
Pulang sekolah. Tiba-tiba Angga menghampiri Ariana yang sudah tampak keluar kelas. Anak laki-laki dengan senyum hangat itu berlari ke arahnya. Mulai mensejajari langkahnya. Dan menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
"Hai..Ariana. kita pulang bareng yuk. biar aku bisa ngobrol lebih lama sama kamu. Sudah lama ya kita nggak ngobrol-ngobrol dan ketawa-tawa seperti dulu."
Kedatangan Angga yang tiba-tiba membuat Ariana kaget. Gadis berkerudung itu masih terdiam. Memikirkan cara bagaimana menolak ajakan Angga tersebut. Dan kebetulan sekali hari ini Rachel izin tidak masuk sekolah karena tidak enak badan. Jadi gadis itu memang sedang jalan sendirian. biasanya Ariana keluar kelas bersama-sama dengan Rachel. Tapi kali ini tidak.
Oleh sebab itu Angga menghampirinya. Karena kali ini tak ada pengganggu. Karena menurutnya Rachel itu cuma pengganggu. Ariana pasti akan beralasan tidak enak dengan Rachel kalo sampai Ariana mau pulang bersama Angga. Seperti hari kemarin. belum lagi dengan cowok kuliahan yang suka menjemputnya itu. Tampaknya ia juga belum menampakkan batang hidungnya. lni benar-benar kesempatan emas buat Angga untuk mendekati Ariana.
"Emm..maaf ya. Kayaknya aku di jemput lagi hari ini." Ujar Ariana akhirnya saat sudah berada di gerbang sekolah.
"Mana? Sepwrtinya jemputanmu tidak datang hari ini ?" Ujar Angga sembari matanya memperhatikan tempat biasanya Orion memarkir mobil kdoknya menunggu Ariana.
"Iya..mungkin saja. Macet di jalan. Jadi lama." Ariana memberi alasan lagi. Sebenarnya ia tahu hari ini Orion tidak akan menjemputnya. Suaminya itu sudah mengatakannya tadi pagi. Alasanya karena jadwal kuliahnya hari ini sangat padat. Jadi ia berharap Ariana bisa pulang sendiri hari ini.
"Yasudah..gimana kalo sambil nuggu jemputanmu datang. Gimana kalo kita ngobrol sambil makan es krim di kedai seberang jalan sana. Aku penasaran sekali dengan rasa es krim yang di jual di kedai itu. Apalagi kalo makannya di temani sama kamu. pasti menyenangkan sekali. Mau ya. plies..kali ini saja." Ucap Angga dengan gerakan tangan memohon.
Ariana masih mengeriyitkan dahinya. Masih tampak berpikir. Setelah itu karena merasa tidak enak ia mengiyakan ajakan Angga.
"Baiklah..tapi sebentar saja ya." Ujar Ariana akhirnya.
Mereka berduapun sama-sama menyebrang jalan untuk singgah ke kedai es krim yang tampak baru buka tersebut.
Suasananya di kedai es krim itu tidak terlalu ramai. Ariana dan Angga memilih meja kosong yang tersedia di kedai itu.
"Aku pesan dulu ya buat kita. Kamu mau rasa apa?" Ujar Angga seraya meletakkan tasnya di meja tersebut.
"Emmm..aku yang rasa varian buah aja deh." Jawab Ariana yang juga sudah duduk di kursi meja tersebut.
"Oke..tunggu ya!" Ujar Angga lagi seraya melangkah ke Estalase berisikan puluhan varian rasa es krim yang tersaji disana.
"Mau pesan yang rasa apa kak ?" Ujar pelayan kedai ramah.
"Aku pesan yang rasa coklat satu. Sama yang rasa buah-buahan satu."
"Oke..kak..di tunggu sebentar ya."
Angga menjawab dengan anggukan kecil seraya tersenyum.
Tak lama kemudian Es krim pun telah siap. Pelayan kedai meletakkanya di atas estalase agar bisa di ambil oleh Angga.
"Makasih ya mbak." Ujar Angga pada pelayan kedai.
Setelah pelayan kedai itu berlalu untuk melayani pembeli lainnya. Angga kemydian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Bentuknya seperti serbuk puyer. Sejenak ia celingak celinguk untuk memastikan bahwa keadaan aman. Baru setelah itu. Menaburkan bubuk tersebut di atas es krim buah milik Ariana. Selesai dengan itu ia kemudian pergi ke kasir untuk membayarnya. Dan setelah itu segera menuju meja yang sudah mereka tempati sebelumnya.
"Hai..maaf ya lama. Soalnya antri tadi." Ujar Angga pada Ariana yang tampak sedang mengutak-atik Hp nya sendiri.
"Iya..Nggak apa-apa kok. Hemm..Sepertinya enak." Sahut Ariana seraya menghentikan aktifitasnya memainkan Hp. Sekarang matanya tak bisa berhenti menatap Es krim di hadapanya. Air liurnya sudah hampir menetes dan ia buru-buru menelannya kembali. Es krim buah di hadapanya sangat menggodanya rupanya.
__ADS_1
"Makanlah..Sebelum mencair. Tenang saja kali ini aku yang trkatir." Angga tersenyum.
"Baiklah..Kalo begitu. Aku tak akan sungkan lagi. Hehe." Ujar Ariana yang tampaknya sudah tak bisa menahan diri untuk menikmati segelas es krim lezat di hadapannya.
Makanlah Ariana. Setelah ini aku akan membawamu ke suatu tempat. Ujar Angga dalam hati swmbari matanya terus mengawasi Ariana yang kini tengah melahap Es krimnya dengan senyum riang.
"Sumpah..ini enak sekali. Tapi kenapa ya. Kepalaku rasanya tiba-tiba sedikit pusing." Ariana merasa sangat pusing hingga pandangannya menjadi gelap dan tak sadarkan diri.
******
Perlahan-lahan Ariana mulai membuka matanya. seperti pengaruh Obat tidur yang di campurkan ke es krimnya oleh Angga sudah tampak menghilang efeknya. Samar ia melihat ke sekeliling.
"Aku dimana?" Gumamnya saat matanya sudah mulai bisa terbuka sepenuhnya.
Tempat itu sangat asing baginya. Sepertinya ia ada di sebuah gudang kosong yang susah lama tak terpakai. Kini iapun menyadari tangannya terikat di kursi duduknya.
"Hei..apa-apaan ini. siapa yang telah mengikatku begini." Ariana sudah mulai panik. ia pun berusaha mengoyangkan badannya berusah melepaskan ikatan di tubuhnya.tapi nihil. ikatannya terlalu kuat.
"Hei..siapapun. Tolong lepaskan ikatan ini. aku mohon." Air matanya kini sudah mulai mengalir karwna ketakutan. Ia teringat Terakhir kali makan es krim bersama Angga. mungkinkah Angga yang melakukan semua ini. Pikirnya.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mulai memasuki gudang tersebut. Ariana merasa ketakutnnya semakin bertambah.
"Hai..Ariana. Kamu sudah sadar rupanya." Seru Angga yang di ikuti dua orang bertampang preman di belakangnya.
"Angga..!" Ariana terpengarah." Apa kamu yang mengikatku disini? untuk apa?" Ariana masih dalam kebingungan.
"Augghh..hentikan. ini sakit." Pekik Ariana.
"Haha..aku sudah menunggu kesempatan ini dari sejak lama. Tapi sebenarnya bukan kamu target utamanya. Tapi..Aku juga sudah sejak lama ingin melakukan ini padamu." Wajah Angga semakin mendekat.
Sedetik sebelum akhirnya ia berhasil mencium bibir gadis itu.
"Hei..hentikan. Jangan kurang ajar pada istriku." Tiba-tiba Orion datang dengan menendang pintu gudang dengan sangat keras.
Angga pun seketika menghentikan aksinya. Kini matanya tertuju pada target utamanya.
"Akhirnya kamu berani datang juga. Tidak salah aku menggunakan Ariana sebagai pancingan." Angga Tersenyum sinis.
Tadi sebelumnya Angga sudah menghubungi Orion untuk datang ke gudang tua dekat sekolahannya jika ingin menyelamatkan istri tercintanya. Tapi ia juga mengancam untuk tidak melapor polisi. Dan harus datang sendiri kalo ingin melihat Ariana selamat.
"Lepaskan Ariana sekarang juga !" Seru Orion dengan tatapan marah.
"Haha..Memangnya kamu siapa berani memerintahku. Kamu tidak sadar apa. Kamu sedang ada dalam perangkapku. Jadi berkatalah dengan baik dan sopan. Atau kalo perlu memohon dengan berlutut. Atau kalo tidak kalian berdua tidak akan selamat." Angga terlihat seperti mafia kecil yang menakutkan.
"Hai..Kamu sudah bertindak kriminal. Kamu sadar itu. Kamu akan menghancurkan masa depanmu sendiri nantinya."
"Tidak usah sok menasehati. Aku beri tahu kamu ya anak manja."
__ADS_1
Orion mengepalkan tangannya geram. Merasa tersinggung dengan ucapan Angga.
Angga tergelak melihat Ekspersi Orion yang tiba-tiba berubah marah tapi sekaligus tak bisa berkutik. " Ayahmu Alfian Adriano telah merampas kebahagiaan keluargaku. Dia sudah membuat Ayahku bangkrut dan itu menyebabkan Ibuku depresi dan harus di rawat di rumah sakit jiwa. Aku merasa tidak terima dan harus balas dendam padanya. yaitu dengan cara menyakitimu."
"Oh..jadi begitu rupanya. Terserah kamu akan melakukan apapun padaku. Tapi jangan sakiti Ariana. Atau aku akan mematahkah seluruh tulang-tulangmu."
"Oh..ya ampun. Aku sangat takut. Haha." Angga kembali tergelak. "Kamu pikir kamu siapa memerintahku. Masih saja ya kamu bersikap sombong di kandang musuh."
Angga kembali menyentuh dagu Ariana dan ingin tampak mengulangi aksinya.
"Hentikan. Baiklah aku akan menuruti apa yang kamu mau. Tolong hentikan. Jangan sentuh gadis itu." Ujar Orion sambil berlutut sekarang.
Orion..Kamu melakukan itu demi aku. Sampai-sampai kamu berlutut demi aku. Ariana.
"Ku mohon." Ulang Orion lagi. Kini tampak dengan sungguh-sungguh.
"Haha..bagus. Demi gadis ini kamu mau melakukan apapun rupanya, Kalo begitu Orang-orangku akan memukulmu. Tapi jika kamu melawan. Aku pastikan kamu dan gadismu itu tidak akan selamat. Kamu mengerti." Ujar Angga seraya menjambak Rambut Orion yang menunduk agar melihat ke arah wajahnya.
Orion memandang sinis pada mafia kecil itu. Kalo bukan karena mementingkan keselamatan Ariana. Pasti saat itu ia akan meninju wajah tengil bedebah kecil itu.
"Oh..Iya aku akan beri tahu beberapa hal padamu. Sebenarnya waktu malam itu aku sengaja mengikutimu. Dan sengaja ingin menghabisimu jika ada kesempatan tapi sayangnya Ariana malah menolongmu. Orang-orangku malah memukul Ariana bukan dirimu." Angga berhenti sejenak. Memandang tajam pada Orion dengan penuh kebencian.
Apa? Jadi malam itu. Waktu malam-malam Orion mejemputku. Ada dua orang preman menyerang kami saat motor Orion mogok. jadi semua itu ulahnya. Jadi penguntit di hotel waktu itu. Jangan-jangan ulahnya juga. Mata Ariana membulat tak percaya.
"Karena gagal. Aku membuat rencana lain. Aku lah yang menyebarkan berita murahan itu. Berita tentang kalian tinggal serumah. Dan aku telah memperdaya gadis payah yang sangat menggilaiku. Pinkan. Untuk melakukan semua rencanaku. Tapi nyatanya kalian malah menikah. Alvian Adriano itu memang Menyebalkan. Dia menikahkan anaknya dengan gadis yang aku sukai. Aku sudah tidak tahan lagi untuk bermain cantik. Lebih baik aku cepat-cepat menghabisimu. agar dendam ini tertuntaskan."
"Haha..kamu menyedihkan sekali. Kenapa karena hal sepele seperti itu kamu harus jadi penjahat." Orion tertawa mengejek.
"Apa kamu bilang. Kamu masih bisa tertawa rupanya." Angga bertamabah geram." Habisi dia. Kalo dia melawan. Tahu sendiri akibatnya. Gadis itu juga akan kena imbasnya." Lanjutnya seraya memerintah kedua preman untuk menghajar Orion.
BUUUKKK..
Sebuah tinjuan keras dari seorang preman mendarat mulus di pipi Orion sebelah kiri.
"ORION..!" Ariana berteriak histeris. Ia berusaha menggoyangkan Bangkunya agar ikatanya terlepas. Tapi nihil. Ia hanya bisa menangis tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Orion.
Kedua preman itu terus membabi buta meninju dan menendang Orion tanpa henti.
"HENTIKAN..! Cukup..Aku mohon hentikan..!" Ariana terus berteriak di sela-sela isak tangisnya.
Darah segar sudah mulai mengucur di pelipis dan hidung Orion. Orion kini limbung. Badannya terkulai ke lantai. Tapi tampaknya Angga belum puas juga menyiksanya. Hingga ia begitu tega mengayunkan balok ke arah tubuh Orion.
"JANGAN..!" Ariana beridiri membawa serta kursinya untuk menghalangi balok kayu yang segera mendarat di tubuh Orion.
PLAKKK...
Lagi. Balok kayu itu mengenai tubuh Ariana. pandangannya pun kembali menjadi gelap. Tubuhnya kini terkulai di sisi Orion.
__ADS_1
BERSAMBUNG...