
Sean dan Angel sudah tampak selesai menyelesaikan administrasi pendaftaran. Mereka pun ke luar ruangan administrasi dengan berjalan beriringan, menyusuri koridor, menuju parkiran mobil. Kemudian kembali masuk ke dalam mobil mereka dan langsung melesat pergi.
Matahari makin meninggi saat mobil yang mereka tumpangi harus terpaksa terjebak di antara deretan mobil yang menunggu lampu lalulintas berubah hijau.
"Apa kota J, selalu macet seperti ini!" Seru Sean berusaha memecah keheningan. Matanya ia edar ke luar jendela kaca mobil. Menatapi mobil-mobil lain yang pengendaranya seolah tak sabar ingin segera melajukan mobilnya.
"Humm...Kota J, memang selalu kayak gini, macet!" Jawab Angel tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Sean menatap sepupunya sejenak, kemudian beralih pada sopir mobil yang mereka tumpangi yang masih tampak dengan sabar menunggu mobil-mobil lain bergerak maju, dan ia juga akan melak
jukan mobil nya walaupun sedikit demi sedikit. kemudian pandangannya kembali teralih ke arah keluar. Sekilas ia melihat dua orang gadis menaiki sebuah motor metik berusaha menyela lewat di samping mobil mereka.
"Abel!" Gumam Sean lirih. Ia semakin mendekatkan wajah nya pada kaca jendela mobil hanya untuk memastikan dengan jelas.
"Benar, itu Abel dan temannya yang tadi!" Seru Sean lagi, dan akhirnya itu mengusik ketenangan Angel yang duduk di sampingnya.
"Ada apa Sean?" Ujar Angel sambil turut mendongak ke arah depan. Mencoba melihat apa yang Sean lihat.
"Nggak bukan apa-apa!" Kata Sean buru-buru menegakkan duduk nya kembali.
Angel pun menggedikkan bahunya. "Humm...aku pikir apa?" Angel mencoba untuk tak lanjut bertanya.
Sean mengulum senyum. Tidak menyangka akan bertemu gadis itu lagi di jalan. Sejenak kemudian ia teringat akan sesuatu, saat di kampus tadi ia berusaha ingin menghubungi orang tuanya, tapi urung. Sekarang ia bersiap merogoh saku jaket nya untuk meraih ponselnya. Kemudian segera mencari deretan nama orang tuanya hendak bermaksud menelpon.
"Halo!"
******
"Halo!" Seru Orion saat kembali mengangkat telpon di Hp Ariana. No. tanpa nama yang beberapa menit yang lalu sempat menelpon, kini kembali menelpon.
Tut...Tut...Tut...
Sambungan telepone kembali terputus bersamaan dengan datangnya Ariana kembali ke kamar Orion dengan baki berisi makanan dan minuman.
__ADS_1
Ariana masuk dan segera meletakkan barang bawaannya di atas nakas.
"Siapa yang menelpone?" Ujar Ariana seraya mulai duduk kembali di sisi Orion.
"Entah!" Jawab Orion dengan wajah yang masih tampak berpikir. Nomor yang sama, dan langsung di putus sambungan teleponnya. Siapa yang mencoba meneror nomor istrinya, pikirnya.
"Sebaiknya kamu segera fantasy nomer saja, aku takut nomer yang tidak di kenal ini akan terus menerormu, entah mengapa aku punya firasat buruk!" Ujar Orion sambil menatap wajah istrinya cemas.
"Ya aku juga sama denganmu, aku takut ini masih ada hubungannya dengan insiden penusukan dirimu di bandara tempo hari."
Orion mengangguk. "Untuk itu kita harus lebih berhati-hati sayang!" Orion merengkuh bahu istrinya dan menatapnya lekat. Seolah-olah ia sedang kawatir pada wanita yang di cintai nya itu.
Ariana berusaha tersenyum untuk menghilangkan keresahan yang di rasakan suaminya. "Tenang lah sayang, semua akan baik-baik saja selama kita meminta perlindungan pada Tuhan kita!" Ariana mengusap pipi suaminya dengan lembut. "Makan dulu yuk, bibirnya keburu dingin nanti!" Lanjutnya sambil bersiap menyendok bubur di mangkuk dan menyuapkannya pada Orion.
"Oh iya!" Orion seolah teringat sesuatu. "Bagaimana dengan rencana kuliahmu, maaf ya gara-gara sibuk mengurusi aku, kamu nggak sempet cari-cari fakultas untuk melanjutkan study mu!" Ujar Orion seusai menelan bubur di mulutnya.
"Kamu nggak perlu kawatir soal itu, kemarin sore sepulang dari rumah sakit aku menemui Abel dan Ria, aku sudah menitipkan data diri ku pada mereka, dan rencananya hari ini mereka ke kampus itu untuk mendaftar!"
"Jadi nanti kalian akan satu kampus?"
"Lalu bagaimana dengan temanmu, siapa itu namanya, yang pacaran dengan El sepupuku?"
"Oh Rachel?"
"Iya!" Jawab Orion sambil mengambil membuka mulutnya bersiap melahap sesendok bubur yang di sodorkan ke arah mulutnya.
"Entah, sudah lama aku juga nggak bersua kabar sama dia!"
"Oh...!" Orion mengangguk-angguk.
"Ada apa?" Ariana mengerutkan dahinya. Merasa penasaran kenapa tiba-tiba suaminya menanyakan prihal Rachel.
"Bukan apa-apa! Beberapa Minggu yang lalu, sebelum kita berangkat berbulan madu, El sempat menelpon ku, dan mengabarkan bahwa dia akan tinggal disini untuk membantuku mengurusi perusahaan ayah, Dia kan sudah menyelesaikan study S1 nya disana, dan katanya ia juga bisa selalu dekat dengan Rachel bila disini. Jadi Dia setuju dengan tawaran ayahku untuk berkerja disini, di perusahaan ayah untuk membantuku. "
__ADS_1
"Oh...seperti itu, aku pikiri apa?" Tiba-tiba Ariana menghela nafas lega seraya tersenyum.
Orion mengerutkan keningnya merasa heran dengan tingkah istrinya tersebut. "Memangnya tadi kamu mikir apa?" Seru Orion seraya menatap menyelidik.
Ariana segera menggeleng cepat. "Bukan apa-apa!" Tiba-tiba pipinya bersemu merah karena malu.
"Aku tebak, pasti kamu cemburu kan tadi, kenapa tiba-tiba aku menanyakan prihal temanmu itu, Rachel!" Orion tersenyum menggoda.
Ariana segera meletakkan mangkuk bubur Orion yang sudah habis di atas nakas. Kemudian ia mulai memegangi pipinya sendiri. "Emang kelihatan ya!" Ujar Ariana malu-malu tanpa berani menatap balik ke suaminya.
"Kamu ini! Kalo ada sesuatu yang mengganjal itu yang di pendam. Aku harap kita bisa lebih terbuka dan tidak terjadi kesalah pahaman. Aku akan selalu berusaha untuk memahamimu, maaf jika kadang aku nggak peka. Dan di saat seperti itu, aku ingin kamu mau membantuku untuk lebih bisa memahami perasaanmu."
Pernyataan dari Orion seketika membuat Ariana tersipu malu.
Melihat itu Orion tersenyum. "Jadi bila kamu merasa cemburu, atau tidak merasa senang dengan perbuatanku, kamu bisa mengatakannya padaku. Aku pasti akan berusaha untuk mengerti dan akan lebih berhati-hati lagi agar tidak membuat hatimu kecewa." Tambah Orion sambil mengangkat dagu istrinya yang menunduk.
"Tolong jangan bicara lagi, nanti bisa-bisa aku berhenti bernafas karena sesak!" Seloroh Ariana seraya tertawa kecil.
"Sudah ku bilang kan. Kalo kamu merasa sesak aku bisa memberimu nafas buatan." Orion mengerlingkan matanya menggoda.
"Ih...maunya, dasar mesum!"
"Nggak apa-apa lah, kan mesum sama istri sendiri boleh dong!"
"Ih...dasar!" Ariana pura-pura marah, padahal mukanya sudah panas dan memerah karena malu.
Saat mereka tengah asik bercanda. Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkan mereka.
"Maaf Tuan muda, nona. Jika saya mengganggu, di bawah sudah ada teman anda menunggu di ruang tamu!" Ujar suara yang ada di depan pintu kamar Orion dan Ariana. Itu adalah suara Bibi Ami kepala asisten rumah tangga di rumah keluarga besar Adriano.
Ariana dan Orion pun saling tatap sejenak. "Aku akan ke bawah untuk melihat." Ujar Ariana pada Orion. "Kamu jangan lupa minum obatnya, itu aku sudah siapakan, aku turun ya!" Ariana beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju pintu.
"Siapa Bi?" Tanya Ariana saat sudah membuka pintu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.