
Sore itu. Gantian Ariana sudah tampak berada di kediaman keluarga Adriano. Dia tidak datang sendiri kali ini melainkan bersama Ibunya. Pak Alvian mengundang mereka untuk makan malam di rumahnya. Tujuannya adalah untuk mempererat hubunga keluarga antara keluarga Adriano dengan keluarga Ariana.
Karena tahu Aska dan Haikal menyukai masakanya. Ariana membawakan makanan untuk mereka hasil dari masakannya sendiri. Aska dan Haikal tampak senang menerimanya. Terutama Aska.
Terlihat Pak Alvian sedang mengobrol santai dengan Ibu Rima di ruang tamu sembari menunggu waktu makan malam. Haikal kembali ke kamarnya dan menunggu waktu makan malam disana. Sedangkan Orion. Entah dimana. Sejak tadi Ariana belum melihat batang hidungnya. Karena waktu makan malam masih lama. Aska mengajak Ariana berkeliling halaman rumahnya. Halaman rumah itu sangat Luas mengitari rumah. Selain ada kolam renang di halaman belakang. Ada juga halaman yang di khususkan untuk binatang perliharaan. Halaman itu jadi tampak seperti kebun binatang mini. Selain itu di sisi lainya terdapat kolam ikan yang lumayan besar dengan pemandangan air terjun buatan. Dan di sisi lainya lagi terdapat lapangan basket tempat biasa Orion dan Aska bermain di sana. Sedangkan Haikal tidak suka bermain basket. Anak itu malas berolahraga. Ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan bermain game di kamarnya seperti saat ini.
Langkah Ariana dan Aska terhenti di samping lapangan basket. Disana terdapat tempat duduk. Mereka pun duduk dan mulai berbincang ringan.
Dari kejauhan. Tanpa mereka sadari. Ada sepasang mata yang terus mengawasi.
"Kelihatanya mereka semakin dekat saja. Tapi kenapa juga aku peduli. Emm..tidak. Ini pasti karena aku kawatir pada Aska. Dia tidak boleh di dekat gadis itu terus-terusan. Nanti dia bisa kehilangan akal sehatnya. Bahkan masa depannya." Orion bergumam sendiri.
Karena tidak tahan melihat kedekatan mereka. Akhirnya Orion menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan disini. Duduk berdua-duaan begini tidak baik tahu. Terutama kamu Aska. Kamu kan masih kecil dan bersekolah. Seharusnya kamu jangan berpikir untuk mendekati seorang gadis. Yang harus kamu pikirkan adalah belajar demi masa depanmu. Dan kamu Ariana. Kenapa kamu mau saja di dekati anak masih bau kencur. Seharusnya kamu malu pada dirimu sendiri." Orion berlagak sok bijak saat sudah berada di belakang mereka.
Ariana dan Aska langsung menoleh ke asal suara yang sok menasehati mereka barusan. Masih dengan tatapan tidak mengerti. Dan mereka juga belum sempat berkata-kata.
Orion menarik nafas dan membuangnya dengan cepat. "Kalian dengar tidak sih yang barusan ku katakan tadi. Kenapa kalian malah memasang muka bodoh seperti itu. Dasar payah."
"Kakak sendiri lebih payah. Kenapa kakak tiba-tiba peduli padaku. Jangan memperlakukanku seperti anak kecil yang tidak tau apa-apa. Tanpa kakak nasehati aku sudah cukup bertanggung jawab atas diriku sendiri. Sejauh ini aku tidak pernah bolos sekolah dan nilaiku masih tetap jadi yang terbaik di kelas. Dan jangan bawa-bawa kak Ariana dalam masalah ini. Ini sama sekali tak ada hubungannya dengannya. Harusnya kakak yang bertanya pada diri kakak sendiri. Kakak itu kenapa sebenarnya. "Aska berkata dengan muka serius.
"Ah..kamu ini. Kenapa sekarang kamu jadi keras kepala sih. Aku begini karena benar-benar menghawatirkanmu. Tahu tidak?"
*Kenapa sekarang malah aku yang terpojok dan tampak bodoh begin*i. Gumam Orion lirih.
__ADS_1
"Hei..sudah-sudah. Kenapa kalian jadi berdebat begini? Kalian itu kakak adik. Harusnya saling mengingatkan dan saling mendukung. Bukan malah bertengkar. Bagaimana kalo kalian main basket saja. Aku ingin lihat. Aku kan tidak pernah lihat kalian main basket. Hee..Pasti seru. Ayo..ayo cepat sana. Daripada menghabiskan energi kalian untuk berdebat. Lebih baik untuk main basket." Seraya mendorong Aska dan Orion memasuki lapangan basket.
"Mainnya yang semangat ya !" Setengah berteriak pada mereka. "Sembari menonton aku akan ambil minuman dan beberapa camilan di rumah kalian. Tunggu ya." Seraya berlari ke arah rumah besar.
Semoga dengan begini mereka tidak akan bertengkar lagi. Aku tidak mau mereka bertengkar gara-gara aku.
"Kak Orion lihat kan. Kak Ariana itu gadis yang baik. Siapapun pasti bisa menyukainya dengan mudah. Termasuk aku. Jadi berhentilah menyalahkanya." Sembari menderible bola basket.
"Aku bukan bermaksud begitu. Hah..sudahlah aku sebenarnya juga tidak ingin peduli. Lupakan kata-kataku tadi. Anggap saja tadi aku sedang iseng saja." Asal bicara.
"Benarkah kakak tidak peduli dengan Kak Ariana. Jadi baguslah aku tidak perlu menjelaskan susah payah apa yang ku lakukan kemarin dengan kak Ariana." Aska tersenyum menggoda.
Wajah Orion langsung pias. "Memangnya apa yang kalian lakukan?" Suaranya terdengar ragu.
"Jadi kakak benar ingin tau ya?" Masih dengan ekspresi yang sama.
"Baiklah akan ku beri tahu. Kemarin setelah membeli cincin. Kami makan dulu. Setelah itu kami pergi ke bioskop. Dan kakak tahu tidak apa yang kami lakukan di dalam bioskop. Di tempat yang gelap. Banyak muda-mudi melakukanya juga. Kakak pasti cukup dewasa kan untuk tahu maksudku?" Seraya Melemparkan bola basket ke arah Orion. Dan tersenyum puas melihat tampang Orion yang tampak sudah merah padam.
Aku tahu. Kamu pasti ingin bilang kalian berciuman kan? Lalu kenapa aku harus semarah ini rasanya. Ah tidak..Aku kan tidak menyukai gadis itu. Tapi bagaimanapun dia kan calon istriku. TIdak seharusnya mereka melakukan itu di belakangku. Orion.
Aku hanya menggodanya sedikit tapi wajahnya sudah merah padam begitu Haha. Aska.
"Memangnya apa yang kalian lakukan. Ku peringatkan padamu ya. Dia itu calon istriku. tidak seharusnya kalian berbuat begitu di belakangku."
"Haha..memang apa yang kami lakukan. Tentu saja kalo di dalam bioskop ya nonton sambil makan popcorn dan minum soda. memang apa yang kaka pikirkan?"
__ADS_1
Hah..apa? Sialan dia mengerjaiku. Aku jadi bertambah terlihat bodoh di depanya.
"Pasti kakak berpikir kami berciuman ya. Haha..jangan-jangan kakak yang menginginkanya. Apa lagi tadi. Calon istri katanya. Bahkan kata-kata yang menurutmu menjijikan itu keluar dari mulutmu. Haha kakak lucu sekai. Coba lihat tampangmu di cermin. Muka tampanmu itu jadi terlihat seperti orang bodoh sekarang."
Orion sudah mengepalkan kedua tanganya. Bersiap untuk membalas Aska. "Kurang ajar kamu Aska. Sini kamu. Biar ku habisi kamu. Berani-beraninya kamu mempermainkanku hah." Melempar bola basket ke Aska. tapi Aska bisa menghindar. Sekarang Orion tampak mengejarnya.
"Jangan lari kamu. kena pasti mati kamu."
"Coba saja kalo bisa." Masih dengan seringai mengejek.
"Baiklah jadi kamu menantangku?" Berhasil menangkap Aska dan kini merangkulnya. Bersiap pura-pura akan meninjunya.
"Ampun kak..ampun..apa kakak akan serius memukulku?" Ujar Aska dan tertawa.
"Tentu saja. Mintalah maaf dengan benar kalau ingin ku ampuni."
"Baiklah..Aku akan berlutut padamu sambil mengatakan kakak tampan ampuni aku. Apa kakak puas."
"Nah begitu, Kedengaranya itu lebih baik."
"Tapi aku belum selesai kak. Aku akan melakukanya hanya dalam mimpimu. Hehe."
"Apa katamu. Dasar payah. Hahaha"
Dari kejauhan tampak Ariana memandangi pemandangan yang indah itu. Pemandangan dimana terlihat keakraban antara kakak dan adik.
__ADS_1
Syukurlah. Ternyata kalian masih kakak adik yang sesungguhnya. Tersenyum.
BERSAMBUNG...