
Semesta seolah sedang menuntunku untuk menuju ke arahmu. Tidak hanya di dunia mimpi. Tapi semakin dekat ke arah dunia nyata yang bergerak cepat di sekitarku. Tidak tahu bagaimana rupamu saat ini. Tapi aku merasa kamu begitu dekat. Aku hanya butuh selangkah lagi untuk memastikan semuanya.'
Orion masih tampak duduk di kursi rodanya. Kini ia sudah berada di dalam kamar inapnya setelah di antar suster yang sempat menemukannya di taman tadi. Perlahan tapi pasti. Ia berusaha dengan sekuat tenaga mendorong kursi rodanya sendiri ke arah jendela kaca yang ada di kamarnya. Dan ia tampak berhasil melakukannya. Seulas senyum kepuasan mengembang di bibirnya. Ia menyadari. Keadaan dirinya tidak lama lagi pasti akan segera membaik. Dan itu tandanya ia bisa segera menyelesaikan teka-teki tentang gadis kecil yang ada dalam mimpinya saat ia dalam keadaan koma.
Kini pandangan matanya tampak menatap lurus ke luar jendela kaca besar yang ada di hadapannya. Dari balik jendela kaca tersebut ia bisa langsung melihat ke arah taman.
Tiba-tiba ia kembali tersenyum saat mendapati seorang gadis yang kira-kira sebaya dengannya yang sedang berada di taman menggunakan kursi roda sama sepertinya. Kemarin Orion juga melihat gadis itu saat berpapasan di koridor rumah sakit. Gadis itu membawa bola hias salju mirip yang ada dalam mimpinya. Yang ia berikan pada seorang gadis kecil yang ada dalam mimpinya juga. Kali ini gadis itu juga tampak memainkan bola salju itu saat berada di taman seperti sekarang ini.
Entah apa yang ada di pikiran Orion. Apa arti dari senyumannya. Tidak ada yang tahu. Kecuali dirinya sendiri dan juga Tuhan.
******
"Asallammualaikum..Aku pulang!" Ujar Ariana dengan muka lesu saat tiba di ruko milik Ibunya. Kebetulan keadaan salon juga sedang sepi. Belum tampak ada pelanggan yang datang. Ariana langsung menghambur ke pelukan Ibunya yang tampak sedang merapikan alat-alat salon.
"Hei..kamu kenapa nak? Kenapa tiba-tiba bertingkah seperti ini?" Mengelus kepala putrinya dengan lembut."Orion..! Bagaimana dengan Orion. Siapa yang menjaga Orion di rumah sakit saat kamu kemari? Kamu sudah minta izin suamimu belum?" Ibu menyerbu Ariana dengan berbagai pertanyaan yang berkelebat begitu saja di benaknya.
__ADS_1
"Hah..sudahlah Bu. Jangan membicarakan Dia. Aku sebal dengannya. Makanya aku tinggal saja Dia pulang. Tapi aku sudah telpon Aska tadi untuk datang menjaganya." Melepaskan pelukannya dari Ibunya kemudian menuju sofa dan membanting dirinya sendiri di sana.
Ibu menatap Ariana heran. Kemudian datang mendekat dan duduk di dekat anaknya yang masih terlihat cemberut. "Nak..! Kamu sedang ada masalah dengan suamimu?" Menatap wajah anaknya dengan tatapan menyelidik.
Ariana masih tampak enggan menjawab. Ia berusaha memutar bola matanya seolah sedang memikirkan jawaban yang tepat."Sepertinya isi kepala Orion geser sehingga ia bicara yang aneh-aneh tadi." Jawabnya akhirnya sekenanya. Dan mungkin di dorong oleh rasa jengkelnya yang tak bisa di tahan lagi.
Ibu mengeriyitkan dahinya. Sekarang memandang bingung ke arah putrinya. "Hei..kenapa bicara kasar seperti itu pada suamimu sendiri. Ibu tidak suka kamu begitu. Sekarang jelaskan dengan benar. Ada apa sebenarnya." Kata Ibu tegas namun tetap lembut.
Ariana berusaha menarik nafasnya yang terasa sesak. Kemudian menghembuskanya perlahan. Mencoba meredam amarahnya sendiri. Ia ingin cerita pada Ibu tapi ia sendiri bingung harus memulai darimana. Kenapa juga Orion jadi kekanak-kanakan seperti ini. Pikirnya.
Ibu membelai punggung Ariana dengan lembut. Berusaha menenangkan putri semata wayangnya itu."Hei..sudah-sudah, Jangan terlalu sedih sayang. Semua pasti ada jalan keluarnya. Biasanya putri Ibu ini sangat kuat dan selalu optimis."Hibur Ibu seraya melepas pelukannya pada Ariana dan mulai menyeka air mata di pipi putrinya."Kenapa kamu jadi lemah seperti ini? Ibu tahu ! Pasti karena kamu sangat mencintai suamimu kan? Ibu yakin Orion juga sangat mencintaimu. Serahkan saja masalah ini pada yang maha kuasa ya. Karena Dia yang lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Sebaiknya sekarang kamu shalat supaya hatimu tenang." Kata Ibu lagi seraya tersenyum lembut.
Ariana turut buru-buru menyeka sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipinya. Kemudian mengangguk cepat untuk menjawab saran dari Ibunya."Iya Bu..maaf kalo aku terlihat cengeng saat ini." Berkata seraya menahan air mata yang tak mau berhenti keluar. Dadanya masih terasa nyeri mengingat percakapan di rumah sakit tadi dengan suaminya.
*****
__ADS_1
Ibu datang ke kamar Ariana untuk melihat keadaan putrinya itu.Tampaknya Ariana sangat lelah. Setelah selesai shalat ia tampak tertidur di kamarnya sendiri.
Ibu perlahan berjalan mendekat ke arah Ariana. Kemudian duduk bersimpuh dan mulai membelai kepala putrinya yang masih berbalut mukena. Lantas mencium kening putrinya lembut. Setelah itu meletakkan sebuah benda di tangan Ariana yang masih terlelap.Mengelus lembut kepala Ariana lagi seraya tersenyum.
'Itu adalah peninggalan dari ayahmu sayang. Ayahmu ingin kamu memilikinya ketika kamu sudah dewasa. Dan Ibu pikir sekaranglah waktu yang tepat untuk memberikan ini padamu. Kamu sudah besar. Sudah lulus sekolah. Bahkan sudah menikah. Entahlah..Ibu terlambat atau tidak memberikan ini padamu.
Tak lama. Ibu beranjak dari tempatnya semula bersimpuh duduk di samping putrinya yang masih tidur terlelap di atas sajadah. Kemudian berjalan menuju pintu untuk keluar. Sedetik sebelum akhirnya menutup pintu kamar. Ia kembali memandangi putrinya sejenak.
Semoga kamu selalu bahagia sayang. Tersenyum.
BERSAMBUNG...
Hai readers..apa kabar? Maaf baru bisa Up. aq rindu kalian..apa ada yang merindukanku juga..wkwkwk
ah nggak ada ya 😄😑😶
__ADS_1
jangan lupa ya like,vote dan comentnya..makasih 😁