
Aska membawa tumpukan piring kotor bekas makan bersama tadi ke lantai dua ruko milik Ariana. Karena disanalah wastafle pencuci piring terletak. Sebenarnya di atas juga ada ruang tamu sekaligus tempat santai untuk menonton telivisi tapi ukuranya tidak terlalu besar. Ada dapur minimalis yang di hadapanya menyatu dengan meja makan minimalis. Kamar mandi juga dua kamar tidur yang tidak lain kamar milik Ibu Rima dan yang satunya milik Ariana. Aska sudah tampak meletakkan piring kotor di wastafle. Kemudian ia berinisiatif untuk kembali ke bawah untuk membereskan sisa makanan agar bisa di simpan di dalam kulkas. Saat menuruni tangga tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar namanya di sebut dalam perbincangan antara Ayah dan Ibu Rima. karena merasa penasaran Aska memelankan langkahnya agar tidak terdengar oleh mereka. langkahnya sengaja terhenti di balik tangga. ia memasang telinganya bersiap mendengarkan kelanjutan obrolan ayah dan Ibu Rima.
Setelah mendengar kenyataan yang sebenarnya. Aska kembali melangkah menaiki tangga tanpa suara. Kali ini wajahnya terlihat murung. Ia melewati Ariana yang sedang sibuk mencuci piring. langkahnya tertuju ke pintu samping dapur menuju balkon yang memghadap ke belakang. Dari jendela dapur Ariana dapat melihat dengan jelas Aska yang tiba-tiba berdiri di sana dengan wajah murung.Kemudian Ariana melepas celemek yang di kenakannya dan pergi menghampiri Aska ke balkon belakang.
"Hei..kamu kenapa? kenapa tiba-tiba murung begitu?" Ujar Ariana lembut.
Aska mengeleng pelan seolah ingin mengatakan tidak terjadi apa-apa padanya. Tapi sorot matanya jelas terlihat kalau ia sedang tidak baik-baik saja.
"Baiklah. Apa kamu mau ku ambilkan minum, agar kamu bisa merasa lebih baik."
"Tidak perlu. Aku hanya merasa sedih saja ketika aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Pantas saja selama ini sorot mata Ayah terlihat berbeda saat memandangku. Ia seperti tak benar-benar mempedulikanku. Tapi saat memandang kak Orion. Sorot matanya terlihat hangat penuh dengan kasih sayang. Ya..walaupun Ayah mencukupi semua kebutuhanku. Tapi aku merasa Ayah kurang memperhatikanku selama ini."
Ariana masih terdiam, Masih belum bisa mencerna isi pembicaraan Aska. Tapi ia berusaha untuk tetap menjadi pendengar yang baik.
"Dulu, waktu kami masih kecil. Saat kak Orion jatuh dari sepeda, Ayah langsung tergopoh-gopoh ke arahnya dengan muka sangat panik. Padahal Kak Orion hanya lecet sedikit. Tapi saat aku yang terjatuh dari sepeda Ayah hanya mengatakan padaku. Kalau jadi anak laki-laki itu harus kuat. Tidak boleh cengeng. Dan menyuruhku untuk bangkit lagi dan kembali berlatih naik sepeda. Dan saat mainanku di rebut kak Orion. Ayah selalu berkata padaku agar aku mau meminjamkannya. walaupun kenyataanya Kak Orion selalu merusak mainanku. Walaupun Ayah membelikanya lagi untukku tanpa bertanya apakah aku menyukai mainan itu atau tidak. Aku merasa Ayah selalu memdahulukan Kak Orion daripada aku."
Sesaat Aska berhenti bercerita dan menarik nafas panjang dan membuangnya kembali dengan cepat. Seolah ia merasa sedikit lebih lega setelah bercerita. Kemudian ia melihat ke arah Ariana yang tampak belum bisa mencerna semua ceritanya. Aska tersenyum melihat tampang polos Ariana.
__ADS_1
"Emm..Aska..sejujurnya aku masih belum faham dengan apa yang kamu katakan. Tapi menurutku Ayahmu juga sangat menyayangimu."
"Tapi sayangnya ia bukan Ayah kandungku. meskipun aku berharap sebaliknya. Tapi kenyataanya tetap saja dia bukan Ayah kandungku."
Mata Ariana membulat tak percaya. Tapi sekarang ia mulai faham dengan apa yang di ungkapkan Aska tadi. Oh..jadi itu yang membuatnya terlihat sedih.
"Aku juga baru tau kenyataanya tadi. Tanpa sengaja tadi aku mendengar percakapan ayah dan Ibumu di lantai bawah."
Ariana ingin menghibur. Tapi ia tak tau harus mengatakan apa.
"Kak Ariana!"
"Tak bisakah kakak membatalkan pernikahan kakak dengan kak Orion? dan tunggulah aku beberapa tahun lagi. Aku janji akan tumbuh menjadi orang yang bisa membahagiakanmu kelak. Aku bukanya nggak sayang dengan kak Orion. Tapi aku sungguh tidak ingin kak Orion mengambil orang yang kusukai seperti dia mengambil mainan kesukaanku dulu."
Eh..kenapa dengan anak ini. Apa dia serius dengan ucapanya?
"Aska..aku rasa kamu hanya terbawa perasaan. Harusnya kamu belajar dulu sampai pintar. Nanti kalo kamu sudah besar dan sukses pasti banyak gadis yang akan mengejarmu. Dan pandanganmu tentang aku juga pasti akan berubah. Kamu bisa mendapatkan gadis manapun yang kamu mau."
__ADS_1
"Tidak Kak..Aku maunya kamu." Seraya menggenggam kedua tangan Ariana dan menatapnya lekat-lekat.
"Apa-apaan kalian ini. Sedang main drama ya?" Tiba-tiba Orion muncul.
Ariana kaget dan langsung melepaskan tangan Aska yang tengah menggenggamnya tadi.
"Jangan salah paham dulu, tadi aku dan..." Kalimat Ariana terputus.
"Terserahlah kalian sedang apa tadi. Aku datang kesini di suruh Ayah dan Tante Rima untuk memangil kalian turun. Ayah akan menentukan tanggal pernikahan..kita." Kalimat terakhir mengunakan penekanan seolah-olah Orion benar-benar tidak menyukai kalimat itu.
"Kak Orion sendiri tadi kemana? aku juga baru akan turun tanpa kakak suruh." Aska berjalan melewati Orion dengan muka kesal.
"Kenapa si introvert itu. Lagi-lagi ia bersikap aneh." Bergumam.
"Bukankah kamu lebih aneh." Ariana juga melewati Orion dengan cemberut.
"Kenapa kamu ikut-ikutan juga. Apa kalian salah minum obat hari ini. Aneh sekali." Seraya berjalan di belakang Ariana.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang mereka bicarakan tadi. kenapa sampai harus pegangan tangan segala. Menggelikan sekali.
BERSAMBUNG*......