
Orion mengajak Ariana kebutik langganan keluarganya. Ariana terlihat kagum melihat butik yang besar dan sangat mewah. Butik itu jauh-jauh berbeda dari butik kecil milik Ibunya. Ia masih mengedarkan pandanganya ke segala arah. Kemudian mendekat ke arah sebuah gaun yang di pajang dengan patung. Rupanya gaun indah berwarna biru muda itu menarik perhatiannya. Dan tiba-tiba wajahnya melongo saat melihat harga yang tertera pada gaun itu. Harganya berpuluh-puluh kali lipat dari harga gaun yang ada di butik Ibunya.
Orion tersenyum memperhatikan tingkah Ariana yang tampak polos dan lucu. Tapi senyumnya berubah jadi sok cool saat Ariana menyadari Orion tengah memperhatikanya.
"Kenapa? Kamu kaget ya melihat harganya. Apa kamu ingin memiliki gaun itu?" Seru Orion ketika sudah berada di samping Ariana.
Ariana tersenyum malu-malu seraya menggeleng. "Ah...tidak, tidak perlu repot-repot membelikanya untukku. Ini terlalu mahal untukku."
"Kenapa kamu ini GR sekali. Siapa juga yang mau membelikanya untukmu. Lagipula gaun itu terlalu bagus untuk gadis kampungan sepertimu."
"Eh..siapa yang kamu bilang kampungan. Bukankah kamu sendiri tadi yang menawari gaun ini padaku."
Tertawa jahat. "Hahaha..tadi aku kan hanya bertanya apakah kamu mau memiliki gaun ini. Bukan bearti aku mau membelikannya untukmu."
Ariana sudah merasa kesal. Tapi ia tahu harus bisa menahan diri. Kalo dia sampai marah. Berarti sama saja membiarkan Orion untuk menang. Karena itu memang tujuanya kan. Agar aku kesal setengah mati. Dia kan memang suka sekali mengejekku. Sabar Ariana..sabar..anggap saja semua kata-katanya itu angin lalu. Dan anggap saja Orion itu manusia transparan.
"Haha..sayang sekali ya. Padahal aku berharap sekali kamu mau membelikanya untukku."
Kenapa dia malah tertawa bodoh seperti itu. Harusnya kan dia marah ku ejek seperti itu. Kalo Ayah tak mengizinkanku menolak pernikahan ini. Setidaknya aku bisa membuat gadis ini menyerah kan?
"Hentikan omong kosongmu itu. Bermimpilah kalo aku akan membelikanya untukmu."
"Ah maaf mengganggu, rupanya Anda ada disini, Saya mencari Anda tadi. Saya ingin memberitahukan kalo kebaya pengantin untuk calon istri anda ada di sebelah sana. Mari saya antar untuk memilih-milih." Tiba-tiba manager butik datang dan membuat pertengkaran kecil tadi terhenti.
Apa? Calon istri. Kenapa aku sangat geli sekali mendengarnya. Ariana.
__ADS_1
Apalagi aku. Aku lebih jijik lagi mendengarnya. Melirik tajam ke arah Ariana seolah bisa membaca isi hatinya dari sorot matanya.
Kemudian Ariana membuang muka dan mengikuti intruksi sang manager butik. Dan Orion berjalan mengikuti di belakang dengan langkah malas-malasan.
Ariana sudah memilih bajunya dan bersiap mencoba bajunya di ruang ganti. Tak lama kemudian Ariana keluar dari ruang ganti dengan mengenakan kebaya pilihanya.
"Anda terlihat manis dengan kebaya itu." Puji sang manager butik.
Orion duduk santai di sebelah sang manager. Berlagak sok menilai. "Hei anda jangan berkata bohong seperti itu. Baju itu sama sekali tidak terlihat manis di kenakannya."
"Maaf." Manager butik seketika menundukkan kepalanya.
"Entahlah..Rasanya melihatmu mengenakan kebaya itu. Kenapa tubuhmu terlihat malah menyusut. Kamu terlihat makin pendek saja dengan kebaya itu."
Mata Ariana seketika mendelik dan seolah hampir lepas. Tanganya mengepal menahan emosi. Kemudian ia kembali ke dalam ruang ganti untuk mencoba kebaya yang lainya. Orion tertawa melihat ekspresi Ariana. Kena kamu ya.
"Kenapa mukamu, belum pernah ya lihat orang tampan." Seketika suara Orion membuyarkan angan Ariana.
Ternyata selain menyebalkan ia juga menderita penyakit narsis tingkat tinggi. Ya memang sih aku akui dia tampan. Tapi nggak perlu juga kali narsis begitu.
"Haha..ya.. ya.. sepertinya bgitu." Ya aku belum pernah melihat orang tampan senarsis dirimu. Bergumam.
"Apa kamu bilang?"
"Tidak..aku tidak bilang apapun. Aku hanya bilang anggap saja aku memang bilang tampan padamu." Seraya tersenyum menahan muak.
__ADS_1
"Kenapa harus menganggap. Memang aku sudah tampan tanpa kamu puji sekalipun."
*Y*a..ya..terserah padamu sajalah mau bilang apa. Aku merasa waras jadi mengalah saja.
"Kamu sendiri sudah selesai memilih kebayamu?" Matanya melihat ke arah Ariana. "Hemm..kali ini lumayan juga pilihanmu. baiklah sekarang lepaskan kebayamu lalu kita pulang."
Ariana tertegun. Sepertinya Orion salah bicara.
"Sorry ralat. Maksudku bergantilah pakaian. kita bayar pakaian ini di kasir lalu kita pulang oke." Buru-buru pergi dari hadapan Ariana karena merasa malu telah salah bicara tadi.
Lepaskan kebayamu? Bicara apa aku tadi ini. semoga dia tak berpikir kalo aku ini sedang mesum.huft.
******
Hari sudah mulai gelap saat mereka berdua keluar dari butik. Tadi di butik Ariana sudah sempat shalat magrib terlebih dahulu. Diam-diam Orion jadi kagum juga dengan ketaatan Ariana dalam beribadah. Sedangkan ia sendiri shalatnya masih bolong-bolong. Bahkan kadang malah meninggalkan shalat. Sekarang ia baru faham dengan kata-kata Ayahnya yang mengatakan kalo Ariana adalah gadis yang baik. Tapi sayangnya Orion belum mau berdamai dengan perasaanya sendiri. Ia masih kesal dengan Ariana yang telah menipunya mentah-mentah saat itu. Dan ia juga belum menemukan bukti siapa sebenarnya yang telah menyebarkan foto-foto dirinya dengan Ariana dan menyebarkan gosip murahan sehingga hal itu juga yang harus memaksanya menikah dengan Ariana. Ia tak ingin kecewa untuk kedua kalinya. Rupanya Orion masih mencurigai Ariana sebagai pelakunya.
"Orion. kamu lapar nggak? Ayo mampir sebentar ke rumah, kita makan bersama, Ibu pasti sudah masak yang enak-enak untuk kita." Kali ini tatapan Ariana terlihat lebih tulus. Membuat Orion sedikit luluh.
"Tidak..aku tidak lapar. Aku merasa capek. Aku ingin pulang saja dan beristirahat di rumah." Dengan nada normal. Tidak ada sringai jahat atau yang lainnya nampak di wajahnya.
"Baiklah kalo begitu. Hati-hati ya di jalan." Tersenyum manis seraya melambaikan tangan.
"Ya..aku pergi dulu ya." Menyalakan mesin motor lalu melesat pergi.
Sesaat saat akan masuk ke dalam rukonya. Ariana tergerak memeriksa tas belanjaanya. sepertinya isi di dalamnya milik Orion. Tas belanjaan mereka tertukar.
__ADS_1
"Hah..bagaimana ini? Cerobohnya aku." menepuk jidatnya sendiri.
BERSAMBUNG...