Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Orion bekerja


__ADS_3

Karena banyaknya masalah yang silih berganti. Cinta Orion dan Ariana semakin teruji. Kini tiba-tiba saja Ujian datang dari berita mengenani perusahaan Pak Alvian yang mengalami penurunan yang cukup drastis. Di tambah lagi kesehatan beliau yang tiba-tiba memburuk karena memikirkan hal ini.


Hari ini juga Orion dan Ariana berkunjung ke rumah Pak Alvian. Terlihat disana. Di dalam kamarnya. Pak Alvian sedang di priksa oleh dokter pribadinya. Kemudian setelah itu Sang dokter menuliskan di selembar kertas berisi resep yang harus segera di tebus.


"Bagaimana kondisi Ayah saya Om. Apakah baik-baik saja?" Ujar Orion dengan wajah kawatir.


"Kondisi Ayahmu sudah mulai membaik. Tenang saja. Aku sudah tuliskan resep vitamin untuk jantungnya. Selain itu harus jaga makanan. Jangan yang mengandung banyak kolestrol. Kalo bisa di hindari. Dan satu lagi. Ayahmu harus bisa menghindari stres. Karena stres yang berat bisa mempengaruhi penyakit jantung Ayahmu untuk kambuh. Jadi jaga Dia jangan sampai stres." Dokter menjelaskan seraya menepuk bahu Orion pelan. Ia sudah menganggap Orion seperti keponakkannya sendiri. Makanya tadi ia memanggil Dokter Adnan dengan sebuta Om. Dokter Adnan seolah ingin menegaskan pada Orion. Sebisa mungkin jangan membantah apa yang di katakan oleh Ayahnya. Karena itu dapat memicu stres.


"Baiklah Om. Terimakasih atas bantuannya." Orion menyalami tangan Dokter Adnan. Kemudian mengantarnya keluar kamar.


Setelah kembali dari mengantar Dokter Adnan. Orion kembali ke kamar Ayahnya. Di sana sudah tampak Ariana dengan telaten menyuapi Ayahnya makan.


"Nah..sekarang Ayah harus minum Obat." Ujar Ariana setelah selesai menyuapi. Ia pun segera mengambil Obat jantung yang biasa di minum Pak Alvian dan juga segelas air putih di meja kecil di sisi ranjang.


"Terimakasih Nak. Kamu benar-benar menantu yang baik. Aku beruntung memiliki menantu sebaik dirimu. Rupanya Rima benar-benar bisa mendidikmu dengan baik." Ucap Pak Alvian setelah berhasil meminum obatnya.


Orion yang masih berdiri di ambang pintu. Tersenyum melihat pemandangan itu. Kemudian berjalan mendekat ke arah Ariana dan Ayanhnya.


"Aku juga merasa beruntung menjadi suaminya." Serbu Orion seraya tersenyum.


"Hah..Jangan memujiku seperti itu Ayah. Orion. Nanti aku bisa-bisa terbang nih. hehehe" Ariana berseloroh kemudian tertawa. Tawanya di ikuti pula oleh suami dan Ayah mertuanya.


"Orion !" Pak Alvian mengalihkan pandangannya pada Anak laki-lakinya itu.


"Ya Ayah. Ada apa?"


"Bolehkah Ayah memohon satu hal padamu?" Pak Alvian seolah tampak berat mengatakannya.


"Kenapa harus memohon Ayah. Ayah tak perlu melakukan itu. Katakan saja apa keinginan Ayah. Sebisa mungkin Aku akan menurutinya." Orion tersenyum meyakinkan.

__ADS_1


"Baiklah kalo begitu. Bisakah kamu gantikan Ayah untuk sementara waktu di kantor. Ayah merasa sangat lelah akhir-akhir ini. Dan Ayah ingin banyak istirahat."


"Apa ?" Orion merasa terkejut. "Tapi Aku. Kuliahku..." Kalimat Orion menggantung.


Ayahmu harus menghindari stres.


Tiba-tiba saja sebuah slide perkataan Dokter Adnan tadi mengema di kepalanya.


"Baiklah Ayah. Akan ku lakukan sesuai keinginanmu." Uajr Orion akhirnya. Ia tak ingin membuat Ayahnya menjadi kawatir dan stres. Padahal tadi ia ingin menyampaikan bahwa dirinya keberatan jika harus jadi pemimipin di perusahaan. Selain merasa belum siap. Tugas kuliahnya juga sedang banyak-banyaknya.


"Terimakasih Nak. Sekarang kamu sudah mulai dewasa rupanya. Kamukan kepala keluarga. Kelak kamu yang harus menafkai keluargamu."


Lagi-lagi Orion merasa tersentak dengan perkataan Ayahnya.


'Menafkahi keluarga?


Tiba-tiba Orion merasa malu dengan dirinya sendiri. Karena selama menikah Ia belum sekalipun menafkahi Ariana. Bahkan keperluannya selama ini masih di sokong oleh Ayahnya.


"Begitu baru bagus nak. Bukan begitu Ariana?" Menatap Orion dan Ariana secara bergantian. Kemudian tersenyum.


"Tentu saja Ayah." Jawab Ariana seraya tersenyum juga. Seolah mengerti apa yang tersirat di mata Pak Alvian. Merasa senang akhirnya Orion mau belajar menjadi dewasa sekarang.


*****


Hari-hari berikutnya di lalui Orion dengan penuh perjuangan. Pagi-pagi sekali Ia harus ke kantor Ayahnya. Memeriksa semua laporan dan menandatanganinya. Kemudian siangnya ke kampus. Menyerahkan tugas kuliahnya. Sorenya kembali ke kantor untuk lembur. Karena banyak yang harus ia pelajari. Terutama tentang bagaimana caranya melakukan manuver agar perusahaan Ayahnya kembali mengalami peningkatan. Belum lagi nanti di rumah. Ia harus menyelesaikan Tugas kuliahnya yang di berikan dosennya tadi siang.


Benar-benar hari yang melelahkan. Tapi dengan begitu ia jadi menyadari. Ternyata mencari nafkah itu tidak semudah yang ia bayangkan. Sekarang ia bisa merasakan apa yang Ayahnya rasakan. Memutar Otak. Bahkan harus memeras otak demi memperthankan eksistensi perusahaan. Tapi bukan itu saja. Ayahnya itu ternyata sangat loyal kepada semua kariawannya. Ia begitu peduli dengan nasib kariawan. Sehingga ia berusaha mati-matian melakukan berbagai cara agar perusahaanya bisa tetap bertahan. Dengan begitu tidak perlu ada kariawan yang harus di PHK.


Makanya Saat Orion meminpin perusahaan. Ia tidak begitu mengalami banyak kesulitan. Karena keloyalan Pak Alvian terhadap para kariawannya. Kini semua kariawan di kantor seolah sedang bahu membahu membantu Orion agar perusahaan Adriano grup mejadi berjaya kembali seperti semula. Dan tak ketinggalan Paman Jason asisten Ayahnya itu juga membantunya mengawasi perusahaan saat siangnya karena Orion harus ke kampus untuk kuliah.

__ADS_1


Akhir-akhir ini. Orion sering pulang larut malam karena harus lembur di kantor.


"Akhir-akhir ini kamu pulang larut sekali." Ujar Ariana setelah membukakan pintu depan untuk Orion.


Yang di tanya langsung meynelonong masuk dengan muka lelah. Kemudian segera membanting tubuhnya sendiri di sofa ruang tamu.


"Kamu sudah makan?" Ujar Ariana lagi seraya mengendurkan dasi yang di kenakan Orion.


Orion tak menjawab pertanyaan Ariana. "Ya..ampun aku lelah sekali. Ternyata mencari nafkah itu benar-benar melelahkan. Selama ini aku tahunya hanya menghambur-haburkan uang saja. "Ia malah mengeluh sekaligus membuat pengakuan dosa.


Ariana tersenyum. "Tapi sejauh ini Aku melihatmu sudah melakukan semuanya dengan baik. Kamu sudah semakin dewasa sekarang Orion." Ariana memcium pipi Orion lembut. Berusaha memberi suaminya itu semangat.


Orion tergelak. "Apa ini? Kamu ingin menggodaku. Padahal aku capek baru pulang kerja. Masa' Aku harus melayanimu juga." Menoel hidung istrinya gemas.


Ariana memanyunkan bibirnya. " Siapa yang ingin menggodamu. Aku hanya memberimu semangat tadi. Kamunya saja yang berpikir mesum."


"Benarkah, benarkah?" Orion terus menggoda istrinya dengan tatapan nakal.


"Hiihh..Orion hentikan! ini geli tahu!"


Rupanya Orion menggelitiki tubuh Ariana karena merasa gemas.


Kemudian setelah itu memeluk istrinya erat. Menempelkan dahinya pada dahi Ariana. "Oh iya. Kamu tadi belum jawab. Kamu sudah makan belum?"


"Emm..tidak. Aku tidak lapar. Aku ingin memakanmu saja." Ujarnya seraya menempelkan bibirnya pada istrinya.


Ah..ya ampun. Dasar mesum.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan lupa klik like dan vote nya ya. bintangnya juga..hehhe makasih 🙂


__ADS_2