
Hari sudah mulai gelap saat Orion mengantar Ariana pulang ke rumahnya dari seharian tadi jalan-jalan.
"Emm..kamu tidak mampir dulu?" Ujar Ariana seraya membuka helm dan menyerahkanya pada Orion.
Kenapa rasanya aku ingin lama-lama berada di dekatnya ya. Dan tidak ingin dia buru-buru pergi dari pandanganku. Ah..apa sih yang ku pikirkan. Bukankah dia itu si jutek menyebalkan yang selalu membuatku naik darah. Kenapa aku ini. Apa ada yang salah dengan otakku. Ah..tidak, mungkin aku salah minum obat. Ah..Tidak..Tidak..Tidak..Mungkin otakku jadi begini karena salah minum obat. Huft.
Entah kenapa sorot mata Orion juga tampak berbeda. Seolah ingin mengatakan. Sebenarnya ia ingin mampir. Tapi hatinya dan otaknya seolah bertentangan. "Ah..tidak. Aku ingin langsung pulang saja. Salam ya buat Ibu mu. Maaf aku tidak bisa mampir. Aku sangat lelah hari ini. Ingin segera pulang dan beristirahat di rumah." Bicara dengan nada normal dan sorot mata yang belum juga berubah.
"Kalo begitu. hati-hati ya di jalan. "Tersenyum dengan sorot mata yang sama seperti sebelumnya.
Suasananya jadi sedikit canggung.
"Kenapa masih di situ? Kenapa belum pergi juga?" Seru Ariana saat ingin masuk ke dalam ruko. Ia menoleh ke arah Orion dan mendapatinya masih ada di sana sedang memandang ke arahnya.
"Aku akan pergi setelah kamu masuk." Tersenyum tak biasa.
Ariana jadi tersipu malu. "Oh..begitu. Kalo begitu aku masuk ya..Dah.." menoleh sekali lagi. Kemudian masuk. Setelah itu memandangi Orion dari balik pintu kaca rukonya. Tampak Orion sudah mulai menyalakan mesin motornya dan bersiap melesat pergi.
*Perasaan apa sebenarnya in*i? Orion bergumam seraya tersenyum sendiri.
*******
__ADS_1
Aska tampak baru pulang dari suatu tempat. Ia memasuki rumah dengan tergesa-gesa. Tadi ia melihat mobil Ayahnya sudah terparkir di depan. Itu tandanya Ayahnya sudah pulang dari kantor. Aska tidak langsung mencari Ayahnya di kamar. Karena saat pulang kerja ayahnnya lebih suka menghabiskan waktunya di ruang kerja. Dan benar Ayahnya sudah ada di ruangan itu dan tampak sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Ayah..apa boleh aku masuk." Ujar Aska yang sudah ada di ambang pintu.
"Masuklah!" Tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Aska menutup pintu dan mulai mendekat ke arah Pak Alvian Ayahnya.
"Ayah..apa Ayah sudah melihat profile what sapp kak Orion hari ini?"
Mendengar nama Orion di sebut ia langsung menoleh ke arah Aska. Sorot matanya seolah sedang memberi perhatian lebih. Ingin tahu tentang putra kesayangannya itu.
"Memang ada apa sampai aku harus melihatnya?"
Tampak Pak Alvian meraih Hp di meja kerjanya. Dengan segera ia memeriksa foto profile Orion. Kemudian seulas senyum bahagia tersembul dari bibirnya.
"Akhirnya. Hubungan mereka berdua tampaknya mengalami perkembangan pesat. Bagus, bagus..Kerja bagus Aska." Seraya bangkit dari duduknya. Menghampiri Aska. Dan menepuk pundaknya lembut.
Aska sedikit terkejut. Tak biasanya Ayahnya memujinya dan memberikan sentuhan lembut seraya tatapan yang lembut pula padanya. Sudah lama sekali Aska merindukan Ayah yang akan mau bersikap hangat padanya.
Tadi siang. Sebenarnya Aska diam-diam mengikuti Ariana dan Orion ke mall. Dan dia meminta tolong kepada seorang wanita tua penjaga toko untuk berpura-pura meminta tolong pada Orion dan Ariana. Ternyata wanita tua itupun berhasil. Kemudian Aska memberikan sejumlah uang yang lumayan besar kepada wanita tua itu sebagai imbalannya. Dan juga. Sikapnya selama ini yang berusaha memanas-manasi Orion. Adalah agar kakaknya yang kaku itu bisa mulai menyadari perasaannya sendiri pada Ariana. Aska tahu. Sebenarnya ia juga tidak ingin menyerah begitu saja pada perasaanya terhadap Ariana. Tapi di dalam mata gadis itu. Ia bisa melihat bahwa sebenarnya ia pun memiliki perasaan yang sama seperti yang di rasakan Orion.
__ADS_1
Jadi dengan begitu. Aska jadi berubah pikiran. Kali ini ia akan membantu Orion dan Ariana memyatukan cinta mereka. Dan dengan begitu juga. Ayah akan merasa bahagia. Dan mungkin Ayah juga akan mau memandang ke arahnya.
"Hadiah apa yang kamu inginkan untuk keberhasilan usahamu ini nak. Sebutkan saja. Kamu ingin Hp baru keluaran terbaru, Peralatatan base ball, atau apapun. Ayah pasti akan memberikannya padamu. Atau kamu mau motor seperti Orion. Ayah pasti juga akan memberikanya padamu."
Aska menggeleng perlahan. "Tidak Ayah. Aku tidak ingin apapun. Semua yang Ayah berikan padaku sudah melebihi dari cukup. Aku beruntung telah menjadi anakmu. "Mata Aska sudah mulai berkaca-kaca. "Lagipula kalo motor. Aku kan belum punya SIM. Hehe.. Bagaimana kalo aku minta yang lainya. Sesuatu yang sangat ku inginkan dari dulu."
"Apa? Katakan saja. Selagi Ayah mampu. pasti ayah akan berusaha memenuhi permintaanmu."
"Aku ingin Ayah!" Aska mengatakanya dengan hati yang penuh dengan gejolak. Antara kecewa dan kerinduan pada Ayahnya.
Pak Alvian terhenyak. Isi hati Aska yang penuh luka seolah tersampaikan padanya.
"Maksudku. Aku ingin Ayah lebih memperhatikanku walaupun Ayah bukanlah Ayah kandungku. Itu saja." Air mata Aska bersiap untuk tumpah.
Dengan sigap Pak Alvian langsung memeluk Aska yang ada di depannya. "Maaf kan Ayah. Maaf jika selama ini ayah sedikit melukaimu. Bukan..Tapi banyak melukai hatimu."
Aska membenamkan wajahnya di dada Ayahnya dan menangis dalam diam. Seolah rasa sakit di dadanya luruh bersama air matanya.
"Mulai saat ini Ayah janji akan memperhatikanmu. Haikal juga. Kamu, Orion dan Haikal adalah anak Ayah." Melepaskan pelukanya dan tersenyum pada Aska.
Aska juga turut tersenyum dan berusaha menghapus air matanya. Mereka tampak menangis dan tersenyum bergantian. Kemudian berpelukan lagi.
__ADS_1
Tak jauh dari situ ada sepasang mata. Di ambang pintu tengah menyaksikan adegan itu.
BERSAMBUNG....