
Orion yang merasa penasaran dengan perubahan sikap adik bungsunya, yaitu, Haikal. Diam-diam ia mencoba mencari tahu penyebabnya.
Siang itu, saat jam pulang sekolah Haikal. Sebenarnya Orion sudah lebih dulu ada di sana, Ia sengaja memarkir mobilnya agak jauh dari gerbang agar Haikal tak menyadari keberadaanya.
Dari dalam mobil, Orion bisa mengawasi Haikal yang baru saja keluar pintu gerbang sekolah di antara kerumunan siswa lain. Gerak-geriknya terlihat mencurigakan. Anak laki-laki itu menoleh ke kanan dan kiri sebelum akhirnya berlari kencang ke seberang jalan. Dan terakhir masuk ke sebuah toko kue kecil yang ada di seberang jalan sana.
Dengan sigap Orion segera turun dari mobil setelah sebelumnya sempat menghubungi ayah nya dan memberitahu apa yang sedang di lihatnya mengenai adik bungsunya itu.
Orion pun segera berlari ke seberang jalan dan mulai masuk ke dalam kedai roti saat Haikal baru saja beranjak dari duduknya.
Kena kamu!
Orion menatap sepasang mata yang kini tampak terlihat panik karena melihat keberadaanya. Dan tak lama kemudian, seseorang lainnya menyusul masuk di belakang Orion. Itu pak Alvian. Membuat Haikal benar-benar membeku sekarang.
Fina yang melihat kehadiran Pak Alvian langsung turut berdiri dan berjalan menghampiri Haikal seraya memegang pundak Haikal erat. Haikal menoleh sejenak ke arah wanita yang kini berdiri di sisinya dengan raut wajah ketakutan.
Perlahan Pak Alvian mendekat ke arah mereka berdua, "Sejak Kapan?" Ujarnya saat sudah berada di hadapan mereka berdua, dan menatap ibu dan anak itu secara bergantian, "sejak kapan kalian bertemu diam-diam seperti ini?" Ulangnya lagi dengan sorot mata yang tak bisa di artikan, membuat ibu dan anak yang ada di hadapannya bertambah panik.
"Jangan salahkan Haikal, ini semua adalah kesalahanku, maaf kalo aku sudah lancang membuka identitas ku yang sebenarnya pada Haikal." Sahut Fina seraya terisak.
"Jadi kamu...," Tatapan mata Pak Alvian berubah marah.
"Iya..., ayah, aku sudah tahu kalo dia adalah ibu kandungku. Aku mohon maaf kan beliau!" Pinta Haikal sembari memegang lengan ayahnya dengan tatapan mengiba.
Pak Alvian masih terdiam, ia melirik ke arah Fina sekilas, wanita itu masih terisak, sepertinya ia sangat menyesal dengan semua yang ia lakukan. Membuat Pak Alfian merasa sedikit iba.
__ADS_1
Orion yang melihat itu, akhirnya berjalan mendekat ke arah ketiga orang yang kini masih saling diam.
Orion menepuk bahu ayahnya perlahan untuk memberitahu keberadaanya. Ayah nya pun menoleh ke arahnya yang kini sudah berdiri sejajar dengannya. Menatap mata Orion yang seolah memberi isyarat agar ayahnya tersebut mau memaafkan Fina juga Haikal.
Pak Alfian menghembuskan nafas pelan sebelum akhirnya membuka suara, "Bagaimanapun, kalian adalah ibu dan anak, aku sudah menduga sebelumnya, cepat atau lambat kejadian seperti ini pasti terjadi, maaf kan ayah jika ayah terlalu egois, maafkan aku juga, Fina, tidak seharusnya aku menghalangimu untuk menemui Haikal." Ucapan bijak dari Pak Alfian seketika membuat ibu dan anak itu tercengang. Mereka saling tatap sejenak dengan tatapan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Kemudian tatapan mereka alihkan kembali pada Pak Alfian yang kini tersenyum dengan hangat. Membuat mereka yakin, bahwa mereka tadi tidaklah salah dengar.
Seketika, Haikal menghambur ke pelukan Pak Alfian, ayahnya, "makasih yah!" air matanya tumpah di dalam dekapan ayahnya. Ayahnya membelai kepalanya pelan seraya menahan tangis yang hampir saja jatuh dari sudut matanya kalo saja ia tak buru-buru mengusapnya dengan tangannya.
Fina dan Orion tersenyum haru melihat kedekatan antara Haikal dan ayahnya.
""Besok-besok, kalo ada apa-apa itu cerita!" Ujar Orion yang mengacak rambut adiknya pelan saat Haikal melepaskan pelukannya pada ayahnya.
Haikal hanya tersenyum samar, kemudian dengan malu-malu menghambur ke pelukan Orion. Baginya kakaknya itu istimewa, karena ayahnya selalu menuruti perkataan kakak sulungnya itu. "Woh..., ada angin apa ini, tiba-tiba peluk, geli tau!" Seloroh Orion dan membuat semua orang yang ada di situ tertawa.
"Iya deh, iya!" Sahut Orion seraya menarik Haikal kembali dalam pelukannya. Ia merasa gemas dengan adik bungsunya itu. Yang manis dan menggemaskan. Walaupun terkadang menyebalkan juga, tapi ia tetap menyayangi adik-adiknya termasuk Aska.
Sementara Orion dan Haikal asik bercanda, mata Pak Alfian teralih pada Fina, "Kamu boleh menemuinya kapanpun kamu mau!" Ujarnya kemudian seraya tersenyum tulus.
"Terimakasih!" Mata Fina pun tampak berkaca-kaca saat mengucapkan rasa terimakasihnya. Ia benar-benar terharu dengan kelapangan hati Pak Alvian yang kini pada akhirnya membolehkannya berhubungan dengan putra semata wayangnya, yaitu, Haikal.
Tling... Tling...
Tiba-tiba hp Orion berbunyi, ia pun menghentikan sejenak canda tawanya dengan Haikal, kemudian segera meraih hp nya dalam saku celananya.
Ia memeriksa pesan di hp nya yang ternyata di kirim oleh Angga dengan seksama, "Sepertinya aku harus segera pergi, maaf semuanya aku duluan!" Ujar Orion seraya memasukkan hp nya kembali ke dalam sakunya, tak lupa ia mencium punggung tangan ayahnya saat berpamitan, menepuk kepala adiknya pelan, dan terakhir membungkukkan badan memberi tanda hormat pada Fina, baru setelahnya ia berlari ke arah pintu keluar dengan tergesa.
__ADS_1
"Kak Orion kenapa?" Tanya Haikal pada ayahnya dan hanya di jawab dengan menggedikkan bahunya tanda tak mengerti.
"Karena kebetulan sudah ada disini, gimana kalo kita makan siang sekalian sambil mengobrol?" Usul pak Alfian yang langsung di sambut hangat oleh Hilal dan juga Fina.
"Ide yang bagus!" Seru Haikal dengan wajah yang sumringah, mereka pun mulai menarik kursi dan duduk. Memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan. Dan siang itu akan jadi awal yang baru lagi untuk mereka semua.
******
"Kamu yakin ini tempatnya?" Ujar Orion pada Angga, saat ini mereka sedang ada di dalam mobil Orion yang terparkir di depan sebuah rumah besar namun seolah tak terawat karena di beberapa bagian bangunannya sudah tampak berlumut, dan cat nya pun sudah mulai memudar.
"Um..., kalo tidak salah memang ini, aku kan sudah menyadap nomor telpon orang yang telah menerormu, aku memasang GPS mata-mata juga. Dan seperti yang kamu lihat, titik GPS itu berhenti disini saat aku mengikuti orang itu kemarin."
Orion manggut-manggut seraya masih memperhatikan ke arah luar, lalu matanya menangkap beerapa sosok pria berbaju hitam-hitam keluar dari rumah tersebut, terakhir seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik berjalan di belakangnya.
Orionpun buru-buru menyalakan mesinnya untuk mencari tempat yang lebih aman untuk mengintai, "Mereka keluar, sebaiknya kita segera pergi dari sini!" Ujar Angga mengingatkan.
"Ya..., ini aku juga tau, makanya aku nyalakan mesin mobilnya, cerewet." Sahut Orion dengan nada ketus.
Tapi tiba-tiba saja mesin mobil Orion mati saat ia baru saja menginjak pedal gas untuk melajukan mobolilnya, "Ah... sial, kenapa lagi nih mobil?" Orion memukul setir kemudidengan kesal. Wajahnya terlihat panik saat seorang di antara mereka yang ada di area rumah besar itu melihat ke arah mobilnya.
"Mereka datang!" Seru Angga yang membuat Orion makin panik.
"Ya..., aku tahu bodoh, lakukan sesuatu...,"
BERSAMBUNG
__ADS_1