
Sejak kepergian Aska menjemput Ariana untuk membeli cincin pernikahan. Wajah Orion tampak gusar. Ia terus saja mondar-mandir di ruang keluarga. Mulutnya komat-kamit seperti mbah dukun sedang baca mantra haha. Sepertinya ia sedang mengumpat Aska atau Ariana berkali-kali. Entahlah. Tak jauh dari situ tampak pula Haikal sedang tiduran di sofa santai . Tv menyala. Tapi tak ada yang menontonya. Haikal tampak sibuk dengan Hp nya. memainkan game online dan sesekali menoleh ke arah Orion yang mondar-mandir seperti ayam betina mau bertelur.
"Kak Orion sebenarnya sedang apa sih. Kakak jadi mengganggu kosentrasiku tahu nggak. Lihat nih. Permainan game ku jadi kalah kan. Huft."
"Kamu kalah bukan karena aku. Tapi karena kamu nggak bisa main. Kalo kamu merasa terganggu kenapa tidak pindah saja ke kamarmu. Dan berhentilah mengganguku." Seraya duduk dan mengganti-ganti chanel tv dengan muka kesal.
"Sudah jam berapa ini. Kenapa si introvert itu belum pulang juga. Apakah gadis itu sungguh senang jalan dengan anak ingusan seperti itu hah." Gumam-gumam menggerutu.
"Kakak itu kenapa sih. Kak Orion pasti sedang menhawatirkan Kak Ariana ya?" Haikal tertawa nakal bermaksud menggoda.
"Kenapa juga aku harus menghawatirkannya. Aku sedang menghatirkan Aska. Dia itu masih sangat muda. Tidak seharusnya dia tertarik dengan gadis yang lebih tua darinya. Bagaimana kalo gadis itu merayunya hingga ia hilang akal sehatnya. Bisa-bisa hancur masa depannya."
"Siapa yang kakak maksud gadis yang merayu Kak Aska. Maksudnya kak Ariana ya? sepertinya kakak salah menilai. Mana mungkin kak Ariana melakukan hal itu kepada kak Aska. Kak Orion terlalu berlebihan. Jangan-jangan memang benar kakak cemburu ya dengan kak Aska yang jalan dengan Kak Ariana hari ini. Benar kan?" Mata Haikal menyelidik.
__ADS_1
"Bicara apa kamu ini. Jangan sembarangan ya. Aku sama sekali tidak bernapsu dengan gadis kampungan itu dan aku tidak cemburu dengan si introvert itu. Lagi pula siapa yang peduli. Pergi sana ke kamarmu. Jadi anak kecil jangan suka sok tahu."
"Hah..yasudahlah..Aku juga malas bicara sama kakak. Aku juga mau pergi ke kamarku tanpa kakak suruh. Dan lagi bicara sama kakak sama saja bicara sama tembok." Kata Haikal seraya bangkit dari duduk dan melanggkah menuju kamarnya.
"Hei..Apa maksudmu sama saja bicara dengan tembok saat bicara denganku. memangnya aku muka tembok apa. Mukaku kan tampan." Bicara dengan setengah berteriak "Lagipula muka tembok itu kan artinya tidak tau malu.huft." Bergumam lirih.
"Memang kakak tidak tahu malu kan. Buktinya sudah ketahuan tapi tidak mau mengaku. Hee." Goda Haikal sebelum memasuki kamarnya.
"Hei..Bicara apa kamu!" Wajah Orion bertambah kesal. "Apa yang dia katakan. Apa maksudnya. Ah..anak zaman sekarang memang seperti orang dewasa saja tingkahnya. Apa mungkin itu efek terlalu banyak makan micin."
******
Keesokan paginya di rumah besar itu. Saat di meja makan. Aska menyantap makanannya dengan muka tenang. Awalnya Orion berlagak tak peduli. Tapi karena di dorong rasa penasaranya ia jadi tak tahan lagi untuk bertanya pada Aska tentang Jalan-jalanya kemarin bersama Ariana.
__ADS_1
"Kenapa semalam kamu pulang larut malam sekali. Kamu tahu kan. Kamu itu masih sekolah. Harusnya kamu sadar tanggung jawabmu."
Tapi Aska terlihat tak bergeming. Masih dengan muka datar ia melahap roti bakar yang ada di hadapanya dengan santai.
Orion sudah mulai kesal karena bicaranya tak di tanggapi. "Hei..Telingamu itu dengar tidak. Apa karena jalan dengan gadis itu telingamu jadi mendadak tuli begitu."
Dengan pembawaan yang tenang seperti biasa. "Kalo hanya ingin menasehatiku. Lebih baik kakak simpan nasehat itu untuk diri kakak sendiri."
"Hei..Apa maksudmu."
"Tanya sendiri dengan diri kakak. Sudah ya aku mau berangkat sekolah dulu. Nanti saja kalo mau bicara lagi setelah aku pulang sekolah."
Apa-apaan dia. Berani-braninya dia Mengabaikanku dan bicara begitu padaku. pasti ini gara-gara gadis itu. Pasti dia yang sudah mencuci otak Aska.
__ADS_1
BERSAMBUNG...