
Langit masih tampak terang saat Orion tiba di pelataran cafe di dekat sekolah Ariana. Rupanya ia tadi memajukan jadwalnya untuk menemui Rachel di cafe tersebut. Dengan langkah mantap ia pun mulai memasuki cafe yang mulai lengang karena sudah lewat jam makan siang. Hanya ada beberapa pelanggan saja yang tampak sedang duduk makan di sudut ruangan.
Rachel terlihat beberapa kali merapikan pakaian dan jilbab yang di kenakannya. Ia sudah lebih dulu duduk menunggu di cafe tersebut. Tak hentinya ia melatih senyum semanis mungkin sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri. Merasa gugup sekaligus senang karena akhirnya Orion mau memenuhi ajakannya. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Hingga ia tak lagi mempedulikan bagaimana perasaan Ariana jika ia mengetahui kelakuannya sekarang. Berusaha menikung temannya sendiri.
Orion berjalan menuju meja yang sudah tampak ada Rachel disana. Rachel berusaha tersenyum padanya. Tapi ia seolah tak peduli. Wajahnya begitu datar. Membuat nyali Rachel yang tadinya besar kini jadi menciut kembali. Tatapan Orion yang dingin membuat Rachel memiliki firasat buruk. Tadinya ia berpikir Orion mau menemuinya karena juga punya ketertarikan padanya. Tapi melihat Orion yang tampak tak bersahabat. Membuat Rachel menggigit bibir bawahnya sendiri. Merasa ragu. Seolah takut mendengar sesuatu yang menyakitkan dari pria tampan yang kini sudah duduk tepat di hadapannya. Dengan tatapan dan ekspresi yang belum juga berubah. Datar dan dingin.
"Aku senang Kak Orion akhirnya mau datang. Oh..iya..kakak mau pesan minum apa ? biar ku panggilkan pelayan ya !" Rachel bicara dengan suara semanis mungkin. Mencoba mengusir firasat buruk yang tadi sempat menggelayutinya. Berharap semua akan baik-baik saja. Merupakan keberuntungan baginya hari ini. Karena kemarin-kemarin Orion sempat mengabaikan pesan dan ajakannya.
"Apa saja..terserah!" Ujar Orion dengan nada normal. Tampak jelas ia berusaha menahan diri. Tidak ingin terlau keras pada gadis yang ada di hadapannya pada kesan pertama.
"Baiklah..Aku akan pesankan seperti minuman kesukaanku saja ya!" Ujar Rachel bersemangat. Setelah itu Ia segera melambaikan tangannya ke arah pelayan dan mulai memesan minuman yang di ingininya.
Hemm..sepertinya tadi memang hanya firasatku saja. Bahkan sekarang Kak Orion mau ku pesankan minuman yang sama denganku. Rachel tersenyum senang dalam hati.
"Kak Orion paling suka makanan apa?" Sepertinya rasa percaya diri Rachel telah kembali. Dengan riang ia memulai percakapan." Kalo aku paling suka makanan Eropa." Sambungnya. Memberi tahu tanpa di tanya. Haha..kok menyedihkan ya.
Orion tersenyum tipis." Aku paling suka masakan yang di buatkan istriku. Makanan apapun aku suka asal yang membuatkannya adalah istriku."
Glek !! Rachel menelan ludahnya dengan susah payah. Tiba-tiba rasa panas mulai merayapi dadanya.
Bersamaan dengan itu. Pesanan minuman mereka datang. Pelayan segera meletakkan dua gelas minuman di atas meja. Kemudian segera berlalu setelah mengucapkan kata silahkan pada mereka berdua.
Rachel segera menyeruput minuman yang ada di hadapannya. Berusaha menghilangkan kegelisahanya. Kupingnya, juga hatinya benar-benar terasa panas sekarang.
Orion hanya mengawasi dengan tatapan datar. Berharap Rachel akan menyerah dengan sendirinya tanpa ia harus mengeluarkan kata-kata sarkastik yang menyakitkan.
Aku ingin tahu. Sampai sejauh mana kamu akan tahan. Aku berharap kamu akan segera menyerah.
Tapi tak di sangka. Gadis yang kini juga berhijab itu masih bisa memasang senyum manis. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak terusik dengan kata-kata Orion. Bahkan ia berusaha mengingkari semua kata hatinya yang jelas-jelas mengatakan bahwa tindakannya itu salah.
Lihat saja Kak Orion. Aku tidak akan menyerah semudah ini.
"Aku juga bisa masak. Kapan-kapan Kak Orion cicipi masakanku juga ya!" Memasang wajah riang. Tapi sebenarnya tangannya sudah gemetaran di bawah meja.
Apa..! Jadi dia belum ingin menyerah juga.
__ADS_1
"Tapi aku pasti tidak akan suka jika yang memasak untukku adalah orang lain. Sudah pasti yang paling enak itu adalah masakan istriku seorang."
Kali ini menyerahlah. Karena aku tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang lebih menyakitkan lagi demi menyadarkanmu. Orion.
'Cih..apa dia bercanda. Apa katanya tadi. Paling enak adalah masakan istrinya seorang. Sudah gila ya. Rachel.
Rachel hanya bisa tersenyum kecut sekarang. "Apa Kak Orion benar-benar mencintai Ariana?" Rupanya Rachel sudah mulai bosan berbasa-basi.
"Hemm..tentu saja. Karena di kepalaku selalu di penuhi dengan namanya. Tidak cuma di kepalaku. Tapi di hatiku malah sudah penuh sesak dengan dirinya. Tidak pernah ku sisakan tempat di hatiku untuk orang lain selain untuk dirinya." Jawab Orion tegas. Seolah bisa menebak Arah pertanyaan Rachel yang sebenarnya hanya lewat membaca dari sorot matanya. Gadis itu juga seolah sedang mengatakan. Apa masih ada kesempatan dirinya untuk bersama Orion.
"Oh..jadi begitu!" Rachel berkata seraya mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Wajahnya berubah kecewa sekaligus malu. Bagiaman bisa dia tadi dengan percaya dirinya mengatakan hal yang pada akhirnya jawabannya hanya akan menyakiti hatinya sendiri.
Ini tidak mungkin. Pasti ia mengatakan semua itu karena takut di cap cowok play boy. Bukan karena benar-benar tulus mencintai Ariana.
Rachel masih memutuskan untuk belum mau menyerah. "Kakak pasti tahu kan bagaimana perasaanku pada kakak. Aku mau kok jadi yang kedua. Kita bisa menjalin hubungan di belakang Ariana. Itu tidak masalah bagiku. Asal aku bisa bersama Kak Orion."
Mata Orion terbelalak tak percaya. Apa dia sudah gila. Belum jelas apa yang ku katakan tadi.
"Rachel..kenapa kamu harus bertindak keras kepala seperti ini. Bukankah sudah ku katakan tadi. Di dalam hati dan pikiranku hanya ada Ariana. Dan selamanya akan tetap seperti itu. Meskipun Ariana lari ke pelanet mars atau ke ujung dunia sekalipun. Aku akan tetap mengejarnya. Karena hanya dia yang ku inginkan di dalam hidupku ini. Tidak ada yang lain. Jadi ku mohon mengertilah. Jangan membuatku terlihat kejam di hadapanmu." Sudah mulai bangkit berdiri dari duduknya. Bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
Orion menghampiri Rachel. Menyerahkan sapu tangan yang ia ambil dari saku celananya. "Ambillah ini. Dan hapuslah air matamu. Aku sungguh berharap suatau saat kamu juga akan menemukan orang yang lebih baik dariku. Yang bisa membuatmu tersenyum. Kamu masih sangat muda Rachel. Jangan habiskan waktumu hanya untuk memikirkan tentang cinta." Lanjutnya berlagak sok menasehati.
Rachel meraih sapu tangan dari tangan Orion. "Terimakasih." Ucapnya lirih seraya mulai mengusap air matanya yang sudah tampak jatuh.
"Dan satu lagi. Aku harap kamu juga bisa jadi teman yang baik untuk Ariana." Kata-kata Orion seolah syarat akan makna. Membuat tubuh dan hati Rachel bergetar. Seolah sedang tersadar dari kekeliruannya sendiri.
Ah..Ariana. Maafkan Aku. Aku hilaf..Maafkan Aku!
*******
Di rumah. Ariana tampak menunggu kedatangan Orion dengan gelisah. Ia duduk di meja makan dengan makan malam yang sudah siap terhidang. Makan malam kali ini di buat spesial oleh Ariana. Karena kebetulan hari ini adalah ulang tahun Orion.
Aska dan Haikal juga sudah tampak ada di sana daritadi. Mereka berdua datang hanya selisih beberapa menit saja sejak kepergian Orion tadi sore.
Aska dan Haikal datang membawa kue tard dan berbagai makanan ringan. Mereka juga sempat menghias rumah Orion dan Ariana dengan hiasan ala kadarnya.
__ADS_1
Hari ini mereka berencana akan menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Orion. Meskipun perasaan Ariana pada Orion sedang tidak menentu. Tapi ia tetap ikut menyiapkan kejutan untuk suaminya itu dengan senang hati. Sebisa mungkin Ia harus bisa menutupi kegilsahannya itu di hadapan adik-adik iparnya.
Tapi sepertinya Ariana tak bisa menyembunyikan wajah sedihnya itu lebih lama lagi dari Aska.
"Kakak Ipar ada apa? Apa ada masalah?" Aska menghampiri Ariana yang sedang duduk termenung di meja makan. Sedangkan Haikal masih sibuk meniup balon-balon untuk di gantung sebagai hiasan.
Ariana menggeleng pelan. "Tidak..Tidak ada apa-apa." Ujarnya seraya memasang senyum ceria.
"Ayolah kak. Jangan berbohong. Aku tahu Kakak sedang berbohong. Ceritakan saja masalahmu padaku. Bukankah sekarang kita sudah menjadi keluarga? Anggaplah aku ini seperti adikmu sendiri." Aska memang selalu tampak lebih dewasa dari usianya. Untuk anak seusianya, dengan melihat caranya menyelesaikan masalah seperti yang sudah-sudah. Benar-benar patut di acungi jempol.
Akhirnya Ariana menyerah. Ia tak tahan lagi untuk tidak menangis. Perasaanya benar-benar sedang sensitif saat ini. Jadi kata-kata yang menyentuh sedikit saja. Bisa langsung meluruhkan hatinya.
"Hei..kenapa malah menangis. Maaf kalo aku salah bicara." Ujar Aska seraya memegang pipi Kakak iparnya itu dengan kedua tangannya. Di angkatnya wajah sedih itu agar ia bisa melihatnya dengan jelas.
Perlahan Aska mengusap air mata yang sudah membasahi pipi Ariana dengan jari telunjuknya.
"O..rion..!" Seru Ariana terbata di sela isak tangisnya.
"Ada apa dengan Kak Orion? Apa dia menyakiti Kakak Ipar?"
Ah..Kakak, Apa yang sudah kakak lakukan pada Kakak Ipar. Kenapa Kakak membuat Kakak Ipar menangis. Apa Dia sudah lupa janjinya padaku untuk tidak menyakiti kakak Ipar. Lalu apa ini ? Apa perlu aku merebut Kakak Ipar kembali darimu. Dasar Kakak payah.
Ariana masih belum bisa menjawab. Ia masih larut dalam kesedihanya yang sedari tadi membayangkan Orion yang tengah pergi menemui Rachel. Entah apa yang mereka lakukan di luar sana. Ariana tak kuat lagi untuk membayangkannya. Dan tak tahu harus bagaimana dan mulai darimana menceritakan semuanya pada Aska.
"Tenang ya Kak. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya." Aska menggeret satu bangku untuk duduk lebih dekat di sisi Ariana.Kemudian menyodorkan pundaknya."Menangislah sepuasmu di pundakku Kak. Lakukan saja jika menangis itu membuatmu jauh lebih lega."
Tanpa aba-aba. Ariana sudah tampak membenamkan wajahnya di pundak Aska. Aska hanya bisa menatap Ariana dalam diam. Sebenarnya Ia ingin sekali memeluk gadis itu dan mengelus rambutnya demi menenangkannya. Tapi Ia sadar akan batasannya. Dan kalo boleh jujur. Hingga sampai saat ini. Ia masih menyimpan perasaan pada gadis yang kini telah bersetatus sebagai kakak iparnya tersebut.
Entah sejak kapan Orion mulai masuk ke dalam rumah dan menyaksikan pemandangan itu. Pemandangan Antara istri dan Adiknya yang terlihat mesra jika di lihat dari arah belakang.
Orion mengepalkan tangannya geram.
'Kurang ajar. Berani-beraninya mereka berdua seperti ini di belakangku.
BERSAMBUNG...
__ADS_1