah Orion sambil memeluk erat tubuh istrinya.
"Maafkan aku, aku sudah ceroboh dan membuatmu kawatir!" Ujar Ariana sambil terisak.
Kemudian Orionpun melepaskan pelukannya. Di pandangi wajah istrinya yang sudah tampak sembab karena menangis. Kemudian dengan lembut mengusap sisa-sisa air mata yang masih tertinggal di pipi istrinya tersebut.
"Jangan takut lagi, sekarang aku disini!" Ujar Orion lembut.
__ADS_1
"Kamu tidak marah padaku? Tadi aku pergi tanpa izin dan aku jadi tersesat. Maafkan aku!" Ariana berkata masih dengan suara terisak.
Orionpun segera menempelkan telunjuknya di bibir Ariana. "Sudahlah, jangan meminta maaf padaku, kamu sangat berharga untukku. Aku kan sudah pernah bilang, sekalipun kamu pergi ke mars, aku pasti akan menemukanmu." Ujar Orion dengan sungguh-sungguh.
Dan tanpa pikir panjang, Ariana pun langsung menghambur ke pelukan Orion. "Aku sangat takut tadi, bagaimana kalo aku tadi tidak bisa bertemu denganmu lagi." Ariana membenamkan wajahnya dalam-dalam di bahu Orion.
Orion hanya sedikit tersenyum, kemudian membelai kepala istrinya dengan lembut. "Apa kamu benar setakut itu tak bisa bertemu lagi denganku! Hehe." Ujar Orion seraya terkekeh. Ia hanya berusaha menggoda istrinya agar tidak merasa tegang lagi.
Ariana pun segera melepas pelukannya. Dan memukul dada suaminya pelan. "Jahat...Tentu saja aku takut. Kamu malah menggodaku mengatakan itu!" Ariana pura-pura kesal. "Aughh...! Aku hampir lupa kalo kakiku terluka." Ringis Ariana sambil mengalihkan pandangannya ke arah sebelah kakinya yang terluka.
Kemudian Orion pun mengalihkan pandangannya ke arah yang sama. "Astaga sayang...Kamu terluka? Darahnya banyak sekali yang keluar!" Seru Orion panik.
"Iya...Sepertinya ada duri yang menancap di kakiku. Augghh...Sakit, tapi aku tidak berani mencabutnya!" Ujar Ariana lagi sambil meringis kesakitan.
"Baiklah, tenang, aku akan membantumu melepaskan duri itu dari kakimu. Tapi kamu harus tahan ya. Ini mungkin akan terasa menyakitkan. Tapi setelah itu sakitnya akan menghilang!"
Ariana hanya mengangguk mantap. Dan Orionpun segera melancarkan aksinya mencabut duri dari kaki istrinya tersebut.
"Auugghhhh...Sakittt!" Keluh Ariana hingga kembali meneteskan Ari mata.
"Tidak...apa-apa, yang penting durinya sudah tercabut. Dan kamu akan baik-baik saja setelah ini." Ujar Orion seraya melepas jaketnya. Kemudian melepas kaos putih yang membalut tubuhnya. Lalu setelah itu dengan segera membersihkan darah yang ada di kaki istrinya. Selesai dengan itu ia kemudian merobek bagian kaos tersebut dan mulai membalut luka di kaki istrinya.
"Nah selesai, setidaknya ini bisa meminimalisir lukanya, nanti setelah keluar dari hutan ini, kita obati lagi lukanya." Ujar Orion seraya tersenyum dan mengelus lembut pipi Ariana.
Ariana turut tersenyum. Merasa terharu dengan perlakuan suaminya terhadapnya. "Terimakasih sayang. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu!" Ariana meraih tangan suaminya dan menciumnya beberapa kali.
"Sudahlah, sudah ku bilang jangan berterimakasih padaku. Harusnya aku yang berkata, apa jadinya aku tanpamu!" Mencium kening istrinya lembut. Dan mereka sama-sama tertawa kecil dengan perasaan hangat.
Semua keadaan ini malah seolah menguji cinta mereka dan membuat mereka semakin mengerti satu sama lain.
BERSAMBUNG.
Readersku yang baik hati. Apalah jadinya aku tanpa kalian 😌.
Untuk itu jangan lupa untuk like, vote dan koment ya 😁😁
__ADS_1
Makasih ❤️🤭😁