Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Salah faham


__ADS_3

Sepeninggalan Ariana ke toilet. Tak lama kemudian Sean berpamitan untuk pergi ke toilet juga. Tapi tak ada yang mencurigai keanehan yang ada pada dirinya. Sebenarnya pria itu hanya mencari alasan agar bisa ngobrol berdua dengan Ariana.


Ariana sudah tampak keluar dari bilik kamar mandi. Kemudian ia pergi ke wastafel yang masih ada di areal kamar mandi tersebut untuk bercermin. Ia membenarkan jilbabnya yang sedikit miring, selesai melakukan itu ia pun bergegas keluar, Dan...


"Sean!" Anak laki-laki itu sudah berdiri disana menunggunya.


"Hai Ariana!" Sean tersenyum menatap Ariana. Namun Ariana segera mengalihkan pandangannya ke segala arah.


"Maaf...," Tiba-tiba mata Sean terfokus pada sesuatu yang terdapat di kerudung Ariana.


"Kamu mau apa?" Ariana reflek mundur selangkah.


"Tenanglah, aku hanya ingin mengambil kotoran yang ada di kerudungmu!" Ujar Sean sambil mengulangi aksinya. Tangannya sudah bersiap meraih kotoran dari kerudung Ariana.


"Nah, sudah!" Sean kembali tersenyum dan membuang daun kering yang baru saja ia raih.


Ariana masih terdiam. "Makasih!" Ujarnya akhirnya dengan sedikit canggung.


"Maaf, jika aku membuatmu nggak nyaman, aku hanya ingin mengobrol berdua saja denganmu sebentar!" Sean tampaknya tak ingin basa-basi lagi.


"Mau ngobrol apa?" Ariana merasa sedikit risih, ia tak ingin lama-lama ada disana dan membuat orang lain salah faham dan berfikir yang tidak-tidak.


Sean tertawa kecil melihat tingkah Ariana yang tampak kikuk. Rasanya ia gemas sekali dan ingin mencubit t pipi gadis itu. "Bukan apa-apa? Cuma mau tanya kabar saja! Kamu apa kabar?" Ujar Sean sambil menatap Ariana dengan lembut.


"Oh..., Baik!" Ariana benar-benar merasa canggung. Ia enggan balas menatap Sean yang saat ini tengah memandanginya dengan tatapan tak biasa.


"Hei..., aku di depan sini, tapi kamu melihatnya kemana-mana!" Seloroh Sean seraya tertawa.


"Kalo nggak ada urusan, mending kita balik ke kantin, aku nggak pingin orang lain salah faham karena melihat kita disini sedang berduaan!" Ujar Ariana dengan nada serius. Ia berharap laki-laki yang ada di hadapannya itu bisa menghargai keputusannya.


"Oh..., Oke!" Sahut Sean dengan wajah sedikit kecewa. Ia pun mengangguk tapi seperti tidak iklhas.


*******


Tling... Tling...

__ADS_1


Bunyi sebuah pesan masuk di hp Orion. Laki-laki yang masih sibuk di depan laptopnya itu segera meraih hp nya yang juga tergeletak di atas meja.


Setelah itu mengusap benda pipih tersebut untuk melihat notivikasi pesan. Ada beberapa pesan gambar dari nomor yang tak di kenal.


Mata Orion terbelalak saat benar-bemar membuka pesan tersebut. Dadanya tiba-tiba terasa panas seperti terbakar. "Apa-apaan ini?" pekiknya penuh dengan emosi. Dengan nafas yang masih memburu ia mencoba melakukan panggilan telphone pada Ariana.


"Halo, katakan, apa kamu sedang sama Sean sekarang?" Ujarnya dengan nada penuh emosi setelah sambungan telphone nya tersambung.


"Iya...," Jawab Ariana dengan suara ragu. Ia tak mengerti kenapa tiba-tiba suara Orion terdengar marah.


"BAGUS!" Seru Orion dan langsung mematikan sambungan telphone nya.


*****


Perasaan Ariana mendadak tidak enak setelah menerima telphone dari Orion. Wajahnya terlihat gusar dan khawatir.


"Ada apa? Apa ada masalah?" Ujar Rachel yang menyadari perubahan wajah Ariana yang tiba-tiba. Karena teguran dari Rachel, semua jadi menatap ke arah Ariana. Saat ini mereka masih di kantin melanjutkan makan siang mereka. Dan benar masih ada Sean di sini. Tapi Ariana tidak hanya berdua dengan Sean. Tapi dengan teman-teman yang lain? Dan dari mana Orion tahu ada Sean di sini? Lalu kenapa tadi suaranya terdengar marah? Begitu banyak pertanyaan berkelebatan di kepala Ariana.


Ariana menggeleng pasrah. "Entahlah, tiba-tiba suara Orion tiba-tiba marah, dia tahu ada Sean disini? Lalu dia menutup telponnya!" Jelas Ariana pada teman-temannya dengan raut wajah bingung.


"Maaf, sepertinya aku harus pergi, aku harus ke kantor Orion untuk menjelaskan semuanya, aku tidak ingin dia salah faham padaku!" Ujar Ariana seraya memasukkan handphone nya kembali ke dalam tas. "Tolong absenin, aku nggak akan ikut pelajaran selanjutnya!" Imbuhnya seraya mulai beranjak dari duduk nya.


"Biar aku antar!" Usul Sean tiba-tiba. Dan semua mata yang ada di situ jadi menatap ke arahnya. "Ya..., Siapa tahu aku bisa bantu jelasin!" Bujuk Sean lagi.


"Tapi kamu nggak lagi modus kan?" Celetuk Ria yang sejak tadi diam saja. Seketika semua menatap horor ke arahnya.


"Kenapa?" Tanya Ria dengan polosnya.


"Sudah... sudah, nggak perlu di antar, aku bisa sendiri. Takutnya nanti Orion malah ngajak kamu berantem!" Ujar Ariana yang sudah faham betul dengan sifat Orion. Ia tak akan mendengarkan perkataan siapapun kalo sedang emosi.


"Tapi Ari...," Kalimat Sean terputus ketika Ariana memberi isyarat dengan gelengan kepalanya. Sorot matanya pun seolah sedang berkata. Kalo dirinya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dengan Orion.


"Hati-hati Ariana!" Seru Abel dan Ria, yang di ikuti pula oleh Rachel dan Angel.


"Kalo perlu bantuan jangan segan-segan buat hubungi kami, kami siap bantu!" Seru Angel dan di angguki oleh yang lain.

__ADS_1


"Hati-hati Ariana!" Terakhir Sean berkata dengan wajah khawatir. "Kalo Orion macam-macam padamu, aku nggak akan tinggal diam!" Ucapan yang seketika membuat orang yang ada di sana melongo.


"Emang kamu siapanya Ariana?" Celetuk Ria lagi dengan tatapan sinis.


"Bukan siapa-siapa nya tapi aku peduli padanya!" Jawab Sean asal, ia tak peduli tatapan sinis Ari Ria. Namun Abel langsung menunduk, seperti ada raut kekecewaan di wajahnya.


Sedang kan Rachel dan Angel hanya bisa tertawa cekikikan, merasa geli dengan ucapan Sean yang over PD.


"Aku dengar, jangan ketawa!" Sergah Sean sinis.


Sedangkan Ariana hanya menggeleng perlahan tidak mengerti situasi ini. Yang ia pikirkan hanyalah Orion. "Baiklah teman-teman, aku pergi ya!" Ujar nya kemudian lalu melenggang pergi meninggal kan Area kantin.


*******


"ORION!!" Ariana langsung saja menghambur masuk ke ruang kerja suaminya itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Orion!" Ulangnya dengan suara yang lebih lemah saat sudah berada di depan meja suaminya. Suaminya pun menyambutnya dengan sorot mata tajam penuh kemarahan.


"Aku mohon, jangan begini? Tolong jelasin ke aku, kenapa tiba-tiba marah-marah saat di telphone tadi?" Ariana berkata dengan sangat hati-hati.


Orion masih terdiam, ia enggan bicara. Kemudian pandangannya ia alihkan ke segala arah menghindari tatapan istrinya yang mengiba.


Aku nggak boleh Lulu duluan.


"Orion, tolong bicara, jangan diemin aku seperti ini?" Rengek Ariana sekali lagi.


Aku akan pura-pura nggak dengar.


"Orion!" Mata Ariana sudah mulai berkaca-kaca.


Akhirnya Orion pun menghela nafas panjang dan mulai memberanikan diri menatap istrinya.


"Aku marah karena melihat foto ini?" Ujar Orion tanpa emosi memperlihatkan foto-toto yang di kirim padanya tadi. Foto Ariana sedang berduaan dengan Sean.


"Loh..., ini kan...,"

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2