
Seorang laki-laki paruh baya tampak sedang duduk santai serta bercanda ria bersama beberapa clientnya di sebuah restoran bintang lima. Tiba-tiba seorang pria yang lebih muda menghampirinya dan membisikkan sesuatu di telinganya. Ia tampak serius mendengarkan dan tiba-tiba air mukanya berubah. Kemudian pria muda itu menyodorkan Hp nya pada Bosnya.
"Coba anda lihat ini kalo anda belum percaya."
"Bukankah di foto itu tampak jelas itu adalah muka putra anda. Dia bersama seorang gadis memasuki rumah anda." Bicara dengan suara pelan setengah berbisik.
"Hemm lalu apa masalahnya."
"Beritanya sudah menjadi trending di sosial media. Para netizen bilang putra anda tinggal bersama dengan seorang gadis tanpa ikatan pernikahan. Apa anda tidak menghawatirkan pandangan orang lain tentang putra anda, takutnya rumor ini makin merebak dan membuat bisnis anda juga terganggu."
"Benar juga katamu, lalu apa rencanamu?"
Asistent pribadi itu kembali mendekat ke telinga bos nya hingga suaranya tak bisa terdengar oleh para client yang tersadar dan saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung.
"Kalo begitu baiklah, tunda semua jadwalku untuk beberapa hari ke depan, dan pesan tiket untuk hari ini. Malam ini juga kita akan kembali ke Jakarta."
*********
Ariana berjalan mengendap-endap menuruni tangga, ia berencana akan ke sekolah hari ini juga. Tadi pihak sekolah telah menelponya untuk meminta penjelasan.
"Nona sedang apa disitu?"
seorang pelayan memergokinya saat ia berjalan mengendap-endap melewati dapur.
ia meringis panik. Lalu segera memutar tubuhnya dan tersenyum riang." Aku hanya ingin pergi keluar sebentar cari udara segar. aku bosan di dalam kamar terus."
"Cari angin segar dengan membawa tas besar?" matanya tertuju pada tas punggung Ariana yang tampak penuh karena berisi seragam sekolahnya.
dengan muka berlagak santai." Oh..ini? ya aku membawa beberapa keperluanku dan sesuatu untuk temanku. Ya aku mau pergi ke rumah teman." Menghembuskan nafas cepat.
jeli juga matanya, apa dia detektif, apa dia sengaja memata-mataiku.
"Tapi kata tuan muda anda belum boleh pergi kemana-mana, anda harus banyak istirahat."
__ADS_1
"Hah..Dia berlebihan, aku sudah tidak apa-apa kok. Aku hanya ingin keluar sebentar saja. boleh ya."
"Tapi nona.."
" Ahh..jangan kawatir begitu, aku janji akan pulang lebih awal sebelum dirinya. Apa kamu tenang sekarang."
*H*uh..benar-benar merepotkan sekali.
"Baiklah kalo begitu tapi kalo tuan muda marah jangan bawa-bawa saya non."
" Hah..Tenang saja, ini akan jadi tanggung jawabku sendiri. Kalo begitu aku pergi ya. Dah!"
pelayan menggelengkan kepala heran lalu kembali pada aktifitasnya lagi di dapur.
********
Ariana nampak sedang mengganti bajunya dengan seragam sekolah di wc umum yang tak jauh dari sekolahnya. Setelah rapih ia segera menuju sekolahnya. Saat memasuki halaman sekolah. Murid-murid lain memandanginya dengan tatapan tak biasa. Dan saat berpapasan dengan angga, Angga yang biasa menyapanya dengan riang, kini tampak acuh dan memandang tak suka padanya. Ia pun sengaja berjalan dengan menyenggol keras pundak Ariana dan berlalu begitu saja. Tak jauh dari situ tampak Pinkan dan kedua cecunguknya datang menghampiri.
" Apa maksudmu?"
" Jangan pura-pura nggak tau deh. Kamu pasti sudah baca pesan berantai itu kan."
"Itu bukan urusanmu. Minggir aku mau ke ruang para guru." Mendorong tubuh pinkan.
" Beraninya kamu." Matanya mendelik lalu tersenyum mengejek "liat saja kamu. Kamu pasti akan di keluarkan dari sekolah ini. Dasar cewek murahan."
"Iya benar..dasar cabe. Hahaha." Kedua cecunguknya ikut tertawa terbahak.
Ariana mengepalkan tangannya geram. Tapi ia memilih pergi dari tempat itu dan segera menuju ruang para guru.
Sesampainya di ruangan para guru. Mata para guru sudah menatap serius ke arahnya.
" Permisi pak, bu." Seraya senyum terpaksa.
__ADS_1
"Masuklah. Kami sudah menunggumu sejak tadi."
Di luar tampak si Pinkan dan beberapa murid lainya mengintip dari jendela kaca ruang guru.
"Ariana apa benar yang di katakan pesan berantai itu? kamu tinggal serumah dengan seorang pria tanpa menikah?"
"Itu tidak benar sepenuhnya bu."
"Lalu apa pembelaanmu?"
"Kami memang tinggal serumah tapi kami tidak melakukan hal-hal yang melanggar asusila."
"Apa maksud kamu. Jadi semua benar. meskipun kamu berdalih apapun. Tapi tetap saja tinggal seatap dengan seorang pria tanpa menikah. Siapa yang tau kalian berbuat apa."
"Tapi bu. Sungguh saya tidak melakukan apa yang kalian pikirkan."
"Tapi..Ariana kami minta maaf sekali. Apapun alasanmu, kamu telah mencoreng nama baik sekolah. Dan kami terpaksa harus mengeluarkanmu dari sekolah ini demi nama baik sekolah ini."
"Tapi Bu, Pak. ini tidak adil. Saya tidak melakukan apapun yang kalian tuduhkan saya punya alasan tersendiri untuk itu."
"Jadi menurutmu tinggal serumah dengan pria tanpa menikah itu bukan suatu kesalahan. Kami lah yang salah menilaimu begitu. Dan kami harus tetap mempertahankanmu begitu. Katakan sesuatu."
" Tidak Bu, Pak..Kalian benar. Saya lah yang salah. Saya akan menerima keputusan ini. Terimakasih."
"Ini keputusan yang berat juga untuk kami, mengingat kamu siswi berprestasi. Tapi kami harus mengambil langkah ini untuk menyelamatkan nama baik sekolah. Kami harap kamu mengerti posisi kami."
Kalian hanya memikirkan diri kalian saja. Apa kalian mengerti posisiku saat ini. Bagaimana caranya aku menjelaskanya pada ibu. Aku malah jadi begini sekarang.
"Baik Bu..Pak..saya mengerti. Terimakasih atas bimbinganya selama ini. Saya permisi dulu." Keluar ruangan dengan perasan hancur dan hampir menangis.
Ia berlari melewati Pinkan dan teman-temanya yang mengejeknya. Ia tak ingin bertengkar sekarang. Ia kembali berpapasan sengan Angga. Tapi lagi-lagi cowok itu hanya melengos saat melihatnya. Sekarang ia benar-benar merasa sendiri.
BERSAMBUNG...
__ADS_1