
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalu celah hordeng jendela kaca yang terbuka sedikit, membuat mata Ariana kesilauan dan terbangun dari tidurnya.
"Astaga jam berapa ini? Ia teringat belum shalat subuh, ia pun bergegas bangun dan berlari ke kamar mandi dengan membawa serta selimutnya, karena ia sadar sedang tak mengenakan apapun di tubuhnya saat ini. Bahkan ia tak sempat berpikir kemana perginya Orion? Karena pria itu sudah tidak ada di sampingnya saat ia membuka mata.
Selesai membersihkan diri dan berpakaian, Ariana segera menunaikan shalat Subuhnya yang sudah sangat kesiangan. Kemudian bergegas turun ke meja makan dengan pakaian rapih endak ke kampus.
Di meja makan ia sudah melihat suaminya, kemudian Ayah mertuanya dan juga Haikal, dan seharusnya ada penghuni satu lagi, Aska. Dimana anak itu? Bukankah siang kemarin dia sudah pulang kemping? Pikir Ariana sambil menarik kursi kemudian turut duduk di meja makan bergabung dengan yang lain.
"Kok kamu nggak bangunin aku sih sayang!" Rutuk Ariana dengan suara lirih pada suaminya yang duduk tepat di sampingnya
"Kau tidur sangat pulas, aku jadi tidak tega membangunkannya," jawab Orion sambil melap mulutnya karena sudah selesai makan.
"Aku jadi shalat subuh kesiangan, lain kali bangunkan aku!" Dengus Ariana lagi dan membuat Orion hanya terkekeh kecil.
"Iya!" Jawabnya singkat kemudian. Ia sedang tak ingin berdebat dengan istrinya pagi ini.
"Ehem!" Ayah berdehem untuk memperingatkan anak dan menantunya agar berhenti berbisik-bisik, membuat Ariana dan Orion terdiam seketika dan hanya saling tatap sejenak.
"Oya yah, Aska kemana? Kenapa dia belum turun untuk sarapan bersama kita?" Tanya Ariana kemudian memecah keheningan yang sempat terjadi.
Pak Alfian tak langsung menjawab, ia melirik ke arah Orion sekilas, sorot matanya seolah sedang bertanya pada Orion,
Ayah harus jawab apa pada istrimu?
"Dia, pergi ke suatu tempat tadi malam, nanti ku ceritakan saja di mobil, ayo cepat selesaikan sarapanku, dan kita berangkat!" Ujar Orion kemudian menggantikan ayahnya menjawab pertanyaan istrinya.
Pergi kemana?
Tanya Ariana dalam hati, ia merasa ada yang tidak beres, tapi ia tak ingin lanjut bertanya.
"Haikal sudah selesai makannya?" Tanya pak Alfian kemudian pada putra bungsunya yang ada tepat di sebelahnya.
__ADS_1
"Udah yah!" Jawab Haikal seraya meraih segelas air putih di hadapannya kemudian meneguknya hingga tandas. Kemudian meletakkan gelas kosong itu kembali di atas meja, mengambil lap, dan bergegas membersihkan mulutnya dengan lap tersebut. "Yuk berangkat!" Lanjutnya setelah urusannya selesai di meja makan.
"Baiklah, Orion, Ariana, ayah duluan, ayah akan mengantar Haikal ke sekolah!" Seru ayah seraya bangkit berdiri, kemudian mulai berjalan beriringan bersama Haikal keluar rumah.
"Apa terjadi sesuatu?" Bisik Ariana di telinga suaminya saat ayahnya dan juga Haikal sudah menghilang dari meja makan. Ariana tak bisa membendung rasa penasarannya, karena ayah mertuanya dari tadi terlihat sangat murung, tidak seperti biasanya yang tampak selalu bersemangat.
Orion menghembuskan nafas kasar, "Semua ini gara-gara anak itu!" Orion merasa sedikit kesal, "tapi aku dan ayah akan berusaha untuk segera mengatasi masalah ini, jangan kawatir, semua akan baik-baik saja!" Jelas Orion kemudian tangannya bergerak mengelus kepala Ariana yang terbalut hijab itu dengan lembut.
"Maksudmu yang di maksud dengan anak itu, Aska?" Tanya Ariana lah sambil memasukkan potongan roti isi ke dalam mulutnya.
"Iya, siapa lagi, nanti saja ku ceritakan saat kita sudah di mobil," ujar Orion lagi memperingatkan, "Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?" Goda Orion kemudian sambil mengerlingkan matanya, membuat pipi Ariana seketika memerah. Ia pun buru-buru mengambil segelas air putih kemudian meminumnya untuk menghilangkan rasa gugup yang menyerangnya tiba-tiba. Ia sangat malu mengingat kejadian semalam yang ia lakukan bersama suaminya.
"Kenapa tanya begitu?" Sahutnya kemudian dengan malu-malu.
"Apa nanti malam kita perlu mengulanginya lag!" Melihat pipi Riana yang makin memerah membuat Orion tergerak ingin terus menjahili istrinya tersebut.
"Eh..., apa-apaan sih, hentikan, aku malu tau!" Seru Ariana sambil mencubit pelan perut Orion.
"Ah, benarkah? Maafkan aku sayang, kamu sih menggodaku terus!" Dengus Ariana pura-pura kesal.
"Tapi bohong!" Orion tergelak merasa menang.
"Ih..., apaan sih nggak lucu!"
"Tapi kamu suka kan?" Goda Orion lagi masih dengan terkekeh.
"Nggak sama sekali!" Sahut Ariana dengan nada marah.
"Hemm...," Orion menjebikkan bibir bawahnya, "Ngambek, ntar cantiknya ilang loh!"
"Biarin!" Sahut Ariana ketus
__ADS_1
"Yaudah deh, maaf!" Orion berkata dengan sorot mata mengiba. Membuat Ariana tidak tahan untuk tertawa.
"Nah, gitu dong ketawa, kan cantik!" Puji Orion seraya tersenyum hangat, dan Ariana balas tersenyum dengan malu-malu. Sudah hamoir setahun menikah, tapi tingkah mereka berdua masih seperti orang pacaran.
"Yuk, berangkat!" Ujar Ariana kemudian saat sudah menyelesaikan makannya.
"Oke!" Orionpun bergegas bangkit berdiri dari duduknya dan di ikuti pula Ariana.
"Kau sekelas dengan Sean?" Tanya Orion pada istrinya tiba-tiba saat sudah berada di dalam mobil yang melaju.
"Em..., enggak, kan beda jurusan!" Jawab Ariana datar.
"Syukurlah!" Orion diam-diam merasa lega.
"Kenapa memangnya?" Tanya Ariana polos.
"Masih pura-pura bertanya lagi, ya jelas kalo kalian sekelas, aku tidak bisa tenang, huh...," Dengus Orion kesal.
"Sayang, aku seneng kamu cemburu, tapi aku mohon percalah sama aku, karena sampai kapanpun aku cuma cinta sama kamu!" Jelas Ariana dengan suara lembut dan seketika membuat wajah Orion memerah.
"Aku selalu percaya sama kamu sayang, tapi aku tidak percaya dengan laki-laki itu, aku masih ingat cara dia memandangmu, rasanya aku ingin terus menghajarnya jika masih berani seperti itu!" Jelas Orion lagi dan membuat Ariana jadi geleng-geleng kepala heran.
"Oke, aku akan sebisa mungkin jaga jarak agar tidak bertemu dengannya di kampus, apa kamu sudah lega sekarang?" Ariana masih berkata dengan lembut dan sabar. Dan Orion pun langsung terdiam.
"Maaf kan aku sayang, apa kamu tersiksa punya suami posesif seperti aku?" Mata Orion tiba-tiba terlihat seperti orang yang merasa bersalah.
Arianapun mengeleng cepat, "jangan bicara begitu, aku terima kamu apa adanya, sejak awal kita menikah, aku ingin selalu berusaha memahami kamu, jadi kita sama-sama saling belajar untuk memahami ya?" Ujar Ariana seraya tersenyum teduh, membuat Orion seketika merasa lega.
"Makasih ya sayang, kamu selalu sabar dan pengertian sama aku," balas Orion seraya tersenyum lembut, dan tangan satunya bergerak menyentuh kepala istrinya dengan lembut juga, mereka pun saling tertawa kecil bersama.
Sementara tangan Orion yang satunya sibuk menyetir, tangan satunya lagi memegang tangan istrinya erat. Mereka benar-benar terlihat seperti orang yang sedang kasmaran setiap harinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.