
Langit berubah berwarna jingga. Senja sore itu tampak indah. Meskipun dalam keadaan terombang-ambing di tengah lautan lepas. Tapi sepertinya Ariana dan Orion tak merasa kawatir karena mereka masih saling memiliki satu sama lain. Setelah kenyang menikmati nasi goreng. Ariana dan Orion pergi ke luar areal kapal untuk menikmati pemandangan senja. Mereka pergi ke arah depan kokpid sambil memandang lautan luas yang membentang di hadapan mereka. Ariana tampak senang dengan pemandangan senja sore itu, senyumnya terus tersungging. Sedangkan Orion memeluknya dari belakang dan sesekali menciumi pipi istrinya itu dengan gemas.
"Aku tidak tahu kapal ini entah akan membawa kita kemana, tapi asal bersamamu aku tidak merasa takut lagi!" Ariana mengalihkan pandangannya ke arah suaminya seraya menyentuh pipi suaminya itu dengan lembut.
Mendengar itu Orionpun tersenyum. Dan tanpa bicara langsung menciumi pipi istrinya itu beberapa kali. "Aku juga merasakan hal yang sama sayang. Asalkan bersamamu aku pasti akan mengahadapi apapun demi kamu." Ujar Orion akhirnya sambil mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.
"Tapi aku masih bingung, siapa ya kira-kira yang membuat kita ada di kapal ini dan terombang-ambing di laut lepas seperti ini? Apa kita akan di bawa ke suatu tempat?" Ariana menatap langit yang sudah tampak menggelap. Mungkin sudah masuk waktu magrib pikirnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Semoga akan ada yang segera menemukan kita dan menolong kita disini. Tapi sialnya bahkan kita tidak membawa ponsel, jadi bagaimana kita bisa menghubungi orang-orang." Rutuk Orion dengan wajah setengah kesal.
"Tapi aku yakin pasti semua ada jalan keluarnya. Sepertinya sudah masuk waktu magrib. Bagaimana kalo kita shalat berjamaah lalu berdo'a!" Ajak Ariana sambil berusaha melepas pelukan suaminya dan kini menghadap ke arah suaminya itu.
"Baiklah ayo!" Ujar Orion singkat sambil mencium kilas kening istrinya tersebut.
******
Di tempat lain. Tampak seorang pemuda kembali duduk melamun dengan sebuah gitar di pangkuannya sama seperti malam waktu itu. Sean memandang lautan lepas yang terbentang di hadapan rumahnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang di pikirkannya. Ia hendak menyanyikan sebuah lagu dengan gitarnya tapi ia masih seolah tampak berpikir. Belum menemukan ide yang cocok. Bahwa sebenarnya, di dalam benaknya ada wajah seorang gadis yang selalu menggangu pikiranya. Senyum gadis itu seolah tak pernah lepas dari bayang-bayang nya. Sudah berulang kali Sean berusaha menepis bayangan Ariana di dalam benaknya. Tapi semakin Sean ingin menepisnya, bayangan itu malah seolah tampak nyata. Apakah itu tandanya Sean jatuh cinta? Tapi bagaimana mungkin? Jelas Ariana sudah ada pemiliknya. Sean merasa ragu. Ia hanya memendam semuanya dalam hati saja. Dan malam ini tiba-tiba ia merindukan gadis itu. Hari ini ia tak melihat gadis itu sama sekali. Dan itu membuatnya sedikit merasa rindu.
"Sean!" Seru Angel sepupunya dari arah samping, dan itu membuat Sean terkejut.
"Kamu rupanya? Aku sampai kaget tadi!" Ujar Sean sambil mengelus dadanya sendiri karena merasa kaget.
"Memangnya kamu pikir siapa?" Sergah Angel seraya menatap curiga ke arah Sean.
Sean buru-buru mengalihkan pandangannya ke segala arah. "Tidak, bukan siapa-siapa." Jawabnya singkat.
Kemudian Angel pun mendekat dan duduk di samping Sean. "Aku tahu kamu pasti berbohong. Dari kemarin sikapmu aneh sekali." Angel memutar bola matanya berusaha menerka-nerka.
Seketika Sean menjadi gugup. "Aneh bagaimana menurutmu?" Ia tak menyangka kalo sepupunya itu memperhatikan perubahan sikapnya akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Ya...aneh, seperti ada yang sedang mengganggu pikiranmu, tapi aku juga tidak tahu entah itu apa." Ujar Angel seraya menatap menyelidik ke arah Sean. Sedangkan kakinya sibuk ia ayun-ayunkan ke udara.
"Memangnya aku memikirkan apa?" Sean berkata seraya tersenyum hambar. "Aku kan sudah bilang kemarin, aku memikirkan masalah kuliah. Itu saja!" Sekarang ia mengalihkan pandangannya ke ujung kakinya. Ia seolah tak berani mendongakkan kepalanya. Ia tak ingin sepupunya yang kini tengah duduk di sampingnya tahu akan kerisauan hatinya yang sebenarnya.
"Jadi benar hanya masalah itu?" Angel masih bertanya dengan nada kurang percaya. "Aku merasa kamu sedang memikirkan hal yang lainnya juga. Kan masalah kuliah sudah beres. Paman dan bibi sudah mengizinkanmu kuliah di kota bersamaku." Angel bertanya sambil memperhatikan raut wajah sepupunya itu.
"Kita ini kan sodara, kita dekat sejak kecil. Kenapa kamu masih ragu untuk cerita padaku!" Lanjut Angel dengan nada membujuk.
"Sudahlah Angel, jangan mendesakku terus. Aku belum ingin cerita. Mengertilah!" Sean mengangkat wajahnya dan ekspresi mukanya sedikit kesal. "Maaf...aku tidak bermaksud berkata keras padamu!" Sesaat kemudian wajahnya terlihat menyesal.
Angel tersenyum. "Sudahlah. Aku mengerti, aku yang terus mendesakmu, maafkan aku." Ucapan Angel terdengar tulus. "Sebenarnya aku juga punya suatu rahasia. Tapi aku juga bingung bagaimana cara mengutarakannya!" Angel mengalihkan pandangannya ke langit-langit.
"Rahasia?" Sean bertanya seraya menatap Angel dengan terkejut.
******
Selesai menunaikan shalat magrib bersama-sama. Ariana dan Orion kembali menikmati suasana malam di dek kapal. Malam itu langit terlihat sangat indah di hiasi bintang-bintang yang tampak terang di langit yang jauh dari perkotaan. Hembusan angin lembut membelai kedua insan yang tengah berdiri sambil berpelukan menghadap ke laut lepas. Walaupun dalam keadaan entah sedang dalam bahaya atau aman. Mereka seolah menikmati kebersamaan yang sedang mereka rasakan sekarang.
"Hemmm...kamu benar sayang!" Orion kembali menyenderkan kepalanya di bahu istrinya. Pipi mereka saling menempel. Kemudian mereka sama-sama memejamkan mata sambil menikmati hembusan angin malam yang lembut membelai.
Mereka menikmati saat-saat seperti itu untuk beberapa lama. Sampai akhirnya Orion melepas pelukannya secara tiba-tiba dan menarik tubuh istrinya untuk menghadap ke arahnya.
Ariana merasa sedikit tersentak. Ia memandang mata Orion yang juga tengah memandang ke arahnya. Senyum Orion pun tersungging mendapati wajah istrinya yang tampak polos seperti anak kecil saat menatapnya. Kemudian tangannya membelai rambut istrinya yang kini tak sedang mengenakan hijab. Ia membenarkan anak-anak rambut yang menutupi wajah istrinya karena terpaan angin.
"Kamu tahu? Aku sebenarnya jatuh cinta padamu saat pandangan pertama waktu itu. Ya...walaupun pertama melihatmu waktu itu dadananmu tampak aneh, hehe." Orion sedikit terkekeh.
"Seperti badut? Iya kan? Hehe." Ariana ikut terkekeh.
Orion tak menjawab. Tawanya malah semakin pecah karena mengingat kejadian waktu itu. Kejadian saat pertama kali Ariana datang ke rumah mereka dengan berdandan ala wanita dewasa. "Ya...Aku pikir waktu itu kamu sangat manis dan lucu. Haha." Ujar Orion yang tak bisa lagi membendung tawanya.
__ADS_1
"Bilang saja waktu itu aku terlihat cantik, iya kan? Haha." Goda Ariana yang ikut tergelak.
"Tidak...sebenarnya kamu lebih cantik Tanpa make up. Tapi kesan pertama bertemu denganmu, entak kenapa ada rasa yang berbeda di dadaku." Sekarang Orion sudah tampak menghentikan tawanya dan bicara dengan nada yang lebih serius.
"Sebenarnya waktu pertama melihatmu, aku juga merasakan hal yang sama. Habisnya kamu sangat tampan sih. Mana mungkin aku tidak suka. Tapi sayangnya dulu kamu jutek banget!" Ariana berkata sambil memanyunkan bibirnya protes.
"Tapi kalo sekarang?" Tanya Orion seraya membulatkan matanya menatap istrinya.
"Sekarang kamu tetap tampan dan sikapmu manis. Jadi aku merasa jatuh cinta setiap hari padamu sayang!" Ujar Ariana dengan nada manja.
Orion tergelak. "Haha...benarkah? Jadi dulu pasti kamu membenciku ya karena aku jutek?" Orion memanyunkan bibir bawahnya.
Ariana menggeleng cepat. "Aku nggak benci, tapi cuma kesal saja. Hehe." Ariana tertawa kecil dan itu membuat Orion gemas.
"I love you!" Ujar Orion tiba-tiba. Sekarang sikap Orion memang lebih manis sejak mereka menikah.
"I love you too!" Seru Ariana seraya tersipu malu. Kini pipinya merona merah.
Orion mendekatkan wajahnya dan meraih bibir istrinya dan menciumnya dengan lembut.
Ariana hanya bisa terdiam seraya mulai memejamkan matanya. Susana di tengah lautan lepas dan di temani pula oleh bintang-bintang malam. Seolah-olah dunia ini hanya milik mereka berdua.
BERSAMBUNG.
Reader : Kok so sweet banget sih Thor? 😍😍
Author : Ya dong kan aku. Aku kan emang sweet 🤭😋
Reader : Jangan narsis Thor! Hadeh 😏😏...Ntar ku timpuk pake batu jadi pahit 😆😆
__ADS_1
Author : Aiiisss...Jangan dong..Timpuk aku pake ❤️ aja..😉. Biar aku selalu di hatimu 🏃🏃🏃