Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
memilih cincin


__ADS_3

Hari ini butik dan salon ibu Rima sudah mulai aktif kembali. Pak Alvian sudah mengembalikan sertifikat ruko miliknya kemarin. Ibu Rima juga sudah menghubungi kembali kariawanya yang dulu untuk bekerja kembali membantunya. Ariana tampak senang dengan kehidupanya yang sudah kembali normal. Betapa ia bisa melihat senyum ibunya yang sumringah karena ibu bisa kembali menekuni pekerjaanya sekaligus hobinya tersebut.


Tapi demi melihat senyum Ibunya itu kembali betapa ia harus membayar mahal untuk semua itu. membayar dengan menjatuhkan harga dirinya sendiri. Dari berpura-pura jadi istri muda pak Alvian sampai pada akhirnya bencana yang lebih dasyat tengah menantinya. Situasi yang cukup rumit untuk di cerna. Tak di duga dan tak di sangka. Pak Alvian malah memintanya untuk menikah dengan putra pertamanya yang tak lain adalah Orion. Orion yang selalu mengejeknya. Orion yang seolah membencinya. entah bagaimana kehidupannya kelak dengan Orion. membayangkanya saja sudah membuat Ariana ngeri. Tapi di sisi lain. Ada Aska adik Orion yang selalu bisa membuatnya tersenyum. Saat di dekat Aska ia merasa sangat nyaman. tapi Aska masih sangat muda. Dan Ariana menganggap kenyamanan yang ia rasakan terhadap Aska hanyalah rasa nyaman dari seorang kakak perempuan kepada adik laki-lakinya yang begitu baik dan manis.


*******


Sore hari seperti kemarin. Seseorang tiba-tiba datang ke ruko Ariana. terdengar suara Mobil berhenti di pelataran rukonya. Ariana pun bergegas keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan setengah berlari.


"Ternyata kamu." Ujarnya sesaat setelah sampai di lantai bawah.


Tersenyum kalem. "Ya ini aku, kenapa? Kamu kecewa ya karena yang datang bukanlah kak Orion." Aska bicara sambil masih berdiri di ambang pintu.


Seolah tengah tersadar dari kekagetanya ia pun segera mengukir senyum riang. "Bukan begitu. Tentu saja aku senang kamu datang. Hanya saja tadi aku sedikit terkejut. Aku kira tadi Orion jadi aku..." Seolah kebingungan untuk menjelaskan.


Aska tersenyum lagi. "Sudahlah tidak perlu menjelaskan lagi. Lagipula aku juga sedang malas membahas si jutek itu. Aku datang kesini untuk menjemputmu. Tadinya Ayah menyuruh Kak Orion untuk menjemputmu. tapi sepertinya gigitan semut kemarin masih menyisakan banyak bentol di sekujur tubuhnya. Ia tak bisa keluar rumah hari ini. Jadi aku menawarkan diri untuk menjemputmu dan mengajakmu pergi ke toko perhiasan."


"Ke toko perhiasan? Untuk apa kamu mau mengajakku ke tempat seperti itu?"


"Tentu saja untuk membeli cincin pernikahanmu dan kak Orion." Suara Aska seolah tercekat. Ia seperti tak suka menyebutkan kalimat tentang pernikahan dan Orion.


"Oh..jadi begitu. Tapi kan harusnya Orion yang pergi. memangnya dia sudah memberi tahumu ukuran jarinya."


"Sepertinya kamu benar-benar ingin jalan dengannya ya. Ya tenang saja, ukuran jariku pasti sama dengan ukuran jari kak Orion. Lihat saja tinggi badanku. Sudah hampir menyamainya ya kan?"


"Jangan bicara sembarangan, siapa juga yang ingin jalan dengannya. Dalam mimpiku saja aku enggan.hee.." Benarkah yang di katakannya barusan. Tapi kenapa Ariana seolah ragu.


"Benarkah? Kalo begitu apakah kamu mau jalan denganku sekarang?" Tersenyum senang.

__ADS_1


Tapi entah kenapa aku merasa kamu sedang berbohong padaku dan pada dirimu sendiri kak Ariana.


"Tentu saja, tapi tunggu selesai aku selesai shalat dulu dan bersiap-siap. Setelah itu baru kita pergi."


"Baiklah aku akan menunggu." Seraya duduk di sofa tempat biasa pelanggan salon menunggu.


Saat itu keadaan salon sedang sepi. Belum ada pelanggan yang datang lagi setelah siang tadi sangat penuh. Ibu dan kariawannya sedang makan bakso di luar. Karena Hari ini salon di buka kembali. Jadi Ibu berniat mentraktir semua kariawanya untuk makan bakso.


Tak lama kemudian Ariana sudah tampak rapih. Ia menyapa Aska di bawah. Kemudian mereka ke luar rumah. Ariana mengunci pintu terlebih dahulu sebelum pergi. Ibunya sudah biasa pergi dengan membawa kunci cadangan.


Aska dan Ariana segera masuk ke dalam mobil.


"Jalan Pak !" Ujar Aska pada supirnya.


"Baik tuan muda." Seraya menyalakan mesin mobil. Kemudian mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.


"Sepertinya ini bagus." Ujar Ariana dengan mata berbinar.


"Kamu mau coba yang ini?" Aska.


Ariana menjawab hanya dengan mengangguk mantap.


"Baiklah sebentar." Matanya terarah ke penjaga toko. "Mas boleh ambilkan yang ini?"


"Yang ini ?" Penjaga toko mengikuti petunjuk Aska.


"Ya benar."

__ADS_1


Penjaga Toko mengeluarkan cincin tersebut dari estalase. Kemudian menyerahkannya pada Aska dan Ariana. Kemudian Ariana mencobanya. Terlihat bagus di jarinya. Tapi tiba-tiba bayangan Orion seolah hadir di hadapannya.


"Pilihanmu norak sekali. Itu sama sekali tidak bagus untukmu. Eh salah..maksudnya cincin itu terlalu bagus untukmu." Bayangan Orion dengan seringai jahatnya.


Ariana bersiap untuk membalas. Ia sudah mengepalkan kedua tangannya. Tapi tiba-tiba bayangan Orion menghilang. Saat tersadar ternyata Askalah yang ada di hadapanya.


"Bagaimana? Apa kamu suka?" Ujar Aska memastikan. Aska sendiri sudah mencoba pasangan cincin tersebut dan tampak pas di jarinya.


"Ya..Aku suka. Yang ini saja." Entah kenapa Ariana jadi tampak tak bersemangat. Masa bodo kalo si jutek itu nggak suka dengan pilahanku. Siapa suruh dia tidak ikut memilih.


"Baiklah aku akan meminta penjaga toko itu mengemasnya." Aska berjalan menuju si penjaga Toko dan sekalian membayar cincin tersebut di kasir.


Tak jauh dari situ Aska memandangi Ariana yang sepertinya tampak bosan. Ia terlihat jengah. Beda saat ia tengah jalan dengan Orion. Energinya seolah terisi penuh.


"Terimakasih." Ujarnya seraya menerima cincin yang sudah di bungkus rapi dan di masukkan ke dalam goody back. Ia pun segera menghampiri Ariana.


"Kamu bosan ya jalan denganku?" Ujar Aska tiba-tiba. Membuat Ariana sedikit terkejut dan tahu harus menjawab apa.


"Aku tahu pasti kamu bosan jalan denganku yang pendiam ini. iya kan?" tersenyum sedih.


Kenapa Aska berpikir begitu? Aku tidak bermaksud membuatnya sedih.


Tersenyum Riang. "Ah..mungkin itu hanya perasanmu saja. Aku begini karena aku merasa lapar bukan karena aku bosan jalan denganmu."


"Benarkah? kalo begitu ayo kita cari makan dulu sebelum pulang."


Eh..Maksudku bukan begitu. Aku malah ingin segera pulang sebenarnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2