
Malam hari di rumah Ariana dan Orion. Mereka berdua tampak sedang menyantap makan malam di meja makan. Ariana melahap makanan hasil masakannya sendiri dengan lahap. Tapi berbeda dengan Orion. Ia tampak sedang tak napsu makan. Wajahnya terlihat lesu.
"Kenapa makannya malas-malasan begitu? Apa masakanku tidak enak hari ini?" Ujar Ariana seraya menghentikan aktifitas makannya sejenak.
"Bukan begitu. Masakanmu enak kok. Akunya saja yang lagi malas makan." Menjawab dengan memutar-mutar spageti dengan garpunya.
"Kenapa malas makan? Apa kamu sakit?" Ariana tampak kawatir.
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Aku ingin makan di suapi sama kamu!" Orion mengulas senyum manja.
"Kenapa ingin di suapi. Memangnya kamu bayi." Seru Ariana seraya menyuapkan suapan terakhir sepagetinya ke dalam mulut.
"Hah..kamu ini. Kalo kamu tidak mau menyuapiku. Aku akan memakanmu." Dengus Orion berlagak kesal.
"Uhuk..uhuk..!" Air minum yang baru di teguknya membuat Ariana tersedak karena kaget mendengar ucapan Orion. " Kenapa kamu jadi malah ingin memakanku?" Lanjutnya setelah berhasil mengatur nafasnya kembali.
"Ah..Sudahlah. Maaf kalo aku tidak bisa menghabiskan makanannya. Aku sudah tidak berselera." Orion pun segera beranjak dari duduknya. Ia berharap Ariana akan segera menghentikan langkahnya dan mau menuruti permintaannya itu.
Kenapa sih ini pemarah sekali. benar-benar merepotkan saja.
"Eh..tunggu!" Seru Ariana setengah berteriak. Membuat Orion menghentikan langkahnya seraya mengulas senyum senang. "Baiklah aku akan menyuapimu. Lagipula tidak baik menyia-nyiakan makanan seperti itu. Banyak orang di luaran sana yang mungkin hari ini belum makan." Sambung Ariana menasehati.
"Lalu apa hubungannya denganku?" Orion pura- pura tidak faham. Ia hanya ingin melihat ekspersi kesal istrinya itu. Yang menurutnya itu adalah hal yang menggemaskan.
"Hah..Kamu ini. Masih bertanya lagi apa hubungannya denganmu. Tentu saja kamu harus lebih banysk bersyukur dengan cara tidak menyia-nyiakan makananmu hari ini." Wajah Ariana sudah mulai kesal sekarang.
Orion pun segera menghampirinya. Membungkukkan badannya seraya mencubit kedua pipi Ariana gemas. "Iya..Iya..Aku faham kok. Aku tadi memang sengaja ingin membalasmu agar kamu kesal. Habis nya kamu sudah bikin aku kesal sih tadi."
Melepaskan tangan Orion dari pipinya. "Hah..sudahlah..bawa sini spagetymu. Biar aku suapi kamu. Biar bayi besarku yang manja ini berhenti merajuk dan menjahiliku." Ujar Ariana seraya tersenyum.
"Aaa.." Orion segera membuka mulutnya lebar-lebar seusai menyerahkan piring berisi spagety pada Ariana.
__ADS_1
"Makan yang banyak ya Bayi besar. Supaya tidurmu pulas nanti. Agar kamu tidak merepotkanku lagi. Hehe" Ariana menyuapi Orion dengan telaten hingga suapan terakhir.
"Kenapa rasa spagety ini terasa lebih enak jika kamu yang menyuapi." Goda Orion membuat muka Ariana merona seketika.
"Huh..bilang saja kamu malas makan sendiri." Seru Ariana pura-pura kesal. "Tapi ingat ya. Ini tidak geratis. Setelah ini kamu harus membantuku mencuci piring!" Lanjutnya memasang muka serius.
"Hanya itu? ltu sih gampang. Apa ada hal lain yang harus ku lakukan lagi. Semisal menemanimu tidur begitu." Ledek Orion dengan tatapan nakal.
Wajah Ariana kian memerah. "Bicara apa kamu ini? Berhentilah berkata yang tidak-tidak." Seru Ariana seraya membereskan piring dan gelas bekan makan mereka tadi. Kemudian segera membawanya ke dapur untuk di cuci.
Orionpun buru-buru mengikutinya ke dapur. "Hei..kenapa kamu masih saja malu-malu begitu sih. Padahal waktu di rumah Ibu kita tidur sekamar." Ujar Orion yang sudah berdiri di samping Ariana yang sedang sibuk mencuci piring.
"Tapi walaupun sekamar kita kan nggak ngapa-ngapain." Tanpa menoleh ke arah Orion.
"Oh..astaga. Jadi kamu ingin kita ngapa-ngapain sekarang."
"Hih..apa sih." Mencubit perut Orion gemas.
"Augghh..ini sakit tahu!" Orion.meringis kesakitan seraya mengelus perutnya yang baru saja di cubit Ariana.
"Siapa suruh kamu bicara sembarangan." Dengus Ariana kesal.
"Bicara lagi..Aku cubit kamu." Mata Ariana sudah melotot. Sorot matanya seolah mengatakan. Berhentilah menjahiliku. Atau habislah kamu.
"Iya..iya..maaf. Tapi kalo cium boleh kan?" Bibir Orion pun segera mendarat cepat ke pipi Ariana." Sekarang waktunya kaaaabbbuuurrr...!" Sambung Orion seraya mengeluarkan jurus kaki seribu.
Ariana masih terlihat syok. Masih belum bisa mencerna apa yang barusan terjadi. "Menyebalkan sekali. Lagi-lagi aku kalah darinya. Mungkin sekali-kali ia perlu di balas. Awas ya kamu Orion !" Gumam Ariana setelah sadar dengan apa yang terjadi.
Selesai mencuci piring Ia segera menghampiri kamar Orion. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ia pun segera menerobos masuk pintu yang tak terkunci itu.
Ariana menatap jahil pada Orion. "Suamiku tersayang. Bayi besarku. Apakah masih ada yang bisa ku bantu?" Memaksa tersenyum.
Orion terperangah melihat sikap Ariana yang tiba-tiba berubah. "Hei..Ariana. Kamu nggak salah minum obatkan?" Ujar Orion yang tengah duduk di ranjangnya dan bersandar pada sebuah bantal. Ia pun segera menghentikan aktifitasnya memainkan Hp nya.
"Mana mungkin aku salah minum obat. Aku baik-baik saja kok. Sayang..Apa badanmu ada yang terasa pegal. Sini biar ku pijit." Ariana sudah duduk di sisi Ranjang Orion.
__ADS_1
"Ya..baiklah. Kalo itu maumu." Seraya menaruh kakinya di pangkuan Ariana. Kemudian pandangannya kembali ke layar Hp.
"Auggghhh...Sakit! Apa yang kamu lakukan pada kaki ku. Kamu ingin mematahkan kaki ku rupanya."
Kena kamu. Sekarang giliranku menjahilimu.
"Maaf sayang. Aku tidak pandai memijit rupanya. Bagaimana kalau aku mengelus punggungmu agar kamu bisa tidur." Ariana menegrlingkan mata manja.
Sedangkan Orion menatapnya dengan tatapan horor. Pasti ini ada yang tidak beres. Begitu pikirnya.
"Kalo kamu diam. Tandanya kamu mau. Sini biar ku buka bajumu." Ujar Ariana sudah tampak ingin membuka baju Orion.
"Heh..tunggu-tunggu. A..pa..apaan kamu ini." Sergah Orion dengan terbata. Wajahnya kini tampak memerah karena tersipu malu.
"Hei..kenapa kamu harus malu-malu begitu dengan istrimu sendiri. Sini biar ku buka bajumu."
"Hei..Hentikan..Hentikan..Ya Aku minta maaf soal yang tadi. Ternyata kamu bisa juga bertindak sekonyol ini. Huh..fiuuuh.." Orion menarik nafas kemudian menghembuskannya dengan cepat. Berusaha menghilangkan rasa gugupnya. "Jujur sebenarnya aku juga belum siap untuk kita melakukan itu. Aku hanya suka menggodamu saja dari kemarin-kemarin."
"Aku juga hanya ingin membalasmu tadi. Hehe."
Akhirnya mereka sama-sama tertawa hingga perut mereka terasa sakit.
"Yang tadi itu menggelikan sekali ya. Haha!"
"Iya..Haaha."
Piittt..Piittt..Tiba-tiba Hp Orion berbunyi. Menandakan ada pesan what sapp masuk.
"Dari siapa?" Ujar Ariana penasaran.
"Entahlah..biar ku lihat dulu." Orion segera membuka pesan what sapp nya.
Rachel
"Kak Orion. Sudah tidur belum?"
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like dan vote nya ya kakak pembaca. Terimakasih 🙂