Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Kehadiran Fina


__ADS_3

Aska dan Reno sudah berada di kantor polisi saat ini. Menurut keterangan polisi yang kini tengah bicara dengan Aska dan Reno. Pelaku penusukan yang terjadi pada Orion. Bukanlah tanpa di sengaja. Tapi sudah di rencanakan sebelumnya.


"Maksudnya Pak!" Reno merasa masih kurang faham dengan penjelasan yang di berikan pak polisi padanya.


"Jadi begini Mas Reno. Menurut saya, setelah saya mengintrogasi tersangka tadi. Katanya ia memang sudah merencanakan aksinya untuk membunuh Orion. Dan motifnya adalah karena dendam. Karena ayah Orion yang pengusaha sukses itu telah menghancurkan bisnisnya. Sehingga ia menjadi bangkrut dan tak terima akan hal itu."


"Oh...jadi seperti itu pak! Lalu lanjutannya bagaimana? Apa pelaku akan di penjara seumur hidup atau..." Reno menggantung kalimatnya.


"Ya...sebenarnya pelaku penusukan tersebut mengaku ia hanyalah orang suruhan saja. Jadi dia akan kena pasal tersendiri nantinya. Dan kami juga sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui siapa dalang di balik semua ini." Jelas sang polisi lagi.


"Saya percayakan semuanya pada bapak untuk memecahkan kasus ini. Kalo dalang nya masih berkeliaran di luaran sana. Bisa-bisa ia akan mengulangi perbuatannya lagi untuk menyuruh orang menghabisi sahabat saya Orion. Saya hanya berharap dalang dari kejadian ini bisa segera di temukan dan di tangkap." Reno tampak antusias.


"Ya...Itu juga yang menjadi kekawatiran kami, untuk sementara waktu sebaiknya Orion kalo pergi kemana-mana harus di kawal oleh body guard atau semacamnya demi keselamatannya. Dan kami selaku kepolisian juga berharap agar dalam dari semua ini cepat kami tangkap."


"Baik...kami tunggu berita selanjutnya!" Reno mengakhiri percakapannya dengan polisi di hadapannya. Selesai dengan itu Reno menjabat tangan polisi tersebut seraya mengucapkan banyak terimakasih. Dan di ikuti pula dengan Aska yang sejak tadi hanya diam saja.


*******


"Siapa yang menelpon?" Tegur pak Alfian pada seorang wanita yang kini tengah ada di ruang kerjanya. Tadi pak Alfian tanpa sengaja meninggalkan ponselnya di atas meja kerjanya ketika hendak ke toilet. Dan kini ia telah kembali dan mendapati seorang wanita yang tak asing lagi baginya sedang mengangkat telpon darinya.


Wanita tersebut sangat kaget dengan kedatangan pak Alfian yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Kemudian dengan gugup ia segera mematikan sambungan ponselnya.


"Maaf kalo aku lancang!" Aku lihat di profile telpon mu yang menelpon bernama Haikal? Apakah dia Haikal putraku?" Seru wanita itu dengan menatap menyelidik pada pak Alfian.

__ADS_1


"Dan kamu mematikan sambungan telponnya?" Pak Alfian seolah enggan menjawab pertanyaan dari wanita tersebut. Kemudian ia merebut ponsel nya dari tangan sang wanita. Dan setelah itu ia kembali untuk menghubungi Haikal.


"Kamu tahu, siapa tahu itu telpon yang penting untukku!" Seru pak Alfian pada wanita yang kini berdiri tak jauh darinya, panggilan telponnya pada Haikal belum tersambung.


"Halo!" Akhirnya Haikal kembali mengangkat teleponnya.


"Halo nak! Ada apa?" Seru Pak Alfian merasa penasaran.


"Ayah...! Kak Orion tadi di tusuk orang waktu di bandara, sekarang ia sedang di rawat di rumah sakit!" Jelas Haikal polos.


"Apa?!" Seketika pak Alvian merasa syok mendengar anak sulungnya baru saja terkena musibah. "Lalu bagaimana keadaan kakak mu sekarang?" Lanjut Pak Alvian dengan suara panik.


"Kak Orion berhasil di selamatkan dan juga berhasil melewati masa kritisnya. Sebentar lagi dia akan di pindahkan ke ruang perawatan. Ayah segera datang ya kesini!" Jelas Haikal lagi sebelum akhirnya mematikan sambungan telponnya.


"Tunggu Alvian, kamu mau kemana? Aku masih ingin bicara denganmu! Lagi pula kamu tadi belum menjawab pertanyaanku. Apakah tadi yang kamu telpon adalah Haikal putraku!" Wanita yang tadi ada di ruangan pak Alvian berusaha mencegah kepergian pria paruh baya tersebut.


"Maaf ya! Aku ada urusan yang lebih penting daripada harus meladenimu! Lagi pula untuk apa kamu ingin tahu soal Haikal. Bukankah kamu sendiri yang membuangnya saat dia masih bayi!" Ujar Pak Alvian sinis. Ia tak ingin berlama-lama lagi meladeni wanita yang notabennya adalah ibu kandung Haikal.


"Alvian tunggu! Aku ikut!" Kata wanita tersebut yang tak lain bernama Fina. Ia adalah teman wanita di masa lalu Pak Alvian.


Heeehhh...Merepotkan saja. Rutuk Pak Alvian dalam hati.


"Baiklah...kalo kamu mau ikut, tapi tolong jangan katakan apapun pada Haikal tentang siapa dirimu sebenarnya Oke! Kamu mengerti maksudku kan!" Pak Alvian berusaha menegaskan sekali lagi pada Fina. Dulu wanita itu sendiri yang berjanji tidak akan mengusik kehidupan putranya sendiri dan tak akan pernah muncul lagi ke kehidupan putranya tersebut demi kebaikan dirinya sendiri juga putranya.

__ADS_1


Tapi mungkin kini Fina begitu merindukan putranya, hingga ia nekat untuk menemui Alvian. Ia hanya ingin melihat wajah putranya saat ini. Dan itu cukup baginya. Tidak masalah jika Haikal tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.


"Baiklah! Aku mengerti!" Jawab Fina dengan berat hati.


"Pegang janjimu itu! Atau kamu akan menghancurkan perasaan Haikal jika kamu nekat memberitahu siapa dirimu yang sebenarnya!" Tegas Pak Alvian sekali lagi. Ia hanya ingin melindungi perasaan Haikal. Ia tak ingin melihat Haikal sedih bila tahu kenyataan yang sebenarnya.


"Iya...aku mengerti, tenanglah, aku tidak akan melakukan hal itu, aku hanya ingin melihat wajahnya saat ini, itu sudah cukup bagiku!" Wajah Fina pun terlihat begitu sedih. Memang salahnya sudah tega meninggalkan Haikal waktu masih bayi dan malah menitipkannya pada Alvian. Sudah sewajarnya jika Alvian begitu kawatir. Di sisi lain pasti Pria paruh baya tersebut takut kehilangan Haikal jika Haikal tahu siapa ibu kandungnya yang sebenarnya dan masih hidup. Karena Pak Alvian pernah bercerita kepada Haikal kalo ibu kandungnya sudah meninggal saat ia masih kecil.


*****


Tak lama kemudian Pak Alvian dan Fina sudah sampai di rumah sakit. Ini adalah detik-detik waktu yang di tunggu oleh Fina. Ia akan segera bertemu putra semata wayangnya. Haikal.


Rasa kerinduan itu pun semakin menyeruak ketika Fina benar-benar melihat wajah Haikal saat ini yang tengah berdiri tak jauh darinya.


Pak Alvian langsung menghambur ke arah Haikal dan Anesya yang sedang berdiri di depan ruang IGD. Sedangkan Fina tak berani mendekat. Ia hanya mengawasi Haikal dari tempatnya berdiri saat ini.


Karena merasa seolah sedang di awasi, Haikal pun reflek menoleh ke arah orang yang tengah memandanginya.


Fina pun reflek melambaikan tangan kepada Haikal seraya tersenyum senang.


"Ayah!...Tante yang disana itu siapa?" Tanya Haikal yang merasa bingung. Ia menatap Ayah dan wanita yang tengah melambaikan tangan padanya secara bergantian.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2