
Kini satu bulanpun sudah berlalu sejak hari itu. Namun Orion belum menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar dari komanya. Ia masih saja terbaring dengan wajah tenangnya. Ariana tak bisa menahan diri untuk bercerita pada Orion tiap kali menjenguknya. Bercerita apa saja di dekat ranjang rawat Orion seraya mengengam erat tangan suaminya itu yang kini tampak pucat dan kurus. Tangan yang masih tersambung dengan selang infus. Entah sudah berapa kantong yang sudah di habiskannya.
"Hei..Hari ini aku datang lagi sayang." Ariana tersenyum seceria mungkin meski Orion tak bisa melihatnya. Matanya tertutup rapat dan bibirnya membisu. Hanya hembusan nafasnya saja yang terlihat naik turun di dadanya. Yang menandakan bahwa ia masih hidup.
Di ciumnya punggung suaminya dengan lembut. "Kamu tahu. Hasil ujianku sudah keluar hari ini. Dan Aku Lulus sayang. Kamu dengar itu. Jadi Aku mohon bangunlah. Dan berilah selamat untukku. Aku sangat kesepian tanpamu. Tidak ada yang menjahili aku lagi. Aku sangat kangen padamu. Aku mohon bangunlah. Bangunlah sayangku. Aku rindu!" Sudut mata Ariana audah tampak berair. Tenggorokanyapun terasa tercekat. Menahan gejolak kerinduan yang mendalam pada suaminya.
Perlahan tapi pasti. Orion seolah ingin merespon perkataan istrinya. Untuk beberapa saat Orion menggerak-gerakkan beberapa jarinya. Membuat mata Ariana berbinar dan segera memanggil dokter agar Orion bisa segera di priksa.
Dokter tampak sedang sibuk memeriksa Orion saat tiba di kamar rawat Orion. Sedangkan Ariana terlihat harap-harap cemas menunggu hasil dari pemeriksaan sang dokter pada suaminya.
"Sepertinya kondisinya mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ia merespon kata-kata yang kamu ucapkan." Ujar Dokter yang rambutnya sudah mulai memutih sebagian. "Teruslah mengucapka kata-kata yang bisa merangsangnya punya keinginan untuk bangun dari komanya. Jangan pernah lelah ya. Aku punya keyakinan kalo dia akan segera sadar dalam waktu dekat ini. "Lanjut sang dokter seraya tersenyum. Kemudian menepuk pundak Ariana pelan. Seolah sedang memberi kekuatan dan semangat pada putrinya sendiri.
Seulas senyum bahagiapun kembali tersembul dari bibir Ariana. Mendengar penjelasan dari sang dokter bahwa Orion suaminya memiliki kemungkinan besar akan segera sadar dari komanya. Namun ia tetap merasa kawatir saat sang dokter menambhakan dianogsa keadaan Orion setelah sadar.
"Tapi biasanya pasien kecelakaan yang terluka di bagian kepalanya dan mengalami koma. Bisa saja ia kehilangan sebagian ingatannya. Atau bahkan kehilangan semua ingatannya saat mulai tersadar nanti." Sang Dokter terlihat menjelaskan dengan sangat hati-hati." Tapi kamu tidak perlu berkecil hati. Siapa tahu Orion berbeda. Ia tak kan mengalami banyak masalah saat sadar nanti. Kamu jangan berhenti berdo'a juga ya. Dan berusahalah untuk menyemangati suamimu. Agar ia kembali sadar dan bisa menemuimu." Untuk kesekian kalinya Dokter paruh baya itu menepuk-nepuk pundak Ariana pelan. Kemudian setelah itu berlalu yang di ikuti seorang perawat yang mencatat semua hasil pemeriksaanya barusan.
Ariana menatap punggung Sang dokter hingga menghilang di balik pintu kamar rawat Orion. Setelah itu ia menghela nafas panjang. Merasa lega sekaligus senang. Ia pun kembali duduk di tempatnya semula. Di sisi ranjang suaminya. Dan kembali memegangi tangan suaminya. Sekarang tampak menempelkan tangan suaminya itu ke pipinya sendiri. "Kamu tahu. Aku kangen sekali ingin sekali di sentuh seperti ini. Jadi ku mohon bangunlah. Aku tidak sabar ingin bisa memelukmu lagi." Sekarang ia bangkit daro duduknya dan mulai menciumi kening Orion.
*****
Dalam tidur panjangnya. Orion seolah kembali ke kejadian 15 tahun lalu. Saat ia masih berusia 6 tahun.
__ADS_1
Ia melihat bayangan dalam tidurnya ada anak kecil perempuan yang badanya sedikit lebih kecil darinya sedang menangis sendirian di sebuah taman.
Melihat itu Orion menghampiri gadis kecil itu."Hei..kenapa kamu menangis?" Ujar Orion saat sudah berada di hadapan gadis kecil yang kini masih tampak menangis tersedu.
"Huuu...Huuu...Huuu..!" Tampaknya gadis kecil itu belum mau menghentikam tangisnya."Dimana Orang tuamu? Kenapa kamu bisa ada disini sendirian?" Ujar Orion kecil seraya berusaha mengusap air mata gadis kecil yang ada di hadapannya.
Perlakuannya yang lembut membuat gadis kecil yang manis itu mulai menghentikan tangisnya. Ia seolah merasa tenang dan nyaman saat Orion membelai-belai lembut kepalanya. "Tenang ya adik manis. Aku akan menemani kamu disini sampai orang tuamu kembali. Sebentar lagi Ayah atau Ibumu pasti datang untuk mencarimu." Ujar Orion kecil dengan lembut seraya tersenyum. Membuat gadis kecil itu turut tersenyum." Nah..sembari menunggu Ibu atau Ayahmu datang. Ini aku kasih bola kristal hias ini." Seraya menyerahkan bola kristal kecil yang di dalamnya ada hiasan sepasang anak kecil laki-laki dan perempuan.
Gadis kecil menerima bola kristal hias itu dengan bola mata berbinar. Ia tak lagi menangis sekarang. Bahkan ia sudah mulai tampak ceria.
"Kamu suka?" Ujar Orion kecil seraya tersenyum kembali.
"Itu adalah pemberian Ayahku. Aku membawanya kemanapun aku pergi. Sekarang buat kamu saja kalo kamu suka." Orion mengacak rambut gadis kecil itu gemas.
Sang gadis kecil hanya tersenyum tanpa mengehentikan aksinya memainkan bola kaca kristal darinya.
Tak lama kemudian. Seorang Laki-laki kebapaan tiba-tiba datang menghambur ke pelukan gadis kecil itu. Sambil mendaratkan ciuman bertubi-tubi di seluruh bagian wajahnya. Wajahnya tampak kawatir sekaligus lega. "Syukurlah kamu baik-baik saja. Maafkan Ayah yang telah lalai menjagamu ini." Ujarnya seraya. Memeluk erat gadis kecilnya itu.
"Ayah..kemana saja tadi. Aku takut disini sendirian." Ujar gadis kecil itu dengan suara khas anak kecil." Untung ada kakak ini. Aku jadi merasa tidak takut lagi tadi. Dia juga memberiku bola kristal ini untuk menghiburku. Jadi aku tidak menangis lagi tadi." Lanjutnya sambil menatap Orion kecil yang beberapa saat tadi terdiam.
Kemudian Ayah gadis kecil itu menoleh ke arahnya. "Terimaksih ya sudah menjaga putri kecilku ini." Ujar sang Ayah sembari mengacak lembut rambut Orion kecil.
__ADS_1
"Hentikan paman! Jangan perlakukanku seperti Balita. Aku itu sudah besar. Aku sudah kelas satu SD." Sungut Orion kecil. Ia tak suka rambutnya yang di acak-acak oleh Ayah gadis kecil itu.
Pria dewasa itupun akhirnya tergelak melihat tingkah Orion kecil yang sok dewasa itu. "Ya..baiklah pria kecil yang baik. Aku senang kamu mau menjaga putriku. Terimaksih ya!" Serunya sembari mengerlingkan sebelah matanya.
Orion kecil ikut tergelak. "Haha..ltu tidak buruk." merasa senang di panggil dengan sebutan pria. Setidaknya itu membuatnya merasa jadi seorang gentelment.
"Kakak kamu itu super hero. Hehe..!" Gadis kecil itupun menambahkan seraya tersenyum.
Orion kecil turut tersenyum. "Nanti kalo sudah dewasa. Jangan lupakan aku ya!" Ujar Orion kecil seraya kembali mengelus kepala gadis kecil itu lembut.
Sang gadis kecil itu pun hanya mengangguk kemudian tertawa.
BERSAMBUNG...
Siapakah gadis kecil di masa lalu Orion?
ikuti terus kisahnya ya guys.
Jangan lupa like, vote dan comemtnya.
Makasih atas dukungannya.🙂
__ADS_1