Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Malu-malu tapi sebenarnya mau


__ADS_3

Ternyata rumah baru yang di beli Pak Alvian memang sangat sederhana. Rumahnya hanya terdiri dari dua kamar tidur. satu kamar mandi. dapur dan ruang tamu yang sekaligus sebagai ruang menonton televisi. Lingkungan di sekitar perumahan itu juga masih sangat sepi.masih banyak rumah yang kosong. meskipun kompleks tapi jauh dari pusat keramaian kota. Pak Alvian sengaja membelikan rumah untuk Orion dan Ariana disana. karena di sana letaknya aesikit tersembunyi. Jadi para pewarta media tak kan pernah terpikir kalo Orion anak sang CEO kaya raya tinggal di tempat sederhana seperti itu.


*****


Pagi-pagi. Di rumah baru mereka. Ariana sudah tampak bangun dari tudurnya. tadi setelah shalat subuh ia segera pergi ke dapur.memasak nasi goreng untuk sarapan mereka berdua sebelum berangkat ke sekolah.


Tak lama kemudian nasi gorengpun telah matang dan siap untuk di hidangkan. Segera Ariana menatanya di meja makan yang berukuran minimalis. Ia melirik kamar Orion yang masih tertutup. Sepertinya Orion belum bangun. begitu pikirnya. meskipun sekarang mereka tinggal satu rumah. tapi mereka masih tidur di kamar terpisah.


Tiba-tiba Ariana teringat akan sesuatu. Ia segera bergegas pergi ke kamarnya sendiri.


"Ini dia! " Serunya saat meraih sebuah benda."Aku sudah siapakan ini untuk Orion."Lanjutnya seraya melangkah keluar kamar dengan senyum riang.


Tok..tok..


Di ketuknya kamar Orion perlahan. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Ia pun mencoba untuk membuka pintunya. Terbuka. Ternyata tidak di kunci. Ariana mengintip ke dalam. Tak ada tanda-tanda keberadaan Orion disana. Kemudian ia membuka pintunya lebih lebar lagi untuk memeriksa. Benar-benar tak ada Orion disana.


Bersamaan dengan itu. Terdengar suara gemricik air di kamar mandi. Mungkin saja Orion sedang mandi. Begitu pikirnya. Ariana pun mulai memasuki kamar Orion. Bermaksud meletakkan benda yang di bawanya di ranjang Orion. Tapi matanya malah terbelalak saat mendapati beberapa majalah pria dewasa berserak di ranjang itu. Di majalah itu terpampang foto-foto wanita cantik yang berpose.ah..Entahlah.


Ariana segera saja ingin keluar dari kamar Orion. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Orion sudah ada di depan pintu kamar seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada.


Mata Ariana membulat. Merasa panik. Ia ingin segera keluar tapi tak sempat lagi.


"Apa yang kamu lakukan di kamarku?" Seru Orion. Matanya kemudian tersadar pada majalah yang belum ia bereskan tadi. "Kenapa masuk kamar orang tanpa izin." Lanjutnya dengan nada sedikit ketus. Semua itu ia lakukan demi menutupi rasa malunya pada Ariana. Kemudian ia segera membereakan majalah-majalah tersebut dari ranjangnya dan memindahkanya ke laci meja belajarnya.


Ariana merasa heran dengan tingkah Orion. Kemudian ia menatap Orion dengan tatapan aneh.

__ADS_1


"Kenapa malah menatapku terus seperti itu." Sergah Orion lagi.


"Apa yang ada di pikiranmu itu hanya tentang hal-hal semacam itu." Ariana lagi-lagi mengeriyit.


"Apa maksudmu? Aku kan cowok. Jadi wajar kan kalo aku memikirkan hal yang begitu." Wajah Orion sudah tampak memerah seperti anak kecil yang ketahuan dapat nilai nol oleh ibunya.


"Cih.." Tatapan Ariana berubah sinis. "Menggelikan sekali."


"Apa kamu bilang? memangnya kenapa? jangan memandangi aku seperti itu. Katakan mau apa kamu ke kamarku tanpa izin." Bukan Orion namanya kalo mengaku kalah dan mengalah.


"Ya..terserah padamu sajalah. Aku kesini hanya ingin memberikan ini." Ujar Ariana seraya menyerahkan benda yang sengaja ia bawa dari kamarnya tadi.


"Apa ini?" Orion meraihnya. Sejenak ia masih terlihat bingung.


"Itu adalah sarung dan peci. Aku berharap kamu menggunakannya untuk shalat. Karena aku tidak mau punya suami yang tidak taat beribadah." Ariana menjelaskan dengan lembut.


Ariana baru saja mau melangkah pergi. Tapi Orion buru-buru mencekal tangannya. Ariana merasa tersentak. Mau tidak mau ia menghadap ke arah Orion.


"Ka..mu. Mau apa?" Ujar Ariana terbata. matanya membalas tatapan Orion.


"Aku juga tidak mau punya istri yang tidak menurut pada suami."


"La..lu..ka..mu mau apa?" Ariana masih terbata. Sekarang ia bisa merasakan hembusan nafas Orion yang sudah sangat dekat ke arah wajahnya.


"Aku mau sesuatu yang bisa membuatku senang." Orion Berbisik di telinga Ariana dengan suara menggoda. Kemudian menyibak rambut Ariana untuk melihat ke lehernya. Ia tersenyum. "Rupanya kiss mark yang ku berikan waktu itu di hotel sudah mulai menghilang. Dan aku ingin membuatnya lagi untukmu." Lanjutnya lagi seraya menelusuri pipi Ariana dengan jarinya.

__ADS_1


Kini tubuh Orion makin membungkuk karena Ariana berusaha menghindarinya. Dan akhirnya Ariana malah terjatuh ke ranjang. Orion terus saja mendesaknya. Kini ia sudah menindih tubuh Ariana. Sepertinya ia tak bisa menahan diri lagi untuk mencium gadis itu. Di ciumnya bibir Ariana dengan lembut. kemudian ciumannya turun ke leher.


Kenapa kamu tidak menolak saat aku menyentuhmu seperti ini. Apa kamu juga menyukaiku ? atau bahkan mencintaiku ? katakan Ariana. aku ingin dengar. Agar aku tidak merasa bersalah padamu karena melakukan ini padamu. Aku tidak ingin kamu melakukannya karena kewajibanmu saja sebagai istriku.


Orion terus saja menyusuri leher Ariana dan membuat kiss mark baru di sana.


Kenapa..Kenapa aku tak bisa menolak. apakah aku sebenarnya menyukai sentuhan ini. kenapa? Padahal aku belum tahu perasan Orion yang sebenarnya. Apa dia menyukaiku atau tidak.


Orion mulai memberanikan diri membuka kancing piama yang di kenakan Ariana satu persatu.


Aku ingin tahu reaksimu jika aku berbuat lebih.


Kancing baju piama Ariana sudah tampak terbuka. Kini Tangannyapun sudah mulai menyelinap ke balik baju.


Ariana merasa panik sekarang. Ia tahu. Ia harus segera menghentikan semua ini sebelum terlambat. Ariana mendorong Dada Orion yang bidang dengan perlahan sebagai tanda penolakan. Orion mengerti. Ia juga tak ingin memaksa.


Kini Orion sudah berdiri di sisi ranjang. Sedangkan Ariana terduduk di ranjang dan segera mengancingkan piamanya kembali. wajahnya masih tertunduk dan tertutupi rambutnya yang tampak berantakan.


"Aku..mau mandi dulu. Aku takut terlambat ke sekolah." Ujar Ariana sambil buru-buru berlalu dari hadapan Orion. Ia tak berani menatap Orion karena merasa sangat malu.


Orion tersenyum melihat tingkah Ariana.


Sepertinya tadi ia sebenarnya juga mau. Tapi entahlah apa yang membuatnya ragu. Wajahnya yang malu-malu tapi sebenarnya mau. Membuatku semakin gemas dan penasaran saja padanya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1




__ADS_2