
Ariana dan Orion sudah nampak memasuki kamar hotel. Melihat kasur yang terlihat nyaman. Orion langsung menghambur ke atas kasur.
"Oh..ya ampun Aku lelah sekali." Ujar Orion seraya merebahkan tubuhnya sendiri di atas kasur.
Sedangkan Ariana masih berdiri tak jauh dari situ. Oh ya ampun. padahal aku juga lelah. tapi aku harus tidur dimana?
"Hei..kenapa kamu masih diam saja di situ?" Orion mengganti posisinya menjadi duduk di atas kasur. Matanya memamdang nakal ke arah Ariana.
Mendengar itu dahi Ariana langsung mengriyit seraya menggigit bibir bawahnya sendiri karena panik.
Kemudian Orion tersenyum melihat wajah Ariana yang sudah mulai pias lagi. Ia pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Ariana yang masih terdiam sejak memasuki kamar tadi.
"Hei..kamu harusnya melepaskan jilbabmu. Aku kan suamimu. Jadi Aku bolehkan melihat rambut indahmu itu?" Seru Orion seraya tangannya berusaha melepaskan jilbab Ariana. Setelah itu ia juga melepas kunciran yang di ikatkan di rambut Ariana. kini rambut lurus sebahu itu tampak teruai.
Tangan Ariana sudah mulai mendingin lagi. Sedangkan Orion mengelus rambut hitam milik Ariana dengan lembut. Dan tangannya terhenti di dagu Ariana. Ia menaikkan dagu gadis itu bermaksud hendak mencium bibirnya.
"Wah..kenapa rasanya ruangan ini jadi panas ya?" Ujar Ariana seraya menghindari ciuman dari Orion. Ia segera menggeser tubuhnya sendiri ke belakang beberapa langkah.
Wajah Orion kini tampak tak suka. "Coba ku lihat dulu AC nya sudah menyala atau belum." Ujarnya seraya mencari remot AC dan berusaha mengatur suhunya.
"Orion sudah kamu nyalakan belum AC nya. Kenapa udaranya masih terasa panas?"
"Cerewet sekali. Sudah ku nyalakan tuh." Dengusnya kesal seraya merebahkan tubuhnya lagi ke atas kasur.
"Ahhh..mungkin AC nya kalah cool sama aku. Jadi panas deh. Hehe." Ujar Ariana lagi sambil nyengir.
Seketika Orion mengeriyitkan dahinya tak percaya memandang ke arah Ariana. "Hah..sejak kapan kamu punya penyakit narsis seperti itu? Menggelikan sekali."
"Haha..mungkin sejak mengenalmu. Aku jadi tertularkan virus narsismu. Hehe. Yasudah ah. Aku mau mandi dulu. Tadi berangkat kesini belum sempat mandi kan?"
Kalo aku mandi setidaknya aku bisa menghindar kan walapun cuma sebentar. huft.
"Yasudah terserah padamulah. Jangan lama-lama aku juga ingin mandi." Ujar Orion seraya memalingkan wajahnya dari Ariana.
"Baiklah !" Tersenyum senang.
Kelihatannya dia senang sekali bisa menghindariku.
"Ariana tunggu!" Orion membalikkan wajahnya untuk melihat ke arah Ariana lagi. "Emm..Bagaimana kalo kita mandi bersama. Kita kan suami istri. Jadi boleh kan kalo kita melakukannya." Orion memasang muka nakalnya lagi.
__ADS_1
Kena kamu. Pasti saat ini kamu akan pucat pasi lagi. Heehee. Kenapa aku senang sekali melihat wajahnya yang sedang ketakutan itu ya.
"Ah..tidak..tidak..jangan. Lebih baik kita mandi sendiri-sendiri saja. Heee." Wajah Ariana sudah mulai pias.
Dasar mesum. Siapa juga yang mau mandi denganmu. Mandi sana dengan kuda nil.
Dengan langkah cepat Ariana pun segera memasuki kamar mandi dan segera menguncinya. Kemudian Ariana mengehmbuskan nafas lega.
"Untung saja Orion tidak sungguh-sungguh mengikutiku kemari." Gumam Ariana seraya melangkahkan kakinya menuju bath tup. Tapi baru satu langkah jalan. Tiba-tiba air mengucur deras dari sisi atasnya hingga membuatnya basah kuyup.
"Apa-apaan ini. Aku kan nggak bawa baju ganti. Semoga paman jason benar. Ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untukku dan Orion. Dan semoga ada baju ganti di lemari hotel ini. Huft."
Sedangkan di tempat tidur. Tampak Orion sudah mulai berkeringat. Ia bukanya merasakan AC nya makin dingin tapi malah makin panas. Akhirnya untuk sekali lagi ia meraih remot control AC yang tak jauh dari tempatnya tiduran. Ia kaget saat mendapati itu adalah remot penghangat ruangan.
"Kenapa ada remot penghangat ruangan di negara tropis ini. memangnya ini Eropa. Memangnya sekarang ini musim salju. Konyol sekali. Dasar payah." Gumamnya seraya mencari remot lain yang untuk pendingin ruangan. Tapi nihil. Remot itu tidak ada dimana-mana.
"Egghhh..dasar payah. Ini pasti kerjaan paman Jason. la sengaja mengganti remot pendingin menjadi remot penghangat ruangan. Ah..Paman Jason awas ya paman." Segera Orion mematikan remot penghangat ruangannya. Kemudian ia segera melepas pakaian yang di kenakanaya hingga bertelanjang dada karena kepanasan. Bajunya juga sudah basah oleh keringat.
Kini mata Orion tertuju ke arah kamar mandi. "Ah..lama sekali gadis itu mandinya. Tidak tahu apa. Aku kepanasan dan ingin segera mandi." Kini melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Hei..Ariana. Kamu pingsan atau gimana? kenapa mandi lama sekali. Aku juga ingin mandi tahu." Ujar Orion seraya menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Iya..sebentar lagi. Sabar sebentar." Sahut Ariana dari dalam.
"Hei..cepatlah. Aku sudah gerah nih!" Ujar Orion lagi dari luar.
"Iya..iya.."
Huh bawel sekali. yasudahlah keluar saja. apa boleh buat. Huft.
Dengan perasaan campur aduk Ariana memberanikan diri keluar dari kamar mandi.
Ia melihat Orion sudah berdiri tepat di depan kamar mandi. Matanya seolah terpana melihat Ariana.
Kenapa dia memakai haduk begitu. Oh ya ampun.
"Maaf kalo aku mandinya lama." Ujar Ariana sambil menundukkan wajahnya karena merasa malu. Bgaimana tidak ini pertama kalinya ia berpenampilan seperti ini di depan pria. Untung saja. Paling tidak pria itu sudah sah jadi suaminya.
"Ah..iya..tidak apa-apa." Orion menjawab dengan sedikit gugup. lni juga pertama kalinya bagi Orion menemukan pemandangan seperti ini di depan matanya. la buru-buru memalingkan wajahnya. Ia takut tak bisa menahan diri. "Minggirlah aku mau masuk." Sambungnya tanpa melihat ke arah Ariana.
__ADS_1
"Oh iya maaf." Ujar Ariana seraya menggeser tubuhnya agar Orion bisa masuk ke kamar mandi.
Akhirnya sekarang mereka bisa sama-sama menghembuskan nafas lega saat Orion sudah masuk kamar mandi dan menguncinya.
Orion melangkahkan kakinya menuju bath tup.Tapi tiba-tiba ia mengalami hal yang sama yang seperti di alami Ariana tadi. Kini Celana jeans nya tampak basah kuyup karena semburan air yang tiba-tiba dari sisi atas.
"Ah..kurang ajar. Hotel macam apa ini. lni juga pasti kerjaan Om Jason. Sudah ku duga orang itu pasti melakukan hal aneh-aneh. Huft."
Di luar. Ariana segera menuju lemari hotel. mencoba mencari baju ganti. Tapi ia tak menemukan apapun di sana. Kecuali baju tidur dengan bahan yang sangat tipis dan di bagian lengan pengaitnya hanya sebesar jari kelingking tergantung disana.
Ariana terperangah. "Hah..baju macam apa ini. apa benar-benar tak ada baju lain selain ini. haruskah aku memakainya?" Gumamnya seraya meraih secarik kertas yang tertepmpel di baju itu.
Untuk sementara pakailah baju ini dulu untuk malam ini saja. besok pagi baru akan di antar baju ganti. selamat bersenang-senang.
kira-kira begitu isi surat di secarik kertas tersebut.
"Oh..ya ampun. Apa-apaan ini. aku dengan baju seperti ini." Gumam Ariana lagi. ia menggigit bibir bawahnya sendiri merasa ragu. Tapi akhirnya ia mengenakanya juga karena tak ada pilihan lain. Tapi ia senang tak jauh dari baju itu ada mukena juga. la ingat tadi ia belum sempat shalat magrib dan sekarang sudah masuk salhat isya. Akhirnya ia memutuskan untuk shalat dulu dengan mukena itu.
Selesai Shalat. Ariana merasa sangat mengantuk. di lihatnya ke arah kamar mandi. Orion belum juga tampak keluar dari sana.
"Tadi Dia mengataiku mandi lama. Dia sendiri apa. mandi setahun lebih." Dengus Ariana seraya melepas mukenanya.
Aku lepas tidak ya. Tapi rambutku masih basah. Aku ingin menyisirnya dulu. Ah..Tidak apa-apalah. Orion juga belum keluar dari kamar mandi.
Kemudian Ariana mulai melepas mukenanya dan mulai menyisir rambutnya di meja rias di kamar itu. Ada juga sisir disana. Lalu ia memakainya. Dari pantulan cermin meja rias tampak Orion sudah keluar dari kamar mandi. seketika Ariana menjadi gugup dan reflek malah berdiri dari tempatnya duduk karena saking gugupnya.
"Eh..kamu sudah selesai mandinya?" Ujar Ariana sampai-sampai sisir yang ada di tangannya terlepas dari tangannya dan jatuh karena tanganya yang gemetaran.
Orion menatap ke arah Ariana. Seketika ia menelan ludahnya kasar.
Kenapa dia berpenampilan seperti itu? Apa dia benar-benar sudah tidak waras. Membuatku jadi merasa kepanasan lagi.
Menyadari Orion yang tengah memandanginya dengan tatapan tak biasa membuat Ariana jadi salah tingkah. Lagi-lagi ia berusaha membenarkan bajunya yang kurang bahan itu.
Orion tak menjawab pertanyaan Ariana. Ia tak ingin lama-lama lagi memandangi gadis itu. ia pun segera menuju lemari hotel. Kemudian membukanya. tak ada tanda-tanda ada baju ganti di sana. hanya ada sebuah celana boxer dan singlet. juga ada secarik kertas di atasnya. yang isi surat kertas tersebut kurang lebih sama seperti milik Ariana tadi. Tapi milik Orion ada sedikit tambahanya.
Jangan lupa pakai pengaman ini untuk jaga-jaga.
"Pluk..!" Terdengar suatu benda jatuh ke lantai di antara boxer dan singlet yang kini sudah ada di tanganya. Kemudian ia meraih benda yang mirip dengan permen tapi berukuran sedikit lebih besar dari permen itu di lantai.
__ADS_1
"Apa-apaan ini. ini pasti ulah Om Jason juga. jadi baju Ariana. Ah..ini sudah pasti ulah Om Jason. Oh..ya ampun rasanya aku ingin meninju orang itu sampai pingsan sekarang juga." Gumam Orion seraya mengepalkan tangannya sendiri karena geram.
BERSAMBUNG....